Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Rindu


__ADS_3

Hari-hari yang Sheerin lalui tanpa kehadiran Levin menjadi begitu tawar rasanya. Dia sudah terlanjur terbiasa dengan adanya Levin di sisinya, lalu bagaimana kalau sekarang dia sudah ketergantungan terhadap Levin? Bukankah itu berbahaya?


Satu minggu terakhir ini Levin belum menampakkan dirinya di markas geng amburadul yang kini telah disulap menjadi rumah produksi kerudungnya. Masih segar di ingatannya bagaimana Levin dengan bersemangat membenahi tempat itu, mengangkat mesin jahit yang baru di belinya kemudian memilih posisi yang tepat untuk meletakkannya. Saat itu terjadi perdebatan yang sengit diantara dirinya dan Levin untuk menentukan posisi mana yang kira-kiranya pas, dan pada akhirnya Levinpun memilih untuk mengalah kepada Sheerin.


Tanpa sadar Sheerin tersenyum saat mengingat kejadian itu dan kejadian-kejadian kecil lainnya yang membuat jarak diantara keduanya semakin dekat dan erat.


Tapi kini waktu terasa begitu kejam menyiksa dirinya dengan membentangkan jarak diantara mereka. Apa pantas Sheerin merindukan laki-laki yang bukan miliknya, hatinya juga raganya.


Biarlah itu semua terjadi, Sheerin hanya bisa menikmati segala rasa yang ada, rindu, sedih, gelisah yang beradu menjadi satu, menusuk hingga ke ulu hati.


Kalian tidak akan pernah tau bagaimana Sheerin selalu menangis di malam-malam menjelang tidur karena menahan rasa rindu di hatinya untuk Levin. Hanya potret laki-laki itu yang bisa dia pandangi saat menyentuhnya tidak mampu Sheerin lakukan.


Ber video call saja tidak mampu mengobati kerinduannya yang menjulang tinggi setinggi Himalaya.


Vena dan Tari terlihat saling senggol menyenggol bahu saat melihat tingkah laku aneh Nindi palsu sedari tadi. Tangan Sheerin terlihat masih bergerak menusukkan jarum pada manik-manik untuk di pasangkan pada kerudung, tapi matanya menatap kosong ke arah lain. Sepertinya pikirannya sedang berterbangan diluar sana, hanya saja raganya yang masih berada di tempat itu.


Mereka terdengar berbisik-bisik tetangga membicarakan tentang Sheerin.


"Galau dia, pacarnya udah satu minggu ini hilang." Tari berbisik tepat di telinga Vena.


"Mereka itu belum pacaran tau." Vena mengoreksi perkataan Tari.


"Nah lho, kalau gitu kasian si Nindi di PHP-in sama si Levin itu." Ucap Vena.


"Loe salah lagi, si Nindi malahan yang PHP-in si Levin itu." Balas Vena.


"Terus kalau dia yang PHP-in si Levin, kenapa malah dia yang galau?" Tanya Tari bingung sendiri memikirkan apa yang terjadi.


"Mungkin dia menyesal, terus merasa bersalah karena udah menyia-nyiakan si Levin selama ini. Merasa kehilangan karena sekarang si Levin udah berubah." Vena berspekulasi sendiri. Karena belakangan ini Nindi begitu tertutup kepada dirinya, dia tidak banyak cerita tentang hubungannya dengan Levin. Vena menyimpulkan kalau Nindi merasa malu karena dulu dia sering bertengkar dengan Levi. Dan dia memakluminya.


"Loe bener, penyesalan selalu datang terlambat." Tari setuju dengan spekulasi Vena.


***


Hari ini adalah hari terakhir ospek. Levin bisa bernafas lega setelah satu minggu lamanya, masa tersulit ini berakhir juga.


Satu minggu yang dia lalui terasa bagaikan satu tahun lamanya. Dia disibukkan dengan banyak tugas dan kegiatan selama masa ospek kemarin. Sampai-sampai dia belum memiliki waktu luang untuk menemui tambatan hatinya.


Nindi, ahh Levin begitu sangat merindukan Nindi. Meskipun dalam satu hari dirinya bisa melakukan panggilan video call sebanyak tiga atau empat kali, nyatanya cara itu tidak cukup ampuh untuk mengobati rasa rindu yang semakin hari semakin menggerogoti hatinya.


Untung saja dihari ospek terakhir ini kelas bubar lebih awal, pukul 3 sore. Biasanya selepas adzan Maghrib dia baru menginjakkan kaki dirumah. Belum lagi tugas yang menumpuk untuk dikumpulkan keesokan harinya. Mengorbankan waktu yang seharusnya dia habiskan untuk membantu Nindi di markas.


