
Levin menepikan motornya tepat di depan rumah Clarissa, sudah janjian kemarin kalau hari ini Levin akan menjemputnya untuk pergi ke kampus bersama.
Sambil menunggu, dia kirimi pesan untuk mengetahui persiapan temannya itu sudah sampai sejauh mana.
'Cla, gue udah stay di depan nih.' Sempat menjepret keadaan sekitar, dan mengirim gambarnya pada Clarissa.
Ditatapnya layar ponsel yang menampilkan gambar dirinya bersama seorang perempuan, disana keduanya terlihat tengah mengumbar tersenyum penuh kehangatan, Sheerin.
Ahh, bahkan Levin belum rela mengganti wallpaper di ponselnya itu.
Kapan ya terakhir Levin bertemu dengan perempuan itu? Rasanya sudah lama sekali, dan atas perbuatan yang dia lakukan terakhir kali, membuatnya malu untuk sekedar mengangkat telfon dari Sheerin.
Jika takdir menghendaki, bolehkah Levin menawar untuk kembali di pertemukan dengan perempuan itu? Meski bagaimanapun caranya. Jujur saja, sepekan terakhir ini ruang di hatinya terasa hampa tanpa kehadiran sosok yang telah mengalihkan dunianya itu.
Tanpa dia sadari, ujung bibirnya tertarik ke atas menampilkan sebuah senyuman, meskipun itu senyum penuh kegetiran. Di usapnya layar ponsel tepat di wajah Sheerin.
'Aku menyesal.' Entah apa yang Levin sesali, menyesal karena telah menjatuhkan hatinya kepada Sheerin atau menyesal karena telah mencampakkan perempuan itu.
Lamunan singkat Levin pagi ini harus berakhir saat si pemilik rumah sudah berada dihadapannya dan menyapa.
"Lev, sory ya. Jadi nunggu lama." Ucap Clarissa. Melirik sekilas layar di ponsel Levin, namun tak begitu jelas karena Levin langsung menutupnya.
"Nggak apa-apa kok." Balas Levin.
"Foto siapa itu?" Tanya Clarissa kepo.
"Bukan siapa-siapa. Berangkat sekarang yuk!" Levin langsung menyelah motornya.
Clarissa dengan sigap langsung naik ke jok belakang sambil tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya belakangan ini dia sudah lupa akan tetangga sebelahnya karena kehadiran Levin. Clarissa berpikir, untuk apa juga dia terus mengejar-ngejar suami orang sedangkan di hadapannya kini sudah berdiri tegak seseorang yang jauh lebih keren dari kak Bima.
***
Tatapan tidak mengenakkan dari beberapa mahasiswa tempatnya kuliah menyambut kedatangan Sheerin di pagi pertamanya kembali ini.
Sempat merasa risih karena tidak nyaman dengan tatapan yang terasa mengintimidasi dirinya itu. Sheerin tau apa kesalahan dirinya. Pasti mereka berpikir yang menghajar Clarissa waktu itu adalah dirinya. Namun sekuat tenaga Sheerin menahan diri untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak akan mengelak ataupun membela diri, cukup diam. Cepat atau lambat, orang-orang juga pasti akan jemu dengan gunjingannya itu dan mulai melupakan apa yang telah terjadi. Begitu Sheerin menguatkan dirinya sendiri.
Keluar dari ruang dekan ternyata suasana kampus sudah mulai sepi, pasti semua mahasiswa sudah memasuki ruang kelas masing-masing. Berapa lama dia menghabiskan waktu diruang pengadilan itu?
Di ruangan dekan tadi, Sheerin diadili, dia begitu disudutkan. Dekan menasehatinya ini itu seakan dirinya adalah seorang penjahat berbahaya. Yang bisa Sheerin lakukan hanyalah menundukkan kepala dan menerima semua tuduhan itu. Sempat merasa sedih, namun inilah yang harus dia lalui untuk kembali menuju ke kehidupan sebelumnya dan mendapatkan kembali pendidikannya.
Meskipun ragu, namun tekadnya begitu kuat, dia mengetuk pintu ruang kelas yang harus dia ikuti pagi ini.
Lagi-lagi tatapan sinis yang ia dapatkan dari seisi kelas, termasuk Clarissa yang tatapan kebencian dimatanya begitu mencolok. Sheerin harus menghela nafas berkali-kali menghadapi mereka.
"Masuk dan duduklah Sheerin!" Dosen pembimbing mempersilahkan Sheerin, dia begitu profesional dan netral tak memihak siapapun.
