Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bima Galau


__ADS_3

Bima masuk kedalam kamar tamu saat melihat pintunya tidak ditutup dengan benar. Hal yang begitu mengharukan terjadi di hadapan matanya.


Istrinya itu tengah melepas rindu dengan orang-orang terkasihnya.


"Ekhm." Bima berdehem pelan untuk memberi kode jika selain mereka bertiga, ada orang lain juga diruangan itu.


Sontak acara pelukan ala-ala teletubis itupun berakhir di detik yang sama.


"Kak!" Nindi berseru.


"Bisa ikut aku sebentar?" Ucap Bima.


Nindi menoleh ke arah ibu, meminta izin, ibupun mengangguk setuju.


"Pergilah, temani dulu suamimu." Ucap ibu.


Kemudian Nindipun mulai mengikuti langkah Bima yang telah berjalan terlebih dulu.


***


Nindi mengikuti Bima sampai ke dapur.


"Ada apa kak?" Tanya Nindi dengan polosnya, dia lalu menduduki kursi meja makan tepat di samping Bima.


"Aku lapar." Jawab Bima.


"Oh, ya udah, tinggal makan aja. Kakak mau sama apa?" Nindi mulai mengambil piring dan menyiukkan secentong nasi.


"Apa saja." Jawab Bima.


Nindipun menyiukkan ikan balado dan sayur asem yang mungkin sebelumnya dimasak oleh ART di rumah ini. Kemudian menyodorkannya tepat di hadapan Bima.


"Kenapa diam? Tadi katanya lapar?" Tanya Nindi saat Bima sama sekali tak menyentuh makanannya.


"Suapi aku!" Titahnya.


Oh Astaga!


Ada apa dengan suami Nindi itu? Tidak biasanya dia bersikap seperi ini, kekanakkan dan manja sekali. Tapi Nindi mencoba untuk menuruti keinginannya. Dia mulai menyodorkan sendok berisi nasi dan ikan ke arah mulut Bima.


***


Sheerin telah beberapa kali mencoba menghubungi Levin, namun hanya terdengar suara operator yang memberi informasi jika nomornya sedang tidak aktif.


Mulai frustasi, Sheerin tidak bisa memendam perasaan ini sendirian, dia butuh teman untuk berbagi gundah di hatinya.


Nindi, ya! Hanya tinggal Nindi satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kepergian ayah. Sheerinpun kembali harus turun kebawah untuk mencari keberadaan Nindi. Mungkin dia sedang bersama ibu dan Yuvi di kamar tamu. Begitu Sheerin berpikir.


***


Namun saat melintasi dapur, Sheerin melihat Nindi dan suaminya sedang berbincang, segera Sheerin menghampiri keduanya.


"Nin, ikut gue yuk! Ada yang mau gue ceritain!"


Tiba-tiba Sheerin datang dan bergelayut manja di lengan Nindi. Membuat Bima yang sudah membuka mulutnya, malah tidak jadi mendapatkan suapannya. Sendok yang Nindi pegang harus kembali mendarat di atas piring.


"Ada apa sih She? Kayanya serius banget?" Tanya Nindi.


Lagi-lagi dia.

__ADS_1


Dalam hati, Bima mengutuki keberadaan Sheerin. Dia selalu saja ingin menempel pada istri orang. Apa dia tidak malu? Dimana akal sehatnya? Tidak bisakah dia berhenti mengganggu Nindi dan membiarkannya tetap bersama Bima?


Jika sepeti ini terus, maka Bima yakin dirinya akan menjadi gila dalam waktu dekat ini. Bima menatap datar ke arah dua perempuan itu, namun dalam hati menyimpan kekesalan yang luar biasa.


"Ayo kita bicaranya dikamar aja." Ucap Sheerin.


"Oh, ya udah. Kak, aku ikut Sheerin dulu! Kak Bima lanjut makannya sendiri aja ya!" Ucap Nindi pada Bima.


"Hmm." Hanya deheman kecil yang terdengar.


Setelahnya, Nindi dan Sheerinpun berlalu dari hadapan Bima.


Bima menyuapkan satu sendok nasi yang tadi sempat Nindi sodorkan dengan jengkel ke mulutnya, sambil menatap kepergian mereka dengan kesal.


