
"Nyonya, apa mungkin perempuan itu adalah bayi yang hilang ketika Nyonya Fira kecelakaan dulu? Wajah mereka begitu mirip." Bi Iin yang sedari tadi diam saja menyaksikan drama yang terjadi, kini mulai mengemukakan pendapatnya.
"Tunggu, apa maksudnya bi?" Tanya Sheerin yang mendengar ucapan bi Iin pada mama Anya. Seketika mama Anya balik memelototi bi Iin.
Bi Iin terlihat menggigit bibir bawahnya, bibirnya telah lancang membongkar rahasia yang sejak lama terkubur dalam-dalam di keluarga itu. Sebuah kesalahan yang fatal, dia tak tau nasibnya akan seperti apa setelah ini.
"Jawab aku bi!" Sheerin mengguncang bahu bi Iin, memaksanya untuk menjelaskan maksud dari ucapannya tadi.
Dia berbalik badan karena bi Iin masih diam seribu bahasa.
"Nindi, tunggu!" Sheerin kemudian berlari untuk mengejar Nindi dan Bima.
"Kenapa kamu malah membahas tentang masa lalu di keluarga ini?" Dengan geramnya mama Anya berbisik pada bi Iin.
"Maafkan saya nyonya, habisnya saya kaget melihat ada perempuan yang mirip sekali dengan non Sheerin." Bi Iin bicara tanpa menatap mama Anya.
"Aaargggh!" Mama Anya mengerang kesal.
"Ada apa lagi sih She? Semuanya udah berakhir." Ucap Nindi.
"Apapun yang ingin kamu jelaskan, tidak akan merubah kenyataan jika dia adalah istriku, terlepas siapa nama dia yang sebenarnya, Nindi atau siapa itu." Bima menghalangi Sheerin yang ingin bicara kepada Nindi.
"Masih banyak yang harus di jelaskan disini, loe adalah saudara kembar gue Nin." Ucap Sheerin dengan yakin.
"Apa maksud loe? Gue anak ibu gue. Gue nggak punya saudara kembar." Balas Nindi.
Sheerin dengan cepat merogoh tas selempangnya, mencari satu benda yang tadi dia simpan disana.
"Ini, ini punya loe kan? Kenapa gelang kaki punya loe bisa sama persis sama punya gue?" Sheerin menunjukkan gelang kaki yang ada di genggamannya kemudian menunjuk pergelangan kakinya dimana gelang kaki yang sama terpasang.
"Itu..." Ucapan Nindi menggantung diudara, mulutnya sedikit terbuka karena tak percaya. Ternyata bukan hanya wajah mereka yang mirip, tapi mereka juga memiliki gelang kaki yang sama. Kenapa ada dua hal yang kebetulan sama didunia ini?
"Dan satu hal lagi, loe itu bukan anak kandung ibu loe Nin." Ucap Sheerin dengan pipi yang hampir mengering namun kini kembali di basahi oleh air mata.
"Apa? Loe jangan ngaco She! Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi, lagian gue juga udah nggak kuat jadi loe. Gue mau balik jadi diri gue sendiri." Ucap Nindi.
"Gue serius Nin, ibu udah cerita ke gue semuanya, tentang gimana mulanya loe bisa sama mereka. Dan satu-satunya orang yang bisa menjawab semua kesalah pahaman ini adalah ayah, sedangkan sekarang ayah udah nggak ada." Dia akhir kalimat, nadanya melemah, Sheerin menyusut pipinya dengan penuh ke-piluan.
"Nggak, gue nggak percaya. Loe pasti bohong She! Ini pasti cuma akal-akalan loe aja, iya kan?" Nindi mencoba tetap bersikap seolah dia tidak percaya, namun jauh di lubuk hatinya terdalam, dia mulai merasa cemas.
"Gue nggak bohong Nin..." Tegas Sheerin sekali lagi.
"...bi, aku mohon, ceritakan semua tentang ibu kandung aku dan apa yang terjadi sampai ibu bisa mengalami kecelakaan?" Sheerin balik bertanya pada bi Iin, pembantu rumah tangga yang sudah mengabdi di rumah itu selama 25 tahun lamanya.
"S... Saya tidak bisa non, biar nyonya saja yang bicara." Bi Iin melirik mama Anya. Mama Anya tersenyum sinis mendengar perkataan Bi Iin.
