
Antara sepi dan sunyi, atau tentram dan damai. Mama Anya tak bisa membedakan antara dua hal itu.
Entahlah apa dirinya merasa bahagia atau tidak setelah impiannya terwujud untuk menguasai seluruh kekayaan Lukman. Kini dirinya hanya sendiri dirumah itu, tanpa ada satupun orang yang berkeliaran disana. Semua ART telah dia pecat, tak ingin menyisakan orang di masalalu.
Ini adalah cita-citanya sedari dulu, menghabiskan masa tua bersama dengan orang yang dia kasihi, Luis, Bima. Merajut kembali kebahagiaan yang sempat hilang karena ambisi yang terlalu tinggi.
Tanpa dia sadari jika semua takan pernah kembali seperti dulu sebelum dirinya meninggalkan keluarga kecil itu. Bukan hanya masa yang bisa berganti, namun hati seseorang pun rentan berubah.
Mungkinkah Bima yang sekarang tumbuh dewasa bisa menerima kenyataan jika kaki miliknya lah yang dahulu Bima dekap agar tidak pergi dan meninggalkannya?
Apa mungkin Bima mau memahami jika semua yang dia lakukan adalah demi untuk diri Bima sendiri? Mama Anya tidak perlu mencemaskan tentang Luis, dia adalah manusia paling setia yang Tuhan ciptakan untuk mama Anya, cinta sejatinya. Dia tak pernah berkhianat barang sedikit saja. Mereka berjuang dari titik terendah, berjalan diatas bara api, menginjak duri sekalipun mereka tetap melangkah, hingga sekarang mereka berada di mercu kejayaan yang pernah diraih dalam sepanjang sejarah hidup mereka.
Jika saja dulu Lukman tidak memecat Luis dan membawa keluarga kecil mama Anya kedalam kesengsaraan, mungkin dendam ini takan pernah mendarah daging didalam diri mama Anya. Andai saja dulu Lukman mau berbelas kasih dan mempercayai jika bukan Luis lah yang telah membawa kabur uang milik perusahaan, maka mama Anya pastikan keluarga milik Lukman takan pernah berantakan seperti sekarang ini.
Sendiri, mama Anya tenggelam menyelami masa silam. Bagaimana awal mulanya Lukman menghancurkan kehidupan bahagia yang dia jalani bersama keluarga kecilnya.
Mama Anya's POV
Dia bukanlah seseorang yang hebat, bukan pula saudagar, dia hanyalah seorang cleaning service di suatu perusahaan. Namun begitu, tak membuat keluarga kami dirundung nestapa. Kami selalu bersyukur seberapa kecil pun rezeki yang Tuhan berikan bagi keluarga kecil kami. Kami menjalani kehidupan yang sangat bahagia meskipun penuh dengan kesederhanaan. Kehadiran seorang putra di antara kami, membuat kebahagiaan kami kian terasa sempurna.
Hingga saat itu tiba, bagaikan mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Saat itu Bima baru saja menginjak usia 5 tahun kira-kira, Luis dipecat dari pekerjaannya, membuat harapan yang di gantungkan kepadanya sirna seketika.
"Aku dipecat." Ucapnya kala itu sambil tertunduk lesu. Wajah pucatnya menegaskan jika dia sangat bersedih.
"Jika satu jalan tertutup, yakinlah jalan yang lainnya akan terbuka lebar."
Namun aku selalu meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja, dia pasti mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Meyakini jika Tuhan pasti telah mempersiapkan hal yang jauh lebih baik untuk Luis dengan di pecat nya dari perusahaan itu.
"Bos menuduhku mencuri uang perusahaan. Aku di usir secara tidak terhormat dari sana." Dongengnya penuh ke senduan.
"Sumpah, seberapa besarpun aku membutuhkan uang, aku takan pernah melakukan hal se keji itu." Aku tau Luis, dia orang yang menjunjung tinggi sebuah kejujuran, itu salah satu alasan aku mencintainya.
