Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bab 58


__ADS_3

Sebelumnya Author minta maaf karena engga pernah Update.


Author engga bisa janji bisa update lagi seterusnya.


Soalnya Rencana Tuhan tidak ada yang tahu.


Saat Author mulai niat nulis lagi setelah perjalanan pernikahan, eh malahan tuhan kasih berkah baru.


Dalam berkah pasti ada cobaan kan? setelah lelahnya persiapan pernikahan dan setelahnya. Tuhan memberkati pernikahan Author dengan hadir seorang anak..


Tapi Author selama beberapa bulan ini, mabok. Muntah-muntah terus. Biasa ngidam anak pertama. Subhanallah lah...


Sekarang sudah agak mendingan lah. Ya udah masuk 6 bulan. Tapi engga tau, Semoga aja, sehat selalu sampai dia lahir. Itu harapan besar Author, agar dia bisa lahir sehat dan menjadi anak yang Sholeh....


Kita next ya.


Perjalanan di Paris memang berpengaruh besar terhadap hubungan Elizabeth dan Abraham. Hubungan mereka semakin indah dan semakin tidak bisa terpisahkan. Banyak cerita yang sangat indah yang sulit di artikan dalam arti mereka sangat bahagia memiliki satu sama lain.


Hati Abraham dan Elizabeth sudah terikat satu sama lainnya.


Semoga hubungan ini bukan sementara. Semoga tidak akan ada penghalang yang akan menghancurkan cinta mereka. Jangan ada yang memisahkan mereka. Cinta mereka sudah sangat sempurna, jangan sampai ada yang mengoyahkannya.


Untuk kisah di Paris akan di bahas di bab- bab selanjutnya. Terdapat banyak misteri dan teka-teki yang akhirnya membungkam dan memecahkan misteri dan teka-teki yang ada selama ini menjadi pertanyaan.


Next.


Elizabeth dan Abraham telah kembali dari perjalanan mereka di Paris. Dan hari ini Elizabeth akan mulai magang.


Elizabeth diantar Bram dan Abraham ke Gedung pencakar langit perusahan besar SAS.


"Kau harus selalu ingat, kata-kataku tadi, Elis!" Ucap Abraham mengingatkan kembali istrinya itu, tentang perkataan tadi malam dan tadi pagi.


"Iya aku ingat! Aku pasti jaga diri dan aku tidak akan percaya pada siapapun. Aku juga tidak akan dekat-dekat dengan siapapun, apalagi cowok" Elizabeth mengingat perkataan Abraham yang memperingatkannya.


"Bagus!" Abaraham mengusap pelan kepala Elizabeth.


Elizabeth mencium pipi Abraham dan pergu masuk ke dalam perusahaan yang sangat ingin dia nantikan untuk masuki itu. Iya SAS.


"Bram?!" Panggil Abraham pada Bram yang menjadi supir mereka saat ini, namun mata Abraham masih tertuju pada pintu gerbang dimana Elizabeth pergi dan menghilang.


"Iya, tuan besar?!"


"Walau hanya 2 orang, tapi pastikan mereka bisa menjaga Elisku tetap baik-baik saja" tihts Abraham.


Anak buah Abraham hanya berhasil masuk 2 orang. Selama ini, tidak ada masalah antara Drakness dan Sasendri, jadi Abraham tidak memasuki orang ke sana. Lagipula siapa yang tidak kenal tuan Sasendri yang netral itu, tak memihak pada siapapun, mereka hanya berpihak pada kebaikan saja dan begitu sulit masuk ke Sasendri. Main-main dengan Sasendri hanya menantang maut yang menyulitkan.


Entah bagaimana caranya, sehingga perusahan yang notabenenya hanya baik-baik, tidak ada campur tangan orang bawah, namun selalu berjaya dan sulit di hancurkan.


Bohong kalau katanya jika menjadi orang baik tidak akan ada yang mau menghancurkannya, karena sifat iri pasti ada di setiap manusia. Jika ada yang berkembang pesat, pasti ada yang mengharapkan dia hancur, entah itu hanya dari hati, atau tindakkan yang bahkan ladang secara licik.


Curiga? pernah, jika Sasendri ada orang-orang dari dunia bawah, atau malah takutnya kerja sama dengan musuh yaitu Mandri, tapi ternyata tidak ada.