Sheerin terlihat kecewa.
"Mama nggak akan pernah mau bicara jujur bi, selama ini mama menutupi semuanya dari aku. Dan tadi bibi bilang kalau Nindi adalah bayi yang hilang waktu ibu aku kecelakaan, kan? Dan ibu angkat Nindi bilang kalau kakeknya menemukan Nindi dan ibu setelah mengalami kecelakaan. Lalu aku sama Nindi punya gelang kaki yang sama. Itu bukan suatu kebetulan bi!" Sekali lagi Sheerin berusaha membuat semuanya menjadi lurus.
Bi Iin sebenarnya tidak tega melihat Sheerin menangis meraung-raung meminta penjelasan, bagaimanapun juga dia telah menganggap Sheerin sebagai putrinya sendiri, karena dia menyaksikan setiap tumbuh kembang Sheerin sedari bayi. Diapun menjadi saksi bagaimana perlakuan buruk mama Anya terhadapnya.
Hanya saja tak ada yang bisa dia lakukan selain diam dan menutup mulut.
"Ibu angkat Nindi bilang kalau waktu itu ibu pergi untuk menemui ayah dan menemukan siapa orang yang udah menyabotase mobilnya sampai-sampai masuk jurang." Ucap Sheerin.
"SHEERIN! CUKUP!" Mama Anya membentaknya dengan kasar, semua anggota keluarga dan pelayat dibuat tercengang dengan bentakannya itu.
"Apa kamu tidak malu? Keluarga sedang berduka tapi kamu malah mengungkit-ungkit tentang masa lalu yang tidak masuk akal ini. Mama tegaskan sekali lagi, dia ini hanya orang asing, biarkan dia pergi, tempatnya bukan disini."
Sheerin terlihat ketakutan mendengar bentakan demi bentakan yang dilayangkan mama Anya.
__ADS_1
Kepala Levin semakin pening melihat drama yang terjadi diantara keluarga rekan bisnis papanya itu, dia berdiri seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa. Satu yang perlu digaris bawahi, jika dua perempuan dengan wajah sama itu telah membohongi dirinya habis-habisan.
Oh, Levin mulai paham sekarang. Tentang perubahan yang terjadi kepada Nindi selama ini, ternyata bukan tanpa alasan dia berubah, melainkan dia bukanlah Nindi asli, tapi perempuan yang hanya mirip dengannya. Tapi, meskipun kedua perempuan itu memiliki wajah yang sama, tapi sikap dan perilaku mereka sangat bertolak belakang.
Nindi yang urakan, sedangkan Sheerin begitu kalem dan tak banyak tingkah.
Levin tak bisa berpikir dengan jernih sekarang, dia perlu mendinginkan otaknya yang mulai memanas akibat kebohongan yang dilakukan dua perempuan itu terhadapnya.
Diapun memutuskan untuk pergi dari rumah itu, melewati Sheerin dan Nindi yang masih terlihat saling bersitegang.
"Levin, kamu mau kemana?" Tanya papa Levin saat melihat kepergian putranya itu.
"Kita pulang sajalah pa, kepala Levin mendadak pusing." Jawab Levin.
Sheerin yang juga melihat itu, segara menghampiri Levin.
"Lev, tunggu aku. Aku bener-minta maaf. Tolong maafin aku ya!" Ucap Sheerin sambil megangi lengan Levin, menghalangi kepergiannya.
"Entahlah, lebih baik kamu selesaikan masalah keluarga kamu. Aku pusing." Balas Levin acuh tak acuh.
"Plis Lev, jangan pergi, aku butuh kamu." Ucap Sheerin sekali lagi. Tak disangka, Levin malah menyeringai mendengar ucapan Sheerin itu.
"Kamu yang udah milih jalan ini, jadi kamu yang harus selesaikan sendiri masalahnya." Dengan teganya Levin melepaskan genggaman tangan Sheerin.
"Levin, jangan pergi!" Sheerin berteriak histeris saat Levin benar-benar pergi dari hadapannya.
"Leviiin!" Tubuh Sheerin lunglai, kemudian ambruk seketika. Dia terduduk di daun pintu menatap dengan pilu kepergian Levin.
