Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Dalam bahaya


__ADS_3

Levin? Ya, Levin. Kekasih hatinya. Meskipun dia sendiri tak begitu yakin jika Levin masih terjaga. Setidaknya dia harus mencoba dan berusaha. Dia kembali mengutak-atik ponselnya, masih dengan tangan gemetaran.


Sebuah harapan nampak memancar dari mata Sheerin saat mendapati Levin kini sedang online. Entah sedang apa kekasihnya itu di tengah malam seperti ini, dia masih saja online. Namun itu bisa jadi sebuah keberuntungan untuk Sheerin.


Cepat-cepat dia mengetikkan pesan chat pada Levin.


'Lev, tolong aku. Aku sekarang terjebak di rumah kosong samping rumah kak Bima. Paman Luis menyekap seorang perempuan, aku takut dia akan berbuat nekat kalau tau aku berusaha buat bebasin perempuan itu.' Sheerin tak perduli jika ada yang typo. Dia ingin segera terbebas dari tempat terkutuk ini.


Sementara itu, jauh di sebrang sana, Levin sedang bermain PS bersama Sandi. Dia lupa tak mengembalikan ponselnya dari aplikasi WhattsApp sehingga dia online terus sedari tadi. Sedangkan fokusnya kini hanya tertuju pada layar, berusaha mengejar ketertinggalannya dari Sandi. Meskipun malam semakin larut, bahkan kini sudah lewat tengah malam, namun semangat keduanya masih membara. Sandi masih semangat untuk mempertahankan kemenangannya, sementara Levin berusaha untuk mengalahkan Sandi yang sedari tadi sulit di kalahkan.


"Kejar gue kalau bisa. Haha." Gelak tawa terdengar renyah dari mulut sandi.


"Sial loe, curang terus dari tadi! Ngalah dikit ngapa?" Levin kesal sendiri jadinya, merasa dipermainkan oleh sahabatnya itu.


"Oooh tidak bisa." Berkata dengan nada lebay. Jari mereka terus saja bergerak di atas stik, berusaha untuk mengalahkan satu sama lain.


Tanpa Levin sadari jika sedari tadi ponselnya bergetar, sudah banyak sekali pesan yang Sheerin kirimkan padanya namun Levin tak kunjung membukanya.


"Woi, itu hp loe getar terus dari tadi." Sandi yang menyadari ponsel Levin menyala langsung memberi tahu si empunya.


"Alah, paling akal bulus loe aja biar menang lagi." Menanggapi dengan tidak serius.


"Ehh beneran. Liat dulu sana!" Sandi menarik-narik kaos Levin agar perkataannya di dengar.


"Udah, biarin aja." Menepis tangan Sandi agar menyingkir dari kaosnya.


"Ya elah." Sandi mendengus pasrah.


Pertandingan pun kembali di lanjutkan, pertandingan antara keduanya semakin sengit.


Tanpa Levin ketahui jika jauh di sana Sheerin sangat berharap kepada dirinya. Sheerin masih bersembunyi di antara tumpukan kardus berdebu itu sambil memeluk lututnya sendiri. Keringat dingin tak henti mengalir dengan deras di pelipisnya. Dalam hati tak berhenti memanjatkan do'a, semoga ada keajaiban dan keberuntungan sedang di pihaknya. Namun do'a tinggallah do'a.

__ADS_1


Setelah mengirimi Levin pesan berkali-kali, namun pesannya itu tak kunjung di baca. Dia semakin cemas dan gelisah. Apalagi baterai yang tersisa hanya tinggal 4% lagi. Jika ponselnya mati, maka Sheerin pastikan dirinya juga ikut mati. Takan ada lagi alat untuk dirinya meminta bantuan.


Bagaimana nasib Sheerin selanjutnya. Sementara disana Luis kembali melakukan hal gila itu lagi, memaksa perempuan itu untuk melayaninya karena dia tak kunjung mau mengakui tuduhan Luis. Sheerin bisa melihatnya melalui celah kardus yang berlubang. Bahkan Sheerin harus menutup telinganya untuk menghindari suara-suara aneh yang terdengar dari mulut Luis maupun perempuan itu.


***


"Haha, kalah lagi kan loe. Loe ngaku kan sekarang kalau gue ini hebat." Sandi nampak mengusap lubang hidungnya dengan jempol, membusungkan dada merasa bangga dengan diri sendiri.


Cih! Menang hasil kecurangan saja bangga! Begitu Levin mencela di dalam hatinya. Levin yang di kalahkan telah oleh Sandi wajahnya berubah menjadi kecut. Disambar nya ponsel yang dia letakkan di atas meja.


