
KREK!
Tiba-tiba saja pintu ruangan rawat inap Sheerin di buka seseorang dari luar. Sontak itu membuat Levin dan Nindi menoleh bersamaan.
"Loe? Ngapain loe kesini?" Sewot Nindi menyerbu Clarissa dengan tatapan tidak sukanya. Sedangkan Levin tidak berminat untuk memberi komentar sedikitpun.
"Gue nggak ada urusan sama loe ya!" Sinis Clarissa menunjuk hidung Nindi, dengan sigap Nindi menepis telunjuk Clarissa agar menjauh dari wajahnya.
Kemudian Clarissa mendekat ke arah Levin yang tak beranjak dari duduknya, tepat di samping Sheerin terbaring.
"Lev, udah 3 hari ini loe nggak pergi ke kampus. Gue di kasih amanat sama dekan buat menyampaikan ini ke loe langsung. Kalau sampai besok loe masih nggak masuk tanpa kabar yang jelas, maka loe bakalan di scors." Ucap Clarissa panjang lebar yang hanya di tanggapi Levin dengan acuh tak acuh.
"Gue nggak mungkin tinggalin Sheerin, kalau nanti dia sadar terus nyari gue gimana?" Jawab Levin yang langsung melempar lagi pertanyaan.
Jawaban dari Levin ini membuat Clarissa muak dan naik pitam. Selalu saja Sheerin, Sheerin dan Sheerin.
"Pendidikan loe itu lebih penting dari dia Lev, loe nggak bisa mengorbankan masa depan loe cuma buat cewe nggak penting kayak dia." Akhirnya Clarissa tak bisa menahan diri lagi untuk mengeluarkan semua uneg-uneg di dalam hatinya, dia sudah cukup sabar menahan perasaan iri dan dengki dengan perhatian yang Levin berikan untuk Sheerin, sedangkan akhir-akhir ini Levin selalu saja mengabaikan perhatian yang Clarissa berikan. Ucapan Clarissa yang bernada cukup tinggi, membuat ketentraman Levin terusik.
Levin menoleh ke arah Clarissa sekilas, kemudian kembali fokus pada Sheerin, menggenggam tangannya lalu memainkan kelima jemari milik Sheerin.
"Apa sih loe Cla? Hal yang terpenting buat gue sekarang adalah Sheerin. Gue mau fokus jaga dia dulu." Penjelasan dari Levin justru semakin membuat Clarissa merasa geram, dia pikir dengan memberikan informasi tentang ancaman dekan akan membuat Levin tak lagi meratapi kondisi mantan sahabatnya itu dan Levin akan kembali berkuliah, lalu setelahnya Clarissa bisa menghasut Levin untuk benci kepada Sheerin.
Namun semua justru berbanding terbalik, sekarang justru Levin terlihat ilfeel dan menganggap Clarissa sebagai penganggu, mengganggu kenyamanan Sheerin yang masih terlelap dalam tidur panjangnya.
Nindi menahan tawanya saat melihat perubahan air muka Clarissa dari yang tadinya sangat percaya diri, seketika menjadi down setelah mendengar jawaban dari Levin, terlihat jelas dari warna merah menyala yang mulai berkobar disana.
'Rasain loe! Memangnya enak, dasar cewek bermuka dua!' Nindi mengumpati Clarissa di dalam hati.
"Ya tapi nggak gitu juga Lev, loe harus tau yang mana prioritas dan mana yang bukan. Kasian orang tua loe juga, mereka susah payah membiayai loe kuliah, tapi loe nya malah bolos kayak gini?" Clarissa masij terus berusaha untuk mengompori Levin.
Terbesit ide jahat di otak Nindi, untuk membuat kobaran api di dalam hati Clarissa semakin berkobar.
"Ternyata loe nggak tau apa-apa ya soal si tengil ini, dia kan pinternya kebangetan, mana ada orang tuanya ngeluatin duit buat biaya dia kuliah. Dia kan dapet beasiswa. Iya kan, ngil?" Sengaja dia menaruh sikutnya di pundak Levin, menaik turunkan alisnya meminta persetujuan Levin, terlihat so akrab sekali, padahal sebelum ini mereka sangat tidak bisa akur.
Levin melirik sikut Nindi yang ada di pundaknya, tak merasa keberatan tapi juga tidak merasa suka. Dalam hati dia bergumam.
'Astaga, ada apa dengan dua perempuan ini? Mereka bener-bener nggak jelas.' Kembali mengarahkan pandangannya pada Sheerin. 'Cuma kamu satu-satunya perempuan yang waras Sheerin, ayo cepet bangun!'
Kemudian mencium tangan itu dengan lembut, mengabaikan Nindi dan Clarissa yang terdengar saling cek-cok satu sama lain.