"Emm, maaf semua, saya adalah rekan bisnisnya pak Lukman, dan juga papanya Levin. Saya mohon maaf atas sikap anak saya tadi. Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama disini, karena situasinya yang mungkin sedang tidak stabil. Saya hanya ingin mengucapkan bela sungkawa, saya turut berduka atas berpulangnya pak Lukman. Beliau orang yang sangat baik, semoga Tuhan memberinya tempat terlayak disana." Ucap papa Levin, dia merasa tidak enak hati karena anak dari pak Lukman menangis karena Levin.
"Baik, terimakasih banyak. Mohon maaf dengan situasi yang kurang nyaman ini." Luis yang membalas perkataannya, sedangkan mama Anya yang di ajak bicara terlihat gelisah tak karuan.
Nindi dan bi Iin adalah orang yang paling tidak tega melihat Sheerin terpuruk seperti itu, ahh, lagi-lagi Nindi merasakan hal yang sama saat melihat Sheerin tersakiti. Apa lagi yang menjadi alasan lain Sheerin bersedih adalah cowok tengil itu. Apa iya Sheerin mencintai dia?
Kemudian Nindi menghampiri Sheerin dan berjongkok menyamai posisinya. Sedangkan para pelayad satu persatu mulai berpamitan dan membuat rumah itu tak sesesak sebelumnya.
"She, udahlah! Ngapain juga loe nangisin cowo tengil kaya dia sampai segitunya? Nggak penting banget tau!" Ucap Nindi.
"Loe bisa bicara kaya gitu karena loe nggak kehilangan apapun setelah rahasia ini terbongkar, kak Bima masih mau terima loe. Sedangkan gue, gue udah kehilangan semua, ayah, Levin. Huhuhu." Tangisan Sheerin semakin terasa memilukan.
"Non masih punya satu anggota keluarga lagi." Tiba-tiba saja bi Iin berkata seperti itu.
Sontak semua mata tertuju padanya.
"Maksudnya apa bi? Siapa?" Sheerin menghapus air di pipinya dengan cepat.
"Bukan, non Sheerin memang memiliki kembaran. Dia adalah Shireen, Shireen hilang saat nyonya Fira kecelakaan kira-kira 18 tahun yang lalu." Bi Iin berkata sambil menundukkan kepalanya, dia memutuskan untuk berkata jujur, karena memang ini mungkin sudah jalannya, diapun tidak tega melihat Sheerin meraung-raung menangisi nasibnya yang malang dan menanggap jika dirinya tinggal sebatang kara. Sedangkan bi Iin tau jika mama Anya tak pernah bersikap layaknya seorang ibu.
"Apa? Jadi bener kan bi? Kenapa bibi baru bilang sekarang?" Sheerin bangkit kemudian menghampiri bi Iin.
"Maaf non, selama ini bibi hanya tidak ingin ikut campur masalah di keluarga ini. Tapi hari ini setelah menyaksikan semuanya, bibi merasa jika non harus tau apa yang sebenarnya terjadi di keluarga ini dulu." Balas Bi Iin.
"Ceritakan semuanya bi, ayo!" Sheerin mendesak.
Luis memijat pelipisnya sendiri, semua ini diluar skenario yang telah dia buat. Jadi, mau tidak mau dia dan mama Anya harus mengikuti alur yang ada.
"Jadi, waktu itu nyonya Fira mau pergi ke rumah sakit karena non Shireen mengalami..." Belum sempat bi Iin menyelesaikan kalimatnya, Sheerin terlebih dulu memotongnya
"Shireen mengalami kejang-kejang, mama pergi saat hujan badai kemudian mobil mama tergelincir dan masuk kedalam jurang?" Sergah Sheerin. Bi Iin mengangguk pelan. Sedikit terkejut karena Sheerin sudah tau apa yang akan dia katakan.
"Itu loe tau She, kenapa loe masih nanya lagi?" Giliran Nindi yang buka suara.
__ADS_1
"Gue baru tau dari ibu loe tadi Nin, kalau gue nggak sengaja ngedenger obrolan ibu sama kak Yuvi tadi, gue nggak akan seyakin ini kalau loe adalah saudara kembar gue!" Jawab Sheerin.
"Jadi, gue beneran bukan anak kandung ibu? Kenapa ibu nggak pernah cerita apa-apa ke gue?" Nindi nampak bersedih, ibu yang selama ini sangat menyayanginya, bahkan kasih sayang ibu kepada Nindi melebihi sayangnya ibu terhadap Yuvi.
