
"Mana yang sakit, Elis sayang? Apa terjadi sesuatu di kota B? Apa terjadi masalah di Kota B?" yang Abaraham yang telah membuat Elizabeth duduk di sofa sedangkan dia berlutut di hadapan Elizabeth.
Elizabeth masih menangis.
" Bagian mana yang sakit, ha? Apakah sangat sakit. Aku panggil dokter Joseph ya? Biar langsung di periksa?" tanya Abraham penuh perhatian.
Abraham mengambil handphonenya dan siap menelpon dokter Joseph. Saat Abraham siap menelpon Elizabeth menahannya.
"Aku tidak sakit, Honey" ucap Elizabeth dengan senyum kakunya.
"Lalu kenapa kau menangis? Apa ada yang terluka?" tanya Abraham lembut, sambil memeriksa tubuh Elizabeth karena takut ada yang tergores.
"Bagaimana aku mengatakan, jika dia begitu baik padaku?"
"Tidak ada, honey. Aku tidak sakit ataupun terluka" jawab Elizabeth sendu. "Aku hanya rindu. Melihatmu datang rasanya duniaku kembali" lanjut Elizabeth.
Mendengar ucapan Elizabeth, Abraham menegakkan tubuhnya dan meraih bibir manis Elizabeth yang dari tadi ia inginkan.
Elizabeth membalasnya, dia juga menginginkan sentuhan dari Abraham yang sangat dia rindukan juga.1
Terjadilah ciuman panas di atas kursi sofa itu.
Saat tangan Abraham mulai menyelusup dan mengelus perut Elizabeth, kemudian naik mencari bagian favoritnya. Elizabeth mengeluh.
Entah sejak kapan, sentuhan dari Abraham sangat memabukkan, membuat Elizabeth menerimanya dengan lapang dada, bahkan sampai lupa apa yang telah dia ketahui dan apa yang akan dia lakukan.
Ciuman Abraham turun ke leher Elizabeth dan menggigit pelan di sana.
Setelah meninggalkan bekas, Abraham terhenti. Entah kenapa hati Elizabeth terasa hambar.
"Kau pasti sangat lelah. Ayo pulang. Istirahat. aku ingin memelukmu dan mendengarkan ceritamu setelah ini" ujar Abraham mengendong Elizabeth, dan tangan Elizabeth reflek mengalungkan di leher Abraham.
"Honey, bukannya tadi katanya kita akan pulang?"
"Iya. Kita akan pulang" balas Abraham cepat
"Lalu kenapa kau mengendong ku? Jangan bilang, kau akan mengendong ku sampai bawah?" Tanya Elizabeth panik.
"Iya. Kamu pasti lelah, aku akan menggendongmu sampai ke mobil" Jawab Abraham santai.
"Engga..Engga.. Turunin, engga?" Elizabeth memberotak minta diturunkan. Apa kata dunia coy, kalau Elizabeth di ngendong sampai mobil? Bagaimana pandangan para karyawan D'company yang lihat?
__ADS_1
"Aku tau kamu pasti lelah. Bukannya pulang kerumah dan beristirahat, aku malah menyuruh Bram membawamu kesini. Jadi aku harus menebusnya, bukan?"
Namun sepertinya Abraham tidak mau menurunkan Elizabeth. Dia takut, setelah Elizabeth diturunkan, Elizabeth akan hilang dari pandangannya.
"Tuan besar ada apa dengan nyonya?" tanya Bram yang melihat Abraham mengendong Elizabeth keluar dari ruangan itu.
Pikiran Bram, bahwa Nyonyanya itu sakit. Pantas saja terlihat lesu dan tidak bersemangat dari saat keluar dari perusahaan besar SAS tempat nyonyanya itu magang.
"Apa perlu saya panggilkan dokter, tuan besar?" Bram mencoba memberikan saran, namun takk ada jawaban dari mereka berdua, mungkin tidak ada yang menyadari kehadiran Bram saat ini.
"Honey, aku tidak apa-apa. Aku masih bisa jalan kok" rengek Elizabeth yang masih mencoba untuk diturunkan. Wajah Elizabeth merah karena malu.
Sampai di depan Lift, Bram langsung menempelkan kartu karyawannya.
Lift pun terbuka.
"Honey. Aku akan marah, jika kamu tidak menurunkan aku" ucap Elizabeth mulai kesal. Karena setelah pintu terbuka kembali, maka akan ada banyak mata karyawan yang akan melihat mereka.
Abraham melihat ke wajah Elizabeth. Mengecup bibir itu cukup lama.