Sepanjang kelas berlangsung, fokus Sheerin tak benar-benar tertuju pada pelajaran yang sedang berlangsung. Melainkan pada laki-laki itu. Ahh, lagi-lagi dia yang memenuhi relung pikiran Sheerin. Tak bisakah dia enyah sebentar saja dari pikiran Sheerin? Kenapa semakin Sheerin coba untuk melupakannya, justru bayangannya semakin nyata terasa.
Tak bisakah Sheerin berhenti berharap? Tidak bisa! Harapan Sheerin begitu besar. Harapan terbesarnya adalah, Levin tiba-tiba datang untuk menghapuskan rasa rindu yang terlanjur melekat dihatinya, mendekapnya dan mengusir kegelisahan yang belakangan ini melanda hidupnya. Seperti hari itu. Ahh, Sheerin tak bisa menahan hujan yang turun dari pelupuk matanya ketika mengingat pertemuannya dengan Levin setelah lama tak berjumpa. Itu pasti akan membuat perasaannya menghangat.
Begitu menusuk, tak bisakah Levin bertindak sama seperti waktu itu? Sheerin ingin Levin, Sheerin merindukan Levin.
Hingga akhirnya bel berbunyi, pertanda kelas telah berakhir. Dan di hari pertama ini, tak ada satupun pembelajaran yang menyangkut diotak Sheerin.
***
Seperti keluar dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya, begitu yang Nindi rasakan. Jika dirumah ayahnya ada mama Anya yang menatapnya dengan tatapan sinis dan penuh ketidak sukaan, maka dirumah suaminya ada Luis yang bergentayangan menghantui hari-hari Nindi.
Kenapa sih mereka berdua begitu kompak dalam hal membenci Nindi? Apalagi hari ini dia tak kunjung berangkat ke kantor. Bahkan ayah mertuanya itu menyambut kedatangan Nindi dengan berbagai sindiran, seperti mulut mak-emak saja.
Dan akhirnya, setelah kak Bima pergi ke kantor, Nindi memilih mengunjungi markas geng amburadul seperti yang di amanatkan Sheerin. Mulai hari ini Nindi harus ikut andil dalam mengurus bisnis online kembarannya itu. Ya, lumayan juga sih daripada tidak ada kegiatan. Lebih baik Nindi pergi sebelum ayah mertuanya kembali membabi buta menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah yang tak masuk akal. Mungkin saja kan setelah ini ayahnya kak Bima itu menyuruh Nindi membersihkan genteng dan mengecatnya ulang? Hah!
"Nindiiii." Pelukan hangat menyambut kedatangan Nindi di markas geng amburadul. Nindi menyambut pelukan itu dengan senang hati.
Personil geng amburadul masih lengkap, Revi, Tari, Roni, daan Vena! Ahh, Nindi sangat merindukan sahabat-sahabatnya itu, rindu nongkrong di perempatan sambil nyanyi-nyanyi tak jelas, mengumbar suara cempreng mereka. Rasanya sudah lama sekali Nindi tidak melakukan kegilaan bersama mereka.
__ADS_1
"Gue kangen banget sama kalian." Nindi mendekap dengan erat ke empat sahabatnya itu.
"Loe jahat banget sih nggak kasih tau ke kita kalau loe udah kawin!"
"Iya, loe juga nggak cerita ke kita kalau loe punya kembaran."
"Pantesan aja ya gue mikir kenapa loe banyak berubah. Ternyata itu bukan loe."
"Dan loe hutang banyak penjelasan ke kita!"
"Jangan pergi-pergi lagi ya Nin!"
"Oh ya! Mana kembaran loe itu?"
Nindi langsung diserbu dengan berbagai ocehan mereka. Ahh, memang ya, mereka sangat menggemaskan, mereka masih sangat perduli terhadap Nindi meskipun dia telah melakukan kesalahan yang amat besar.
"Sheerin lagi kuliah, nanti sore dia datang kesini kok." Lebih memilih menjawab pertanyaan terakhir yang dilayangkan Roni.
"Gue nggak sabar liat loe sama si Sheerin itu. Apa kalian semirip itu sampai-sampai kita semua nggak sadar kalau dia itu ternyata bukan loe." Ucap Vena.
"Gue juga awalnya nggak percaya Ven, tapi, ya mungkin ini udah takdirnya kita dipertemukan." Jawab Nindi.
"Gimana kalau buat merayakan kembalinya Nindi, kita makan besar, si bos yang teraktir! Setuju nggak?" Ucal Roni yang langsung di hadiahi protes dari si bos.
