
Karena melihat Ranti yang tidak nyaman dengan kedatangan kedua sahabatnya itu, Dimas pun memutuskan untuk mengajak Ranti pulang.
Ranti mengiyakan dan mereka berlalu meninggalkan Bima dan Rizal yang seperti tidak terima di tinggalkan begitu saja sama Dimas.
"Maaf ya, mereka membuat kamu jadi tidak nyaman"kata Dimas.
"Iya nggak apa - apa"ucap Ranti.
"Apa kamu mau mampir terlebih dulu?"tawar Ranti yang sudah turun dari motornya pria itu.
"Nggak usah, ini udah malam. Nanti aku khilaf lagi"kata Dimas.
Semburat merah pun muncul di pipi Ranti mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Ya udah aku pulang ya"ucap Dimas.
"Iya, hati - hati ya dan jangan lupa telpon aku saat udah sampai"kata Ranti, mengayun - ayunkan tangan Dimas yang masih di genggamnya.
Dimas tersenyum, "Lepasin dong tangannya."ucapnya. Ranti melihat ke tangannya dan tersenyum malu.
"Eh iya"ucapnya, melepaskan tangannya.
"yaudah, kamu masuk gih! "
"Iya nanti, setelah kamu pergi baru aku masuk"balas nya.
"Baiklah, aku balik ya. Selamat malam sayang"ucap Dimas melambaikan tangannya. Setelah mendapat balasan lambaian tangan dari Ranti, Dimas pun mulai menjalankan motornya.
Ranti tersenyum senang, dia sangat bahagian karena akhirnya pria yang begitu di dambahnya bisa dimilikinya. Ya walaupun Ranti tau bagaimana sikap Dimas kepada para mantan - mantannya. Tapi Ranti tidak peduli akan hal itu, yang penting sekarang dia bisa memilikinya.
Setelah tidak melihat Dimas, Ranti pun masuk kedalam rumah.
____
Dimas mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang, dia begitu menikmati angin malam yang menusuk kulitnya.
"Huft..." Dimas menghembuskan napasnya pelan.
Sekitar 30 menit berkendaraan, akhirnya Dimas pun sampai di kontrakannya. Sambil bersiul - siul Dimas memasukkan motornya kedalam rumah.
Dimas masuk kedalam kamar, mengganti pakaian dan bersiap untuk tidur. Saat ia sudah berbaring, ia mendengar suara ketukan pintu.
Tok... Tok...
Dimas terdiam, dia kaget mendengar ketukan tersebut, siapa orang yang mengetuk pintunya malam - malam begini.
"Biarkan saja, nggak ada kerjaan banget ngetuk - ngetuk pintu rumah orang malam - malam" ucap Dimas masa bodoh.
"Tok tok....."
__ADS_1
Suara ketukan itu kembali terdengar.
Aish!
Dengan kesal Dimas turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Sebelum membuka pintu Dimas mengintip keluar melalui jendela terlebih dulu.
Tidak ada siapa - siapa di luar? Dimas melihat sekeliling , saat hendak menutup garden, Dimas melihat sebuah tas di teras rumahnya. Dimas mengernyitkan keningnya.
Dengan sedikit ragu Dimas membuka kunci pintunya, walau pun takut tapi rasa penasarannya lebih besar dari pada rasa takutnya.
Dengan pelan Dimas membuka pintu, baru separuh pintunya terbuka, tiba - tiba seseorang memelukkanya.
Hup!
Tubuh Dimas mematung seketika, dia benar - benar kaget mendapatkan serangan dadakan itu.
Hiks.... Hiks...
Dimas mengernyitkan keningnya mendengar suara isakan dari orang itu. Dimas melepaskan pelukan itu, ia melihat wajah orang itu, namun wajahnya tertutupi oleh rambut. Dengan pelan Dimas menyibak rambunya.
"Anita?" Anita tersenyum.
"Aku kangen kamu Dim..."ucap gadis itu.
"Ka-kamu?.."Anita kembali memeluk Dimas, saat pria itu belum menyelesaikan ucapannya.
"Aku sangat merindukanmu, Dim"ucap gadis itu lagi. Dimas masih belum mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi, kebingungan masih bersarang di benaknya.
