
Keesokan harinya.
Elizabeth dan Abraham kembali kehidupan seperti biasa. Walaupun Elizabeth sedang malas kuliah hari ini, karena pasti akan banyak berita dan banyak orang yang akan bertanya padanya, apalagi kedua sahabatnya itu yang pasti kepo maksimal, namun untuk kehilangan pelajaran lagi membuat Elizabeth enggan untuk tidak kuliah hari ini.
Di depan gerbang kampus
Tanpa diminta Elizabeth langsung mencium pipi Abraham sebelum keluar dari mobil, walau pikiran Elizabeth entah kemana.
Hal yang aneh pun terjadi, tak ada satupun dari temannya yang bertanya, mereka malah biasa saja seperti tidak ada yang terjadi.
Tidak jauh dari Elizabeth ada Raisya yang sedang duduk. Elizabeth mendekat dan duduk di samping Raisya. Melihat Elizabeth di sampingnya Raisya malah membuang tatapannya.
"Kamu marah ya, Sya?" tanya Elizabeth yang mengerti bahwa sahabatnya itu sedang marah padanya.
"Loe masih nanya lagi!" ucap Raisya kesal dan menatap Elizabeth dengan kekesalannya. Elizabeth hanya membalasnya dengan senyum manisnya yang memuluhkan amarah apapun.
"Engga usah senyum-senyum. Engga mempan tau" balas Raisya makin sewot. Elizabeth makin menyunggingkan senyumnya.
"Iya iya. Aku minta maaf deh, Sya. Maaf ya" mohon maaf Elizabeth sambil merangkul tangan Raisya
"Maaf? Tidak semudah itu Elizabeth untuk aku memaafkan dirimu yang telah berdosa besar padaku" balas Raisya dengan penuh penekanan dan dram" Ya engga, Rey?" Reyhan yang baru saja sampai dan tidak tau apa-apa itu, mendapatkan pertanyaan dari Raisya, hanya bisa binggung.
"Ha?!" Reyhan mengangkat bahunya tidak mengerti dan langsung mendapat tatapan mengerikan dari Raisya.
"Iya iya. Baiklah. Bagaimana biar aku bisa di maafkan oleh kalian?" tanya Elizabeth sambil menaikkan kedua alis matanya pada Raisya.
"Emang loe bisa melakukannya?" tantang Raisya menantang.
"Tergantung sih" jawab Elizabeth yang tidak yakin membuat Raisya kesal.
"Dih" balas Raisya yang mulai tersenyum.
"Iya. iya. emang apaan sih?"
"Loe berhutang cerita pada kita berdua. Iya engga, Rey" Raisya meminta persetujuan Reyhan dan Reyhan langsung menjawab.
"Yoi"
"Baiklah. Pulang kuliah kan jam 3. Aku akan ceritakan semuanya"
"Ye. Sekalian kita berdua udah ada rencana nonton malam ini" ucap Raisya yang semangat.
"Kalau itu, aku..."
"Dan loe harus ikut" Potong Reyhan.
"Aku engga bisa janji, ya? Aku harus izin dulu soalnya" ucap Elizabeth yang tidak enak menolak ajakan kedua sahabatnya itu.
"Loe harus bujuk sampai dia izinin. Oke"
"Oke" jawab Elizabeth tersenyum.
"Gua yang paling suka itu ya. Yang pas Sugya masih terus nyerocos ngehina kamu itu, Lis" Elizabeth mengerutkan keningnya mendengar pernyataan sahabatnya itu, yang tidak masuk akal karena senang temanya di hina.
"Terus Tuan Abraham, mendekatkan wajahnya ke wajah Sugya. Sugya udah senyum-senyum lagi. Terus Tuan Abraham bilang 'Kamu mau mati dengan cara apa?'" ujar Raisya yang mengikuti cara Abaraham kemarin yang menurutnya cool.
"Dan Sugya langsung diam seketika dong dan menelan ludahnya "Mati? hehehhe kok mati sih"" lanjut Raisya yang mengikuti haha Sugya yang menurutnya menjijikan.
Flashback.
Semua orang menuliskan data diri mereka.
Abraham mendekat pada Sugya dan Bina. Dengan malu dan senang Sugya dan Bina memberikan data dirinya langsung pada Abraham.
Abraham membaca data diri mereka berdua. Sugya terus mengoceh dan menghina Elizabeth, walau tanpa tanggapan dari Abraham.
Abraham melihat kearah Sekertaris Kim dan Sekertaris memberikan isyarat bahwa dia sudah mendapatkan semua data yang Abraham mau. Abraham mendengar itu langsung tersenyum mencibir. Sebenarnya dari tadi rasanya ingin dia tembak saja semua orang-orang itu, tetap kematian bukanlah hukuman terburuk untuk mereka.
Abraham mendekatkan wajahnya pada Sugya.
"Kau mau mati dengan cara apa?" ucap Abraham berubah tidak bersahabat dan seketika suasana disana berubah.
"Mati? hehehe kok ngomongin mati sih, tuan?" ucap Sugya mencoba menenangkan dirinya.