Matanya membulat dengan sempurna saat melihat deretan pesan yang di kirimkan oleh kontak bernama 'MY GIRL', Kekasih hatinya, Sheerin. Cepat-cepat Levin membukanya dan membaca satu persatu pesan itu.


'Lev, tolong aku. Aku sekarang terjebak di rumah kosong samping rumah kak Bima. Paman Luis menyekap seorang perempuan, aku takut dia akan berbuat nekat kalau tau aku berusaha buat bebasin perempuan itu.'


'Lev, plis bantu aku. Aku bingung harus gimana.'


'Lev, paman Luis orangnya nekat, aku takut dia nyakitin aku.'


'Lev plis tolong. Aku nggak tau harus minta tolong sama siapa lagi!"


'Lev aku dalam bahaya sekarang. Cepet kamu datang kesini. Kalau perlu kamu lapor polisi buat nangkap paman Luis.'


'Lev!'


Pikiran Levin seketika blang saking terkejutnya setelah membaca rentetan pesan dari Sheerin. Apa maksudnya ini? Kenapa Sheerin bisa berada di rumah kosong itu malam-malam begini?


Dia tidak bisa berpikir dengan jernih saking kagetnya. Tangan gemetar memegangi ponsel. Bagaimana nasib Sheerin sekarang? Kecemasan mulai menyelimuti hati Levin.


Sandi yang menyadari raut wajah Levin yang tegang langsung menegurnya.


"Loe kenapa? Ke sambet?" Tanya Sandi yang tidak tau apapun. Levin tersadar dari lamunannya saat Sandi berkata.

__ADS_1


"Loe kenapa nggak kasih tau ke gue kalau Sheerin nge-chatin gue dari tadi?"


Sandi melongo mendapat bentakan dari Levin. Bukankah tadi dia sudah memberi tahu Levin jika ponselnya bergetar terus, tapi dia mengabaikannya kan. Jadi disini siapa yang bersalah sebenarnya?


Levin nampak pucat, dia berusaha untuk menghubungi Sheerin. Gelisah dia menanti panggilannya di angkat oleh perempuan itu.


Namun dalam hitungan detik, panggilannya itu langsung terputus. Sheerin me-rijeck telpon darinya.


Levin semakin frustasi. Dia tak bisa tinggal diam, dia harus bergerak cepat. Takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Levin tak tau akan segila apa dirinya kalau Sheerin harus kembali terluka.


"Gue harus cabut sekarang juga. Sheerin lagi dalam bahaya dan butuh bantuan. Tolong loe telpon kantor polisi sekarang juga!" Panik Levin berkata. Dia bergegas, memakai jaketnya dengan terburu-buru, menyambar kunci motor di atas meja. Kemudian dengan langkah cepat dia pergi dari kost-an Sandi. Menyisakan tanda tanya besar di kepala Sandi. Untuk apa dia harus menghubungi polisi? Dan apa yang harus dia katakan? Lalu dia harus menyuruh polisi pergi kemana? Sandi terus Berpikir keras.


"Woi, kalau ngomong yang jelas dong!"


Menatap kepergian Levin yang panik setengah mati, bahkan kakinya tadi sempat tersandung kaki meja.


***


Sheerin terlonjak kaget saat ponselnya bergetar, ternyata Levin menghubunginya. Berarti dia sudah membaca pesan yang di kirimkan Sheerin tadi. Syukurlah.


Astaga! Bahkan suara getaran itu masih bisa terdengar di tengah kesunyian seperti ini. Cepat-cepat Sheerin menggeser tanda merah pada panggilan Levin. Kenapa dia menelponnya di situasi yang tidak tepat ini?


Sheerin memejamkan matanya rapat-rapat, berharap saat membuka mata, dirinya sudah berpindah tempat ke tempat lain. Namun harapan tinggallah harapan. Ini bukan sulap ataupun sihir. Dia tidak akan bisa keluar dari tempat itu tanpa ada seseorang yang menolongnya.


Kegiatan yang Luis lakukan terhenti sebelum puncaknya, suara getaran dari ponsel itu mengembalikan kesadaran Luis setelah dibuat melayang saat menikmati tubuh Fira.


Dugaannya tidak pernah meleset, ada seseorang yang menyelinap masuk ke tempat rahasianya ini. Meskipun sebenarnya tak ingin, Luis terpaksa menghentikan kegiatan gilanya itu. Memakai pakaiannya untuk yang kedua kali. Perasaannya sudah tak menentu, dia memakaikan Fira pakaiannya secara asal.


"Siapa?" Suara Luis menggelegar memenuhi udara. Matanya menyapu setiap sudut ruangan berdebu itu, mencari tau dimana suara ponsel tadi berasal.


Pelan langkahnya menyusuri setiap sudut ruangan itu, matanya tertuju pada satu titik, tumpukan kardus itu.

__ADS_1


____________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2