***


"Menurut loe, Levin masih bisa maafin gue nggak ya?" Sheerin mulai mengutarakan unek-unek di hatinya.


"Jadi, cerita yang menurut loe penting itu tentang si tengil?" Tanya Nindi kemudian.


"Memangnya kenapa? Salah ya? Gue kan merasa bersalah sama dia, selama ini gue udah bohongin dia dan kasih dia harapan palsu."


"Astaga She! Dia itu udah ninggalin loe kemarin, jadi buat apa lagi loe berharap sama dia? Kalau dia memang cinta sama loe, dia akan tetap bisa terima bagaimanapun keadaan loe, sekalipun loe udah bohongin dia habis-habisan." Ucap Nindi.


"Jadi menurut loe, gue harus gimana sekarang? Hati gue bener-bener nggak tenang Nin, gue terus kepikiran sama dia." Ucap Sheerin.


"Gini aja, kasih sedikit waktu lagi untuk kalian sama-sama menenangkan pikiran. Gue yakin kok kalau keadaannya udah jauh lebih baik, semua masalah pasti bisa di bicarakan dan di selesaikan secara baik-baik." Balas Nindi.


Sheerin mengangguk setuju. Mungkin benar apa yang dikatakan Nindi, bahwa semua butuh waktu, biarkan setidaknya waktu menghapus rasa kecewa yang terlanjur Sheerin ukir di hati Levin.


***


Entahlah, biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan selagi dia tidak menganggu kenyamanan Sheerin. Tanpa Sheerin dan Nindi ketahui jika sebenarnya dia tengah merencanakan sesuatu hal yang besar, bahkan diluar nalar manusia bersama dengan Luis.


Mama Anya juga tak berkomentar meskipun Nindi dan Bima menginap selama itu.


Jangan bertanya Nindi tidur dimana selama ini! Karena itu sangat melukai hati Bima.


Ya, selama itu Nindi dan Bima tidur terpisah. Nindi selalu setia menemani Sheerin dan menjadi teman curhat yang siaga saat Sheerin menangisi dan merindukan si Levin itu. Dan dengan tak berkeperimanusiaan nya, si Levin itu malah seolah hilang tanpa jejak bak di telan bumi.


Nindi sempat tak habis fikir, kenapa bisa Sheerin sampai segila ini mengharapkan Levin kembali.


Begitupun dengan Bima, dalam kurun waktu satu kali dua puluh empat jam saja, pertemuan antara dirinya dan Nindi bisa di hitung hanya dengan jari. Begini siklusnya. Pada pagi hari, Bima hanya bertemu dengan Nindi di meja makan sebelum dia pergi bekerja. Lalu sepulangnya bekerja, acara tahlilan pun dimulai, dan disana lah Bima bertatap muka dengan istrinya itu. Dan selepas itu, Sheerin langsung mengajak Nindi masuk kedalam kamarnya sampai keesokan paginya mereka baru akan keluar.


Astaga!


Jadi kapan Nindi akan meluangkan waktu untuk dirinya? Bima tidak bisa hidup seperti ini terus menerus. Setiap malam yang bisa dia peluk hanyalah bantal guling, tentu saja itu tak sehangat saat dia memeluk tubuh istrinya. Bima galau, benar-benar galau.


Satu haru atau dua hari dia bisa memaklumi, namun ini semua sudah melampaui batas kesabarannya. Bima harus bertindak, dia harus secepatnya membawa Nindi pulang ke rumah dan menjauhkannya dari perempuan perusak rumah tangga orang itu. Ya, begitu Bima berpikir.


***


Malam ini, seperti biasa Bima habiskan hanya seorang diri di kamar tamu, Nindi begitu tega membuatnya merana seperti ini di rumah mertuanya sendiri.


Kesepian dan kesunyian kini mulai mengusik jiwa.


Di bacanya sebuah buku tentang Bangkit dan Runtuhnya Khalifah Bani Abbasiyah, untuk sekedar mengalihkan pikirannya dari sang istri yang sedang jauh di kamar sebelah.


Krek!

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar suara decitan pintu, menandakan ada seseorang yang masuk ke kamar tamu ini. Bima menoleh, terlihat sosok istrinya itu tengah nyengir kuda ke arahnya.


