Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
40


__ADS_3

Sampailah di ruang seminar. Seminar baru saja di mulai.


"Untung kalian tidak telat" ujar Raisya. Karena pas Elizabeth masuk, pintu langsung di tutup. "Kalian kok lama banget sih?"


Elizabeth dan Reyhan duduk di tempat yang sudah di siapin Raisya.


"Tadi ada drama sedikit" jawab Reyhan.


"Drama? drama apa?" tanya Raisya yang penasaran.


"Sudah mau di mulai tuh" tegur Elizabeth.


Mereka fokus ke MC membuka acara.


"Bla bla bla. Di sini sudah ada Mr. Abraham Duken dari D' company. Kalian pasti sudah mengenalnya bukan? Pengusahaan muda yang sekarang sedang menjadi perbincangan di seluruh dunia. Beliau akan berbagi tentang pengalamannya dan kalian semua bisa bertanya apa yang ingin kalian tanyanyakan tentang dunia kerja padanya. Saya persilahkan kepada Mr. Abraham untuk berbagi dengan kawan-kawan kita semua" ucap MC tersebut mempersilahkan Abraham mengisi materi.


"Selamat siang semua" sapa Abraham dengan senyum super coolnya. Membuat para Ciwi-ciwi terpesona.


"Oh my good. Gantengnya" ucap Raisya.


"Seminggu engga pulang. Kau disini? Sebenarnya apa yang terjadi? Aku senang kau baik-baik saja" ucap Elizabeth dalam hati


"Aku sudah disini, Elis" ucap Abraham dalam hati saat melihat Elizabeth. Abraham memberikan senyumnya untuk Elizabeth.


"Dia senyum kesini? Dia senyum untuk gua, ya?" ujar seseorang yang ada di depan Elizabeth.


"Wah. Ganteng, keren, kaya lagi. Aku mau loh di jadikan pendampingnya"


"Terimakasih untuk ............. ......... ...... Begitulah............."


Selesai


"Lis dia mirip banget ya sama bos loe itu?!" Ujar Raisya pada Elisabeth. Mereka berdua sudah diluar dan duduk di taman. Sedangkan Reyhan bertugas membeli minuman dan cemilan.


"Em..."


"Bos loe itu kerja sebagai apa, Lis? Kerja dimana?" Tanya Raisya


"Aku....."


"Hai tadi itu materinya bagus banget ya" ujar seseorang yang dengan santai datang dan duduk diantara mereka. Mereka gerombolan 3 orang mahasiswi dan juga 2 orang mahasiswa. Dan dua diantara mereka adalah Binna dan Sugya.


"Hei engga lihat di sini anda orang. Emang engga ada tempat duduk lain, ya?!" Tanya ketus Raisya. Terlihat banyak sekali gajebo-gajebo kosong di sana yang tidak berpenghuni.


"Ups. Guys ternyata ada orang di sini" ujar salah satu dari mereka. Membuat darah Raisya naik. Emang selalu darah itu cepat sekali meninggi.


"Kalian buta, ya? Apa butuh kaca mata. Sampai orang sebesar ini engga melihat" balas Raisya.


"Udahlah, Sya" tegur Elizabeth.


"Bukannya loe emang bukan orang tapi sampah ya" balasnya.


"Yang satu cuma anak pengusaha kecil yang satu lagi simpanan. Iya engga sih?" ujar Sugya.


"Benar banget, Sug" ujar Binna membenarkan dan yang lain tertawa.


"Elo..." Raisya sudah mau menunjuk pada Sugya.


"Udahlah, Sya. Mending kita cari tempat lain" potong Elizabeth menarik tangan Raisya untuk pergi.


"Lihat deh guys. Malu itu pasti?!" Ujar Sugya.


"Benar Sug. Kok ada ya cewek ko engga ada harga dirinya sama sekali"


"Gua dengar ya , Roy. Dia itu anak dari indo. Jauh jauh dari indo malah jadi simpanan" ujar Sugya membuat mereka tertawa.