"Ehh, singkirin tangan loe dari dia!" Clarissa yang merasa tak terima disana saat melihat sikut Nindi nangkring di bahu Levin, menepis tangan Nindi.
"Kenapa jadi loe yang sewot? Yang punya pundak ini aja nggak keberatan. Wlee." Mengejek Clarissa sambil menjulurkan lidahnya bak bocah. Membuat Clarissa merasa di olok-olok. Menyadari jika Clarissa sudah terpancing emosinya, itu justru membuat Nindi semakin senang untuk menggodanya.
"Lev, loe kok diem aja sih!" Mencari pembelaan.
__ADS_1
"Kalian berdua kalau mau ribut mendingan diluar deh! Jangan ganggu Sheerin yang lagi tidur." Jawaban Levin malah tidak nyambung dengan perkataan Clarissa.
"Nah, bener banget tuh. Kita lanjutin diluar yok!" Nindi menarik tangan Clarissa, dia tak mau setelah Levin menyadari perasaannya kepada adik kembarnya itu, justru Clarissa yang menjadi penghalang untuk mereka bersatu.
Nindi sudah bertekad untuk membuat jalan yang akan dilalui Levin dan Sheerin untuk bersama menjadi mudah dan menyingkirkan kerikil-kerikil pengganggu hubungan mereka.
Clarissa yang tubuhnya diseret-seret tentu saja berontak, urusannya belum selesai, dia belum bisa mengembalikan Levin ke jalan yang benar menurutnya.
"Lepasin gue! Lev, tolong gue!"
"Ayo!"
Tapi tenaga Nindi jauh lebih besar dari Clarissa, akhirnya berhasil menggiring Clarissa keluar dari ruang rawat inap Sheerin.
Tinggal Levin berdua dengan Sheerin yang tak sadarkan diri disana. Menghembuskan nafas beratnya, mulai lagi mengoceh sendiri, beeharap Sheerin bisa mendengar apa yang sedang dia bicarakan dan do'a kan.
"Mereka itu perempuan-perempuan bar-bar She, aku pusing denger mereka bertengkar."
"Kamu sama Nindi memang serupa, tapi kamu itu beda, kamu memiliki wajah teduh, menenagkan hati saat aku melihatnya. Meskipun hati aku lagi nggak baik-baik aja, tapi hanya dengan menatap wajah kamu seperti ini, aku seperti memiliki kekuatan dan keyakinan. Cepat atau lambat, kelopak mata indah kamu itu pasti akan kembali terbuka."
Meyakinkan diri dengan semua kata-kata bijaknya, namun hatinya kembali rapuh saat bayangan Sheerin akan pergi meninggalkannya kembali menghantui. Digenggamnya erat-erat semua jari Sheerin dengan tangan kirinya, menciuminya berkali-kali, sedangkan tangan kanannya mengelus kening Sheerin, benar-benar takut kehilangan.
"She, bangunlah. Aku janji aku nggak akan pernah mengabaikan kamu lagi."
"Aku sayang kamu She, tolong bangun, demi aku."
"Hsgdgeywubedgsj gwgegejwj hegwywh." Terdengar suara-suara bising dari luar ruangan itu, Levin merasa jika adu mulut antara si urakan dan Clarissa masih berlanjut.
Astaga!
Benar-benar keterlaluan kedua perempuan itu, tidak melihat ini tempat apa? Masih saja tidak ada yang mau mengalah. Levin beranjak dari duduknya, merasa harus membereskan dulu urusan mereka. Ya, mereka harus segera dipisahkan atau tidak, rumah sakit ini akan berubah menjadi arena tinju.
"Tunggu sebentar ya She!" Pamitan pada orang yang tidak sadar.
***
Diluar ruang rawat inap.
"Lepasin gue! Loe pikir gue kambing apa main tarik-tarik segala?" Clarissa menepis tangan Nindi.
"Hah? Loe nggak salah nanya kayak gitu? Dengerin baik-baik ya, bahkan kambing betina sekalipun itu jauh lebih cantik dari pada loe. Dasar cewe caper, baper!" Nindi menekan setiap kata yang dia ucapkan.
"Loe yang caper." Membalikkan perkataan Nindi.
"Oke gini aja deh, gue nggak mau basa-basi sama orang nggak penting kayak loe ini." Meremehkan Clarissa. Membuat yang diremehkan membulatkan mata ke arah Nindi, tak terima.
__ADS_1
"Mulai sekarang mendingan loe jauhin si Levin deh, biarin dia sama Sheerin. Loe liat sendiri kan gimana terpukulnya si Levin itu dengan keadaan Sheerim sekarang? Dia itu bener-bener cinta sama Sheerin dan nggak ada lagi peluang buat loe deketin dia."
