Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Episode 20 Vanna Ilusion


__ADS_3

 


 


Farhan masih setia menempelkan benda pipih itu ditelinganya, meski suara Metha sudah berubah dengan bunyi tut tut dari operator. Pria itu tak mengerti dengan jalan pikiran Mahe. Padahal baru kemaren dia memberinya pelajaran karena telah menyakiti hati sepupunya, dan hari ini pria itu dengan gagah berani menghampiri Leddy yang tengah di rawat di sana.


“Apa yang terjadi dengan Leddy?” sebuah suara yang muncul dari belakangnya membuat Farhan menoleh. Pria itu terkejut, mendapati seseorang yang tengah berdiri di hadapannya.


“Paman?” Farhan tak percaya dengan apa yang dilihat, ponsel yang berada ditelinganya hampir terjatuh begitu saja. Untung Farhan sigap dan segera mengantonginya lagi.


“Kenapa dengan Leddy, Farhan. Dari tadi paman mendengarmu bicara dan terus menanyakan kabar Leddy. Di mana dia sekarang?” tanya pria paruh baya itu dengan mata berlinang.


Farhan diam, belum menjawab. Pria itu melangkah ke arahnya kemudian memeluk pria itu. “Maaf, Paman. Aku nggak bisa kasih tahu Paman soal Leddy,” ujarnya di sela pelukan.


“Aku ayahnya, aku berhak tahu di mana dia.” Pria yang mengaku ayah Leddy itu pun melepaskan pelukan Farhan dengan kasar.


“Ternyata Paman masih sadar punya anak perempuan di sini.” Ucapan Farhan begitu menusuk, pria itu tersenyum kecut.


“Apa maksudmu, Han? Tentu saja aku sadar, dia putriku.”


“Kalau dia putri Paman, lantas mengapa Paman tega meninggalkan dia dan juga Bibi? Paman lebih memilih janda  itu ketimbang anak dan istri sendiri,” ujarnya dengan nada sedikit keras.


Pria itu terdiam, menyesali semua perbuatannya yang tega meninggalkan putrinya saat masih kecil. Beliau pun tak menyangka akan mendapatkan respon negatif seperti ini dari keponakannya sendiri.


“Paman menyesal, Han. Paman khilaf, semua yang terjadi diluar nalar Paman sendiri. Tak pernah terpikirkan untuk meninggalkan mereka, tapi dia dan putranya juga butuh Paman.” Ayah Leddy  menitikkan air mata, menyesali semua perbuatannya selama ini.


“Sudahlah, Paman. Tak ada gunanya menyesal, semua sudah berlalu. Nasi telah menjadi bubur, tak akan bisa kembali seperti beras.”


“Apa yang terjadi pada Leddy?” tanyanya sekali lagi.


“Leddy kecelakaan dan mengalami pendarahan di otak, saat ini dia masih belum siuman pasca operasi,” terangnya.


Ayah Leddy tampak syok, memikirkan nasib yang menimpa putri malangnya.  Di satu sisi, ada seseorang yang lebih syok lagi mengetahui kebenaran ini. Ia tak sengaja mendengar percakapan antara paman dan ponakan itu. Selama ini ia tak tahu bahwaayah sambungnya itu punyaistri dan anak kandung.


Hati bagai teriris, mendengar berita ini lebih menyakitkan dibanding dengan putus cinta. Kalau dirinya tahu sejak dulu, mungkin iaakan mengunjungi kakak tiri dan juga ibunya.


“Ya Tuhan, malang sekali nasibmu, Nak.” Farhan kembali memeluk Pamannya yang terpukul dengan berita ini.


“Sudahlah, Paman. Doakan saja semoga Leddy cepat siuman,” ujar Farhan berusaha menenangkan sembari menepuk pundak pamannya.


“Dia kakakku, meski cuma kakak tiri. Tapi, kenapa ibu dan ayah tak memberitahuku? Kenapa mereka menyembunyikan ini dariku?” Kaffa mengusap wajahnya dengan kasar, pria itu sama sekali tak tahu dengan keluargaayah sambungnya itu.