Hari-haripun berganti, Luis masih berusaha mencari pekerjaan setelah dipecat dari perusahaan itu. Aku kira, akan mudah untuknya mendapatkan pekerjaan baru, nyatanya setelah hampir semua perusahaan dikota ini dia datangi, tak ada satupun perusahaan yang sudi untuk menerima dirinya, Luis ditolak walau untuk posisi terendah sekalipun.
Satu bulan, dua bulan, kini Luis mulai jemu, dia mendapat kabar jika bosnya diperusahaan dulu sudah memberitahukan kepada seluruh rekan bisnisnya untuk tidak pernah mempekerjakan Luis diperusahaan mereka, berita itupun beredar dari satu perusahaan ke perusahaan lain.
Betapa hancurnya hatiku ketika mendengar kabar itu, Luis harus menanggung akibat dari kesalahan yang sama sekali tidak pernah dia lakukan.
Pekerjaan apapun Luis lakukan demi untuk memberiku dan Bima makan. Dari mulai tukang sapu di pasar, tukang panggul beras, bahkan berjualan kantong kresek sekalipun dia kerjakan. Sungguh, sangat mengoyak hatiku saat melihatnya.
Semakin hari, kebutuhan hidup semakin banyak, sedangkan penghasilan Luis tidak menetap. Kadang dia membawa uang hanya 30 ribu, itupun jika banyak penjual yang memberinya pekerjaan dipasar. Pernah satu hari dia pulang hanya dengan tangan kosong. Pernah pula dia pulang hanya membawa sayuran yang hampir membusuk, sayuran yang sudah dibuang oleh penjual, Luis pungut dan dia bawa pulang. 'Dari pada tidak bawa apa-apa sama sekali.' Kata-katanya waktu itu masih menjadi bahan sakit hatiku sampai detik ini.
Aku menitihkan air mata jika malam-malam aku terbangun karena perutku merasa lapar. Hah, aku sudah tidak pernah memikirkan perutku sendiri semenjak Luis bekerja serabutan. Yang penting Bima bisa makan, itu sudah lebih dari cukup untuku, paling aku makan bekas Bima jika dia sudah tidak mau makan lagi. Bima makannya juga tidak terlalu banyak, berimbas pada tubuhnya yang semakin kurusan.
Luis? Entahlah, dia juga sudah jarang sekali makan dirumah, dia selalu berkata jika dirinya sudah makan dipasar. Entah benar atau bohongkah itu.
Pernah sekali waktu Bima menangis, ingin dibelikan bubur kacang yang lewat didepan kontrakan. Hatiku benar-benar hancur, sebagai orang tua, bahkan aku tidak mampu untuk membelikannya bubur kacang yang harganya tidak seberapa itu. Aku menggendongnya, menenangkannya.
__ADS_1
"Bima jangan nangis ya, kita susul ayah ke pasar, kita minta uangnya dulu." Ucapku saat itu, bibirku memang tersenyum, namun hatiku kini tengah diguyur hujan deras.
Akupun mengajak Bima ke pasar untuk menemui Luis, sekalian jika Luis memberi uang, akan aku belikan beras untuk makan Bima siang nanti. Jangan ditanya lauknya apa, cukup ditaburi garam, nasi hangat akan terasa nikmat. Begitu aku selalu meyakinkan diri. Uang yang Luis berikan, sudah habis untuk dibayarkan kontrakan. Itu artinya aku harus lebih pandai berhemat lagi sekarang.
Bima terlihat ceria berjalan dari kontrakan menuju pasar dengan sandalnya yang sudah aku pasangi tali karena putus beberapa hari yang lalu, dengan harapan akan di belikan bubur kacang, sepanjang jalan dia meracau banyak hal, ingin makan ini, ingin makan itu, seperti teman-temannya. Sedangkan aku, dengan percaya dirinya aku pergi kepasar hanya menggunakan daster lusuh, rambut yang berantakan di terpa angin.
