
Warna jingga kini mulai terlukis di langit bagian barat, seiring dengan camar pergi menuju peraduannya.
Di depan ruang operasi, kini Levin dan Nindi menunggu. Sedangkan kak Bima sedang ikut shalat berjamaah di masjid besar yang ada di rumah sakit itu. Entah sudah berapa banyak waktu yang telah mereka habiskan hanya untuk menunggu disana, sebuah penantian pasti akan selalu terasa pahit, tak ada satu orangpun yang senang menanti.
Cemas itu pasti, sedih, jangan ditanya lagi. Semua bentuk ketakutan yang ada didunia kini berkerumun di dalam dada Levin, membuatnya semakin merasa sesak. Levin terlihat gelisah, matanya tak henti menatap kearah pintu ruang operasi, berharap sang dokter segera keluar dan memberikan kabar baik tentang Sheerin.
Itu menjadi pemandangan yang sangat menyakiti mata Nindi, Levin kini sangat tak enak untuk dipandang.
"Hey, mendingan sekarang loe bersihin diri dulu deh sana!" Seru Nindi.
"Gue nggak bisa tinggalin dia, nanti gimana kalau dia sadar dan gue nggak ada di samping nya?" Ucap Levin sendu.
"Kan ada gue disini, liat baju loe itu banyak darahnya, rambut loe juga udah lepek, wajah loe lecek banget kaya uang seribuan di dalam kotak amal."
"Sialan loe!" Levin mengumpati perkataan Nindi.
"Loe pikir Sheerin bakal mau sama loe yang kaya gini? Nggak lah, yang ada dia ilfeel tau!"
"Loe bener!"
Levinpun beranjak dari duduknya, melewati Nindi yang matanya masih tertuju pada dirinya.
"Shalat juga sekalian, jangan lupa do'ain Sheerin biar bisa cepet melewati masa kritisnya!" Seru Nindi. Levin menghentikan langkahnya.
"Loe sendiri nggak shalat?" Tanya Levin.
"Gue lagi ada tamu. Titip salam aja sama Allah."
Levin tersenyum samar, tumben sekali dirinya dan Nindi mengobrol tanpa menggunakan otot dan urat? Biasanya mereka akan bicara sambil teriak-teriakan dan menguras tenaga.
Apa ini waktunya untuk berdamai? Levin berpikir seperti itu.
Entah kenapa saat melihat Levin menangisi Sheerin, Nindi jadi merasa kasihan kepada Levin. Padahal sebelumnya, dia akan jadi orang pertama yang merasa bahagia saat melihat Levin menderita.
Namun sekarang, kenapa Nindi malah ingin melihat Levin dan Sheerin hidup bahagia sama seperti dirinya dan kak Bima?
***
Pukul 19:15 waktu setempat, setelah melaksanakan shalat isya berjamaah, Levin dan Bima kembali ke depan ruang operasi, sengaja mereka menunggu dari shalat magrib hingga shalat isya agar tidak bolak-balik.
Dari kejauhan, Bima melihat Nindi yang tertidur di salah satu kursi tunggu, kepalanya yang bersandar pada sandaran kursi, membuat leher orang yang melihatnya malah yang terasa sakit. Posisi itu pasti sangat tidak nyaman untuk Nindi. Segera Bima menghampirinya. Meraih kepala istrinya itu kemudian menjadikan bahunya sebagai sandaran.
Merasa tidurnya terusik, orang kurang ajar mana yang berani-beraninya menyentuh apa lagi mengusik tidurnya. Nindi jadi terjaga. Mengucek matanya untuk memastikan siapa orang itu sebebarnya.
__ADS_1
"Ehh kak." Malah jadi malu sendiri sekarang. Wajahnya pasti sangat jelek saat sedang tertidur, pasti kak Bima merasa ilfeel.
"Tidak apa-apa, tidur saja lagi. Kamu pasti sangat mengantuk." Ucap Bima.
"Nggak kok, gimana Sheerin? Udah beres operasinya?" Tanya Nindi seperti orang linglung.
"Sepertinya belum, lampunya masih menyala." Jawab Bima sambil melirik lampu di atas pintu ruang operasi.
Nindi tak menjawab, malah mengusap wajahnya yang nampak begitu lelah.
"Kamu pulang saja, istirahat di rumah. Biar aku dan Levin yang menunggu Sheerin." Sebagai bentuk menebus kesalahannya.
"Kerumah kak Bima? Terus gimana sama ayah? Dia mau kita bercerai kak." Ucap Nindi terlihat sedih.
Bima menghela nafas, benar apa yang dikatakan istrinya itu. Belum selesai dengan permasalahan Sheerin, sekarang dia harus memikirkan masalah ayahnya pula.
"Kamu jangan terlalu memikirkan perkataan ayah, aku tidak akan pernah memenuhi keinginannya itu. Kamu tenang saja ya!" Serunya kemudian.
"Tapi kak, ayahnya kak Bima itu kalau udah menginginkan sesuatu, dia pasti bakalan berusaha untuk mendapatkannya. Apapun caranya." Ucap Nindi, wajahnya dia tekuk.
"Hey, dengarkan aku! Jika ayah mempunyai pendirian seperti itu, maka akupun seperti itu. Jadi jangan pernah berpikir untuk menyerah dengan keadaan. Kita akan tetap seperti ini." Bima meraih dagu Nindi, membuatnya menatap ke arah mata Bima.