Dari balik tembok tempatnya berdiri, Kaffa melihat dokter Farhan dan ayahnya meninggalkan tempat itu. Mereka tampak pergi ke suatu tempat yang Kaffa tak tahu di mana.

__ADS_1


***


Waktu masih menunjukkan pukul satu siang, tapi Kaffamemilih pulang awal dengan alasan lagi nggak enak badan. Otomatis tugasnya akan di handle oleh Monika dan Ruli teman satu kampus dengannya. Kaffa tak bisa menunggu sampai jam lima, ia sudah tidak sabar untuk meminta penjelasan dari ibunya.


Dengan mengendarai motor sendiri, mata Kaffa terfokus pada jalanan. Wajahnya terlihat kusam, pikirannya sedang dihujani oleh seribu pertanyaan. Pria itu mempercepat laju motornya, menembus jalanan yang dipadati oleh kendaraan lain tanpa memikirkan resikonya.Kaffa tiba di rumah dengan selamat, dengan tergesa ia turun dari motor dan masuk ke rumah.


“Ibu...Ibu,” teriaknya lantang, suara itu  menggema di setiap sudut rumahnya.


“Kaffa, kamu kenapa, sih, teriak-teriak? Nanti Shajea bangun lo,” jawab ibunyv dari lantai atas.


Kaffa mendongakkan kepala, menatap sang ibu yang terlihat kecapean. “Aku mau ngomong sama ibu. Bisa ibu turun!”


Ibunya pun turun sesuai permintaan putranya, kemudian menghampiri Kaffa yang sudah duduk di ruang tengah.


“Ada apa? Kenapa jam segini kamu sudah pulang?” tanyanya sembari duduk di sebelah Kaffa.


Pria itu sedikit beringsut, membuat sang ibu menatapnya tak mengerti. “Kamu kenapa, sih? Kayak jijik duduk di sebelah ibu!”


“Aku mau tanya sesuatu sama inu, dan aku mau ibu jawab dengan jujur.”  Kaffa menoleh dengan mata tajam.


“Tanya apa? Ibu pasti akan jawab, kok.”


“Ada hubungan apa antara aku dan dokter Leddy?”


“Bu, jangan berkilah. Aku yakin ibu pasti tak asing mendengar nama itu, kan?”


“Ibu nggak tahu, sayang. Ibu sama sekali tak mengerti dengan arti pertanyaanmu ini. kamu kenapa, sih? Pulang tiba-tiba, setelah itu menanyakan hal yang membingungkan seperti ini.”


“Aku tahu ibu berbohong. Jujur padaku, Bu. Kenapa ibu tega merebut ayah dari ibunya dokter Leddy?” Kaffa hampir saja meneteskan air matanya, dadanya begitu sesak berkata demikian pada ibunya sendiri. Sedangkan wanita yang telah melahirkannya malah santai-santai saja.


“Jadi kamu sudah tahu? Siapa yang memberitahumu, apa dokter Leddy?” tanyanya sinis.


“Maksudnya?”


“Kaffa, Ibu melakukan ini demi kamu, demi masa depanmu. Ibu nggak mau kamu tumbuh besar tanpa dampingan dari seorang ayah,” ujarnya sembari  berdiri.


Kaffa geram, pria itu ikut berdiri di belakang ibunya yang tengah berkacak pinggang. “Aku nggak butuh didampingi ayah jika lelaki yang ibu nikahi itu sudah punya keluarga. Aku akan tetap tumbuh besar meski tanpaayah, kenapa ibu tega melakukan itu? Merebut suami dari seorang wanita dan menjauhkan seorang ayah dari putrinya?” teriak Kaffa lantang.


Sang ibu berbalik, kemudian menampar Kaffa hingga pria itu terjatuh ke sofa. “Lancang kamu, Kaffa. Jadi anak seharusnya kamu bisa menghargai usaha keras ibumu, bukan malah menyudutkan ibu seperti ini.”


Kaffa memegang pipinya yang memerah, air mata yang berusaha ia bendung terjatuh begitu saja. Kaffa sangat malu dengan perbuatan ibunya, ia bahkan malu bertemu dokter Leddy nantinya.


