Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bulan depan


__ADS_3

Nindi, tolong buka pintunya!" Saat menyadari kehadiran Nindi, seseorang itu beralih menggedor-gedor kaca jendela.


"Astaga! Bang Doni? Ngapain disana?" Tanya Sheerin.


"Buka dulu pintunya, nanti abang jelaskan." Balas seseorang itu yang ternyata adalah Doni, kekasih abadi Yuvi.


"Tapi kak Yuvi tadi bilang jangan di buka."


"Abang mohon Nin, abang harus selesaikan masalahnya malam ini juga." Terlihat wajah putus asa yang di tampilkan di hadapan Sheerin. Membuat Sheerin jadi kebingungan, dia menggigit bibir bawahnya. Jadi sekarang dia harus mendengarkan perkataan siapa? Jangan membuka pintu atau membukakannya untuk Doni?


"Ada apa sih ribut-ribut begini Nin?" Ibu menghampiri Sheerin yang terlihat bingung. Kemudian Sheerin beralih menatap ibunya Nindi itu, menutup kembali tirai untuk menghindari Doni.


"Aku juga nggak tau, datang-datang kak Yuvi kaya habis nangis, terus bang Doni ngetuk-ngetuk pintu minta dibukain." Sheerin bicara sambil mengedikkan bahunya.


"Anak itu benar-benar keras kepala, tidak cape apa setiap hari bertengkar terus?" Ibu berdecak sambil menggelengkan kepala.


Sheerin terdiam.


"...ya sudah, ibu akan coba bicara dengan kakakmu, kamu temui Doni, tanya maunya anak itu apa sebenarnya." Ibu mengambil jalan tengah yang bijak.


"Ya udah deh." Kemudian ibu pergi ke arah kamar, sedangkan Sheerin bergegas membuka pintu.


"Nindi, abang mau bertemu Yuvi sekarang!" Doni hampir saja menerobos masuk saat pintu terbuka, untung saja Sheerin dengan sigap kembali mengunci pintu itu.


"Eeehh, sabar dulu dong bang." Sheerin menahan tubuh Doni dengan tangannya.


"Abang harus bicara dengan kakakmu itu Nin." Ucap Doni.


"Sebelum abang bicara sama kak Yuvi, ada baiknya kalau abang cerita dulu sama aku." Balas Nindi palsu itu.


"Nggak ada waktu untuk cerita. Plis Nin, kasih abang masuk." Desak Doni.


Sheerin menatapnya dengan tatapan tajam, kemudian mengedikkan bahu ke arah kursi kayu yang sudah reyot. Meminta Doni untuk duduk disana secara tidak langsung.


Dengan gaya sok galaknya Sheerin melipat kedua tangannya didada. Doni mengerutkan dahinya melihat calon adik iparnya itu.


"Duduk!" Seru Sheerin dengan tegas.


Seketika Doni menjinak, dia tak lagi memaksa untuk masuk dan bertemu Yuvi. Seperti orang yang baru saja terkena hipnotis, Doni menurut dengan apa yang dikatakan Sheerin. Diapun duduk diatas kursi yang ada di teras itu.


'Hihi, ternyata gue berbakat juga jadi orang judes.' Sheerin cengengesan sendiri didalam hati. Kemudian dia kembali memasang raut wajah sangarnya, ya meskipun sangat terlihat jelas jika itu hanya dibuat-buat saja.


Kini Doni telah duduk dengan manis disana, Sheerin melangkahkan kakinya di depan Doni secara perlahan, tangannya masih belum dia turunkan dari depan dada. Bersiap untuk mengintrogasi Doni dan mencari tahu apa yang telah laki-laki itu lakukan sehingga membuat kakaknya menangis.


"Ekhem." Sheerin berdehem sebelum memulai perkataannya, sebenarnya Doni bukannya takut kepada Nindi, dia malah merasa bingung kenapa sikap Nindi berubah menjadi aneh dan tak wajar seperti itu.


"Jadi, apa yang udah bang Doni lakukan sampai membuat kak Yuvi nangis seperti itu?" Tanya Sheerin dengan nada sinis.


"Sebenarnya..." Ucapan Doni menggantung diudara, merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa? Jawab yang tegas! Abang cowo atau bukan sih?" Sheerin merasa gemas dengan Doni yang bicara setengah-setengah. Bahkan Sheerin harus menghentakkan kakinya ke atas kursi tua itu hanya untuk menggeretak Doni dan membuatnya takut.


"Iya, iya. Abang minta maaf Nin, abang mengaku salah. Abang hampir memp*****a Yuvi tadi." Doni dengan pasrah menjawab, jawaban yang membuat Sheerin hampir mati berdiri.