Untung saja Bima termasuk anak yang gampang dibujuk, paling menangis sebentar setelahnya seolah tidak terjadi apa-apa jika seandainya dia menginginkan sesuatu. Tidak seperti anak-anak lain yang jika menginginkan sesuatu, harus segera dituruti.
Deg!
Pemandangan yang menyesakkan dada harus aku lihat saat itu, air mataku luber begitu saja melihat Luis tengah mengumpulkan butiran beras yang berserakkan di teras ruko.
Ya Tuhan, sebegitu besar pengorbanan yang Luis lakukan hanya untuk memberiku dan Bima makan. Dia rela melakukan hal serendah itu, dia mengenyampingkan harga dirinya sendiri.
Aku benci perasaan ini, kenapa aku harus melihat pemandangan ini?
Andai saja aku tidak datang ke tempat ini sekarang, mungkin hatiku takan sehancur ini sekarang.
"Anya!" Luis menyadari kehadiranku, dia beranjak dan berjalan menghampiriku.
"Aku dapat rezeki, lumayan ada setengah kilonya." Sambil menunjukkan kresek berisikan beras hasil pungutannya tadi.
Tangisku pecah seketika, ku peluk erat tubuh itu.
"Kenapa kamu menangis?" Ku rasakan tangan besar Luis menyentuh rambutku.
"Mama jangan nangis." Kali ini tangan kecil Bima terasa menarik daster lusuhku.
"Kenapa?"
"Jangan, pokoknya jangan!"
Akhirnya, siang itu kami bertiga pulang menuju kontrakan, aku menenteng kresek berisikan beras pungutan, sedangkan Luis menggendong Bima, biar cepat katanya.
Saat melewati sebuah pusat perbelanjaan, Luis menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" Tanyaku bingung.
"Itu bosku dulu." Matanya menatap ke satu titik, aku mengikuti arah pandangannya.
Terlihatlah dua orang yang aku yakini sebagai sepasang suami istri tengah berjalan menuju pada satu mobil. Di belakangnya seorang sopir membawa banyak sekali barang belanjaan milik mereka, mungkin mereka baru saja berbelanja pakaian bayi karena si perempuan itu tengah mengandung besar. Mereka terlihat sangat bahagia, seorang anak perempuan yang berada digendongan ayahnya terlihat sedang memakan ice cream, ayahnya sesekali menggoda dengan ikut melahap ice cream yang sedang di makan putrinya itu.
Berpakaian bagus, uang yang banyak, mobil mewah. Jauh berbeda dengan keluargaku yang sudah seperti pengemis ini.
Mereka masih bisa hidup dengan sangat layak setelah menghancurkan masa depan seseorang. Tanpa memikirkan berapa banyak perut yang telah dia buat kelaparan karena perbuatannya itu.
Tanganku mengepal, perasaan kesal itu perlahan mulai singgah hatiku. Aku tak terima, jika aku harus menjalani kehidupan penuh dengan kesengsaraan ini, setidaknya mereka juga harus merasakan penderitaan yang aku rasakan. Bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Hari-hari berikutnya, Bima sakit, cemas, pasti itu yang aku rasakan, sedangkan Luis masih belum memiliki pekerjaan setelah berhenti datang ke pasar.
Meski tak memiliki uang sepeser pun, aku betejad membawa Bima ke rumah sakit terdekat. Keadaannya begitu mengkhawatirkan, beberapa hari ini Bima sama sekali tak mau makan, dalam tidurnya dia sering mengigau bubur kacang. Dia ingin makan bubur kacang, akupun membelikannya karena waktu itu ada sedikit rezeki. Namun Bima kini tak berselera, dia hanya memakan sesuap setelahnya tidak mau lagi.
Wajahnya membiru, tubuh kurus keringnya kaku, bahkan tubuh itu sekarang hanya sebatas tulang berlapis kulit, saking jarang sekalinya Bima makan dengan layak. aku mengguncangnya, menyuruhnya bangun, namun Bima tak merespon, kepanikanku semakin menjadi-jadi.
