
Di ruangan Sekertaris Kim, tanda lift khusus di gunakan. Warna lift yang berbeda, merah tandanya mengunakan kartu VVIP yang hanya di gunakan oleh tuan besarnya dan juga dirinya. Artinya tuan besarnya sudah mau pulang, membuat Sekertaris Kim keluar dari ruangannya, yang merasa janggal karena tuanya itu pulang tanpa tanda-tanda dan seperti terburu-buru.
"Apa terjadi sesuatu? sehingga tuan besar buru-buru pulang? Kenapa aku tidak menerima laporan apa-apa?"
"Apa terjadi sesuatu, Dor?" Tanya Sekertaris Kim yang berpapasan dengan Dorris yang baru saya bertemu dengan Abraham. Karena Doris memang dari ruangan Abraham.
"Ha? Emang ada apa?" Doris malah balik bertanya.
"Kok kamu malah bertanya balik, Dor. Kamu kan yang baru saja dari ruangan, tuan besar?
"Lah? Semua baik-baik saja tadi, Sekertaris Kim. Tuan besar saja duduk tenang di kursinya"
"Apa?! Apa kau yakin?" Tanya Sekertaris Kim yang tidak percaya. "Tapi bagaimana kartu VVIP di gunakan untuk membuka lift?" Ucap Sekertaris Kim pelan.
"Apa?! Apa mungkin tuan besar ada urusan mendesak, saat aku pergi tadi?"
Sekertaris Kim langsung melewati Dorris
"Kamu mau kemana, Hei?" Teriak Dorris dan memilih mengikuti Sekertaris Kim dari belakang.
"Tok tok tok"
"Masuk?!"
Sekertaris Kim membuka pintu. Terlihat seseorang yang masih fokus membaca berkasnya
. Sekertaris Kim masuk dan di ikuti Dorris. Mereka berdua berdiri tidak jauh dari meja Abraham.
"Anda masih di sini, tuan besar?" Tanya Dorris terlebih dahulu.
"Em" abraham hanya berdeham. Jelas-jelas dia disitu kenapa juga di tanya lagi.
"Apa anda dari luar, tuan besar?" Kini Sekertaris Kim yang bertanya.
Abraham meletakan berkasnya dan kelihat dua anak buahnya itu.
"Ada apa, Kim?" Mungkin hanya Abraham yang menjawab dengan pertanyaan
"Kau yang baru keluar dari ruanganku? Apa aku terlihat pernah bangun dari kursi ku?" Tanya Abraham pada Dorris.
Dorris melihat ke meja dan semua bagian dan tentu, tuanya itu belum beranjak dari tempatnya.
"Tidak, tuan besar"
"Jelas bukan! Apa kalian berniat menambah pekerjaan ku?"
"Kami tidak akan berani, tuan besar" jawab Sekertaris Kim dan Dorris bersamaan.
"Lalu?"
Sekertaris Kim berfikir sejenak.
"Apa anda sudah memberikan kartu pada nyonya, tuan besar?"
"Em. Apa dia ada di sini?" Tebak Abraham.
__ADS_1
"Tadi lift dibuka mengunakan kartu VVIP jika bukan anda dan saya berarti nyonya, Tuan besar"
"Kenapa tidak kau katakan dari tadi?"
Abraham berjalan keluar dan berhenti tepat sampai di pintu.
"Akh biarkan dia masuk. Dia mau beri kejutan bukan? Aku akan pura-pura terkejut" pikir Abraham.
"Anda tidak akan keluar, tuan besar?" Tanya Sekertaris kim yang Melihat tuannya itu berdiri kaku depan pintu. Bahkan pintu itu sudah Sekertaris Kim bukakan.
"Biarkan saja. Aku akan berpura-pura tidak tau" Abraham kembali ketempat duduknya.
Sekertaris Kim dan Dorris hanya saling melirik saja.
"Kenapa kalian masih di sini. Lihat apa dia sudah sampai atas?"
"Nyonya sudah dari tadi di lift, tentu sudah sampai atas, tuan besar"
"Lalu kenapa belum sampai. Cepat kalian lihat. Atau mungkin terjadi sesuatu?"
"Baik"
Sekertaris Kim dan Dorris langsung keluar dan benar saja nyonyanya itu sudah celingak-celingguk di lantai itu.
"Dimana, Bram?" Itulah yang ada di pikiran dua pria itu sekarang.
Mereka berjalan mendekat pada Elizabeth yang sedang berfikir untuk kembali, karena takut akan menggangu Abraham.
"Kakak ipar" panggil Dorris membuat yang mempunyai nama melihat kearah sumber suara.
"Kak?!"
"Diamlah, Dor. Nyonya memanggilku" bisik Sekertaris Kim.
"Kak?!" Ucap Dorris sambil menunjuk Sekertaris Kim yang tidak percaya bahwa pria itu mau dipanggil kakak oleh nyonyanya. Pasal emang Sekertaris Kim yang kaku 1, 2 dengan tuanya, yang ke 2 Sekertaris Kim sangat berjaga jarak dengan nyonyanya itu, mana mungkin mau sok akrab di panggil kakak.