Astaga!


Sosok itu adalah sosok yang sangat Bima rindukan belakangan ini, namun sayangnya rindunya ini belum dapat tersalurkan meskipun jarak diantara keduanya begitu dekat. Tiba-tiba saja rasa sedih mulai memenuhi rongga hati Bima, Bima ingin berlari dan langsung memeluk tubuh istrinya itu seperti dulu sebelum ada orang ketiga di antara mereka.


"Aku mau ngambil baju ganti, ini tadi ke tumpahan air." Ucap Nindi saat merasa Bima sedang mengintrogasis bukan dengan kata-kata melainkan dengan tatapannya.


Tanpa menunggu kata sahutan dari Bima, Nindi mulai berjalan mendekati lemari untuk mencari baju gantinya. Setelah menemukan apa yang dia cari, Nindi kembali mendekati Bima yang kini sudah kembali memfokuskan pandangannya pada buku yang sedang dia pegang.


"Aku tidur di kamar Sheerin lagi malam ini, kasihan dia belum bisa tidur nyenyak setelah semua masalah yang menimpanya." Ucap Nindi pada Bima.


"Hmm." Lagi-lagi hanya deheman yang terdengar dari mulut Bima.


"Ya udah." Nindi membalikan badan dan melangkah menuju pintu.


Benar-benar tidak peka! Harusnya perempuan itu sadar jika Bima sedang merajuk, bukannya di bujuk atau apa, dengan seenaknya dia malah pergi begitu saja.


Seharusnya dia paham, jika Bima bersikap cuek seperti ini sebenarnya sedang protes kepada Nindi, karena dia lebih mementingkan kembarannya itu ketimbang dirinya.


Saat baru saja memegang handle pintu, tiba-tiba saja tangan Nindi di tarik paksa. Nindi menoleh, ternyata pelakunya Bima, siapa lagi memangnya? Hanya ada mereka berdua di ruangan itu.


Nindi juga melihat Bima dengan gerakkan cepat memutar kunci pintu dan pastinya membuat pintu itu sulit dibuka. Kemudian dia melempar kunci itu ke atas lemari yang tingginya dua kali lipat dari badan Nindi.


Nindi terbengong-bengong melihat tingkah aneh suaminya itu, tidak biasanya!


"Kak, kenapa dilempar kesana kuncinya?" Tanya Nindi kemudian.


Bima menatap Nindi dengan tajam, semakin lama semakin dekat saja jarak antara keduanya, Nindi bringsut mundur untuk menghindari tatapan mata Bima yang begitu menusuk.


"Kakak kenapa sih?" Tanya Nindi, jika boleh jujur, dia sedikit ketakutan dengan sikap Bima ini.


"Malam ini kamu tidak akan bisa kemana-mana!" Ucap Bima. Nindi masih terus berusaha menghindari Bima yang tubuhnya semakin lama semakin memangkas jarak diantara mereka.


"Aku mau ke kamar Sheerin dulu kak." Ucap Nindi.


"Tidak bisa kah kamu berhenti menyebut nama itu?" Tanya Bima yang membuat Nindi kebingungan.


"Maksudnya apa?" Tanya Nindi.


Sial! Kini kaki Nindi malah menyentuh ranjang kasur, yang artinya dia sudah tidak bisa lagi menghindar dari Kak Bima.


Sementara Bima masih menatapnya dengan tatapan aneh dan tak terbaca apa maunya.


Bima menyentuh pundak Nindi, kemudian mendorongnya hingga terjatuh ke atas kasur.


"Ahh, kak!" Seru Nindi saat tubuhnya kini terbaring disana.


Bima dengan gerakan cepat langsung menindih tubuh Nindi agar perempuan itu tak bisa lari lagi darinya.


"Akkh!" Nindi berusaha untuk melepaskan diri, namun hasilnya nihil, tubuh kecilnya itu tak mungkin menang melawan postur tubuh besar milik kak Bima yang bak Bima sungguhan dalam tokoh pewayangan.


Nindi menutup rapat-rapat matanya untuk menghindari tatapan mata Bima.


"Sudah cukup selama ini aku bersabar, dan sekarang aku harus mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan."


______________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.....

__ADS_1


__ADS_2