"Apa loe bilang? Gue nggak akan nyerah buat rebut kembali apa yang seharusnya jadi milik gue. Kalian itu adik sama kakak sama aja, tukang rebut gebetan orang. Gue masih dendam sama loe karena udah rebut kak Bima dari gue, dan sekarang gue nggak akan biarin si Sheerin itu rebut Levin dari gue!"
"Udah lah Cla, stok cowo didunia ini masih banyak, kenapa loe cuma kejar-kejar satu cowo yang hatinya udah dimiliki orang lain? Oh atau jangan-jangan loe itu nggak laku ya? Duh kasihan banget sih jadi loe. Mau sama kak Bima, ehh kak Bimanya malah udah sama gue. Suka sama si Levin, si Levinnya nggak suka sama loe. Miris banget ya hidup loe itu. Cuma bisa mengagumi tanpa dicintai. Wkwk." Ucap Nindi panjang lebar, bahkan dia mampu bicara tanpa jeda.
Clarissa tak terima di rendahkan seperti oleh Nindi.
"Sialan loe! Yang ada disini loe yang udah rebut kak Bima dari gue, dan sekarang si Sheerin juga rebut Levin dari gue. Kalian itu sama-sama PELAKOR!" Bicara menggebu-gebu, menganggap dirinya yang paling tersakiti disana.
"Woy, ngaca dong loe! Harusnya gue yang bilang loe PELAKOR, loe berusaha buat cari perhatian kak Bima dan berharap gue pisah kan sama dia, kan? Jadi yang pelakor disini itu LOE! Dan sekarang loe mau mengusik si Levin sama Sheerin? Jangan harap! Gue yang bakal berdiri paling depan buat menghadang loe!" Nindi yang merasa benar, tentu saja tidak akan mau mengalah, beda lagi ceritanya jika dirinya yang salah, dia pasti akan diam.
Merasa takan bisa menang jika berdebat dengan Nindi, Clarissa mengambil langkah seribu, bersiap menyerang Nindi. Dan akhirnya...
Tadinya Nindi ingin bernegosiasi tanpa adanya kekerasan, namun apa boleh buat, Clarissa yang mulai duluan, dan ujung-ujungnya mereka akan berbaku hantam, sangat menguras keringat dan tenaga. Nindi bersiap, mengambil ancang-ancang untuk menghindari serangan yang akan Clarissa lancarkan.
Krek!
Belum sempat Clarissa menyentuh Nindi, pintu ruang rawat inap Sheerin terbuka. Membuat cek-cok diantara Nindi dan Clarissa mendadak terhenti, Clarissa mengurungkan niatnya untuk menyerang Nindi, dia harus menjaga image nya di hadapan Levin, bukan?
***
Kelopak mata yang tertutup rapat, perlahan namun pasti mulai terbuka. Berat, rasanya begitu berat hanya untuk sekedar membuka mata.
Mengerjapkan setelah berhasil terbuka dengan sempurna. Mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut ruangan hanya dengan gerakan bola matanya. Sheerin tidak mengenali tempat ini. Terakhir yang dia ingat, dirinya sedang berada di tepi pantai yang damai.
'Dimana lagi ini?' Bergumam dalam hati, kenapa dirinya selalu saja berganti-ganti tempat dalam hitungan detik, padahal dia merasa tidak berjalan menuju tempat ini.
"Awwwsh!" Dia merintih kesakitan, saat merasakan denyutan yang cukup kuat terjadi di kepalanya. Reflek dia memegangi kepalanya yang berdenyut, namun tangannya terasa agak sulit untuk digerakkan.
Pantas saja, Sheerin melihat ada selang yang mempel pada tangannya. Bau obat-obatan kini mulai menyengat, memenuhi indra penciumannya.
Ini adalah rumah sakit, ya! Sheerin baru menyadari jika dirinya sedang berada di rumah sakit sekarang. Namun saat berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi kepada dirinya, kepala Sheerin semakin terasa sakit. Diapun menyerah untuk mencari tau.
Walaupun terasa sulit, Sheerin berusaha untuk bangkit dari tidurnya, mencari-cari sesuatu yang sekiranya bisa membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.
Krek!
Belum sempat Sheerin mendapatkan apa yang dia butuhkan, suara decitan mengagetkan dirinya. Netranya beralih menatap pintu, menunggu detik-detik munculnya orang dari balik pintu itu.
"Sheerin!"
Sepasang mata yang baru saja muncul dari balik pintu nampak terkejut saat melihat pemandangan yang sedang berlangsung diruangan itu.
____________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...