"APAAA?" Pekikan Sheerin sungguh memekakan telinga Doni, laki-laki itu bahkan harus menutup telinganya untuk menghindari suara bising itu, bisa-bisa gendang telinganya pecah!


"Astaga! Abang bener-bener udah gila. Ternyata pemikiran abang sedangkal itu ya? Pantas aja kak Yuvi nangis. Dia pasti kecewa banget sama abang." Sheerin menuding-nuding wajah Doni dengan jari telunjuknya, sampai membuat punggung Doni menyentuh tembok.


"Abang khilaf Nin, dan abang benar-benar menyesal. Makanya abang nyusul Yuvi kesini. Abang mau meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Abang... Abang..." Raut wajah Doni berubah menjadi sendu, terlihat dengan jelas sebuah penyesalan disana.


Sheerin terdiam, mencoba mengatur nafasnya yang serasa tersenggal setelah mendengar informasi mencengangkan itu.


"Abang sudah nggak tau harus gimana lagi Nin, kakakmu selalu saja menolak lamaran abang. Kurangnya abang dimana Nin? Abang begitu tulus mencintai dia dan serius menjadikannya sebagai istri abang. Apa yang nggak pernah abang berikan? Semuanya abang kasih buat dia. Tapi kenapa kakakmu itu selalu begini? Sakit hati abang Nin." Doni bicara tanpa jeda, Sheerin bisa merasakan kepedihan di akhir kalimat Doni.


Sheerin mencoba berpikir jernih. Diapun tidak bisa menyalahkan Doni sepenuhnya, karena disini kak Yuvipun sama keras kepalanya. Sheerin sempat berpikir, kenapa juga kakaknya Nindi itu betah berlama-lama menjadi perawan tua sedangkan ada seorang laki-laki yang begitu tulus mencintainya dan ingin mempersuntingnya.


"Kamu tau sendiri kan sudah berapa lama kita pacaran? Abang lelah menunggu, tapi untuk melepaskannya abang nggak bisa. Dia selalu saja beralasan tentang ekonomi keluarga, tentang biaya pengobatan ibu. Padahal materi bisa dicari sama-sama." Ucap Doni terlihat putus asa. Dia memegangi pelipisnya yang terasa berdenyut.


Keduanya kemudian saling terdiam, Sheerin jadi merasa kasihan kepada Doni. Apa Levin juga akan melakukan hal yang sama jika terlalu lama menunggu? Apa sebaiknya Sheerin segera mengambil keputusan dan menerima cinta Levin, agar status diantara mereka semakin jelas dan tidak abu-abu lagi.


"Nin!" Sheerin yang tengah melamun dibuat kaget oleh seruan Doni.


"Ya, kenapa?" Reflek Sheerin menjawab.


"Bukannya kamu sekarang sudah buka usaha sendiri ya?" Tanya Doni.


"Iya, memangnya kenapa?" Sheerin balik bertanya.


Sheerin berpikir jika yang dikatakan Doni memang benar, lalu alasan apa lagi yang membuat Yuvi mempertahankan pendiriannya itu? Apa dia ingin selamanya menjadi perawan tua? Ini tidak bisa di biarkan. Yuvi pantas bahagia setelah pengorbanan yang dia lakukan untuk keluarga ini.


"Plis Nin, bantu abang. Sekali ini saja!"


"Oke!"


***


Sheerin membuka pintu kamar yang dibeberapa bagiannya mulai habis dimakan rayap itu dengan pelan. Mencoba mencari tau situasi di dalam seperti apa, terlihat Yuvi yang sedang tertunduk sambil terduduk di tepi kasur keras dan sempit itu, sedangkan ibu terlihat sedang berbicara tepat di hadapannya. Pasti ibu sedang menasehati Yuvi sekarang.


Bukannya tidak sopan, tapi Sheerin ingin permasalahan diantar Yuvi dan Doni cepat selesai sehingga tidak akan ada lagi drama di malam hari yang membuat waktu istirahat semua orang jadi terganggu. Diapun nyelonong masuk kedalam, terlihat Doni yang mengekor di belakangnya.


Sontak kedua penghuni kamar sebelumnya itu menoleh secara bersamaan.


"Ngapain kamu bawa dia kesini?" Yuvi bicara dengan ketus, kemudian buang muka.


Tanpa aba-aba, Doni langsung melompat ke hadapan Yuvi, bersimpuh di bawah kakinya. Ibu sampai terlonjak kaget dan harus mundur untuk memberinya ruang yang cukup.


"Maafkan aku Vi, aku khilaf." Doni bicara dengan sungguh-sungguh, dia meraih tangan Yuvi dan menggenggamnya erat-erat.


