
Rumah bercorak batik warna merah keemasan itu semakin ramai didatangi pelayat. Banyak diantaranya yang merupakan pegawai rumah sakit dan rekan kerja ayahnya dulu serta para tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumah Leddy. Mereka masih tak percaya dengan kepergian dokter muda yang dikenal ramah dan suka menolong orang tanpa mengharapkan imbalan ini.
Rasanya enggan untuk beranjak dari rumah itu, masyarakat masih setia berada di sana dan melantunkan surat yasin bersama-sama sejak kedatangan jenazah Leddy. Tepat di atas kepala jenazah, ada Metha di sana. Matanya tak lepas dari wajah Leddy yang memucat dan sesekali menitikkan air mata karena tak kuat ditinggal sahabat sendiri.
“Tha, sudahlah, Nak. Jangan menangis lagi,” tegur ibunya yang saat itu ikut membantu ustazah untuk merobek kain kafan yang akan digunakan nanti.
Metha mengangkat kepalanya menatap sang ibu dengan sendu. Mata gadis itu terlihat sembab, sejak turun dari pesawat Metha terus saja menangis hingga ia hampir kehilangan kesadarannya.
“Metha nggak kuat, Bu,” lirihnya. Air mata masih saja merembes dengan deras.
Ibunya mendekat, memeluk sang putri yang sangat terpukul. “Kamu harus kuat, sayang, demi Leddy. Kamu harus terus berjuang demi impiannya yang belum tercapai,” ujar wanita paruh baya itu menenangkan.
“Metha nggak yakin bisa melanjutkan hidup lagi, Bu. Metha takut menghadapi dunia yang kejam tanpa ada Leddy. Metha nggak sekuat itu, Bu,” ucapnya melepas pelukan sang ibu.
Hari ini merupakan mimpi terburuk baginya, berkali-kali Metha menyubit diri sendiri agar ia yakin ini hanyalah bunga tidur. Namun, kenyataannya ia bukanlah tengah bermimpi. Ini nyata, sahabatnya telah pergi ke dunia yang lebih baik bertemu dengan Sang Pencipta.
“Leddy, kenapa kamu tega meninggalkanku sendiri.” Metha memegang pipi Leddy yang terasa dingin. Gadis itu sesekali mengecup kening sahabatnya, kemudian beralih di kedua pipi Leddy.
__ADS_1
“Tha, jangan menangis lagi. Jenazah nggak boleh terkena air mata, itu akan memberatkannya nanti.” Tegur ibunya, Metha berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Leddy. Ia juga tak ingin sahabatnya kesusahan di alam akhirat nantinya.
“Assalamualaikum.” Terdengar suara berat dari pria paruh baya di ambang pintu, semua menoleh pada sumber suara setelah menjawab salam. Ada ayah Leddy, Kaffa dan juga Fina yang tengah menatap kosong pada raga yang tengah terbaring itu.
“Walaikumsalam, Paman,” jawab Metha kembali. Gadis itu berjalan mendekat, menuntun ayah Leddy untuk menghampiri jasad putrinya.
Ayah Leddy terduduk lesu di samping jenazah sang putri, beliau sesekali mengusap wajahnya yang mulai mengkerut. Kemudian tangan renta itu menyentuh wajah yang pucat nan dingin dan tak lagi ada kehangatan.
“M-maafin ayah, Nak. Ayah belum bisa menjadi malaikat pelindungmu, ayah telah gagal untuk menjadi pria yang pertama dicintai oleh putrinya. Anakku yang malang, dari kecil hingga sekarang kamu nggak pernah bahagia. Ayah menyesal, sayang.” Malik menunduk sembari memegang dadanya erat. Di sebelahnya ada Kaffa yang nggak kalah
sedih. Adik tiri Leddy itu baru saja hendak menyatukan dirinya dengan sang ayah. Namun, takdir berkata lain, Tuhan lebih sayang sama Leddy sehingga memanggilnya untuk menghadap Sang Illahi.
