
Pulang dari kantor Abraham dan Elizabeth, tidak langsung pulang kerumah.
Mereka akan berhenti makan terlebih dahulu di restoran. Abraham sendiri yang menyetir mobil, karena Bram di suruh Abraham untuk mengerjakan tugasnya di markas.
"Kita akan kemana, honey?" Tanya Elizabeth yang melihat arah mobil tidak ke jalur yang sebenarnya. Ini bukan jalan pulang.
"Makan. Kita akan makan, baru pulang ke rumah, Elis. Aku yakin kau pasti lapar" Jawab Abraham.
Mendengar itu, Elizabeth memegang perutnya dan tersenyum.
"Kau tau saja honey, bahwa aku lapar" ucap Elizabeth sambil mengelus-elus perutnya. Abraham tersenyum.
"Kau ingin makan apa? Ha?" Tangan Abraham terulur dan mengusap kepala Elizabeth lembut.
Elizabeth menurunkan tangan Abraham.
"Fokuslah menyetir, honey" ucap Elizabeth.
"Kau tidak perlu takut jika aku yang
menbawanya. Karena..."
"Aku tidak peduli ah! Yang penting jika sama aku, kau harus hati-hati. Aku engga suka yang menantang nyawa" potong Elizabeth sebelum Abraham menyombongkan diri.
Abaraham menurunkan kecepatan mobilnya.
"Honey, jika kau ingin ngebut-ngebut bisa di area balap, bukan dijalanan" lanjut Elizabeth
"Iya iya..." Ucap Abraham yang pasrah "Jadi kau mau makan apa? Ha?" Lanjut Abraham mengalihkan pembicaraan.
"Emm.. enaknya apa ya??" Ucap Elizabeth berfikir
"Nasi goreng?"
"Engga ah" tolak Elizabeth
"Bakso?"
"Engga mau"
"Steak?"
"Males daging" tolak Elizabeth lagi.
"Jadi makan apa?" Tanya Abraham mencoba sabar.
"Em..." Lagi-lagi Elizabeth berfikir panjang
"Terserah ah, honey. Mau makan apa?"
"Aku jadi engga laper. Apa kita pulang saja. Aku rasa memakanmu lebih nikmat" ucap Abraham pelan, namun membuat Elizabeth merinding.
"Seperti udang saus asam manis nikmatnya atau ayam juga boleh, honey" Elizabeth memilih untuk mengungkapkan apa yang mau dia makan.
"Oke" Abraham mensetujuinya "Di A?" Tanya Abraham lagi memastikan tempat makan yang akan dituju.
"A? Restoran yang dijalan R itu?" Tanya Elizabeth tidak percaya.
"Iya? Kenapa?"
"Sepertinya kita, engga bisa ke sana deh. Mending tempat lain"
"Menurutku tempatnya nyaman, enak, dan yang pasti aman"
Karena pemilik dari restoran itu, adalah teman ya sekaligus anak buah Abraham.
"Iya sih. Tapi..."
"Kenapa? Apa kamu pernah ada masalah di restoran itu?"tebak Abraham
Bukannya ada masalah di restoran itu, masalahnya ada di kantong Elizabeth yang hanya ada cuan-cuan penyambung hidup. Makan di restoran seperti itu, akan membuat Elizabeth menangis sepanjang bulan, karena seketika uangnya habis, walau baru awal bulan, artinya makan di restoran itu bisa untuk Elizabeth makan sebulan..
"Itu milik Danus salah satu anak buah ku, Elis. Bisa di bilang itu termasuk restoran milikku karena modalnya dari aku, cuma dia yang mengelolah. Katakan? Apa yang sudah mereka lakukan?"
__ADS_1
"Awas aja!"
"Engga! Engga ada masalah sama restoran itu! Tapi..." ucap Elizabeth terhenti.
"Tapi...."
"Tapi apa?" Tanya Abraham tidak sabaran.
"Tapi kasian sama kantong. Harganya cukup untuk makan sebulan" jawab Elizabeth cepat dan meringis mengingat isi dompet.
Abraham tersenyum mendengar itu,
"Oalah aku kira apa? Apa kau kira aku tidak akan sunggup membayarnya?"
"Bukan gitu, Honey. Kami terkejut aja waktu itu, Kamu tau engga honey? Harga kopi nya aja masak 100 dollar. Gilla engga sih? Untung kami lihat harga dulu. Kalau engga kami bisa di suruh cuci piring di belakang"
"Siapa yang akan berani menyuruhmu cuci piring di belakang?"
