
"Astaga!
Cobaan apa lagi ini? Kenapa Sheerin harus melihat laki-laki yang dia kasihi tengah bersama dengan perempuan lain? Dan, itu adalah Clarissa.
Astaga! Astaga! Astaga!
Kenapa Sheerin bisa sebodoh ini? Dia melupakan satu hal, jika kak Bima dan Clarissa itu bertetangga.
"Heh! Loe habis diusir ya sama kak Bima? Hahaha, kasihan banget sih loe. Pasti kak Bima sekarang baru sadar, gimana kelakuan loe yang sebenernya? Kelakuan loe kan busuk. Dia pasti nyesel udah nikahin loe. Hahaha." Tawa Clarissa terdengar begitu renyah, sepertinya dia bahagia sekali melihat Sheerin terpuruk seperti ini.
Apa? Clarissa menganggap jika perempuan yang sedang berdiri di hadapannya itu adalah istrinya kak Bima, Nindi begitu? Padahal Levin hafal betul jika itu adalah Sheerin, apa Clarissa benar-benar tidak tau jika Sheerin memiliki kembaran?
Dan kenapa Sheerin hanya diam saja saat Clarissa menganggapnya Nindi? Levin benar-benar tak habis fikir.
Sheerin tertunduk, merasa malu, kenapa Levin harus melihat dirinya dalam keadaan seperti ini lagi? Kira-kira apa yang Levin pikirkan tentang Sheerin? Dia pasti jijik dan juga ilfeel terhadap dirinya. Bolehkah Sheerin lari? Lari dari semua kenyataan ini? Bisakah angin menerbangkan dirinya untuk menghindar dari situasi ini?
"Loe itu bikin ulah apa lagi sih? Dan, loe itu udah diusir sama kak Bima, sekarang loe mau balik lagi kesana? Nggak tau malu banget loe ya! Gerbang kompleks itu sebelah sana, bukan kesana!" Clarissa menunjuk arah yang akan dia tuju, berlawanan dengan arah Sheerin.
"Nggak kok Ris." Menjawab seperti orang bodoh. Bahkan Sheerin ingin menampar dirinya sendiri sekarang. Kenapa dia seolah mati kutu jika berhadapan dengan dua orang ini? Bodoh bodoh bodoh!
"Nggak apa? Loe itu bener-bener nggak tau diri ya? Udah nggak tau diri nggak tau malu juga masih mau balik lagi ke rumah kak Bima."
"Udahlah Cla, lebih baik kita berangkat sekarang, nanti kemalaman!" Levin menyudahi ocehan Clarissa yang mungkin sedikit banyak melukai hati Sheerin. Ya, hanya sebatas itu yang bisa Levin lakukan.
"Iya Lev, buang-buang tenaga aja ngeladenin orang kaya gini." Sungut Clarissa.
Akhirnya motor Levinpun kembali melesat, sesekali laki-laki itu melirik spionnya untuk melihat bagaimana reaksi Sheerin selanjutnya.
Sheerin memejamkan kedua matanya, serasa pisau belati tengah menghujam jantungnya. Sakit! Sangat sakit, sakit karena perkataan Clarissa itu tak seberapa. Namun sikap Levin itu, sikap Levin yang seolah tak pernah mengenal dirinya, itu yang membuat luka di hati Sheerin bagai di taburi garam.
Menatap punggung Clarissa dan Levin yang semakin lama semakin bergerak menjauh dengan tatapan pilu.
'Tuhan, kau sudah mengambil semua yang aku miliki di dunia ini, dan aku bisa mengikhlaskan itu, tapi tolong sisakan satu hal untukku, dia! Aku hanya ingin dia Tuhan, setelah itu aku berjanji takan pernah meminta apapun lagi darimu.'
'Dan kenapa harus Clarissa? Aku tidak sanggup jika melihatnya bersama Clarissa, karena aku pasti tidak akan mampu untuk mengikhlaskannya untuk siapapun.'
Dalam diamnya Sheerin kembali berlinang air mata. Sampai akhirnya motor Levin hilang di telan gerbang kompleks perumahan. Sheerin dengan berat hati kembali berjalan, meskipun kepalanya terasa berat dan sedikit pusing, dia tetap menyusuri trotoar kasar yang akan membawa dirinya kepada Nindi, harapan terakhir yang dia miliki.
Dia begitu percaya diri menjadikan Nindi labuhan terakhirnya, tanpa berpikir jika semuanya takan pernah berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan.
***
Bima baru saja pulang dari masjid setelah melaksanakan shalat maghrib berjamaah, ketampanannya bertambah 1000 kali lipat jika sedang mengenakan sarung, baju koko dan peci seperti ini. Sangat cocok dengan ekspresi wajahnya yang selalu menampilkan kedataran. Namun mata teduh itu seketika menyipit saat melihat Nindi memasuki gerbang rumahnya sambil menyeret-nyeret koper dan juga menenteng tas.