__ADS_1


"Jangan gitu Be. Mungkin emang adatnya disana kek gitu"


Mendengar negaranya di hina. Sudah tidak bisa di tolerir oleh Elizabeth lagi. Elizabeth tersenyum kecut. Elizabeth menarik nafasnya dan berputar berbalik. "Duk" Elizabeth menendang Sugya sampai jatuh.


" Menjijikkan" ucap Elizabeth.


"Loe engga apa, Sug?" Seseorang mehasiswa yang menolong Sugya.


"Loe berani, ya.. Sama..."


"Kenapa harus takut sama anjing seperti kalian?" Tunjuk Elizabeth pada mereka satu persatu. "Cuma anjing engga tau dirinya anjing. Menggonggong tapi engga tau apa yang dia gonggong. Sok tau Indonesia tapi saya rasa engga pernah ke indo. Itulah tong kosong pasti nyaring bunyinya"


"Apa maksud loe?"


"Sekarang taukan siapa yang bodoh? Begitu saja engga mengerti"


"Loe.." ucap Sugya sambil menunjuk pada Elizabeth.


"Makanya ke indo ya biar tau betapa ramah dan sopan santunnya orang Indonesia. Biar jangan asal bicara" balas Elizabeth. "Udahlah, Sya. ngomong sama orang gila kita juga nanti ikut gila" ujar Elizabeth dengan menarik tangan Raisya.


"Kenapa pada diam?!" Ucap Sugya


Semua mulai menahan Elizabeth dan Raisya yang akan pergi. Tangan mereka belum menyentuh Elizabeth.


"Burg" seseorang menendang orang tersebut.


"Siapa kamu?" Berani sekali sama saya.


"Kalian kenapa pada diam?" Beberapa orang yang di sekitar sana langsung berkerumum.


"Bram?!" Lirih Elizabeth.


"Anda baik-baik saja, nyonya?"


"Saya memang di sini dari tadi, nyonya"


"Mereka lagi, Lis?" Tanya Reyhan yang juga datang bersamaan dengan Bram.


"Ayo serang?!"


Semua mulai menyerang. Elizabeth menarik Raisya menjauh.


"Ada apa ini?!" Barinto seseorang yang membuat semua orang terhenti dan melihatnya.


Elizabeth melihat orang tersebut dan tersenyum, tapi dia mencoba menahannya.


"Eh bukannya ini yang ngisi seminar tadi ya, Sug?" Bisik Binna pada Sugya.


"Mr. Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Sugya yang mulai mendekati Abraham dengan senyum 1000 Watt nya.


"Aku bertanya ada apa ini?" Tanya balik Abraham.


"Saya dengar, Mr. Akan bekerjasama dengan universitas ya?"


"Kamu siapa?!" Tanya Abraham tidak bersahabat.


"Hem hem. Mr. Perke.."ucap Sugya yang mengulurkan tangan akan memperkenalkan dirinya pada Abraham.


"Sampai-sampai saya harus mengatakan apa yang akan saya lakukan padamu?" Potong Abraham kesal "Saya bertanya pada kalian. Apa yang terjadi? Apa kalian semua sudah bisu?" Abraham beralih pada semua orang yang ada di sana. Sugya menarik tangannya yang tidak di terima Abraham.


"Mr. Bukan masalah yang besar kok. Hanya ada sampah di sekolah ini?"


"Sampah? Kamu?" Tanya Abraham melihat pada Sugya.


"Hahaha Mr. Bisa aja. Sugya ini mana mungkin sampah, Dia.."

__ADS_1


"Oh jadi kamu yang sampah" potong Abraham pada Binna.


"Bukan.. bukan.. bukan saya Mr. Tapi..." Ucap Binna terbata-bata melihat tatapan Abraham yang menyeramkan.


Abraham tersenyum kecut.


"Tapi siapa?" Potong Abraham lagi.


"Tentu merekalah, Mr" ucap Roy dan menunjuk pada Elizabeth dan Raisya.


"Mereka?" Tanya Abraham melihat kearah Elizabeth. " Kemarilah?" Abraham memanggil Elizabeth untuk mendekat.


