
Udara dimalam hari memang selalu membuat siapa saja merasa kedinginan. Begitupun dengan Bima, jika tidak terlalu penting, dia akan berpikir dua kali untuk menginjakkan kaki di tempat sepi nan dingin ini.
Lebih baik dirinya meringkuk dibalik selimut sambil memeluk istrinya.
Nindi, ahh Bima jadi merasa rindu pada Nindi meskipun baru beberapa menit saja mereka berpisah. Sedang apa istrinya itu sekarang? Terakhir Bima meninggalkannya, dia sedang menyetrika pakaian, lalu Bima berpamitan untuk menemui atasannya. Berbohong. Padahal, dia kan sedang dalam misi penting untuk menemui seseorang, menyelesaikan masalah, dan membuat hidupnya kembali damai sentosa tanpa di usik oleh perempuan itu. Cih!
Bima duduk di salah satu bangku taman, menunggu kedatangan Levin. Di jam-jam seperti ini, ternyata masih cukup banyak orang yang berlalu lalang di sekitaran taman. Kebanyak dari mereka adalah para muda-mudi yang sedang menjalin kasih. Ahh, lagi-lagi itu mengingatkan Bima akan istrinya.
Huruf bertuliskan LIGHT PARK menyala dan berkelipan akibat lampu-lampu yang berada di sekelilingnya menjadi pemandangan hangat dan icon di tengah taman itu. Tak ayal membuatnya dijadikan spot foto bagi siapa saja yang mengunjungi taman ini, termasuk malam ini, bahkan keindahannya semakin bersinar ketika malam menjelang.
Masih menunggu dengan sabar, namun orang yang dia tunggu tak kunjung terlihat batang hidungnya. Mulai cemas, apa Levin berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk menemui Bima disana?
Astaga! Bagaimana ini? Padahal Bima telah mengorbankan waktunya bersama Nindi hanya untuk menemui Levin.
Dirogohnya saku jaket yang dia kenakan, mencari keberadaan ponsel. Dan, apa ini? Ini bukan ponsel yang terakhir kali dia gunakan untuk menghubungi Levin. Melainkan, ponsel milik istrinya. Jadi, tadi Bima salah membawa ponsel, begitu? Yang dia ingat, ponselnya di sandingkan dengan ponsel milik Nindi tadi diatas nakas, dan ternyata dia salah membawa ponsel.
Sial! Bagaimana dirinya menghubungi Levin? Ehh, tapi tunggu! Bima mendapatkan nomor Levin dari ponsel Nindi, kan? Jadi tentu saja Bima dapat menghubungi Levin meskipun itu bisa membongkar identitasnya sebelum mereka bertemu.
***
Levin celingukan kesana kemari mencari sesosok manusia dalam kegelapan.
Yang benar saja, bukankah orang misterius ini yang mengajak Levin bertemu? Tapi saat Levin mencoba menghubunginya, dia malah tak kunjung menjawab telfon darinya. Dan pesannya pun tak kunjung terbalaskan. Mulai frustasi karena tak menemui titik terang, bahkan dirinya sudah menunggu hampir setengah jam.
Apa sekarang Levin sedang dipermainkan? Sial sekali! Saat berpikir untuk kembali pulang, ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk. Cepat-cepat Levin melihatnya, berharap itu adalah orang misterius yang sedari tadi Levin nantikan kabarnya.
Namun apa yang dia dapatkan? Malah nomor asing yang belakangan ini sering menghubunginya (Levin tidak menyimpan nomor Nindi, nomor Nindi sering digunakan Sheerin untuk menghubungi Levin).
"Kenapa dia masih saja berusaha menghubungi gue!"
Levin sering sekali mendapat pesan berisikan permintaan maaf dari nomor itu, namun ini kali pertamanya nomor ini melakukan panggilan telfon kepadanya, biasanya hanya pesan singkat saja. Levin menduga kuat itu adalah nomor Sheerin yang baru setelah nomornya yang lama di blokir Levin.
Levin melewatkan panggilan itu hingga panggilannya terputus dengan sendirinya.
Ting!
__ADS_1
Sebuah pesan masuk.
'Apa anda telah sampai? Saya sudah menunggu anda di samping taman.'
Deg!
Apa ini? Apa yang mengajaknya bertemu itu adalah Sheerin? Tapi dari caranya mengetik pesan sangat berbeda. Levin jadi kebingungan sendiri. Jantungnya sekarang sudah tak bisa dikendalikan, apa mungkin dia akan bertemu dengan Sheerin malam ini? Levin benar-benar belum mempersiapkan diri.
Apa yang harus dia lakukan? Apa dia kabur saja? Ahh, iya kabur! Pendirianya pasti akan goyah jika melihat perempuan yang dia cintai memohon permintaan maaf darinya secara langsung. Apalagi jika diiringi dengan cucuran air matanya yang mengalir, pasti akan membuat hati Levin luluh. Sebenarnya, dia hanya tak ingin kembali merasakan kecewa untuk kesekian kalinya karena terlalu berharap pada perempuan itu.
Saat hendak melarikan diri, ponselnya kembali berdering, membuat niatnya tertunda.