Oh ****!
Itu bukan Nindi, tapi kembarannya! Bima baru sadar. Cepat-cepat Bima mengikuti perempuan itu masuk ke halaman.
"Tunggu Sheerin!" Bima menegur Sheerin yang sedang mengetuk pintu.
"Kak Bima." Sheerin menghentikan aktivitasnya karena si pemilik rumah kini ada di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Bima sambil melirik barang bawaan Sheerin yang sudah seperti mau pindahan. Tiba-tiba saja firasatnya menjadi tidak enak.
"Emm, aku mau ketemu Nindi kak, boleh kan?" Tanya Sheerin, bahkan kini suaranya terdengar serak karena terlalu banyak menangis.
Krek!
__ADS_1
Belum sempat Bima menjawab, pintu sudah terbuka dari dalam, dan ternyata Nindilah si pelakunya. Membuat kedua orang di hadapannya menoleh berjamaah.
"Sheerin, loe kesini kok nggak kasih kabar dulu?" Nindi langsung menodong Sheerin dengan pertanyaan.
"Nindii, huhu." Sheerin melepaskan semua barang bawaan dari gengaman tangannya, langsung berhambur memeluk Nindi sambil menangis. Membuat Nindi jadi cemas dengan keadaan saudara kembarnya itu.
"She, loe kenapa? Ada apa? Kenapa loe bawa-bawa koper segala?" Tanya Nindi kemudian.
"Huhu." Bukannya menjawab, Sheerin menangis semakin kencang dalam pelukan Nindi.
'astaga, drama apa lagi ini?' kak Bima memijat pelipisnya yang terasa berdenyut dengan kedatangan Sheerin yang mendadak itu.
"Cerita sama gue She, siapa yang bikin loe nangis kaya gini. Pasti si tengil itu ya! Biar gue hajar orang itu, berani-beraninya dia bikin adek gue nangis kaya gini!" Nindi melepaskan pelukannya, kemudian mengguncang bahu Sheerin, mendesaknya untuk bicara.
"Bukan." Menyangkal jika bukan Levin yang membuatnya seperti ini. Ahh, mungkin maksud Sheerin bukan hanya Levin yang sudah membuatnya hancur seperti ini, namun seluruh isi dunia.
"Ehm, sebaiknya ajak dia duduk dulu!" Seru kak Bima.
"Iya, bener. Ayo She! Loe duduk dulu disini!" Nindi membimbing Sheerin untuk duduk di kursi teras. Sheerin menurut. Sedangkan kak Bima masih setia berdiri, bersiap menyimak kisah Sheerin.
"Mama Anya ngusir gue Nin." Satu kalimat itu bak sebuah ancaman besar di telinga Bima.
Jangan bilang dia ingin numpang tinggal dirumah ini!
"Apa? Kenapa bisa?" kaget ekspresi yang Nindi perlihatkan.
"Semua aset milik ayah udah balik nama jadi nama dia, gue juga nggak tau kenapa bisa gitu. Termasuk rumah itu Nin, mama Anya dari dulu memang nggak suka sama gue, dan mungkin sekarang waktu yang udah dia tunggu-tunggu buat menyingkirkan gue." Sheerin.
"Semuanya She?" Tanya Nindi memastikan. Sheerin mengangguk samar.
"Sekarang gue bingung harus pergi kemana Nin, apa gue boleh numpang nginep disini?" Tanya Sheerin hati-hati. Takut juga jika Nindi menolaknya mentah-mentah.
"Iya tent..."
"Emm, sayang, coba ambilkan dulu Sheerin minum, dia pasti kelelahan." Kak Bima memotong kalimat Nindi.
"Ahh, iya. Sebentar ya She, gue ambil dulu minum buat loe." Nindi kemudian beranjak, masuk kedalam rumah. Tinggallah Sheerin dan kak Bima, kak Bima menatap Sheerin, baginya Sheerin adalah sebuah ancaman bagi rumah tangganya. Jika Sheerin tinggal di rumahnya, otomatis perhatian istrinya akan terbagi. Bima tak ingin itu terjadi. Nindi hanyalah miliknya seorang.
"Sheerin, kamu tidak akan meminta tinggal disini kan?" Tanya Bima.
"Kenapa kak? Nggak boleh ya?" Sheerin balik bertanya.
"Tidak, kamu jangan salah paham dulu, maksudku seperti ini..."
***
Nindi kembali ke teras sambil membawa secangkir teh hangat untuk Sheerin. Suasana tegang langsung bisa Nindi rasakan, apa yang terjadi?
