Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Episode 18 I Love You


__ADS_3

Sudah seminggu lebih berlalu sejak Leddy dibawa ke luar negeri untuk pengobatannya.  Sejak saat itu, Mahe


belum mendapatkan informasi tentang kesehatan gadisnya. Mahe setiap hari sering ke rumah sakit tempat Leddy bekerja demi mendapatkan kabar dari itu, dan tentu saja dengan penyamaran. Karena ia nggak mau Farhan tahu


dan menghajarnya lagi.


Entah apa yang merasukinya, sejak mendengar kabar kecelakaan Leddy, pria itu serasa dihipnotis untuk mengetahui kondisinya secara langsung. Mahe terus menanyakan kabar mantannya itu kepada setiap staff yang ia temui, dan jawaban mereka tetap sama, belum dapat kabar dari dokter Metha.


Merasa tidak puas dengan jawaban itu, Mahe memutuskan untuk terbang ke Singapura setelah memastikan rumah sakit tempat Leddy di rawat. Pria itu serasa gila jika tidak mendengar kabar selanjutnya. Ia memilih penerbangan sore sekitar jam lima waktu Indonesia dan akan tiba di Singapura sekitar pukul setengah tujuh waktu Singapura. Karena jarak dari Indonesia ke Negara tetangga itu berkisar sekitar 894km dan memerlukan waktu sekitar satu jam lebih tiga puluh menit.


Mahe menggunakan pesawat Singapura Airline untuk penerbangannya. Selama berada dalam kabin pesawat, pria itu terus berdoa agar Tuhan menyelamatkan nyawa gadis malang itu.


“Tolong hamba, Ya Allah, bantu Leddy untuk  bertahan. Agar hamba bisa meminta maaf padanya atas kesalahan yang telah hamba perbuat. Hamba tahu ini telat, tapi tidak ada kata terlambat untuk berubah. Tolong hamba.” Doanya dalam hati.


Setelah itu Mahe meraih kitab suci Al-Qur’an dan membukanya. Ia terus membaca ayat demi ayat dalam kitab suci tersebut. Hal itu bisa membuat hatinya sedikit tenang saat berada di atas awan. Setelah itu, mahe kembali meletakkan Al-Qur’an di dalam tasnya dan matanya fokus menatap pramugari yang tengah memperagakan berbagai alat bantu seperti pelampung dan tabung oksigen jika pesawat dalam kondisi darurat.


Pikirannya melayang, memikirkan kejadian beberapa hari terakhir. Betapa kejamnya dia, telah membuat Leddy menangis di bawah derasnya hujan. Saat itu ia tengah dipengaruhi oleh Viona, wanita itu tidak ingin kehilangan Mahe.


Tanpa sadar, Mahe menitikkan air mata. Pria itu menangis, membuat wanita asal Indonesia di sebelahnya bingung.


“Kamu, baik-baik saja?” tanyanya penuh hati-hati. Takut pria di sebelahnya ini marah atau tak mengerti dengan bahasanya.


“Iya, aku baik-baik saja,” jawabnya sembari menyeka air mata.


“Kenapa kamu menangis?” tanyanya lagi.


Mahe terdiam, ia belum kenal wanita ini dan tentu ia tak ingin bercerita apa  pun. Tapi, kalau dilihat dari penampilannya, wanita tersebut sangat berpengalaman dalam hal apa pun. Matanya menatap sayu, wajahnya memancarkan senyuman yang mampu membuat hati damai.


“Namaku Naraya, kamu panggil Nara.” Wanita yang bernama Nara itu mengulurkan tangan sembari tersenyum.


Mahe menjabat tangan tersebut dan tentu dengan membalas senyuman Nara. “Mahe.”


Nara tampak mengangguk, kemudian ia kembali melihat Mahe dengan wajah sendu. “Hey, ada apa dengan wajah itu?”

__ADS_1


Mahe gelagapan,  ternyata Nara masih menatapnya. “A-aku, kenapa?” tanyanya bingung.


Nara tetawa, bagaimana  bisa Mahe bertanya balik padanya saat ia tengah bertanya. “Kamu lucu, ya? Aku yang nanya justru kamu  bertanya balik. Mana aku tahu dengan wajah sendumu itu.”


“Wajah sendu,” ulang Mahe. “Iya, wajah ini akan tetap seperti ini jika belum mendapat kabar darinya.”


“Siapa? Pacar? Apa dia meninggalkanmu?” tanya Nara penuh selidik.


“Sepertinya kalimat itu cocok untukku,” ujar Mahe tersenyum


“Maksudnya?”


“Nara, kita baru kenal. Aku nggak mau bercerita apa pun  karena itu  melanggar prinsip hidupku.”


“Kamu tenang saja, aku bukan orang yang suka mengurus urusan orang lain. Tapi, aku suka dengan orang yang mau membagi kesedihannya denganku, siapa  tahu aku bisa bantu.” Nara mengalihkan pandangannya dari Mahe, gadis itu kini tengah menatap awan putih yang tampak sedikit berubah warna menjadi abu.