"Anda ada di sini, nyonya? Apa anda ingin bertemu tuan besar?" Tanya Sekertaris Kim pura-pura tidak tahu.
"Apa dia sibuk, kak?"
"Cih sok engga tau" ucap Dorris pelan seakan sekarang hanya angin lewat, atau malah memang tak dianggap ada.
"Tidak seberapa, nyonya. Anda bisa langsung masuk keruangannya, tapi dimana Bram, Nyonya?"
“Ah Bram ada di bawa, Kak” jawab Elizabeth
“Kenapa dia tidak mengantar nyonya sampai atas? Dia sekarang mulai ceroboh”ujar Sekertaris Kim yang terlihat marah.
“Tadi ada yang memanggilnya, kak. Aku yang menyuruhnya untu pergi. Sepertinya juga penting” jelas Elizabeth.
“Oh begitu ya, nyonya.Tapi anda baik-baik saja kan, nyonya. Apa ada yang menggangu anda?”
“Tidak.. Tidak ada yang menggungu ku kok, kak. Siapa yang berani menggangu ku kak? Semua kan karyawannya Abraham” Jawab Elizabeth berbohong.
"Apa tidak apa-apa, kak aku masuk? Aku takut mengganggu" lanjut Elizabeth menujuk kearah ruangan Elizabeth
__ADS_1
"Adik ipar jangan takut. Ada kakak di sini" ujar Dorris menunjuk pada dirinya. Dia juga ingin di panggil kakak.
“Masuk saja, nyonya. Tuan besar akan senang melihat anda di sini. Sepertinya tuan besar juga akan segera pulang”
“Benarkah?!”
“Aku akan masuk, kak” Elizabeth tersenyum pada Dorris.
Kepergian Elizabeth.
“Sepertinya sikapmu pada nyonya berubah ya, Sekertaris Kim”
“Karena nyonyanya juga berubah” jawab Sekertaris Kim dan pergi keruangannya.
“Maksudmu apa?. Hei Sekertaris Kim?” teriak Dorris “Iya juga sih sifat nyonya juga berubah”
Diruangan Abraham yang menunggu serasa sangat lama dan merasa gelisah.
“Kenapa dia tidak sampai-sampai? Apa terjadi sesuatu?”
Abraham akan melangkah keluar, tepat Elizahbeth mengetuk pintu. Abraham buru-buru kembali ke tempat duduknya dan berpura-pura membuka berkas-berkasnya.
“Masuk?!” perintah Abraham.
Elizabet membuka pintu ruangan itu pelan.
“Apa kau sibuk, honey?” tanya Elizabeth pelan.
Abraham meletakan berkasnya dan melihat kaarah Elizabeth.
“Kau di sini, Elis? Kenapa tidak memberi kabar?” tanya Abraham yang berjalan mendekat ke arah Elizabeth.
“Apa aku juga harus membuat janji terlebih dahulu?” tanya Elizabeth yang menginggat kejadian di bawa tadi.
“Bukan begitu, Elis. Kenapa kau harus membuat janji dahulu untuk bertemu denganku?” balas abraham yang telah berdiri di depan Elizabeth.
“Kalau aku tau kau akan ke sini, aku akan memberikan semua pekerjaan pada Sekertaris Kim dan kita akan pulang bersama"
“Jadi kau tidak suka aku kesini?” itulah yang Elizabeth simpulkan dari pernyataan Abraham. Abraham menarik Elizabeth dan mereka berdua duduk di sofa.
“Aku sangat senang kau di sini. Aku hanya tidak ingin kau lelah menungguku. Itu saja” Jelas Abrahan. “Ada apa?” tanya Abraham yang kemudian Peka dari raut wajah Elizabeth.
“Ha?” tanya Elizabet yang tidak mengerti. “Apa dia sudah tau aku kesini mau bicarakan apa?"
“Ada yang mengganggumu di bawah?”
“Ha?” Elizabeth tersenyum kaku “Tidak.. Tidak ada yang mengganggu ku. Siapa sih yang berani mengganggu istri bos nya”
“Tapi tidak semua dari mereka tau kau istriku, Elis? Kita belum menggumumkanya. Kau tahu itu, kan?” jawab Abraham yang tidak percaya “Lalu katakan apa yang terjadi di bawah?”
Elizabeth hanya diam. Dia bukanlah orang yang suka mengadu.
“Orang engga ada apa-apa juga.. Udah sana. Katannya masih ada kerjaan. Selesai dulu. Aku akan nungguin di sini. Abis itu kita pulang bareng”
“Siap bos” jawab Abraham dengan senyum dan juga tangan yang hormat.
__ADS_1
Elizabeth tesenyum melihat tingkah Abraham. Melihat senyum Elizabeth, Abraham mencubit pipi Elizabeth gemas sebelum kembali ke mejanya.