Abraham memberikan isyarat pada Elizabeth untuk mendekat. Seakan dapat angin, Sugya mengira Abraham ingin bertanya bukan untuk dirinya tapi untuk Elizabeth. Sugya kembali nyerocos dengan menghina Elizabeth.
"Jangan kesana, Lis" larang Reyhan dan Raisya.
"Engga apa-apa, Sya Rey. Ini di depan umum kok" balas Elizabeth dan berjalan mendekat. Raisya dan Reyhan juga mengikuti Elizabeth, namun dihadang anak buah Abraham. Elizabeth berdiri tepat di depan Abraham.
__ADS_1
"Mampus loe" ucap Sugya pada Elizabeth.
Abraham tersenyum dan menarik pergelangan tangan Elizabeth pelan dan langsung merangkul pinggang Elizabeth.
Semua orang binggung.
"Dia istriku" ucap Abraham yang seketika orang di sana terkejut, termasuk Reyhan dan Raisya, bahkan Elizabeth pun langsung menatap wajah Abraham tidak percaya.
"Istri?!" ucap orang- orang yang tidak percaya.
"Tuan anda tidak bercanda bukan? Bagaimana mungkin..." ucap Sugya tidak percaya.
"Aku engga mengerti, Rey" ujar Raisya yang kebingungan.
"Apalagi aku, Sya. Aku cuma bermimpi, kan?" tanya Reyhan balik sambil menepuk pipinya kanan dan kiri.
Raisya mencubit Reyhan.
"Auw. Sakit tau, Sya" ucap Reyhan sambil mengusap bagian yang di cubit Raisya.
"Sakit, Rey?" Tanya Raisya yang tidak seperti bersalah.
"Malah nanya nih bocah. Ya sakit lah"
"Ya berarti bukan mimpi dong kalau begitu"
"Anda tidak bermimpi, tuan Reyhan, Nona Raisya" balas Bram yang tidak jauh darinya.
"Loe yang sering mengantarkan Elizabeth ke kampus bukan?" tanya Reyhan.
"Iya,Tuan. Saya Bram supir dari nyonya" Bram memperkenalkan diri. Raisya ingat dengan Elizabeth yang tak suka dipanggil nyonya olehnya waktu itu. "Oh ini penyebabnya. Apa Elis di paksa? Apa Elis sekarang di siksa di rumah itu?. Tapi aku melihat Elizabeth baik-baik saja. Apa ada yang dia sembunyikan lainnya lagi?. Ah anak itu selalu memendam semuanya sendirian"
"Hai Bram. Gua Raisya teman Elizabeth. Apakah semuanya benar? Maksudku..." tanya Raisya yang ingin memastikan kebenaranya.
"Jika anda ingin memastikan kebahagiaan nyonya, Anda bisa tanyakan pada nyonya kami. Tapi saya yakin jawabnya adalah iya" jawab Bram yang kaku seperti biasanya..
"Apa dia peramal? Aku belum selesai ngomong"
"Kita lihat ini dulu, Sya. Nanti kita minta penjelasan ke orangnya langsung" ujar Reyhan.
"Iya"
"Aku tidak perlu persetujuan kalian untuk menikah, bukan? Tapi kalian cukup beruntung karena aku akan memperkenalkan istriku pada kalian terlebih dahulu sebelum ke seluruh dunia. Jadi kenalkan dia istriku, Elizabeth Duken" Abraham mencium pipi Elizabeth.
"Honey?!"
"Kalian suka dengan drama bukan? Ini baru namanya drama yang sesungguhnya. Kalian suka kan menghina istriku, maka nikmatilah kesengsaraan. Hancurkan mereka semua. Ambil alih semua usaha orang tua mereka dan jangan biarkan satupun dari keluarga mereka yang di terima di perusahaan manapun"
"Baik, tuan besar"
Seketika semua berlutut, kecuali ya anak buah Abraham, Reyhan dan Raisya, Dan Sugya tepat sebelum Abraham dan Elizabeth akan berbalik.
"Tuan maafkan kami. Kamu tidak tau kalau dia adalah istri anda" mohon mereka bersama-sama.
"Kalian ngapain sih? Dih kampungan " ucap Sugya dengan percaya dirinya.
"Bin, ayo bangun. Ngapain ikut berlutut?" Sugya membantu Binna berdiri. Tapi Binna malah menghempaskan tangan Sugya.
"Apa yang kalian takutkan sih? Kan ada aku. Kalian pasti aman. Kalian engga pantas kok minta maaf begitu. Tuan Duken pasti sekarang hanya becanda kan? Engga mungkin banget kan tuan Duken tertarik sama anak macam begini? " ucap Sugya sambil menunjuk pada Elizabeth.
"Tuan" Sugya mencoba mendekat pada Abraham.