“Kamu lihat awan itu,” tunjuknya, Mahe mengikuti arah telunjuk Nara. “Sepertinya dia juga menyimpan beban sendiri, hingga membuat warnanya yang putih menjadi berubah. Tapi, aku yakin sebentar lagi sang awan pasti akan menumpahkan semua bebannya itu untuk dibagi kepada semua manusia, agar manusia tahu menyimpan masalah sendiri itu sangat berat. Setelah itu, ia merasa lega karena bebannya sudah tidak ada lagi.”


Mahe terdiam, berusaha untuk menyikapi setiap kalimat yang diucapkan Nara.”Manusia layaknya seperti awan, merasa kuat menanggung masalah sendiri, bahkan ia lupa bagaimana cara untuk berbagi. Namun, masalah itu tak akan bisa diselesaikan jika kita tak berbagi. Berusahalah untuk terbuka, maka setiap masalah akan ada solusinya.”


“Kamu benar, Nar. Aku memang menanggungnya sendiri, tanpa berbagi pada orang lain.” Mahe menyeka air matanya yang kembali tumpah. Nara yang melihat itu semakin bingung.


“Sepertinya masalahmu terlalu berat, Mahe. Aku paham jika kamu nggak mau berbagi, jangan cerita jika itu membuatmu semakin terluka.”


“Leddy.”


Nara mengernyit, satu nama yang diucapkan membuatnya bingung. “Siapa?”


Mahe tampak menarik napas dalam kemudian dihembuskan secara kasar. ”Wanita bernama Leddy, seorang dokter yang pernah menyelamatkan hidupku. Aku bertemu dengannya saat aku depresi dan mencoba untuk mengakhiri  hidupku saat mengetahui calon istriku kabur. Aku pikir nggak ada gunanya hidup, aku begitu mencintainya tapi dia memilih untuk pergi dengan lelaki lain. Saat itu benar-benar terpuruk Leddy lah yang selalu menguatkanku hingga aku bisa bangkit lagi.”


“Terus, dimana dia?”


“Leddy saat  ini di rawat  di rumah sakit Singapura atas insiden yang menimpanya. Dia mengalami pendarahan dan itu aku yang membuatnya mengalami kecelakaan.”

__ADS_1


“M-maksudnya?”


“Kalau diceritakan sangat panjang. Leddy mengalami kecelakaan karena ulahku. Aku tega meninggalkan dirinya di saat calon istriku dulu muncul kembali. Leddy sedih dan tak terima itu semua, aku tak tahu cerita jelasnya kenapa ia bisa kecelakaan. Karena sahabatnya nggak mengizinkanku untuk bertemu dengannya.”


“Kamu meninggalkan orang yang telah membuat hidupmu bermakna, wajar saja jika orang terdekat tak mengizinkanmu untuk menemuinya lagi.” Ucapan sinis Nara membuat Mahe tak mengerti.


“Apa maksudmu?”


“Kamu sadar nggak? Wanita mana yang rela diputuskan pacar demi wanita di masa lalu? Seharusnya kamu nggak melakukan hal itu, jika kamu mencintainya.”


Perkataan Nara ada benarnya juga, ia tak akan tega melakukan hal itu  jika ia mencintai Leddy. “Kamu benar, dulu


aku tidak mencintainya, tapi_”


“Kamu mencintainya.”  Potong Nara cepat.


“Kenapa kamu mengatakan hal itu?”


“Mahe, seorang pria tidak akan mau merepotkan dirinya untuk datang jauh-jauh dari Indonesia ke Singapura demi melihat kondisi sang mantan, kalau bukan pria itu mencintainya. Kamu mencintainya Mahe, aku tahu itu,” ujar Nara percaya diri.


Mahe kembali terdiam, perkataan Nara ada benarnya juga. Kenapa ia merasa stres saat belum ada kabar tentang kondisi Leddy. Seharusnya Mahe tak memikirkan itu lagi karena mereka sudah tak memiliki hubungan lagi. Lantas mengapa dirinya rela datang jauh-jauh demi melihat kondisi Leddy secara langsung, jika ia tak memilik rasa pada gadis itu. Ya, Mahe mencintainya.


“Astaga, aku tak tahu apa yang aku lakukan ini sudah benar.” Mahe mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“Tentu, kamu sudah melakukan hal yang benar, Mahe. Kamu mencintainya, makanya kamu datang ke Singapura.”


“Nara, kamu tahu? Aku belum pernah merasakan hatiku selega ini, aku bersyukur bisa bertemu denganmu.”


“Mahe, kamu bisa merasakan ketenangan itu jika kamu mau terbuka pada orang lain. Bukan hanya padaku saja, pada Leddy juga bisa jika kamu mau terbuka sejak awal,” ujar Nara menasehati.


“Iya, Nar. Selama ini aku selalu menutupi ini darinya, bahkan aku nggak pernah mengatakan cinta padanya.”


“Mulai sekarang, biasakan mengucapkan hal itu jika kamu mencintainya. Jangan lupa, nanti setelah di rumah sakit mungkin kamu bisa bilang I Love You, Leddy.” Bisik Nara menggoda.

__ADS_1


Mahe kembali tersenyum, Nara wanita yang asik diajak bicara dan juga bisa menyadarkan pria itu tentang arti dari cinta. Mahe mencintai Leddy, itu sudah lama. Hanya saja ia tak mampu untuk mengungkan perasaannya itu meski sering ditanya oleh Leddy.


__ADS_2