
Sheerin masih khusyu, menghadap sang pencipta. Memasuki rakaat keempat, dan sampailah pada tahiat akhir.
"Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah." Kemudian Sheerin mengusapkan telapak tangannya pada wajah. Mengakhiri kewajibannya sebagai manusia kali ini. Balutan mukena putih semakin membuat aura kecantikan didalam diri Sheerin terpancar berkali-kali lipat.
Lalu, mengangkat kedua tangannya, menengadahkan kepala, bersimpuh di hadapan yang maha kuasa, sang pemilik alam semesta, yang menciptakan bumi dan seluruh isinya.
"Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang. Aku sadar, aku hanyalah makhluk yang berlumuran dosa. Namun berharap bisa menjadi salah satu makhluk yang menghuni surgamu kelak. Bersama kedua orang tuaku."
"...meskipun terkadang aku kerap kali melupakanmu dan terbuai akan indahnya dunia yang fana ini. Mungkin dengan cara kau memberikan ujian bertubi-tubi untukku, meletakkan rasa sakit di sekujur tubuhku, mampu menggugurkan dosa-dosaku di masa lalu."
"...aku menerimanya dengan ikhlas. Seiring waktu berlalu, aku pasti bisa melupakan tentang rasa sakit yang pernah melekat dalam hatiku. Asalkan aku minta satu syarat padamu, tolong jangan renggut apa yang aku miliki saat ini. Aku takan meratapi lagi apa yang telah pergi dari hidupku. Aku hanya akan bertahan dengan apa yang masih tersisa di hidupku."
"Jika seandainya kau menginginkan sesuatu hilang dari hidupku, jangan renggut apapun itu, cukup ambil saja nyawaku. Karena aku pasti takan bisa bertahan saat aku harus kembali merasa kehilangan."
Krek!
Sheerin mengakhiri do'a nya saat pintu kamar di buka dari luar. Menoleh, terlihat Nindi berjalan mendekat ke arahnya.
"Kenapa Nin?" Tanya Sheerin.
"Ada si tengil tuh didepan." Memberi info, kemudian menjatuhkan bokongnya di atas ranjang.
"Oh ya?" Sheerin terlihat senang, segera dia melepas mukena yang melekat di tubuhnya dari shalat magrib hingga isya ini. Kemudian melipatnya dengan gerakan cepat.
"Iya, temuin gih cepet! Dia udah nunggu dari tadi." Ujar Nindi.
"Kenapa nggak loe suruh masuk aja?" Tanya Sheerin.
"Katanya dia kegerahan, mau nunggunya diluar aja sambil cari udara segar." Berbohong biar tidak di katai kejam. Hihi.
"Ya udah, gue kedepan dulu!" Sheerinpun berlalu meninggalkan Nindi.
Nindi merasa jika dirinya belum perlu keluar untuk menemui si tengil, menghindari kemungkinan buruk yang mungkin saja bisa terjadi kalau-kalau si tengil marah.
***
Sheerin berjalan menuruni anak tangga, melewati ruang tengah, ada kak Bima disana sedang berkutat dengan laptopnya. Terlihat serius sekali. Tak sengaja kaki Sheerin menyandung box bekas martabak yang tergeletak di lantai.
Astaga!
Jorok sekali Nindi, tidak bisa apa dia membuang sampah pada tempatnya? Sheerin geleng-geleng kepala. Kak Bima sama sekali tak terpengaruh dengan kehadiran Sheerin, membuat perempuan itu merasa tak perlu menegurnya. Sheerin kembali melanjutkan langkahnya, memutar handle saat sudah berdiri di depan pintu.
Sheerin terkejut, karena saat pintu terbuka, langsung mendapat semburan dari laki-laki yang mungkin sejak dari berdiri disana.
"Loe yang bener aja dong!"
***
__ADS_1
Wajah Levin sudah memerah menahan marah. Awas saja kalau si urakan keluar! Levin sudah mencatat kata-kata apa saja yang akan dia ucapkan untuk memarahi Nindi nanti di dalam hatinya.
Suara decitan pintu di depannya kembali menyadarkan Levin, dia bersiap menyiram Nindi dengan kata-kata pedas yang sedari tadi dia hafalkan.
"Loe yang bener aja... Dong!" Di awal kalimat, Levin berkata dengan intonasi marah, namun semakin mendekati akhir kalimat, ucapannya mendadak melempem. Malu sendiri, saat menyadari jika yang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah si Urakan. Melainkan bidadari yang baru saja turun dari kayangan.
Selamat loe kali ini, urakan!
"Kenapa Lev?" Dengan dahi mengerut Sheerin bertanya. Terlihat Levin menggaruk tengkuknya yang tam gatal, malu sendiri.
"Ehh, nggak apa-apa yang." Gelagapan menjawab.
"Kamu udah lama disini?" Sepertinya Sheerin tam mempermasalahkan kegugupan Levin.
"Ahh, nggak kok, aku baru sampai." Hah, padahal Levin ingin sekali mengadu kalau kembarannya itu sudah membuat darah Levin hampir habis di hisapi monster yang mengerikkan.
"Ya udah, masuk yuk!" Sheerin membuka lebar-lebar daun pintu. Namun Levin langsung menolaknya.
"Ehh, nggak usah, kita duduk di halaman aja ya!" Pinta Levin. Mereka takan bisa bebas pacaran di dalam sana. Ada kak Bima yang datarnya minta ampun dan si urakan yang kapan saja bisa mengganggu mereka.
