Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Kisah kelam


__ADS_3

Anya mengomeli Luis melalui sambungan telpon yang dia lakukan, masih tidak habis fikir dengan kedatangan Fira yang tidak di duga-duga itu.


"Bagaimana ini Luis? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Perempuan itu tidak boleh bertemu dengan Lukman, jika itu terjadi, maka hancur sudah semua rencana yang telah kita buat ini!" Ketar-ketir sambil memarahi Luis.


"Tenanglah Anya, kita bisa lakukan satu cara untuk membereskan perempuan itu. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah, ikuti perintahku!" Terdengar tanggapan Luis dari sebrang telfon sana.


"Awas saja kalau sampai gagal lagi."


***


Bergegas mama Anya masuk kedalam rumah dan menyusul Fira.


"Mas, mas dimana?" Terdengar teriakan Fira menggema memenuhi setiap sudut ruangan. Anya tau apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Mba, tenanglah dulu, tadi aku melihat tuan sedang berada di gudang belakang." Ucap Anya.


"Apa? Apa yang sedang dia lakukan di gudang belakang?" Tanya Fira bingung.


"Entahlah mba, makanya tuan tidak mendengar saat mba memanggilnya." Jawab Anya.


"Lalu, dimana Sheerin?" Tanya Fira lagi.


"Sheerin sedang tidur di kamar mbak." Menjawab dengan cepat.


Fira menatap Anya dengan sinis, lalu berbalik badan untuk pergi menemui Lukman, masih berjalan sambil tertatih. Anya tersenyum puas karena Fira percaya begitu saja dengan perkataannya jika Lukman berada di gudang.


Namun dia kembali terlonjak kaget saat Fira kembali menghampirinya.


"Tunggulah Anya, sebentar lagi kita akan melakukan sidang." Ucap Fira penuh penekanan, menatap mama Anya dengan muak.


"Maksud mbak apa? Sidang apa?" Tanya Anya gelagapan.


"Aku tau, putriku tidak pingsan karena kejang, kamu kan yang sudah memberinya obat tidur?" Perkataan Fira berhasil membuat jantung Anya serasa terkena sengatan aliran listrik, belum hilang rasa kagetnya atas kemunculan Fira, kini ditambah lagi dengan Fira yang mengetahui fakta dibalik kecelakaan yang menimpa dirinya.


Bagaimana Fira bisa tau? Batinnya bertanya-tanya. Diam dan mematung setelah perkataan Fira membuatnya kalah telak.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Fira kembali berbalik badan dan hendak menyusul suaminya yang kata Anya ada di gudang belakang tanpa mencium bau-bau kebohongan.


Anya cepat-cepat mengikuti langkah Fira secara sembunyi-sembunyi, memastikan jika Fira akan pergi ke gudang.


Langkah kaki Fira terasa begitu lambat, akibat kakinya yang masih terasa nyeri sehingga memakan waktu yang cukup lama untuk sampai di gudang. Sedangkan Anya mengintip dari balik dinding.


Krek!


Sampailah Fira di depan gudang itu dengan penuh perjuangan, di bukanya pintu itu, suasana gelap langsung saja memenuhi indra penglihatan Fira saat itu, hanya sinar rembulan yang tembus melalui celah jendela kaca menjadi satu-satunya sumber penerangan bagi ruangan yang jarang di jamahi itu. Fira sendiri merasa ragu untuk masuk kedalam, sedang apa suaminya itu malam-malam seperti ini berada di gudang? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.


Namun, rasa tak sabarnya ingin bertemu dengan sang suami jauh lebih besar dari apapun. Firapun menerobos masuk ke dalam keremangan itu.


Disaat itulah Anya berjalan mendekat ke arah pintu gudang, setelah memastikan Fira berada didalam sana. Perkataan Luis di telpon tadi benar-benar dia lancarkan.


'Giring dia ke gudang, lalu kunci dari luar. Tunggu sampai aku datang, aku akan membawanya pergi jauh dan menghabisinya.'


Seringai licik langsung saja merekah saat memikirkan jika rencananya akan berjalan dengan mulus kali ini.


Dengan gerakan cepat, Anya menutup pintu dan menguncinya dari luar. Suara pintu yang ditutup sontak saja membuat Fira terkejut setengah mati dan setelahnya dia tersadar, dia tak mendapati suaminya ada di dalam sana, Anya telah menipu dirinya.

__ADS_1


Panik, Fira menggedor pintu yang tertutup rapat itu sekuat tenaga.


"Anya, buka pintunya, dasar perempuan berengseng kamu." Fira mengumpati Anya sambil berteriak.