"Eh? Kenapa kau yang marah? Aku tak sanggup membayar ya harus menerima hukuman bukan?" Ucap Elizabeth.
"Mereka tidak akan berani! Aku akan langsung menutupnya, jika mereka berani"
"Eh..kenapa? Itu kejadian lama" ucap Elizabeth yang merasa bersalah.
"Kita makan di sana?"
"Terserah kau saja. Tapi menurutku di sana terlalu mahal"
"Aku rasa tidak. Itu sepadan. Mereka menyediakan makanan yang berkualitas sangat baik. Semua bahan makanan organik dan mereka menjaga kebersihan dengan baik. Menuruku sepadan"
"Iya. Iya.. kita kesana" Ucap Elizabeth pasrah
"Aku lupa dia kan kaya"
Sampai di restoran.
Elizabeth melihat makanan di mejanya dan mengingat harga di menunya.
"Jika di hitung-hitung ini, bisa lebih 2000 dollar. Harusnya aku menolaknya makan di sini tadi. Ini makanku setahun😭😭, belum lagi ini ruangan VVIP. Aduh aduh. Pusing kepala"
"Ah tidak! Tidak! Aku memang mau udang asam manis" ucap Elizabeth sambil mengambil garpunya dan menuncapkannya pada daging udang yang sudah terkelupas dengan lumuran saus asam manis nya.
Elizabeth mengunyah perlahan makanan dan merasakan dengan seksama.
"Akh sama saja dengan yang aku makan di dekat kamus yang harganya lebih murah 100 kali lipat"
"Kenapa? Apa tidak enak?" Lagi-lagi Abraham bertanya..
"Enak. Enak banget malah" ucap Elizabeth di buat-buat.
Abraham menekan tombol, tidak lama kemudian beberapa pelayan datang.
"Ada apa, honey?" Tanya Elizabeth melihat pelayan itu.
"Kalian tidak lihat?! Dia tidak suka makanannya. Carikan yang lain" perintah Abraham, membuat para pelayan ngelagapan.
"Tidak! Tidak! tidak! Ini sangat enak kok. Kalian tidak perlu mengantinya"
Di keributan datang seseorang yang masuk dan menerobos para pelanyan.
"Ada apa ini?!" Tanyanya.
"Ah. Tuan besar apa kabar?! Sudah lama anda tidak kesini" sapanya saat melihat Abraham, dia melangkah mendekat. Dia memberikan aba-aba pada para pelayan untuk pergi dan semua orang pergi kecuali, Abraham, Elizabeth dan orang itu.
"Siapa gadis cantik ini, tuan besar?Tak biasanya anda membawa wanita kesini. Bahkan calon nyonya terdahulupun tidak anda bawa kesini. Apa dia calon nyonya, tuan besar?" Ucapnya lagi saat melihat Elizabeth. Elizabeth hanya memberikan senyuman kakunya.
"Em...."
"Wah Selamat! Anda ternyata sudah move on, tuan besar? Ah ini berita baik. Kita harus merayakannya" ucapnya senang memotong perkataan Abraham.
"Hai nyonya. Saya Danus. Saya rasa anda tau bahwa restoran ini milik tuan besar, saya yang mengelolahnya" sapanya pada Elizabeth sambil menyodorkan tanganya.
"Hai..." tangan Elizabeth terulur akan menerima uluran Danus, namun cepat Abraham memukul tangan Danus.
__ADS_1
"Dia istriku. Berani sekali kau mau menyentuhnya?!" Ucap Abraham tidak bersahabat.
"Apa?!" Bukannya takut Danus malah terkejut dengan kata istriku..
"Anda sudah menikah, tuan besar? Kenapa tidak mengundangku? Apa sekarang anda sudah melupakan aku? Kau benar-benar kejam, tuan besar. Tapi berita yang sangat bagus, tuan besar. Itu artinya anda sudah move on. Ini baru tuan besar kami. Wanita seperti itu memang harus di hilangkan dari hidup kita. Beraninya dia membuat anda terluka. Bukan hanya anda yang terluka tuan kami juga merasakan sakitnya saat mendengar semua itu" cerocosnya
Abraham meliriknya sadis.
"Apa kau ingin mati?!" Ucap pelan namun menakutkan.