"Sialan loe! Pake menjual nama gue segala. Gue mana ada duit. Loe aja yang ngomongnya sana!" Revi menoyor kepala Roni dengan tak berperasaan.
"Ya udah, nanti kita makan-makannya nunggu Sheerin aja ya! Dia pasti mau teraktir kita. Kasian, dia juga kan udah jadi bagian dari kita sekarang." Ucap Nindi.
"Mbak juga ikutan ya neng!" Si mbak-mbak penjahit menyahut dari posisinya sambil nyengir kuda. Nindi menoleh, ehh, ternyata ada penghuni lain disini. Baru sadar ternyata usaha yang dibangun Sheerin telah berkembang dengan baik. Banyak stok kain yang memenuhi markas geng amburadul. Dan bahkan Nindi sampai pangling dengan dekorasi disana, sudah banyak perubahan, menjadi begitu rapi, tak seperti terakhir kali Nindi datang ke tempat itu. Kapan terakhir kali dia datang ke sini ya? Sudah lama sekali rasanya.
"Iya mbak, pasti." Jawab Nindi.
"Jadi sekarang loe mau ikut gabung jadi penjahat disini?" Tanya Tari datar.
"Haha, ya udah, nanti gue mau belajar jadi penjahat. Ehh." Nindi jadi bingung sendiri.
"Tuh kan, dia juga mau jadi penjahat." Tari kegirangan sendiri, tak jelas juga apa yang membuatnya girang.
"Kalian ngomongin apa sih gaje banget." Revi geram sendiri melihat ke anehan mereka dalam berkata.
"Iya, gaje ihh." Roni mulai ilfeel dengan perdebatan tak jelas itu.
"Ya udahlah, gue mau ke rumah ibu dulu. Kangen juga gue, udah lama nggak kesana."
"Tapi nanti balik lagi kesini ya Nin!" Ujar Vena.
"Pasti doong."
***
Sheerin tau, tak mudah membuat semua orang kembali menyukai dirinya, namun tak banyak yang bisa dia lakukan sekarang. Biar dia akan membalas kebencian mereka dengan prestasi saja, dia akan kembali membuka mata teman-temannya dan membuat mereka kembali melihatnya dengan tatapan hormat seperti sebelumnya.
Hah, apa Sheerin akan mampu kembali menjadi dirinya yang luar biasa? Yang pintar dan di segani banyak orang? Sedangkan belajar saja kini dia tak begitu bersemangat. Entahlah!
"Le!" Sheerin menyapa sahabatnya, ahh, bahkan Sheerin sekarang merasa malu menyebut Lea sebagai sahabatnya lagi.
Dimana dirinya selama ini, dia begitu tega mencampakkan sahabatnya sendiri, menutupi rahasia sebesar itu dari dirinya. Padahal sebelumnya Lea lah tempatnya bersandar dan berkeluh kesah, hanya dia yang tau luar dan dalamnya Sheerin.
Apapun sikap Lea, Sheerin akan menerimanya dengan hati yang lapang. Dia tau kesalahannya ini tak termaafkan.
"Ehh, Sheerin, gue duluan ya! Supir gue udah nunggu tuh di depan. Sory ya! By!" Lea beranjak begitu saja dari kursinya.
Membuat hati Sheerin mencelos. Meskipun kata-katanya itu berintonasi sangat baik, namun dari kalimat yang dia lontarkan, Lea seakan menghindari Sheerin. Apa sejahat itu Sheerin sekarang dimata teman-temannya.
Lea, tangannya yang selalu terulur, kini tak mau lagi menyambutnya. Bahunya yang dulu menjadi sandaran, kini bergerak maju dan menghilang. Kakinya yang dulu melangkah bersama Sheerin, kini berjalan menjauh meninggalkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sheerin menghapus bulir air mata yang hampir menetes di ujung matanya.
'Setelah ayah dan Levin, kini giliran Lea yang meninggalkanku!'
Bukankah dia sendiri telah mempersiapkan hati untuk hal terburuk sekalipun? Namun kenapa rasanya seperih ini? Dia merasa kini dirinya bukanlah dia. Dia telah terbuai dengan kebahagiaan sesaat yang dia temukan ketika menjadi Nindi. Tanpa berpikir dunia akan menolaknya ketika kembali.
Clarissa, kenapa dia justru yang mau menyapa dirinya?