"Lepas, jangan pegang-pegang!" Yuvi menepis tangan Doni dengan kasar.

__ADS_1


"Nggak Vi, tolong jangan seperti ini. Aku sayang kamu."


"Sejak kamu hampir melakukannya, sejak saat itu juga udah nggak ada hubungan apa-apa lagi diantara kita. Jadi sebaiknya kamu pergi sekarang. Pintu keluarnya ada di sebelah sana." Ucap Yuvi sambil menunjuk ke arah pintu.


"Nggak Vi, aku mohon maafkan aku. Kita mulai semuanya dari awal lagi ya! Aku janji nggak akan menyakiti kamu lagi. Aku bersumpah Vi. Maafkan aku." Doni terlihat tidak bisa menahan perasaannya, dia menghiba dan mengemis-ngemis dibawah kaki Yuvi.


Sheerin tersenyum pahit, dia berpikir, kok ada ya laki-laki sebodoh Doni yang membiarkan harga dirinya diinjak-injak hanya demi seorang perempuan keras kepala seperti kak Yuvi.


Yuvi bergeming, memilih untuk tidak menganggap Doni ada, sedangkan Doni tak berhenti memohon.


"Lalu untuk apa kita menjakin hubungan selama bertahun-tahun kalau akhirnya seperti ini? Aku mohon Vi, beri aku kesempatan sekali lagi."


Merasa usahanya hanya sia-sia, Doni kini beralih bersimpuh pada kaki ibu yang berdiri tepat di belakangnya.


"Eehh." Ibu dibuat kaget dengan ulah Doni.


"Bu, saya mohon, nikahkan saya secepatnya dengan Yuvi. Saya sangat mencintai dia, saya tidak mau kehilangan dia bu!"


"Jangan seperti ini, berdirilah!" Ibu membimbing Doni untuk berdiri. Namun Doni menolak, dia memilih untuk kembali bertekuk lutut pada Yuvi.


"Menurut ibu sebaiknya memang seperti itu, tidak baik menjalin hubungan terlalu lama. Apalagi usia kalian itu sudah tidak remaja lagi. Kalian harus dinikahkan secepatnya." Ucap ibu dengan bijak.


"Kamu dengar kan Vi, ibu sudah merestui kita. Kita menikah ya!" Doni ngebet sekali ingin cepat-cepat menikah.


Yuvi terus saja terdiam, Sheerin tidak habis pikir, sebenarnya apa sih isi kepala Yuvi?


"Apalagi yang harus kamu cemaskan Vi? Sekarang Nindi sudah bisa mencari uang sendiri dan bisa menggantikan posisimu. Menikahlah, ibu tau kalau sebenarnya kamu juga sangat mencintai nak Doni ini." Ucap ibu yang terus mencoba meyakinkan Yuvi.


Ibu juga sebenarnya sudah sangat gatal ingin segera melihat Yuvi menikah, telinganya terasa panas saat tetangga yang selalu bergosip tentang putrinya yang tak kunjung berumah tangga. Dan ibu mana yang ingin melihat anaknya menjadi perawan tua? Itu seperti cabikkan keras bagi seorang ibu.


"Baiklah, kita menikah tahun depan." Ucap Yuvi tiba-tiba. Hah, entah malaikat mana yang merasuki dirinya. Dengan sekejap dan tiba-tiba dia merubah jalan di pikirannya.


"Apa? Nggak Vi, kita menikah besok saja." Doni langsung mengemukakan pendapatnya.


Astaga! Kenapa Sheerin jadi merasa sangat geregetan melihat pasangan ini? Gemas sekali, sampai-sampai dia ingin membenturkan kepalanya ke tembok.


"Tahun depan itu terlalu lama Vi." Ibu berkomentar.


"Berarti ibu setuju kalau kita menikah besok, kan?" Doni tersenyum kegirangan.


"Tidak besok juga, kita memerlukan sedikit waktu. Setidaknya sampai bulan depan." Jawab ibu.


Doni terdiam, baiklah, setidaknya dia tidak perlu menunggu setahun lagi untuk memperistri Yuvi.


Dan yang membuat Sheerin jadi bingung, kenapa Yuvi sama sekali tidak protes. Padahal sejak awal dialah yang paling keras menentang. Yang bisa Sheetin tangkap adalah, sebenarnya Yuvi juga sangat mencintai Doni, tapi seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang membuatnya berat meninggalkan ibu.


Entah apa itu, tapi yang jelas sekarang Sheerin bisa bernafas lega karena akhirnya mereka akan segera menikah. Dan bertambahlah pekerjaannya sekarang, pasti dia yang akan paling disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka.


___________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....


__ADS_2