"Ya, benar. Kamu memang memiliki saudara kembar." Ucap mama Anya secara tiba-tiba dan tak terduga.
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Benar kan? Kenapa mama menutupi semuanya dari aku selama ini? Atau jangan-jangan mama juga yang udah menyabotase mobil mama kandung aku sampai-sampai masuk jurang?"
"SHEERIN, CUKUP! Bicaramu itu sudah sangat keterlaluan!" Perkataan Mama Anya menggelegar di setiap sudut ruangan.
"Benar, kan? Yang harus kalian semua tau, Shireen waktu itu nggak beneran kejang-kejang, ada seseorang yang sengaja memberinya obat tidur."
"Non Sheerin tau dari mana?" Tanya bi Iin.
"...aku tau semuanya dari ibu yang selama ini membesarkan Nindi, dan satu hal lagi, kakek buyutnya Nindi yang udah menyelamatkan ibu dari jurang. Ada kemungkinan sekarang ibu masih hidup, dia pamitan kepada keluarga angkat Nindi untuk menemui ayah, dia juga menitipkan Nindi pada mereka, namun sayang ibu tak kunjung kembali sampai Nindi sebesar ini..."
"...jadi, dimana mama menyembunyikan ibu aku selama ini?" Sheerin menatap penuh selidik pada mama Anya.
"Lama-lama bicaramu itu semakin ngelantur Sheerin, kelas-jelas jasad ibumu sudah dikuburkan keesokan harinya." Ucap mama Anya.
"Nggak, ibu aku masih hidup, dimana mama menyembunyikan ibu kandung aku? Dimana?" Sheerin bersikeras dan mengguncang bahu mama Anya.
PLAKK!
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Sheerin. Semua orang semakin tercengang melihat itu.
Sheerin tau konsekuensi ini akan dia terima jika dirinya melawan mama Anya, namun apa mau dikata? Semua sudah terlanjur, Sheerin sudah kepalang basah berontak, dia memegangi pipinya yang terasa begitu perih.
Nindi yang melihat kekerasan terjadi di depan matanya, apa lagi Sheerin yang kemungkinan besar adalah saudara kembarnya, meskipun dia sendiri masih belum bisa menerima sepenuhnya.
"She, loe nggak kenapa-napa?" Tanya Nindi, dia memegangi pundak Sheerin dan membantunya ke posisi semula.
"Anya, kenapa kamu mengaku jika Sheerin memiliki saudara kembar? Kenapa kamu tidak menyangkal tadi" Luis berbisik pada mama Anya.
Mama Anya terlihat mengeram kesal setelah menampar Sheerin, dia masih belum puas memberi anak itu pelajaran.
"Ikut aku Luis, kita bicara disana!" Kemudian mama Anya menarik tangan Luis agar ikut bersamanya. Sedangkan bi Iin menatap kepergiannya dengan penuh selidik.
"Nin, loe harus percaya sama gue, loe saudara kembar gue. Gue udah nggak punya siapa-siapa lagi selain loe. Plis jangan tinggalin gue!" Sheerin menggenggam tangan Nindi erat-erat, seolah dia benar-benar takut kehilangan Nindi.
"Gue juga belum yakin She, gue perlu denger langsung semuanya dari ibu." Ucap Nindi.
"Suruh kak Yuvi bawa ibu kesini sekarang. Dan bi, apa bibi punya foto ibu kandung kita?" Tanya Sheerin.
"Dulu nyonya menyuruh saya membakar semua foto nyonya Fira." Jawab bi Iin.
Sheerin kembali harus merasakan kecewa.
"Tapi ada beberapa foto yang sengaja bibi tidak bakar dan bibi simpan digugang." Sambungnya kemudian.
"Oh ya? Kalau gitu, bibi bisa tolong carikan? Itu penting sekali bi." Ucap Sheerin.
"Iya non, sebentar bibi carikan." Bi Iinpun pergi ke arah belakang rumah.
"Sudahlah, kita bahas masalah ini nanti. Lebih baik sekarang kita bacakan surat yaasin untuk almarhum." Bima yang sedari tadi hanya diam saja mulai buka suara, dan kali ini perkataannya mendapat anggukan kepala dari dua saudara kembar yang telah lama terpisah itu.
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...
__ADS_1