"Maaf mbak, mbak tunggu saja didalam sampai suami mbak pulang ya." Anya ingin bermain-main dengan Fira, sebelum dia menyatakan kemenangannya setelah ini.


"Apa sebenarnya mau kamu Anya?" Tanya Fira, namun tak ada tanggapan dari balik pintu sana.


"Sekarang aku semakin yakin jika kecelakaan itu adalah rencana kamu Anya. Aku akan pastikan kamu akan masuk penjara setelah ini." Masih sambil menggedor pintu Fira berteriak.


"Oh ya? Jika mbak ingin menjebloskan aku kedalam penjara, mbak harus keluar dulu dari dalam sana. Tapi, akam aku pastikan setelah ini mbak tidak akan pernah bertemu lagi dengan suami mbak itu. Haha." Tertawa puas, membayangkan bagaimana wajah panik Fira didalam sana, sayangnya Anya tak bisa melihat itu.


"Sialan kamu Anya!"


Fira mengatur nafasnya, percuma dia berteriak seperti itu, itu hanya akan membuang enereginya saja. Sementara dia memerlukan banyak tenaga untuk menghadapi perempuan iblis itu.


Fira tak bisa hanya tinggal diam saja, saat ini Anya pasti tengah mengincar nyawanya lagi, setelah rencana mencelakakan dirinya mengalami ke gagalan.


Kenapa Fira tidak berpikir sampai kesana sebelum datang ke tempat ini. Fira mengutuki kebodohan dirinya sensiri.


Kabur. Ya, kabur adalah solusi paling tepat untuk saat ini. Anya orang yang begitu nekad dan bisa melakukan apa saja, termasuk mensabotase kecelakaan yang dia alami kemarin. Pasti sekarang dia sedang merencanakan hal lain untuk menyingkirkan Fira.


Tidak, Fira tidak ingin Anya mencelakainya untuk yang ke dua kali, putri-putrinya masih membutuhkan Fira. Dan dia juga harus menjemput Shireen di dusun kakek itu. Tugas Fira masih banyak.


Di malam yang cuacanya dingin itu, Fira nampak berkeringat, keringat dingin. Masih dengan kaki yang gemetar menahan rasa ketakutan, Fira berjalan menuju jendela yang berada di ujung gudanh itu. Di kunci. Hah, Fira harus berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari tempat ini dan segera menemui suaminya.


***


Sementara itu, mama Anya menunggu dengan gelisah diluar gudang, Luis masih belum terlihat batang hidungnya.


Jika rencananya kali ini gagal lagi, sudah di pastikan dia tidak akan bebas berkeliaran di dunia ini lagi. Dia akan masuk bui.


Tidak tidak, itu tidak boleh sampai terjadi.


Ditengah kegundahan hatinya, seseorang berpakaian serba hitam muncul dari arah belakang, Luis tiba di waktu yang tepat. Anya menghembuskan nafas lega melihat kehadirannya.


"Syukurlah kamu sudah datang, Luis." Anya bicara setengah berbisik.


"Bagaimana? Apa dia ada didalam?" Tanya Luis kemudian.


"Iya, cepatlah bawa dia pergi dari sini sebelum Lukman pulang. Dia menjadi ancaman besar untuk rencana kita Luis, apalagi dia sudah mengetahui jika dalang di balik kecelakaannya itu adalah aku." Panik menjelaskan.


"Apa? Dia tau dari mana?"


"Aku juga tidak tau, itu bukan jadi hal yang penting lagi sekarang. Lebih baik kamu cepat urus dia!" Tegas Anya.


"Ya, ayo! Pegang ini!" Luis terlihat memutar kunci sebelum akhirnya dia mendorong masuk pintu itu. Anya dengan sigap mengarahkan senter yang diberikan Luis ke dalam sebagai sumber penerangan.


Luis bersiaga, takut jika Fira melakukan serangan dadakan. Namun nyatanya, serangan itu tidak pernah dia dapatkan karena setelah menyapu semua ruangan dengan senternya, Luis dan Anya tidak mendapati Fira ada di ruangan gelap itu.


"Kemana dia Anya?" Bertanya penuh ke bingungan.


Kemudian, matanya tertuju pada jendela yang keadaannya sedikit terbuka. Anya dengan gerakan cepat berjalan mendekat.l, diikuti Luis di belakangnya.


"Astaga! Dia pasti kabur melalui jendela ini."

__ADS_1


"Kamu benar, Anya!"