Bram yang juga ada di dalam lift hanya bisa berpaling. Hati jomblonya seakan berteriak, namun walaupun begitu, Bram mencoba untuk tetap tenang.
Cukup lama mereka berbagi air liur itu. Abraham melepaskan pungutannya. Elizabeth memasang wajah imutnya, agar Abraham mau menurunkannya.
Akhirnya Abraham mau menurunkan Elizabeth dan menggandeng tangan itu erat, tepat sebelum lift terbuka.
Mereka berjalan sejajar.
Sampailah dirumah. Setelah bersih-bersih dan makan siang.
Abraham tak henti-hentinya menggengam tangan Elizabeth.
"Bagaimana aku makan, Honey? Jika kau terus menggengam tanganku?"
Abraham melepaskan tangannya dan tersenyum manis.
"5 Hari kita tidak bertemu, kenapa kau semakin cantik saja, Elis?" ucap Abraham menarik kursi Elizabeth dan mencium dalam bibir Elizabeth. Abaraham menyalurkan rasa rindu lewat ciuman itu.
Terjadilah ciuman panas sebelum makan.
Setelah makan dan merasa makanan telah turun ke perut, mereka berdua langsung berbaring di atas kasur.
__ADS_1
Dan benar saja, Abraham langsung memeluk Elizabeth erat.
"Ceritakan apa yang terjadi dan kau dapatkan di kota B, Elis? Aku akan mendengarkan semuanya?" Abraham mencoba membuka suara.
Elizabeth terdiam, mengingat apa yang telah terjadi di kota B. Mengapa dia bisa melupakan semuanya itu tadi?.
Yang teringat di ingat apa yang dia dapatkan di kota B itu adalah gadis dengan wajah yang sana, aplikasi peretas yang tersembunyi di handponenya, pesan-pesan yang tersembunyi, dan itu semua artinya Elizabeth bukanlah orang yang seharusnya Abraham nikahi. Dia bukan wanita yang pergi meninggalkan Abraham 2 hari sebelum pernikahan.
"Tidak banyak hanya belajar dan belajar dan semalam ada pesta pelepasan saja. Bukankah aku telah menceritakan semuanya padamu?" Balas Elizabeth yang belum berani menceritakan segalanya pada Abraham.
Selama di kota B, Abraham dan Elizabeth saling chatan dan Elizabeth dengan senang hati menceritakan semuanya. Bahkan bentuk gedung-gedung yang dia lewati.
Abraham memeluk Elizabeth makin erat.
"Aku sangat rindu padamu. Wangi mu seperti ini. Aku rindu semuanya. Aku tidak ingin kau pergi lagi, Elis dari hidupku walau hanya sehari. Rasanya aku ingin mengikatmu di sampingku dan membawamu kemanapun aku pergi" ujar Abraham sambil mengecup kepala Elizabeth lembut.
Mendengar itu, hati Elizabeth berdesir. Rasanya semakin tidak kuat untuk Elizabeth mengatakan segalanya. Rasanya dia semakin tidak akan sanggup melepas tangan yang memeluknya itu.
Abraham mengangkat dagu Elizabeth untuk menatapnya.
"Aku mencintaimu, Elizabeth" ucap Abraham sebelum dia mengecup bibir Elizabeth.
Ungkapan itu tulus dari hati Abraham, sangat tulus.
Hati Elizabeth pun tak bisa mengingkari rasa cintanya. Elizabeth juga mencintai pria yang menciumnya saat ini. Elizabeth membalas ciuman itu. Ciuman yang membuat Elizabeth melayang dan melupakan segalanya dan membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti keinginan laki-laki itu.
Selanjutnya. Author juga engga tau, apa yang terjadi?
Malam hari, masih di atas kasur.
2 insan itu, masih senantiasa di atas kasur dengan berpelukan. Namun bedanya mereka sudah bersih dan mereka sudah mengunakan piyama masing-masing. Mereka bahkan sudah makan malam di kamar itu. Pak Run yang menyiapkannya atas perintah Abraham.
Elizabeth menatap Abraham lekat.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Em?" ucap Abraham menyibakkan lembut rambut Elizabeth kebelakang.
"Kenapa kau begitu mencintai ku?" pertanyaannya itu yang keluar dari mulut Elizabeth...
Penasaran kan? apa jawaban dari Abraham
Akankah jawaban dari Abraham akan membuat Elizabeth jujur? Atau sebaliknya?.
__ADS_1
******Nantikan kelanjutan hanya di BST******
see you next time