"El?" Panggil Raisya. "Kita ada" lanjut Raisya mengatakan dirinya dan Reyhan.


Elizabeth hanya tersenyum pada Raisya.


"Anda mau apa, Mr?" Reyhan mencoba menutupi Elizabeth dari Abraham.


Abraham memberikan isyarat untuk menahan Reyhan. Bram dengan sigap menarik Reyhan dan terjadilah tarik menarik. Namun tenaga Bram lebih kuat dari Reyhan.


"Kenapa kalian bisa mengatakan dia sampah?" Tanya Abraham pada mereka.


"Mr. Jangan lihat tampangnya yang lugu. Gadis itu simpanan om om, Mr."


Elizabeth mengeluarkan senyumnya.


"Apa kamu mau mengatakan sesuatu? Apa kamu benar simpanan om om? " Elizabeth diam.


"Dia pura-pura tidak mengenalku?"


"Kenapa diam aja? Ngaku deh loe"


"Kenapa kamu diam? Saya bisa buat laporan ke rektor dan saya bisa mengeluarkan kamu dari sekolah ini"


"Dia ini mau apa sih. Sebenarnya?" Elizabeth menatap Abraham.


"Aku harus mengatakan apa, Mr? Siapa yang akan percaya? Tadi pagi sudah ku katakan kebenarannya, tapi mereka tidak percaya. Dan mereka semua sekarang membuat drama" balas Elizabeth.


"Drama? Kamu bilang kami buat drama. Satu sekolah ini sudah tau kamu itu simpanan?" Balas Sugya. " Anda fikir deh Mr. Dia hanya mahasiswa beasiswa dari Indonesia yang miskin dan lihat tas yang dia gunakan merek A coba Ia dapat dari mana Mr.?"


"Pacarnya. Elizabeth sudah punya pacar. Pacarnya itu bos Elizabeth. Kenapa kalau dapat dari pacarnya!"


"Pacar? Apa sugar Daddy?"


"Bilang aja iri? Kalian bahkan belum pernah melihat Elizabeth minum kan? Apa ada yang lihat Elizabeth di klub? Engga pernah kan? Kenapa? Iri Elizabeth bisa beli ini beli itu? Kalian engga bisa? Cari sugar daddy Sana. Tapi saya yakin sama teman saya" Ujar Reyhan.


"Saya engga punya pacar, Rey. Dia sudah hilang" ucap Elizabeth santai. Abraham tersenyum mendengar itu "Yuk pelajaran selanjutnya akan segera dimulai" Elizabeth menarik tangan Reyhan dan Raisya.


"Hem Hem siapa yang bilang tadi kalau gadis itu simpanan om om" teriak Abraham. Memberikan langkah Elizabeth dan menatap Abraham tidak percaya.


"Sekali lagi. Siapa yang bilang kalau gadis itu. Elizabeth Liman adalah simpan om om. Maju kedepan sekarang. Tenang aja saya akan memberikan kalian hadiah" dengan berbondong-bondong orang-orang yang ada disana maju kedepan dari yang teman2 Sugya sampai orang2 yang hanya menonton tadi.


"Kim. Catat mereka semua beserta keluarga mereka. Satu persatu jangan sampai ada yang terlewatkan"


"Baik, tuan besar" Sekertaris Kim memberikan isyarat anak buahnya untuk melakukan yang di perintahkan Abraham. Semua dengan senang hati memberikan nama- nama dan data-data mereka.


"Berikan padaku?!" Abraham meminta data Sugya dan Binna pada anak buahnya setelah mencatat tentang mereka. Sugya dengan bangga mencibir kepada Elizabeth.


"Aku tadi ngefans banget sama orang itu. Udah ganteng, cerdas, dan kaya. Tapi ternyata aku salah dia gila" ucap Reyhan.


"Dia memang sedikit gila. Kita lihat saja, katanya setengah kebenaran adalah kebohongan yang sangat menyakitkan dibandingkan 100% kebohongan itu sendiri"


"Ngomong sama orang pinter semakin engga nyambung" ucap Reyhan.


######

__ADS_1


__ADS_2