“Maafin Ibu juga, Leddy. Karena selama ini ibu sudah egois, tak pernah memberikan ayahmu izin untuk menemui dirimu. Ibu jahat, kamu seharusnya membenci ibu, bukan ayahmu.” Fina menitikkan air mata penyesalan. Metha menatap wanita itu dengan wajah tak suka.
Selama ini ia tahu, sahabatnya sudah lama kehilangan sosok ayah karena wanita pelakor seperti Fina. Jika saja Fina tak hadir di dalam kehidupan Leddy dan ibunya, mungkin ia tak akan menderita seperti sebelumnya.
“Sudahlah, tante. Jangan mengeluarkan air mata buaya di sini dan jangan pernah menyentuh sahabatku,” cegah Metha datar saat Fina hendak mencium kening Leddy.
__ADS_1
Fina tertegun, menghentikan sejenak aksinya. Begitu pun dengan para pelayat dan juga ayah Leddy yang menatap gadis itu bingung.
“Tante hanya mau meminta ma_”
“Terlambat,” potong Metha cepat membuat Fina menghentikan ucapannya. “Kemana aja selama ini? di saat Leddy butuh ayahnya tapi tante malah mencegah mereka untuk bertemu. Punya hati nggak, sih? Karena ulah tante sampai mati Leddy masih menaruh dendam pada ayahnya sendiri,” ujarnya dengan nada meninggi.
Semua orang ikut menatap Fina sinis, berbisik membicarakan dirinya satu sama lain membuat wanita itu menunduk malu. Apa yang dikatakan Metha benar, semua ini terjadi karena dirinya. Sifat ego nya lah yang membuat Leddy membenci ayahnya sendiri.
“Jika saja tante membiarkan ayah dan anak itu bertemu, Leddy akan pergi dengan tenang. Setidaknya dia bisa mengucap kata maaf pada ayahnya sendiri.” Metha kembali terisak, tubuhnya limbung, kekuatannya saat ini tersisa sedikit. Sebentar lagi ia pasti kehilangan kesadarannya untuk kesekian kali.
“Tha, udah, Nak. Kamu harus ikhlas, yang berlalu biarlah berlalu, ibu tahu Leddy sangat bahagia memiliki kamu di sisinya.” Ibu Metha memeluk putrinya sembari melirik wajah Leddy yang masih tersenyum seperti sedang bahagia.
“Metha geram sama orang-orang yang udah jahat padanya, Bu. Entah apa kesalahan yang dilakukannya di masa lalu, sehingga takdir tak pernah membiarkannya hidup bahagia.” Metha melepas pelukan sang ibu, kemudian kembali menyentuh pipi Leddy.
“Jangan pernah menyalahkan takdir, Nak. Setiap kehidupan manusia sudah ditentukan garisnya seperti apa. Kita hanya perlu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Saat ini Leddy pasti sudah bertemu dengan ibunya,” ujar ibu Metha kembali.
Mendengar kalimat itu, Malik yang sedari tadi menunduk seraya membaca surat yasin pun menatap Metha dan ibunya secara bergantian. “M-maksudnya ibu Leddy...”
__ADS_1
Metha mengangguk, “Sebulan setelah paman pergi, ibu Leddy juga pergi ke tempat yang lebih baik.” Malik terpukul, pria itu kembali memegang dadanya erat. Selama ini Malik nggak pernah tahu kabar tentang ibunya, pantas saja hari ini dia belum melihat wanita yang telah melahirkan putrinya itu.
Sungguh malang nasibmu Leddy, ditinggal nikah oleh sang ayah, kemudian ibunya pergi untuk selamanya dan kekasih tercinta pun tega berkhianat hingga mengantarkannya untuk bertemu Sang Pencipta. Begitu lah yang terlintas di benak para pelayat.