Nindi bisa melihat ketulusan yang terpancar dari mata itu, sebuah senyuman kemudian terukir di bibirnya.
"Makasih ya kak."
Lampu merah yang semula menyala, seketika padam, Levin beranjak dari duduknya, menyadari jika operasi telah usai.
Benar saja, tak berselang lama pintu ruang operasi terbuka, seiring dengan dokter dan perawat keluar dari dalamnya.
Levin segera menghampirinya, begitupun dengan Bima dan Nindi.
"Gimana operasinya? Lancar kan dok?" Levin langsung mencacar dokter dengan pertanyaannya.
"Iya dok, Sheerin selamat kan?" Tanya Nindi.
Dokter itu terlihat mengusap peluh yang membasahi pelipisnya, menandakan betapa dirinya telah bekerja keras dalam menjalankan operasi ini. Menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali membuangnya, sebelum akhirnya berkata.
"Alhamdulillah semuanya lancar. Pasien berhasil melewati masa kritisnya, namun kemungkinan pasien tidak akan sadar dalam waktu dekat ini." Terang sang doker.
Levin memanjatkan rasa syukur sebanyak-banyaknya didalam hati, baru bisa bernafas lega sekarang. Do'a yang dia bisikkan pada bumi, ternyata didengar oleh langit, Tuhan berbaik hati mau mengabulkan do'anya itu.
"Alhamdulillah." Bima dan Nindi bersamaan.
__ADS_1
"Tapi kapan Sheerin bisa sadar?" Tanya Nindi kemudian.
"Kita lihat perkembangannya dalam waktu satu kali dua puluh empat jam kedepan." Jawab sang dokter.
"Saya ingin melihat keadaannya dok." Ucap Levin.
"Belum untuk saat ini, kalian bisa melihatnya setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat inap."
Levin menghela nafas kecewa, namun setidaknya saat ini Sheerin sudah dalam kondisi baik-baik saja. Dia hanya perlu sedikit bersabar lagi.
***
Malam semakin pekat, jauh di masa itu, Fira baru saja berhasil menemukan rumah dinas Lukman. Bukan hal yang mudah untuk dia bisa menginjakkan kaki ditempat ini, banyak perjuangan yang harus dia lalui, dari dirinya yang harus beberapa kali berganti kendaraan umum, menunggu kendaraan umum yang lama untuk melintas, hingga dirinya yang tersesat karena tidak begitu hafal dengan jalanan di kota itu. Apalagi dengan kondisi kakinya yang baru saja terluka parah, dia berjalan sambil tertatih.
Sementara tak lama sebelumnya mobil Lukman baru saja hilang dibalik tikungan, sedangkan Fira datang dari arah yang berlawanan. Sepertinya waktu tidak mengizinkan mereka bertemu.
Fira mengetuk pintu rumah dinas yang menjadi tempatnya tinggal selama berada dikota itu bersama Lukman dan kedua putri kembarnya, dengan harapan yang begitu besar.
Tak berselang lama, pintu itu terbuka, Fira sudah merasa sangat bahagia, dirinya akan kembali bersatu dengan keluarga kecilnya.
Namun, senyum yang merekah di bibirnya seketika sirna saat melihat orang yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Anya." Gumamnya pelan. Langsung terngiang perkataan kakek yang menolongnya jika putrinya itu tidak mengalami kejang, melainkan telah menelan obat tidur dengan dosis yang tinggi. Membuat pikiran Fira tertuju pada Anya, babby sister itulah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi, termasuk kecelakaan itu.
Sementara Anya terlihat sangat syok melihat sosok yang saat itu tengah berdiri tepat di hadapannya. Bukankan Fira telah mati? Berbagai bertanyaan muncul didalam benaknya. Jika ini Fira, lalu siapa yang waktu itu mereka kuburkan?
"Dimana suamiku?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Fira, membuat Anya tersentak dari lamunannya.
"M.. Mba, bukannya mba sudah meninggal?" Tanya Anya berbata.
"Siapa bilang? Aku masih hidup." Jawab Fira saat itu.
"T... Tapi kecelakaan itu?" Bertanya lagi, karena belum mendapatkan klarifikasi yang spesifik. Bahkan dia sendiri tidak bisa bertanya dengan kalimat yang jelas.
"Aku selamat, seseorang telah menolongku." Jawan Fira.
"Minggirlah Anya, aku akan menemui suamiku." Fira menerobos masuk, melewati Anya dan sedikit menyenggol bahunya. Fira akan mengadukan semua perbuatan Anya dan membuatnya mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.
Anya terlihat panik, bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi? Bukankah Luis sudah memastikan jika semua berjalan sesuai rencana yang telah mereka buat? Tapi kenapa sekarang Fira tiba-tiba muncul kembali?
Beruntung, Lukman baru saja pergi karena polisi yang menangani kasus kecelakaan Fira sedang memerlukan keterangan lebih lanjut. Mungkin mereka belum sempat bertemu dijalan tadi.
Anya terlihat berpikir keras, kemudian pikirannya tertuju pada seseorang. Luis. Segera dia menghubungi Luis untuk menyelesaikan Fira.
__ADS_1
_______________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...