"Cepat kamu cari dia Luis, aku yakin dia belum pergi terlalu jauh dengan keadaan kakinya yang terluka."


"Baiklah!"


Tanpa berpikir panjang, Luis mengambil langkah seribu, menerjang jendela itu. Tidak ada waktu untuk berputar arah, atau perempuan itu akan lolos dari cengkamannya.


Anya menatap Luis sambil menggigit bibir bawahnya, semoga saja Luis berhasil menemukan Fira dan menyingkirkannya dari dunia ini. Begitulah harapan Anya untuk bisa menggantikan posisi Fira didalam keluarga itu.


***


Setelah menyusiri seluruh halaman rumah itu, Luis masih tidak menemukan Fira. Dia berpikir, mungkin perempuan itu sudah pergi dari lingkungan rumah ini. Diapun menghampiri mobil sewaannya yang terparkir di depan gerbang dan mulai menyisir setiap jalanan yang dia lalui, dia yakin Fira berjalan menuju jalanan utama.


Sementara itu,


Berhasil melarikan diri dari gudang bukan suatu jaminan untuk Fira bisa berada dalam situasi aman sekarang. Dia tau, Anya pasti tidak akan tinggal diam saat menyadari jika Fira sudah berhasil kabur dari sana.


Diapun sekuat tenaga yang dia miliki berlari menjauh dari rumah itu dengan kakinya yang pincang. Mencari pertolongan. Namun, jalanan terlihat sangat sepi. Wajar saja, malam sudah semakin larut, orang-orang pasti lebih memilih bergelung di bawah selimut di bandingkan harus berkeliaran diluar rumah.


Beruntung, sebuah mobil terlihat bergerak maju kearahnya. Mungkin Tuhan sedang menurunkan bala bantuan untuk dirinya lewat si pengendara mobil itu. Terlampau senang karena akan terbebas dari Anya, Fira berdiri di tengah jalan dan menyetop mobil itu.


Mobil itupun berhenti. Cepat-cepat Fira menggedor kaca jendelanya.


"Tolong saya, tolong!" Ada getaran di setiap teriakannya.


Kaca mobilpun berlahan turun, menampilkan wajah si pengendaranya. Mata Fira seketika membelalak, ingatan saat kecelakaan itu kembali bermunculan dalam pikirannya.


Dia adalah orang yang sama dengan orang yang sengaja menjatuhkan mobil Fira waktu itu kedalam jurang.


"Hai, masih ingatkah kamu dengan aku?" Seringai jahat kemudian dia tampilkan, membuat Fira kembali terancam.


"Tidak!" Tidak disini bukan artian Fira tidak mengingat Luis, hanya saja tidak percaya jika dia akan bertemu lagi dengan manusia tak berhati seperti dia. Fira yakin, dia adalah kompotan Anya.


Apa yang harus Fira lakuka sekarang?


"Aku adalah malaikat yang akan mencabut nyawamu, FIRA! Haha." Ucap Luis, tawanya bahkan terdengar mengerikkan ditelinga Fira.


Lari menjauh, itu yang hanya bisa Fira lakukan. Dia berlari dengan sisa tenaga yang dia miliki, berusaha mengindar dari orang yang berniat mencelakainya itu.


Fira berlari sambil menyeret-nyeret kakinya yang terasa begitu sulit untuk diajak kerja sama dalam situasi genting seperti ini. Tunggang langgang, sesekali dia terjatuh karena menginjak jalanan berlubang. Pontang panting dia bangkit dan mencoba berlari lagi. Begitu hingga dia sendiri frustasi karena merasa usahanya hanya sia-sia.


Luis yang melihat usaha Fira melarikan diri, tertawa. Dia ingin melihat sejauh mana dia berhasil melarikan diri, nyatanya tubuh Fira masih bisa Luis lihat dengan jelas.


"Berlarilah sejauh yang kamu bisa, tapi kamu tidak bisa menghindari ajalmu yang segera tiba, Fira. Haha."


Dia menekan pedal gas pada mobilnya, ini saatnya menyingkirkan Fira untuk selama-lamanya.


Saat Fira berusaha untuk bangkit dari jatuhnya, matanya disilaukan dengan cahaya lampu mobil yang melaju dengan kecepataan penuh, sebelum akhirnya menghantam tubuhnya.


"Jangaaaaaan!"


_____________


***Mau kasih bocoran dikit, di akhir cerita, akan ada tiga orang yang meninggal. kira-kira siapa aja yaa? Bima kah? Nindi? Sheerin atau Levin? cari tau jawabannya nanti ya...

__ADS_1


Dan jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca***...


__ADS_2