
Langit mulai mendung, menandakan waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Pesawat yang ditumpangi Mahe mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Changi. Pria itu turun bersamaan dengan Nara, kemudian berjalan beriringan sembari bercengkrama keluar bandara. Mereka hanya membawa ransel yang diletakkan di bagasi pesawat, jadi tidak perlu menunggu untuk mengambil barang lainnya.
“Semoga kita bisa bertemu lagi, ya, Nar! Aku senang bisa berteman denganmu,” ujar Mahe saat mereka berada di pintu keluar.
“Aku harap kita nggak bertemu lagi, Mahe.” Ucapan Nara membuat Mahe bingung.
“Kenapa?”
“Karena aku nggak mau jadi wanita yang suka menggoda pacar orang,” jawabnya sembari tertawa.
Mahe pun tersenyum, Nara suka sekali menggodanya. “Aku nggak yakin wanita sepertimu bisa melakukan hal seperti itu!”
“Kamu pikir aku nggak bisa? Tentu saja aku bisa.” Nara mengedipkan sebelah mata, Mahe pun semakin menyunggingkan senyumnya.
“Ya sudah, lain kali kita ketemu lagi, ya,” ucap Mahe mengalihkan pembicaraan.
“Oke. Ini kartu namaku, kapan pun kamu butuh, kamu bisa menghubungiku.” Nara menyerahkan kartu namanya yang kemudian diambil Mahe sembari menatapnya lama
“Terimakasih, Nara. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa.”
Mereka pun berpisah, menuju ke hotel masing-masing. Sebelum berangkat, Mahe sudah memastikan hotel terdekat dengan rumah sakit tempat Leddy di rawat. Ia tahu rumah sakit itu dari salah satu pegawai administrasi yang berghibah dengan rekan kerjanya. Mahe memilih York Hotel sebagai tempat penginapannya nanti, karena hotel itu yang paling dekat dengan rumah sakit Mount Elizabeth. Sedangkan Nara, gadis itu langsung menuju ke Four Seasons Hotel tepatnya di Orchad Boulevad.Di sana ia sudah ditunggu oleh rekan kerjanya, besok Nara akan meeting dengan klien dari Jepang.
***
Paginya, pukul enam lewat tiga puluh menit, Mahe tampak bersiap untuk mengunjungi Leddy. Pria itu berpikir ada baiknya datang di saat pagi karena Metha pasti masih tidur. Mahe tak sanggup jika bertemu Metha nantinya, bisa-bisa rencana untuk menjenguk Leddy jadi ambyar. Setelah menyelesaikan sarapan di restorant hotel, Mahe segera keluar dan berjalan menuju Mount Elizabeth.
Karena jarak antara hotel dan rumah sakit itu dekat, Mahe memilih untuk berjalan kaki saja sembari bisa menikmati keindahan Singapura. Gedung-gedung tinggi yang memiliki arsitektur unik, kendaraan berlalu lalang persis seperti di Indonesia. Pria itu teringat kembali saat pertama kali bertemu dengan Leddy, senyuman manis Leddy yang sulit untuk dilupakan, membuat akal sehatnya berontak.
Tak butuh waktu lama, ia pun tiba di rumah sakit tersebut. Menatap sebentar kemegahan gedung dan ornamen-ornamen yang terpasang di sana. Mahe pun melangkah menuju meja resepsionis untuk menanyakan ruang perawatan Leddy.
“Pagi, ruang perawatan dokter Leddy Andriani dari Indonesia sebelah mana, ya?” tanyanya dengan menggunakan bahasa Indonesia.
__ADS_1
Meski warga Singapura menggunakan bahasa Inggris dan Klanten sebagai bahasa sehari-hari, masih banyak warganya yang paham dengan bahasa Indonesia.
Petugas resepsionis tersenyum, ia pun tampak mengotak-atik komputer yang berada di hadapannya. “Dokter Leddy berada di bilik Ros nomor 206,” ujarnya dengan logat Klanten.
Mahe pun meninggalkan tempat itu, kemudian mencari ruangan Leddy yang berada di lantai dua. Setelah berjalan melewati koridor dan beberapa ruangan lainnya, tibalah ia di tempat tujuan. Mahe tampak senang dan bergegas untuk masuk ke sana sebelum Metha datang. Namun, tanpa ia duga sama sekali Metha muncul dari dalam bersamaan dirinya hendak membuka pintu tersebut. Keduanya saling tatap, terkejut bukan main. Metha tak menyangka Mahe ada di sini.
“Mau ngapain lo?” tanyanya sinis.
Mahe masih terdiam, berusaha untuk mengumpulkan tenaga dan menjawab pertanyaan dari Metha. Pria itu gemetar, sangat jelas terlihat dari jemarinya yang sedikit berkeringat.
“B-bagaimana kabar Leddy?” pertanyaan itu membuat Metha tertawa sinis.