"Oh. Ya udah, ayo!"
Merekapun berjalan beriringan, kemudian memilih rumput sintetis untuk alas mereka duduk. Keduanya kini terduduk disana, lampu temaram membuat suasana kian terasa syahdu. Hanya terdengar suara mesin mobil atau kendaraan lain yang melintas di jalan depan rumah itu.
Levin semakin merapatkan diri dengan Sheerin.
"Kenapa sih?" Tanya Sheerin sambil tertawa saat Levin berdesak-desakan sendiri, memepet dirinya.
"Kalau dingin jangan disini. Kita kedalam aja." Ucap Sheerin.
"Ehh jangan jangan!" Menolak dengan cepat.
Kemudian keduanya terdiam, Levin menoleh ke arah Sheerin yang berada tepat di sampingnya, ternyata perempuan itu juga tengah menatapnya. Sehingga pandangan mereka bertemu.
Mata teduh itu!
Levin selalu jatuh cinta saat menatap manik mata indah nan teduh milik Sheerin. Membuat kegundahan di hati Levin seketika tersamarkan hanya dengan menatap mata teduh itu.
Reflek tangan Levin terangkat, menyentuh kepala Sheerin.
"Apa ini masih sakit?" Bibir manis itu berkata. Bahkan Sheerin sampai tak berkedip saat melihat bibir itu naik turun saat bicara. Bibir itu menjadi bagian yang paling Sheerin sukai dari diri Levin. Bibir manis yang kerap kali membuatnya melayang saat bertemu dengan bibirnya.
Ahh, bukannya ingin menjawab pertanyaan Levin, Sheerin malah membayangkan adegan ciuman bersama Levin.
Astaga!
Sadar kamu Sheerin!
__ADS_1
"Masih sakit nggak?" Levin bahkan sampai harus mengulang pertanyaannya saat menyadari jika Sheerin melamun.
"Ahh, udah nggak terlalu." Menjawab sambil tersenyum.
Ternyata, adegan yang berkelebatan di pikirannya itu tidak terjadi. Ada rasa kecewa, namun Sheerin mencoba meyakinkan diri jika masih ada banyak waktu untuk semua itu. Semua akan indah pada waktunya, bukan?
"Kalau sakit bilang. Nanti aku temenin kamu kontrol." Ucap Levin.
"Iya." Menjawab singkat.
"...gimana? Kamu pergi ke kampus kan hari ini?" Kemudian membahas pendidikan.
"Iya dong, aku kan harus cepet-cepet wisuda biar cepet nikahin kamu." Malah menggombal.
"Hmm, modus banget sih!" Sheerin meninju lengan Levin pelan. Levin cekikikan sendiri mendapat pukulan cinta dari Sheerin.
"Oh ya, kamu sendiri jadi kan mulai hari senin masuk lagi?" Tanya Levin.
"Iya, jadi kok." Jawab Sheerin.
"Aku nggak sabar lho mau ngenalin kamu sebagai pacar aku sama temen-temen." Ucapnya lagi.
"Hmm, pameer!" Malah meledek, padahal dalam hatinya sedang jingkrak-jingkrak kesenangan. Mau di pamerkan.
"Biarin, mereka pasti iri sama aku karena punya pacar secantik kamu." Sheerin terkekeh kecil mendapat pujian. Hidungnya hampir saja terbang ke awang-awang.
Sebuah motor nampak berhenti di samping rumah kak Bima. Lebih tepatnya di depan pagar rumah Clarissa. Pemandangan itu bisa terlihat jelas oleh Levin dan Sheerin karena pencahayaan di sisi jalan sana cukup baik. Sedangkan dari dari jalan sana mungkin keberadaan mereka tak bisa terlihat dengan jelas karena cahaya nya yang remang-remang.
"Itu Clarissa sama siapa ya?" Sheerin bertanya saat melihat Clarissa turun dari motor itu.
"Nggak tau, pacar barunya kali." Katanya tidak tau, tapi masih bisa menduga.
"Oh ya? Kamu tau?" Semakin penasaran.
"Nggak tau juga. Cuma tadi aku liat dia di jemput sama cowo pas pulang ngampus." Jawab Levin.
'Apa Clarissa udah move on?' Sheerin membatin, sambil memperhatikan gerak gerik Clarissa dan laki-laki yang nangkring diatas motornya.
Mereka terlihat sangat akrab disana, entah apa yang sedang mereka bicarakan, Sheerin sama sekali tak bisa mendengarnya dari jarah sejauh itu. Hanya saja terlihat Clarissa sesekali tertawa menanggapi perkataan laki-laki di hadapannya.
'dari dulu loe itu nggak pernah berubah Ris, selalu gampang jatuh cinta sama laki-laki yang sedikit aja perhatian sama loe. Dan hati loe mudah patah, apapagi saat tau kalau ternyata laki-laki itu cuma PHP in loe.'
'semoga aja benar Ris, loe udah bisa move on. Semoga juga dia laki-laki yang beneran tulus cinta sama loe. Gue selalu mendo'akan biar loe bisa bahagia. Bersama orang yang loe cintai dan mencintai loe.'
Tanpa sadar bibir Sheerin tertarik ke atas saat melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Clarissa.
_______________
__ADS_1
***Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...
satu konflik lagi, insyaallah aku tamain 😊***