"Anda kalau becanda lucu, ya. Please deh, dia itu bukan cewek baik-baik. Mukanya aja polos, hatinya busuk. Saya rasa tuan di kasih ramuan deh. Ini benar-benar engga masuk akal tau. Ya engga sih. Dia itu engga pantas untuk anda. Lihat deh dandanannya. Kampungan"
"Plak" tamparan keras mengenai wajah Sugya, hingga telinga Sugya bedegung. Sugya memengang pipinya
"Loe!" Sugya mengancingkan telunjuknya pada Abraham. "Loe engga tau gua anak siapa? loe akan menyesal nanti" ucap Sugya mengancam Abraham. "Gua yakin perusahan loe yang baru di rintis itu akan tutup besok"
"Ouh"
Deret dret dret handphone Sugya berbunyi.
Abraham mempersilahkan Sugya untuk mengangkat telponnya dengan senyum yang mengejek. Sugya mengangkat telponnya dan terkejut.
"Itu pasti telpon dari ayahnya atau ibunya yang mengatakan mereka bangkrut" bisik Abraham pelan di telinga Elizabeth.
"Tidak! aku tidak percaya!" teriak Sugya histeris sampai berlutut.
Abraham dan Elizabeth pergi.
__ADS_1
"Tuan, maafkan kami tolong maafkan kami, tuan" yang lain langsung mengejar mereka berdua, namun dihadang anak buah Abraham.
"Tuan, tolong maafkan kami. Tuan kami salah" teriak mereka.
Di pertengahan jalan Reyhan dan Raisya menghadang perjalanan mereka berdua.
"Mau anda bawa kemana teman kami" ucap Reyhan menghadang.
"Temanmu suka sekali dengan bedrama ya, Elis? Kenapa tidak sekalian kalian sekolah drama saja" balas Abraham.
"Honey, kenalin ini Reyhan dan Raisya sahabat aku" Elizabeth memperkenalkan kedua sahabatnya itu pada Abraham.
"Sudah tau" jawab singkat Abraham.
"Dia sudah tau Elis. Tapi kami tidak! Dia siapa, Lis? Dia beneran suami kamu? kalian sudah menikah? Terus kamu engga ngundang kami. Kamu anggap kami apa?" tanya Raisya.
"Bukan gitu maksud aku, Sya"
"Lalu?!"
"Kenalin saya suami sahabat kamu Elizabeth, Abraham Duken" Abraham memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya ke Raisya. Raisya menerimanya dan kemudian ke Reyhan.
"Kamu beneran suami Elizabeth? Kamu beneran mencintai dia, kan?" tanya Reyhan sambil menerima tangan Abraham.
"Saya tau kalian pasti masih sangat terkejut. Tapi saya dan Elizabeth sudah menikah. Saya suaminya dan saya akan menjaga istri saya sebaik mungkin. Jadi kalian tidak usah khawatir"
"Ih so sweet" ucap Raisya tanpa sadar.
" Itu juga terjadi sangat cepat, Sya Rey" Jelas Elizabeth.
"Jadi kalian beneran udah menikah? Dia beneran suami kamu, Lis?" tanya Reyhan.
yang masih tidak percaya.
"Ya begitulah"
"Sebenarnya kami sudah menikah dari bulan lalu"
"Apa?!" ucap Reyhan dan Raisya bersamaan.
"Tapi karena belum di resmikan, takut akan ada berita miring sebelum resepsi pernikahan jadi saya meminta untuk Elizabeth tidak cerita pada teman-temannya. Saya mohon maaf tentang itu" ucap Abraham sambil menundukkan kepalanya, membuat Reyhan dan Raisya tidak enak hati.
"Sudahlah. Sudah berlalu juga. Tapi ingat anda jangan main-main sama sahabat kami. Anda harus jaga teman kami ini. Jangan pernah buat dia menangis" ancam Raisya.
"Kalau sampai kami berdua melihat dan mendengar berita yang enggak-enggak, kami engga akan melepaskan anda" lanjut Reyhan.
"Abraham, Ham. Kalian teman Elizabeth ku jadi bisa panggil aku Ham atau seenaknya kalian saja" balas Abraham.
"Ha?!"
"Oke, tuan Ham"
"Oh iya, saya dan Elizabeth akan segera melakukan resepsi. Kami berdua berharap, kalian berdua akan hadir sebagai keluarga mempelai perempuan"
"Tentu"
"Kalau begitu kami pamit" ajak Abraham.
"Eh?! kan ada kelas" ujar Raisya.
"Tuan, nyonya sudah dapat izin untuk tidak masuk kuliah siang ini" Laporan seseorang.
"Kita pulang dulu ya, Sya Rey" pamit Elizabeth.
"Hati-hati, Lis"
Di dalam Mobil
"Jangan tatap aku seperti itu, Elis" ucap Abraham yang melihat Elizabeth menatapnya. Elizabeth menatap Abraham karena dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang
"Apa orang ini selain pembisnis, juga seorang aktor"
"Honey?!"
"Em. Kamu tidak akan benar-benar buat mereka semua bangkrut, kan?"
"Apa aku terlihat hanya bohong tadi, Lis? Aku tak suka mereka bicara yang tidak-tidak tentang dirimu. Itu pantas untuk mereka"
"Tapi bukankah itu berlebih? Maksudku yang salah kan hanya satu orang, kenapa semua keluarganya kena juga"
__ADS_1
Abraham tersenyum sambil mengusap kepala Elizabeth
Next time