Sementara itu, Bima beranjak dari duduknya lalu melakukan panggilan pada nomor Levin, dia berjalan mondar-mandir dengan perasaan cemas yang membuncah dihatinya, namun pembawaannya tetap terlihat tenang. Maka dari itu Nindi menjulukinya si pandai menyembunyikan segala ekspresi.
Terdengar nada dering di tengah keheningan malam saat Bima melakukan panggilan pada nomor Levin. Bima merasa jika suara itu berada tidak jauh dari posisinya berdiri sekarang. Dia mengedarkan pandangannya ke semua arah, dan matanya memicing saat melihat seorang laki-laki yang sedang membelakanginya.
Perlahan Bima mendekatinya, mematikan sambungan telfon, dan pada saat yang sama nada dering itu tak terdengar lagi. Dan saat Bima kembali menelfon Levin, suara nada itu kembali berdering.
Tidak salah lagi!
Bima menepuk punggung laki-laki yang tingginya ternyata hampir sama dengan dirinya itu.
Levin terperanjat kaget saat merasakan sebuah tangan mendarat di pundaknya, sudah berpikiran yang macam-macam jika itu adalah Sheerin. Mencoba untuk mengendalikan diri, kemudian Levin menoleh kebelakang.
Terlihat tubuh tinggi tegap sedang berdiri dihadapannya. Ternyata sedari tadi dirinya mencemaskan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dicemaskan. Dia bukan Sheerin.
Tapi, siapa orang ini? Dia bukan orang jahat, kan? Hilang satu kecemasan, muncul kecemasan yang lain. Tapi, Levin rasa dia pernah bertemu orang ini sebelumnya, hanya sepintas, tapi dimana?
"Selamat malam Levin!" Suara beratnya menyapa Levin.
"Selamat malam." Levin menjawab alakadarnya, masih belum bisa menguasai diri sepenuhnya.
"Bisa kita bicara serius sekarang?" Dia kembali bertanya. Levin mengangguk gugup.
"Sebelumnya, perkenalkan, nama saya Bima, suami Nindi." Tangan Bima terulur ke hadapan Levin.
__ADS_1
Astaga!
Kenapa bisa Levin melupakan itu? Pantas saja Levin tidak merasa asing dengan wajah datar laki-laki ini? Mereka pernah bertemu di rumah teman papanya yang meninggal kala itu. Dan, dia adalah suami si urakkan! Mau apa dia meminta Levin menemuinya malam-malam seperti ini?
"Ahh, ya! Saya Levin, anda sudah tau." Levin menyambut tangan Bima sebentar kemudian kembali melepaskannya.
"Mari kita bicara sambil duduk disana!" Levin mengangguk, kemudian Bima menggiring Levin untuk diluduk di salah satu bangku taman.
"Jadi, ada perlu apa anda meyuruh saya datang ke sini?" Bukan keahlian Levin bicara dengan bahasa formal, sehingga terdengar agak aneh.
"Saya tidak akan berbasa basi, saya tau anda masih mencintai Sheerin namun anda menyimpan rasa kecewa karena Sheerin telah membohongi anda, kan?" Berspekulasi sesuka hati, membuat lawan bicaranya menyeringai geli.
"Anda siapa? Kenapa anda bisa mengatur perasaan saya sesuka hati anda?" Tanya Levin.
"Karena sayapun merasakan hal yang sama denganmu. Saya kecewa karena ternyata istri saya membohongi saya selama ini. Tapi, saya bukan orang yang membesarkan gengsi sepertimu sehingga menutup hati untuk bisa memaafkan Sheerin."
Levin terdiam.
"...kata maaf itu murah Levin, hanya saja gengsimu yang mahal. Kamu tak tau berapa banyak air mata yang Sheerin habiskan hanya untuk menangisimu setiap malam? Menjadikan pundak istriku sebagai sandarannya?"
Levin tak mengindahkan kalimat terakhirnya, melainkan kalimat sebelumnya. Apa? Sheerin menangisi Levin? Yang benar saja!
"Sheerin sangat mencintaimu, tak ada waktu yang dia habiskan tanpa memikirkan dirimu. Setiap hari pekerjaannya hanya memandangi fotomu sambil menangis. Lebai memang, tapi itu memang kenyataannya. Bahkan air mata yang dia keluarkan untukmu lebih banyak dari pada untuk ayahnya yang baru saja meninggal."
Apa? Benarkah itu? Levin merasa laki-laki ini sedang melebih-lebihkan ceritanya.
"Hahaha, anda pasti di suruh Sheerin untuk bicara seperti itu pada saya." Levin berusaha untuk tidak percaya. Namun jauh dilubuk hatinya, dia merasa sakit seandainya jika itu memang benar-benar terjadi.
"Sheerin sama sekali tidak mengetahui jika saya menemui anda."
"Lalu, apa untungnya untuk anda bicara seperti ini pada saya?" Tanya Levin.
"Tentu saja ada." Tak mengatakan jika dia ingin menjauhkan Sheerin dari Nindi.
___________________
__ADS_1
Tetap tinggal kan jejak setelah membaca...