Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
46


__ADS_3

"Buka bajumu?!" Ucap Elizabeth saat sampai di kamar mereka.


"Apa kau sudah begitu rindu padaku, Elis? Kita baru masuk dan kau sudah menyuruhku membuka bajuku saia" goda Abraham.


"Jangan pikir macam-macam, aku hanya ingin melihat lukamu. Itu saja!" Ujar Elizabeth malu.


"Em. Apa tidak ingin yang lainnya? Aku pasrah kok. Asal itu kamu!" lagi-lagi Abraham membalas Elizabeth dengan godaan.


"Tidak! Seminggu tidak bertemu kau semakin mesum saja!" Jawab Elizabeth.


"Karena itu, Kau semakin rindu denganku, kan? sampai-sampai tidak sabaran begitu" Goda abraham dengan senyum 1000 Watt nya dan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ayolah, Honey. Aku ingin memastikan apa yang di ucapkan kak Bram benar apa tidak?" ujar Elizabeth yang tak ingin mendengar ocehan Abraham ini, kalau seperti ini lama-lama pertahanan Elizabeth juga akan runtuh dengan cepat.


"Bram bukan penipu, Elis...."


"Tapi Kak Bram juga laki-laki" balas Elizabeth


"Apa hubungannya dengan lelaki?"


"Penuh dengan tipu muslihat"


"Tidak semua laki-laki penuh dengan tipu muslihat tuh. Contohnya aku yang jelas laki-laki baik-baik"


"Ayolah. Tunjukan padaku!"


Abraham dengan santai membuka bajunya. Elizabeth melihat bagian belakang Abraham. Benar saja, luka Abraham lebih baik dari sebelumnya


"Sudah lebih baik bukan?" Tanya Abraham sambil berbalik dan menatap Elizabeth.


"Sudah lebih baik" jawab Elizabeth "Honey, Sekarang katakan selama seminggu ini kau kemana?"


Abraham tersenyum manis pada Elizabeth.


"Kenapa kau malah tersenyum?"


"Bilang saja kau rindu, kan?" sepertinyaengoda Elizabeth dan melihat merah di pipi Elizabeth membuat kesenangan sendiri pada Abraham.


"Tidak Mau cerita ya, sudah" ucap Elizabeth kesal dan akan pergi.


"Iya iya. Gitu aja ngambek. Sebagian besar hanya di kantor dan kantor, ya pergi cuma mencari makan" Abraham berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Elisabeth pun mengikuti Abraham dan duduk di sampingnya.


"Apakah sangat sibuk? sampai-sampai tidak bisa memberikan kabar?"


"Apakah kau khawatir?"

__ADS_1


"Iya. Aku khawatir, kau sedang terluka saat itu" jawab Elizabeth mantap.


"Maaf. Maaf telah membuatmu khawatir" Abraham mengusap kepala Elizabeth lembut. Elizabeth menunjukkan wajah cemberutnya "Kau memaafkan aku kan, Elis?" tanya Abraham Kembali.


"Tunggu dulu?!" Ucap Elizabeth fokus pada dada Abraham yang terbuka.


"Ada apa?"


"Ada apa dengan dadamu, Honey?!" Tanya Elizabeth khawatir.


Abraham melihat kearah dadanya, bekas pukulan Nick tertingal di sana. Mereka tidak pura-pura berkelahi, tapi benar-benar berkelahi untuk melihat kemampuan mereka masing-masing dan Abraham terkena pukulan beberapa kali dan meninggalkan luka di sana, tapi Abraham pun tidak menyadarinya.


"Oh ini?" Tanya Abraham menunjuk pada lebam-lebam itu.


"Iya. Itu. Ini seperti lebam karena pukulan benda tumpul" Elizabeth menyentuh tubuh Abraham yang lebam itu.


"Iya kau benar! Ini hanya karena aku latihan dan aku terkena pukulan"


"Kau latihan saat masih terluka? Apakah sakit?" Tanya Elizabeth khawatir sambil menekan luka lebam itu. Abraham senang melihat Elizabeth yang perhatian padanya. Perhatian Elizabeth ini menghilangkan semua lelah yang dia dapatkan selama seminggu ini "Sudah di kasih salep?"


"Aku bahkan tidak menyadarinya"


"Duduklah! Aku akan ambil salepnya" Elizabeth pergi dan mencari kotak obat.


"Siapa yang menghubungi mu?" Tanya Elizabeth saat datang setelah mengambil salep dari kotak obat. Abraham baru saja menutup telponnya.


"Kenapa? Apa tugas kantor masih yang harus di kerjakan lagi?"