Jika dia tidak mengusik kenapa harus di usik?


"Saya mengerti, tuan besar" jawab Bram.

__ADS_1


Laju mobil kembali menuju ke D' company.


Abraham masuk keruangannya dan Sekertaris Kim sudah ada di sana menanti tuan besarnya itu datang dengan berkas-berkas yang akan dia laporkan kepada Abraham. Laporan perusahaan yang terus berjalan selama Abraham masih di Paris.


"Em" Abraham duduk di singgasananya.


"Semua berjalan cukup lancar, tuan besar. Tapi ada sedikit di kerja sama RAD dan Df' company. Entah kenapa Df'company menunda pengerjaan proyeknya" Sekertaris Kim mulai melaporkan laporannya.


"Bukannya mereka sudah tanda tangan kontrak, bukan?"


"Iya, tuan besar"


"Tunggu apalagi? Suruh RAD menekan mereka untuk melaksanakan proyeknya sesuai perjanjian"


"Tapi, tuan besar..." ucap Sekertaris Kim ragu.


"Kalau bisa, tekan mereka untuk segera melaksanakannya atas nama kontrak" potong Abraham


"Tapi saya takut jika kita tekan mereka, mereka akan curiga, tuan besar"


"Kau salah, Kim. Jika kita beri kelonggaran pada mereka, mereka malah akan curiga dengan kerjasama ini. Kau seperti tidak tau saja pemikiran orang-orang itu? Tekan mereka, seakan berkerjasama dengan mereka tidak begitu penting. Kelonggaran akan membuat mereka besar kepala, atau malah curiga kenapa kita memberikan mereka kelonggaran?"


"Anda benar, tuan besar. Akan segera saya kabarkan pada Erdan"


"Lalu bagaimana kerjasama dengan Sasendri?"


"Semua berjalan lancar, tuan besar. Mereka merasa puas dengan proposal yang kita ajukan dan mereka ingin kita segera membangun proyeknya"


"Benarkah?!" Abraham membuka map tentang proyek Sasendri.


"Ha?!" Sekertaris Kim terkejut dengan pertanyaan Abraham tersebut, emang jika ada proyek biasanya Sekertaris Kim akan memerintah seseorang langsung bekerja, tapi entah kenapa saat ini dia bahkan belum sempat memerintahkan apapun, walau perjanjian itu telah 3 hari berlalu.


"Saya belum mendapatkannya, tuan besar"


"Tapi kau sudah ada, kemungkinan bukan?"


"Maafkan saya, tuan besar. Saya bahkan belum memerintahkan untuk mencarikan lahan untuk proyek ini"


Dahi Abraham berkerut, seakan ada yang dia pikirikan.


"Sudahlah. Serahkan saja semua pada Dorris, kau hanya perlu memantaunya. Lagipula masih banyak yang lebih penting yang kau kerjakan"


"Baik, tuan besar"


Hening.


Tidak ada laporan yang Sekertaris Kim laporkan, tapi dia tetap berdiri dan tidak bergeming dan sesekali menatap tuannya yang fokus pada map-map yanh menumpuk, seakan masih ada laporan yang harus dia laporkan.


" Ada apa, Kim?" Tanya Abraham yang melihat Sekertaris Kim yang masih berdiri "Apa masih ada laporan yang ingin kau laporakan?" Tanya Abraham kembali "Aku rasa lainnya pasti tidak penting dan kau pasti sudah bisa menanganinya, bukan?" Lanjut Abraham.


Abraham yakin selain ini, Sekertaris Kim sendiri mampu menangganinnya, jika hanya malasah kantor dan lain-lainnya.


"Ah iya, tuan besar. Semua sudah saya tangani" jawab Sekertaris Kim yang kaku.


"Lalu?"

__ADS_1


Sekertaris Kim hanya diam. Dia masih menimbang antara melaporkan atau hanya diam dan pergi.


"Lalu, kenapa kau masih berdiri di sini, Kim?" Tanya Abraham


"Ah iya, tuan besar. Saya permisi?!" Undur diri Sekertaris Kim..