Kata dokter, Bima mengalami busung lapar, kekurangan gizi, gizi buruk apalah itu yang mencerminkan orang tuanya sangat tidak berguna, bahkan untuk sekedar memenuhi gizi anaknya sendiri.
Bima sekarat, aku tak tega melihat jarum infis yang terpasang di tangan kecilnya dan beberapa alat penunjang kehidupannya. Luis berusaha mencari pinjaman untuk biaya pengobatan Bima, namun tak ada satupun saudara ataupun yang tetangga yang mau berbelas kasih meminjami kami uang.
Mereka begitu tega, mungkin mereka takut kami tidak akan mampu membayar. Ku relakan harus menanggung serpihan perih di hatiku menangisi nasib Bima.
Luis yang biasanya sabar dan tenang, kali ini wajahnya menampilka keputusasaan.
"Ini semua terjadi karena Lukman." Tangannya mengepal, matanya memancarkan kemarahan.
"Karena dia keluarga kita jadi harus melewati semua ini."
"Jangan khawatir Luis, aku pastikan mereka akan merasakan kesengsaraan yang kita rasakan sekarang."
Beruntung sekali Bima, mungkin Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bisa melihat dunia, ada seorang dokter yang merasa iba melihat keadaan kami, dokter itu membebaskan semua biaya pengobatan Bima selama dirawat dirumah sakit. Tak hanya itu, dia juga memberi kami sepeser uang untuk mebelikan Bima sayur dan buah. Begitu pesan sang dokter baik hati itu.
Kami sangat berterimakasih kepadanya.
Bulanpun mulai berlalu, aku mendengar kabar jika istri mantan bos Luis sedang mencari seorang perawat untuk mengasuh kedua putri kembarnya. Entah kenapa aku berpikir ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk bisa masuk kedalam keluarga itu.
Untung saja aku bergerak cepat, tanpa banyak persyaratan dan tanpa mereka curigai sama sekali, aku diterima disana.
Aku mengaku sebagai seorang janda tanpa anak, aku sudah merencanakan ini semua dengan sangat matang bersama Luis, untuk membalaskan dendam. Jika orang lain saja bisa setega itu terhadap keluargaku, maka aku bisa berbuat lebih kejam dari apa yang mereka perbuat. Aku akan membalaskan rasa sakit yang di derita Bima selama terbaring dirumah sakit akibat perbuatan orang kaya itu.
Tibalah saat berpisah dengan Luis dan Bima, aku harus tinggal ditumah itu sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Yang artinya aku harus rela hidup berjauhan dengan orang-orang yang aku kasihi.
Langkahku terasa berat saat meninggalkan rumah kontrakan yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku bersama Luis. Namun aku harus melakukan ini, selain gajinya yang lumayan menjanjikan, ada niat terselubung di baliknya. Sudah cukup Luis yang berjuang selama ini, kini adalah giliranku.
"Mama, mamaa!" Suara tangisan Bima membuat aku ragu untuk melangkah. Ku menoleh, terlihat Luis sedang memegangi Bima agar tak mengejarku.
Bima berhasil lolos dari cengkaman Luis, dia langsung saja memeluk kakiku dan mendekapnya erat-erat sambil menangis meraung-raung.
"Mama jangan pergi, aku sayang mama, aku janji tidak akan nakal lagi, aku tidak akan minta dibelikan bubur kacang lagi. Aku janji tidak akan buat mama menangis. Tapi mama jangan pergi ma, aku sayang mama. Simpan lagi baju mama kedalam lemari!" Bima di umurnya yang hampir 6 tahun rupanya sudah paham jika ibunya ini akan pergi dalam kurun waktu yang lama.
Aku harus bisa berbuat tega demi masa depannya. Sudah cukup satu tahun ini kami hidup dalam kesengsaraan.
***
"Sedang apa kamu Anya?" Suara itu menyadarkanku dari lamunan panjangku.
"Luis!" Aku terperangah, cukup kaget juga karena Luis tiba-tiba muncul di hadapanku.
__ADS_1
________________
Tinggalkan jejak setelah membaca....