"Hai!" Sheerin menoleh saat merasa tangan Clarissa menyentuh punggungnya. Terlihat senyum yang dibuat-buat terukir di bibirnya.
Sheerin tak butuh senyum palsu itu! Namun tak bertahan lama, Clarissapun pergi meninggalkan ruang kelas.
Sheerin berjalan menyusuri koridor, seorang diri. Tak ada satupun yang menyapa meskipun kesibukan mahasiswa masih kental terasa disana. Orang-orang nampak tertawa disela obrolan mereka. Entah apa yang mereka tertawakan. Melihat ke arah lain, ada yang tengah berbisik-bisik sambil tatapannya tertuju ke arahnya.
'Ada apa lagi dengan semua orang?'
Berusaha untuk tidak memperdulikan mereka, Sheerin terus melangkah membawa raganya menjauh, kelas telah usai, berarti usai sudah urusannya disana. Namun, saat beberapa langkah, sebuah tubuh padat berisi menghadang jalannya. Dia lagi!
"Hah! Ternyata loe sadar diri juga ya!" Dengan gaya menantangnya Clarissa bersiri di hadapan Sheerin.
'Apa maksudnya?'
"Gue duluan!" Berusaha menghindar dengan segera pergi dari suasana yang mungkin akan menyudutkannya itu.
"Mau kemana loe?" Clarissa menahan tangan Sheerin.
"Ehh, Cla, loe nggak takut apa digigit anjing galak itu?" Terdengar suara dari salah satu mahasiswa.
"Iya, nggak kapok loe udah di kasih bogem sama dia." Yang lain menyahuti.
"Udah dikasih peringatan keras juga loe masih aja deketin dia. Kalo gue jadi loe sih ogah. Hiii." Bergidig ngeri sambil buang muka setelah menatap Sheerin.
Apa semenjijikan itu Sheerin dimata mereka sekarang?
"Ehh Sheerin tanpa loe bikin peringatan kayak gitupun kita males kali deket-detet sama loe!" Timpal yang lain.
"Iya, loe kan emang berbahaya, kalau gunung mau meletus itu udah siaga level satu!"
"Bahkan loe lebih berbahaya dari Anjing galak!"
"Hahahaha :D" Mereka tertawa berjamaah membuat lutut Sheerin melemas, dia tak pernah berada dalam situasi terpojok seperti ini, apalagi bukan hanya satu atau dua orang yang menyudutkannya. Namun hampir satu koridor ini.
***
Sementara itu, Suara lantunan musik sendu nan mellow bertemakan patah hati yang belakangan ini betah Levin dengarkan melalui headset miliknya. Semakin menjiwai kegalauan yang tengah melanda hatinya, meskipun nafasnya terasa tercekat, namun dia menikmati setiap cabikan yang melukai hatinya itu.
Tak membiarkan luka itu mengering, menjadikan bukti jika dirinya begitu tersakiti disini.
Masih tak lepas headset dari telinganya Levin berjalan menyusuri koridor menuju parkian. Matanya menyipit saat melihat orang-orang berkerumun, sontak membuat rasa penasarannya menjulang tinggi, dia melepas headset yang menempel di telinganya. Lalu terdengarlah suara teriakan dan juga kata-kata yanh tidak pantas di ucapkan oleh mereka para seniornya.
Perlahan dia mendekati kerumunan itu, ternyata Clarissa juga ada disana. Dia ikut menghakimi seorang perempuan yang tengah berdiri membelakanginya. Dan, apa yang tertulis di secarik kertas yang menempel di punggung perempuan itu?
WANTED! JANGAN MENDEKATI GUE! BERBAHAYA, KAYAK ANJING GALAK!
Bahkan ditulis dengan huruf kapital semua, dan di print juga! Benar-benar niat sekali perempuan ini. Tapi, Levin rasa dia tak sebodoh itu untuk mempermalukan dirinya sendiri, kan? Pasti ada sesuatu yang tak beres terjadi disana.
Cepat-cepat Levin mencopot kertas di balik punggung perempuan itu. Sontak si pemilik punggung menoleh saat merasa ada sesuatu yang sobek di belakang tubuhnya.
Kedua mata itu terbelalak kaget saat menatap satu sama lain.
"Levin!" Sheerin memekik tak percaya, sementara Levin, merasa bumi tak lagi berputar pada porosnya, bahkan kini bumi telah kehilangan geravitasinya dan membuat jiwanya melayang ke udara.
__________________
Alhamdulillah bisa up lagi, tetap tinggalkan jejak setelah membaca, biar semangat ngetiknya....
__ADS_1