___
"Ayo minumlah, biar kamu merasa agak baikan"ucap Dimas.
Dengan pelan Nita meminum teh yang di buatkan Dimas.
"Dim?..."
"Kamu kemana aja?"tanya Dimas memotong ucapan Anita. Dia menatap gadis yang ada di depannya itu.
"Aku pulang kampung, bukan pulang kampung tapi lebih tepatnya aku di bawa paks pulang sama Darwin"ucap Anita menjelaskan.
"Lalu kenapa kamu kesini? Aku tidak ingin membuat masalah dengan siapa pun..."
"Apa kau mengusirku?"tanya Nita tak menyangka.
"Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin memiliki masalah, karena masalah ku sudah terlalu banyak dan aku tidak berniat untuk menambahnya lagi."balas Dimas menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Apa kamu tidak senang melihatku?"tanya gadis itu, berdiri dan mendekati Dimas.
Dimas menatap Anita, dia bingung dengan sikap gadis itu. "Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin menambah masalah, dan aku juga tidak ingin membuatmu dalam kesulitan"kata Dimas yang masih memandang kearah Anita.
__ADS_1
"Tidak akan ada masalah Fim, semuanya akan baik - baik saja asalkan kamu mau menerimaku"ucap Anita.
Dimas bertambah bingung, dia masih tidak bisa memahami maksud dari kata - kata gadis itu. Anita duduk di samping Dimas.
"Bantu aku Dim, aku tidak bisa jauh dari kamu, aku nggak sanggup"ucap Anita lirih, Dimas daat mendengar sura isakannya.
"Jangan menangis.."Dimas menghapus air matanya, Anita menatapa wajah Dimas kemudian tersenyum.
"Aku sudah meninggalkan Darwin"ucapnya
"Apa?"
"Iya, aku sudah mengakhiri hubungan pertunanganku dengan Darwin. Kami sudah tidak memiliki hubungan apa - apa lagi"lanjutnya.
"Nit, apa kamu serius?"tanya Dimas, gadis itu mengangguk.
"Tapi kenapa? Bagaimana dengannpria itu, apa dia tidak marah? Terus keluargamu?"tanya Dimas yang masih ragu dengan ucapan gadis di hadapannya ini.
"Aku sudah mencoba melupakannmu, tapi sekuat apa pun aku mencoba, semuanitu hanya sia - sia karena bayanganmu selalu muncul dimana - dimana"kata Nita.
Dimas hanya diam, dia seakan taknl tak percaya dengan semuanya.
"Kenapa kamu diam Dim? Apa kamu benar - benar tida menginginkanku lagi? Apa secepat itukah kamu melupakanku?"tanya Anita.
Dimas tak tau harus menjawab apa, dia benar - benar bingung. Kenapa gadis ini datang di saat dia sudah mulai membuka hati untuk yang lain.
Kenapa gadis ini datang dan pergi dengan sesuka hatinya.
"Sebaiknya kamu istirahatlah dulu, ini sudah malam! Kamu belum dapat kontrakan kan?"tanya Dimas, berdiri dan mengambil kunci kamar tamu yang biasa di huni oleh pak Henri dan keluarga.
Anita hanya diam, melihat pria itu. Dia tahu kalau Dimas pasti sangat kaget dengan ke hadirannya yang tiba - tiba. Tapi bagaimana pun Anita sudah bertekad untuk mengejar Dimas sampai Pria itu benar - benar jadi miliknya.
Seperti biasa, Dimas bangun pagi dan menyipkan sarapan untuknya, dan dia juga baru ingat kalau tadi malam Anita sedang menginap di rumahnya.
Dimas tersenyum senang saat ia mengingat kalau Ainita sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Darwin. Namun, saat yang bersamaan, senyum itu luntur seketika saat dia teringat dengan Ranti.
Aku sudah memiliki Ranti, lalu Anita?
Memang benar, Dimas saat ini belum memiliki rasa apa pun terhadap Ranti, tapi Dimas juga tidak tega untuk menyakiti gadis itu.
Saat sedang asik dengan pikirannya, tubuh Dimas tiba - tiba mematung. Dia di kagetkan dengan tangan yang tiba - tiba melingkar di pinggangnya.
"Selamat pagi..."
"Anita!"
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