"Eh?! Maaf tuan besar. Apa aku salah bicara?" Tanya Danus yang masih belum mengerti.
"Sebelum kau bicara, sebaiknya kau cari tau dahulu, siapa yang kau bicarakan?! Agar kau tidak menyesal nantinya" Ucap Abraham kesal. Abraham melihat ke arah Elizabeth yang wajahnya sudah merah padam.
"Akh. Maksud anda?" Dia menunjuk pada Elizabeth "A...apa...apa dia nyonya yang kabur itu? Yang kabur di hari pernikahan anda?" Ucapnya tidak percaya.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tau kenapa aku pergi saat itu? Tapi aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu" ucap Elizabeth yang berdiri dan membungkuk memberi hormat meminta maaf.
Bukan hanya Danus yang terkejut, namun juga Abraham.
Danus bukanlah orang yang berpengaruh hanya teman biasa Abraham. Walau Elizabeth dan Abraham sudah pacaran 2 tahun dahulu, namun belum go publik. Elizabeth yang tidak mau waktu itu untuk go publik, dan hanya anak buah dan sebagain dari musuhnya yang tau tentunya. Danus hanya tau berita-berita kecil saja.
"Bukan begitu, nyonya. Aku benar-benar tidak tau. Aku yang harusnya meminta maaf kepada anda" dia juga membungkuk hormat.
"Maafkan saya, nyonya. Maafkan saya, tuan besar" ucapnya lagi merasa bersalah.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Elis. Kau tidak bersalah. Itu cuma masalalu" balas Abraham.
"Memang restoran ini, memang harusnya tutup saja" ucap Abraham kesal pada Danus.
"Jangan begitu, tuan besar. Aku tidak tau, kalau itu kesalahan" ucapnya memohon.
"Aku minta untuk kau menganti makanannya. Kau malah mengoceh tidak jelas. Pergi! Ganti makanan nya" perintah Abraham
"Akh. Apa ada masalah dengan makanannya, tuan besar nyonya? Aku akan segera menggantinya" ucap Danus sambil memegang sebuah piring yang ada di meja itu. " Tunggu apalagi
"Ah, tidak perlu, Honey. Ini sangat lezat. Aku akan segera memakannya" ucap Elizabeth tidak enak.
"Itu sudah dingin!"
"Aku akan segera mengantinya, nyonya" ucapnya menekan tombol dan pelayan-pelanyan datang.
"Angkat semua ini. Ganti yang baru"
Muka Elizabeth berubah masam, dia kesal karena tidak ada yang mau mendengarkanya.
"Apa anda ingin makanan yang lain, tuan besar dan nyonya?" Tanya Danus pada Abraham fan Elizabeth. Elizabeth hanya diam.
"Udah nganti yang sepeti itu saja" jawab Abraham dan Danus langsung undur diri.
"Kau kenapa? Em?" Tanya Abraham saat semua orang pergi. "Kau tidak perlu pedulikan ucapnya. Yang penting kan sekarang, kau ada di sampingku. Yang lalu biarlah berlalu. Oke?" ucap Abraham yanh menebak keasaman muka Elizabeth.
"Em..." Jawab singat Elizabeth
"Kau kenapa?"
"Apa kau tak bisa mendengar perkataanku tadi, honey?" Tanya Elizabeth yang membuat Abraham binggung.
"Kenapa? Apa kau mengatakan sesuatu tadi?"
"Aku bilang tidak usah menganti makanannya. Tapi kau masih mengantinya. Itu kan sangat lezat!" ucap Elizabeth kesal.
"Mereka mengantinya dengan yang sama" balas Abraham.
"Tapi yang tadi menjadi mubajir, kan? Mereka akan terbuang" ucap Elizabeth mengingat udang2 saus asam manisnya yang masih sedikit dia makan.
"Akh. Aku tidak lapar lagi. Kita pulang saja. Di rumah pasti masak kan?" Ucap Elizabeth berdiri dan berlalu.
"Jika mereka tidak masak, aku yang akan masak"
"Elis?!" Abraham mengejar Elizabeth.
"Makan nasi goreng enak kali, ya. Dengan toping bakso, wortel, kubis,daun, bawang, seledri, dan sosis" ngumam Elizabeth yang sudah di mobil.
__ADS_1
"Aku akan menyuruh pelayan untuk membuatnya"
"Em.." balas Elizabeth yang masih kesal.