Ada pepatah mengatakan, "Jika bimbang, jangan teruskan" benar bukan? Tapi jangan lama-lama nanti malah jadi bumerang.


"Katakan?! Aku rasa masih ada laporan yang ingin kamu sampaikan, Kim?" Tanya Abraham yang memberhentikan langkah Sekertaris Kim "Atau ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Tidak ada, tuan besar. Bukan sesuatu yang penting" Jawab Sekertaris Kim.


"Tidak apa-apa. Aku ingin tau" rasa penasaran sudah menjalar di tulang Abraham. Apa yang membuat Sekertarisnya itu resah dan bimbang.


"Bagaimana perjalanan anda dan nyonya di Paris, tuan besar?"


Itukan pertanyaan yang ingin Sekertaris Kim tanyakan sampai resah itu, atau hanya peralihan saja?


"Kau hanya ingin tau tentang itu, kim?" Abaraham tidak percaya dengan pertanyaan sekertaris Kim. Hal itu, Sekertarisnya itu pasti sudah tau perjalanannya di Paris bagaimana.


"Aku rasa kau sudah tau jawabanya, Kim?"


"Anda benar, tuan besar. Tapi saya ingin memastikan perasaan anda saat pulang dari Paris dengan myonya"


"Perasaanku? Perasaan seperti apa yang kau ingin ketahui, Kim? Aku bahagia setelah pulang dari Paris. Apa itu sudah cukup?"


"Aku ingin tau perasaan anda dengan nyonya, tuan besar?"


"Perasaanku pada Elis? Kenapa kau ingin tau itu?"


"Aku hanya ingin tau, tuan besar"


"Seperti aku pernah menjawab pertanyaanmu itu?"


Ada yang ingat engga bab berapa Abraham menjawab pertanyaan Sekertaris Kim ini? Komennya....🤣


Sekertaris Kim hanya diam, namun otaknya terus berfikir.


"Aku mencintainya, Kim" jawab Abraham membuat kim menatap Abraham.


"Jika tadinya masih bimbang, tapi kini aku yakin, aku mencintainya Kim. Aku mencintai istriku itu, Kim. Ini bukan lagi tentang hutang nyawaku, tapi ini tentang perasaanku, Kim. Aku ingin selalu bersamanya, dia milikku. Dia nyawaku, istriku, dan juga kehidupanku. Aku sangat menyayanginya. Ingin memastikan dia baik-baik saja. Dia jadi segalanya untukku, Kim. Segalanya" jelas Abaraham dengan berbinar.


"Cinta?"


"Aku senang mendengarnya, tuan besar" jawab Sekertaris Kim yang tersenyum, namun otaknya malah menambah beban.


"Jika tidak ada lagi. Kembali ke ruanganmu"


" Baik, tuan besar" Sekertaris Kim keluar dari ruangan itu dan kembali keruangannya. Menatap map yang dia bawa tadi dan menyentuh satu map yang tidak jadi dia laporkan.


Jawaban Abraham harusnya membuat Kim tenang, tapi tidak otaknya malah berfikir keras sekarang, mengingat Jawab Abraham tadi.


"Cinta, tuan besar? Jika kau tak mencintai, nyonya. Aku akan membuat anda mencintainya, tapi setelah mendengar anda mencintai nyonya, tapi mengapa aku malah resah. Pertanyaan bagaimana??? Bagaimana terus berputar dikepala ku, tuan besar"


Sekertaris Kim membuka map itu, membacanya. Kalian benar, map itu tentang jati diri Elizabeth dan bukti bahwa Elizabeth sekarang bukanlah Elizabeth yang sama dengan 2 tahun lalu yang bersama mereka, walaupun tidak 100% tapi itu sudah bukti kuat untuk membuktikan Elizabeth nyonyanya itu bukanlah wanita yang pergi di saat pernikahan. Namun masih ada beberapa yang belum bisa Sekertaris Kim dapatkan, siapakah nyonyanya ini, tapi yang pasti dia wanita yang baik. Jika dibandingkan wanita itu, nyonyanya hanyalah Elizabeth ini. Elizabeth yang menjadi istri tuannya sekarang.

__ADS_1


"Nyonya. Sampai kapanpun kau adalah nyonyaku. Aku akan selalu mendukungmu"


__ADS_2