"She, ini teh nya, loe minum dulu ya!" Nindi menyodorkan teh yang masih mengepul asap di atasnya.
"Makasih ya Nin!" Sheerin menerimanya sembari memamerkan senyum palsu. Kemudian diapun mulai menyeruputnya perlahan.
Sedangkan Bima bersikap seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya, dia begitu tenang menghadapi situasi ini, dia yakin Sheerin pasti paham dengan semua penjelasannya.
"Bener-bener keterlaluan ya ibu tiri loe itu, kita nggak bisa tinggal diam She, besok kita harus pergi menemui dia." Ucap Nindi menggebu.
"Dan loe nggak usah khawatir, malam ini biar loe nginep disini." Lanjutnya.
__ADS_1
Sheerin meletakkan cangkir yang isinya tinggal setengah itu.
"Gue nggak jadi nginep disini Nin." Jawab Sheerin dengan suaranya yang hampir tak tenang.
"Lho, kenapa? Tadi loe bilang loe mau nginep?" Tanya Nindi begitu bingung.
"Gue baru inget, gue mau nginep di rumah temen sekalian sambil mau ngerjain tugas Nin. Lain kali gue pasti mau nginep disini kok." Sheerin meraih jemari Nindi, kemudian tersenyum lagi, senyum yang sama sekali tak ada manis-manisnya.
"Loe serius? Udah nginep disini aja. Kak Bima nggak akan keberatan kok. Iya kan kak?" Nindi meminta persetujuan suaminya.
"Nggak Nin, beneran gue harus ke rumah temen gue sekarang." Kilah Sheerin.
"Temen loe yang mana? Si Lea itu?" Tanya Nindi memastikan.
Sheerin mengangguk untuk membuat Nindi percaya. Padahal, Lea yang sekarang sudah berubah, dan Sheerin sendirilan yang telah membuatnya menjadi seperti ini.
"Loe serius She?"
"Sudahlah sayang, jangan terlalu memaksa! Sheerin sudah besar, dia pasti mengetahui apa yang menurutnya benar." Bima berkoar dari tempatnya berdiri.
"Iya juga sih kak. Ya udah She, biar kak Bima yang antar loe kerumah Lea ya!"
"Nggak, nggak usah Nin, gue bisa sendiri kok. Lagian kasian kak Bima juga butuh istirahat kan."
"Loe serius She?"
"Iya, loe tenang aja, jangan khawatir! Gue baik-baik aja kok."
***
Dan, harapan terakhir yang dia milikipun kembali menolak dirinya. Sheerin terlihat seperti orang frustasi, tangannya sudah sangat lelah untuk menyeret koper lebih jauh lagi, tanpa arah dan tujuan.
Kepalanya benar-benar berat sekarang, serasa langit baru saja runtuh dan menimpanya.
Perkataan kak Bima tadi menyadarkan betapa jahat dirinya, untuk itu, Sheerin memilih untuk tak lagi membuat Nindi kerepotan akan dirinya.
'Kamu tau She, ayah sangat tidak menyukai istriku meskipun dia yang memaksaku untuk menikahinya. Di awal-awal pernikahan, Nindi begitu tersiksa dengan semua pelakuan ayah. Tapi, Nindi bisa melewatinya dengan baik. Dan sekarang, dia telah menuai hasil dari apa yang dia tanam dulu.
Hidupnya sudah bahagia sekarang, tolong jangan membebani lagi pikirannya dengan semua masalah yang sedang kamu hadapi.
Aku tidak bermaksud untuk menyinggung mu, tapi biarkan Nindi bahagia She, dia pantas mendapatkannya setelah semua pengorbanan yang dia lalui. Termasuk permintaan untuk menggantikanmu menikah denganku.
Aku yakin She, kamu orang yang kuat, kamu pasti bisa melalui masalahmu dengan baik. Terbukti kamupun telah berhasil lolos dari perjodohan kita dulu, tapi tolong jangan libatkan istriku untuk kali ini.'
Perkataan kak Bima yang halus namun begitu mencabik hati Sheerin. Satu pijakan yang Sheerin miliki harius dia relakan roboh.
Dan hujanpun akhirnya turun membasahi bumi, namun tak sedikitpun mampu memadamkan percikan api yang berkobar di dalam hati Sheerin.
'AYAAAAH, SHEERIN HARUS PERGI KEMANA SEKARANG?"
Sheerin terkulai lesu di atas aspal, membiarkan hujan menghujam tubuhnya yang kini benar-benar tak berdaya. Bagaikan butiran debu yang tak berarti, yang akan lenyap saat sang bayu menyapu dan hujan yang memusnahkan.
Kini, Sheerin baru tau jika hujan tak hanya turun dari langit, tapi juga dari pelupuk matanya.
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....
__ADS_1