"Dia hanya memberikan laporan, masalah teman-temanmu sudah di tangani katanya"


"Apa?!" Elizabeth terkejut. "Apa kau benar-benar akan membuat mereka bangkrut?"


"Em"


"Apa itu tidak akan memberikan masalah pada mu dan juga D'company, Honey? Aku rasa....."


"Tidak akan menimbulkan masalah berarti untuk D'company, Elis. Kau tidak perlu khawatir. dan jangan suruh aku untuk berhenti melakukannya, mereka memang pantas mendapatkan itu"


"Aku tidak meminta kau berhenti, Honey. Mereka memang pantas mendapatkan semua itu. Beraninya mereka menghina tanah dimana aku dilahirkan dan di besarkan?! Indonesia, itu negara yang indah. Kau pernah kesanakan, Honey?" tanya Elizabeth semangat. Abaraham mengangguk dan Elizabeth semakin bersemangat untuk menceritakan bagaimana Indonesia di ingatan Elizabeth yang terpatri sampai sekarang. Negara keberagaman suku dan kebudayaan, namun mereka bersatu karena semboyan mereka adalah "Bihneka Tunggal Ika" berbeda-beda tapi tetap satu jua.


"Tapi Elis, bukankah di Indonesia kau hanya sebentar? Kau kan hanya berlibur saat itu" ujar Abraham saat Elizabeth berhenti bercerita tentang indahnya negara itu.


"Apa?!"


Terjadi kesunyian saat itu. Abraham dan Elizabeth larut dalam pikiran mereka masing-masing. Entah apa yang mereka berdua, namun mereka saat ini sedang berfikir sangat keras.

__ADS_1


"Hahaha, mungkin efek kecelakaan. Mungkin! Akhirnya Elizabeth membuka suara. Tawa Elizabeth tak menunjukkan kesenangan, namun kegelisahan.


"Iya" Abraham mengusap kepala Elizabeth lembut. "Kau bahkan belum mengingatku dan orang-oranh di sini kan?" tanya Abraham. Elizabeth menjawabnya dengan anggukan. "Oleh sebab itu, kau harus rajin meminum obatmu. Jangan malah tidak kau minum"


Mendengar semua itu, mengingatkan Elizabeth akan obat yang dia minum setiap 3 kali sehari, yang tidak pernah di lupakan oleh pak Mun untuk mengingatkannya meminum obat tersebut. Apalagi saat siang, saat dia harus berada di kampus. Pak Run akan selalu dan tidak pernah lupa untuk mengingatkannya, tentang makan siang dan meminum obatnya, bahkan dia sering mengatakan "Apa perlu saya membuatkan anda bekal makan siang? apa perlu saya siapkan makanan ringan? dan BLA BLA BLA "


"Honey?"


"Em"


"Sebenarnya itu obat apa, Honey?"


"Obat? Itu bukan obat, Elis hanya vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan daya ingat"


"Jadi selama ini itu hanya vitamin? Ah pantas saja ada yang seperti vitamin C"


"Kau jangan berfikir macam-macam. Siap-siap sore ini, kita akan latihan"


"Latihan? Benarkah?"


Entah sejak kapan? saat mendengar kata latihan Elizabeth menjadi bersemangat. Dia seperti menjadi orang yang berbeda.


"Apa aku pernah berbohong padamu?"


"Mana aku tau kau pernah berbohong atau tidak" jawab Elizabeth dengan santai


"Kau rasa aku pernah berbohong atau tidak?" tanya Abraham yang tidak suka dengan pernyataan Elizabeth tersebut.


"Mungkin?! Mungkin pernah" jawab Elizabeth Ragu dan sebenarnya dia hanya ingin menggoda Abraham.


"Kau bilang mungkin? mungkin pernah?"


"Ya kau kan manusia, yang tidak luput dari salah dan khilaf"


"Kau mulai berani ya, elis?!" Abraham menggelitik Elizabeth, sampai Elizabeth terjatuh di sofa karena dia merasa geli. Abraham terus menggelitik Elizabeth.


"Katakan sekali lagi, Elis. Kau bilang apa tadi?"


"Hahaha sudah hentikan. Geli tau. hahahaha" Abraham terus menggelitik Elizabeth.


"Katakan sekali lagi, Elis?"


"Hahahaha. Hentikan! Kumohon..Hahahaha. Hentikan, honey. Hentikan hahahahaha"


Elizabeth meraih bantal kursidan memukuli Abraham dengan bantal, karena Abraham tidak berhenti menggelitiknya.

__ADS_1


Abraham pun mengambil bantal yang lain dan terjadilah perang bantal antara Abraham Vs Elizabeth.


see you next time


__ADS_2