“Apa peduli lo? Bukankah Leddy seperti ini karena ulah lo sendiri? Lantas mengapa berpura-pura menanyakan kabarnya?” ucap Metha sembari melipat kedua tangannya di dada.
“Tha, gue tahu gue salah. Tapi, please, izinkan gue untuk menemuinya!” pintanya memohon.
“Buat apa? Lo nggak bermaksud untuk membunuh sahabat gue, kan?”
Mahe terkejut, sungguh pria itu tak berpikir jika Metha beranggapan seperti itu padanya. “Kenapa lo berpikir
“Ya, wajarlah gue berpikir seperti itu. Karena lo nggak mau Leddy merusak hubungan lo sama wanita sialan itu.” Metha terlihat emosi. Kehadiran Mahe membuatnya semakin membenci pria itu.
“Tha, gue nggak bermaksud seperti itu. Gue datang ke sini dengan tujuan baik. Gue menyesal udah membuat Leddy menderita, gue mau perbaiki kesalahan gue.”
“Dengan cara apa? Menjalin hubungan lagi dengannya? Jangan harap gue bakal kasih izin. Mending lo cabut sana, sebelum muka lo itu bonyok lagi,” usirnya sembari menunjuk wajah Mahe yang masih ada bekas lebamnya.
“Gue mohon, Tha. Izinkan gue untuk bertemu Leddy, meski cuma sekali!” pintanya sekali lagi sembari berlutut di hadapan Metha.
“Dasar pria nggak tahu diri. Udah diberi peringatan untuk tidak muncul lagi, malah berani menampakkan wajahnya di sini. Pria bermuka tembok,” sindirnya pelan dan masih bisa didengar olehnya.
Metha memilih untuk meninggalkan Mahe dan kembali masuk ke ruangan Leddy. Gadis itu tak ingin berlama-lama berhadapan dengannya, karena ia gampang emosi.
“Tha, gue mohon, Tha.” Metha tak menghiraukan panggilan dari Mahe.
__ADS_1
“Lo pikir gue bodoh? Mungkin Leddy bisa percaya sama lo, karena itu kesalahannya. Tapi, jangan harap gue bisa luluh dengan tangisan buaya lo itu,” ujarnya sendiri saat berada di dalam ruangan Leddy.
Metha menatap sahabatnya penuh cinta, ia mengusap lembut kepala Leddy yang masih terbalut perban. Selang infus juga masih menempel dihidungnya, bermacam alat juga masih terpasang di sekujur tubuhnya. Pasca operasi, Leddy belum juga sadarkan diri, meski dokter mengatakan kondisinya stabil.
“Kapan kamu siuman, Led.Aku nggak tega melihatmu seperti ini, itu membuatku sakit.” Metha menangis, menatap Leddy yang diam tanpa memberikan reaksi apa pun.
“Pria itu datang untuk melihatmu. Tapi, aku tak mengijinkan dia masuk, maafkan aku. Aku nggak bermaksud untuk membuatmu sedih, tapi_” perkataan Metha terpotong saat ponselnya berdering dengan nyaring.
Metha pun meraih benda tersebut, melirik sebentar nama si pemanggil. “Iya, ada apa, Han,” ujarnya kemudian saat memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
“Bagaimana keadaan Leddy?”
“Masih sama, dia belum siuman.”
“Dokter bilang apa?”
“Kondisinya stabil, Han. Tapi, Leddy sepertinya enggan untuk bangun. Mungkin dia tidak ingin merasakan sakit lagi, makanya dia belum memberikan reaksi apa pun. Tapi_”
“Tapi kenapa, Tha?”
Metha menarik nafas panjang, kemudian kembali melanjutkan pembicaraan. “Mahe ada di sini,” ucapnya yang membuat dokter Farhan terkejut.
“Apa? Gue nggak salah dengar, kan? Ngapain dia ke situ?”tanya Farhan dengan sedikit emosi.
“Gue nggak tau, gue juga bingung kenapa dia bisa tahu Leddy di rawat di rumah sakit ini. apa ada yang memberitahunya?”
“Nggak ada yang kasih tahu dia, Tha. Di rumah sakit pun gue larang untuk membicarakan hal ini.
“Terus, bagaimana dia bisa tahu, Han? Mungkin dia mendengar dari beberapa perawat kali, siapa tahu ada yang bergosip tentang Leddy.” Metha menerka-nerka.
“Kalau pun ada yang berghibah, Mahe nggak mungkin datang ke sini setelah gue menghajar habis-habisan.”
“Jadi lo yang membuat wajahnya terlihat menyedihkan seperti itu?”
__ADS_1
“Iya, habisnya gue kesal sama dia.”
“Ya udahlah, Han. Gue nggak tahu dia dapat info dari mana, yang jelas dia sudah ada di sini dan rencana gue untuk menghirup udara segar harus ditunda dulu. Gue mau jagain Leddy, biar pria itu tak berani untuk melihatnya.” Metha pun memutuskan sambungan secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Farhan terlebih dahulu.