“Maaf, Ibu. Aku nggak bisa menghargai orang yang bahagia diatas penderitaan orang lain, sekali pun itu ibu sendiri. Aku nggak mau jadi anak yang durhaka, dan aku nggak mau jadi orang yang merampas hak milik orang lain. Aku sedih, Bu. Aku tak menyangka ibu akan seperti ini, selama ini aku berpikir bahwaaku anak yang paling beruntung di dunia ini. Punya  ibu yang baik dan ayah tiri yang pengertian. Tapi, aku salah, ternyata aku anak yang paling malang. Punya ibu yang tega merebut kebahagiaan orang.” Kaffa berlalu, meninggalkan ibunya dan menuju ke kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


“Dasar  anak tidak tahu diri, udah bagus punya orang tua seperti ibu, malah tidak pandai mensyukuri,” teriaknya yang diabaikan oleh Kaffa.


Fina berusaha untuk mengontrol emosinya, di saat ia hendak berbalik, sang suami sudah berdiri diambang pintu dan menyaksikan pertengkaran diantara keduanya.


“Mas Malik.” Wajah Fina terlihat tegang. Tatapan mata suaminya begitu menusuk hingga ia tak mampu berucap.


“Mas dari mana saja,” ujarnya saat Malik melewatinya.


Pria itu  berhenti, menatap Fina dengan tatapan kosong. “Dari rumah sakit tempat putriku bekerja.


Ibu dari Kaffa itu terkejut, apa ia tidak salah dengar? Kenapa suaminya datang ke sana? Apa Kaffa mengetahui ini semua dari sang suami?


“Jadi kamu yang sudah memberitahu semuanya pada Kaffa? Maksudmu apa, Mas? Kamu ingin membuatku terlihat buruk di hadapan putraku sendiri?”


“Meskipun aku belum mengatakan apa pun padanya, kamu memang ibu yang terburuk di dunia. Ibu yang tega menampar anaknya disaat semua rahasianya terbongkar. Kamu benar-benar keterlaluan Fina.” Pria paruh baya itu berlalu.


***


Kaffa masih tampak sedih, ia belum berhenti meneteskan air mata saat mengetahui kekejaman sang ibu. Satu sisi ia merasa terpukul dan disisi lain ia sangat sedih dengan kejadian yang menimpa Leddy.


Tok!tok!tok!


Pria itu mengabaikan suara ketukan, tanpa menunggu jawaban dari pemiliknya, seseorng muncul dari balik pintu.


“Kaffa, apa ayah boleh masuk?” tanyanya hati-hati.


“Masuk saja ayah.”


Pria paruh baya itu pun masuk dan duduk di sebelah putranya. Meski tidak ada hubungan darah, tapi Malik sangat menyayangi Kaffa seperti ia menyayangi Leddy.


“Apa kamu sedih?” Kaffa mengangguk. “Ayah juga sedih.” Lanjutnya.


“Kenapa ayah mau menikahi ibuku? Ayah kan punya istri dan jugaanak.”


“Nak, ayah pernah bersalah di masa lalu pada Leddy dan juga ibunya. Ayah bingung harus melakukan apa? Permintaan ayahmu sangat berat untuk ayah. Kami berteman dengan baik dan disaat terakhir dia meminta ayah untuk menikahi ibumu agar kamu punya ayah pengganti setelah dia tiada.”


“Lalu ayah meninggalkan dokter Leddy? Ayah tidak memikirkan perasaannya?”


“Ayah tahu ini sangat berat untuknya, sampai sekarang Leddy masih membenci ayah. Niat ayah untuk datang ke rumah sakit hari ini untuk bertemu dengannya, tapi putriku yang malang itu tengah mengalami musibah.” Malik menangis, Kaffa memeluknya erat.


“Aku paham ayah, jangan menangis lagi. Kaffa janji akan mempertemukan kalian nantinya. Kita harus berdoaagar dokter Leddy segera siuman.”


“Makasih ya, Nak. Kamu bisa memahami ayah.”

__ADS_1


“Aku sudah menganggap ayah seperti ayah kandungku sendiri. Jadi, jikaada masalah jangan dipendam lagi. Berbagilah denganku ayah, Kaffa siap jadi pendengar yang baik.”


__ADS_2