Baiklah, sudah cukup waktu membelenggu dirinya selama itu. Kini saatnya untuk berjumpa dengan perempuan itu. Levin yakin jika Nindi juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Levin rasakan.


Meskipun status mereka masih abu-abu dan entah mau dibawa kemana, tapi Levin merasa telah ada sebuah ikatan yang tercipta diantara mereka, yaitu rasa cinta.


Diapun berjalan dengan riang menelusuri koridor kampus untuk menuju ketempat parkir. Namun tak disangka, tiba-tiba saja seorang perempuan muncul dari balik koridor sebelah kiri, membuat Levin yang sedang berjalan Lurus tak bisa menghindari bertubrukan dengan perempuan itu.


Bukk!!


Byar!!


"Aaah." Perempuan itu memekik pelan, bukan karena kesakitan, karena tubrukan yang terjadi antara mereka tidak terlalu kencang. Mungkin perempuan itu merasa kaget karena kertas-Kkertas HVS berisikan tugas yang semula ada di genggamannya seketika berterbangan di udara sebelum akhirnya mendarat di lantai.

__ADS_1


Mulut perempuan itu terbuka dengan lebar, dengan cepat dia menutup mulutnya itu menggunakan tangan.


Levin juga terlihat kaget, dia merasa bersalah karena telah tak sengaja menabrak perempuan itu dan membuat tugasnya berantakkan.


Perempuan itu langsung berjongkok kemudian memunguti kembali tugasnya yang berserakkan.


"Sory sory, gue nggak sengaja. Gue lagi buru-buru soalnya." Ucap Levin tak enak hati.


"Ya." Perempuan itu hanya menyahut singkat, tangannya tak berhenti mengumpulkan kertas HVS yang mulai berterbangan lagi tertiup angin.


Melihat perempuan itu yang kewalahan membereskan kembali tugasnya, Levin berinisiatif untuk membantu, toh semua ini terjadi akibat separuh dari kesalahannya dan separuhnya lagi adalah salah perempuan itu.


Levin ikut berjongkok mrnyamai posisi perempuan itu dan mulai mengumpulkan tugasnya yang berserakan disana sini. Setelah memastikan tidak ada lagi kertas yang tertinggal, keduanyapun kembali berdiri.


"Sekali lagi, sory ya! Loe nggak apa-apa, kan? Apa ada yang luka?" Ucap Levin berbasa-basi sambil menyerahkan kertas-kertas yang berhasil dia kumpulkan.


Perempuan itu menatap Levin cukup lama. Laki-laki yang tampan, tinggi pula. Tapi dia merasa belum pernah melihat laki-laki itu sebelumnya di kampus.


"Gue nggak apa-apa, gue juga nggak liat ada orang mau lewat tadi." Ucap perempuan itu. Levin hanya tersenyum menanggapinya. Senyum yang begitu manis di mata petempuan itu. Apalagi laki-laki itu terlihat begitu mengkhawatirkannya, membuat perempuan itu jadi baper sendiri.


"Loe maha siswa baru ya disini?" Tanya perempuan itu kemudian.


"Ahh, iya, gue mahadiswa baru. Baru selesai ospek. Kenalin, nama gue Levin." Levin menyodorkan tangannya di hadapan petempuan itu.


"Oh, Levin, oke. Nama gue Clarissa." Merekapun saling berjabatan tangan.


***


Saat baru saja menginjakkan kaki disana, pertama kali yang bisa Levin dengar dengan jelas adalah suara mesin jahir yang sedang beroperasi. Levin tau kalau Nindi pasti masih ada di markas karena mereka akan pulang dan menyudahi pekerjaan mereka tepat pukul empat sore.


"Assalamulaikum." Salam Levin mungkin tak terdengar karena suara mesin jahit yang saling bersahutan.


Levin menyapu seluruh sudut markas itu dengan pandangannya, mencari sosok yang sangat dia rindukan. Dan dia berhasil menemukannya. Perempuan itu nampak sedang duduk di sudut ruangan sambil menatap kosong ke arah depan, tapi tangannya tak berhenti memainkan jarum diatas kerudung.


Tidak ada binar kebahagiaan di wajah perempuan itu, bibirnya tertutup rapat dan mengerucut. Terlihat jelas kalau dia sedang galau. Sudut bibir Levin tertarik keatas saat berpikir jika Nindi sedang melamunkan dirinya.


"Hey, Levin!" Levin menoleh kearah sumber suara, terlihat Vena sedang melambaikan tangannya pada Levin. Levin bisa mendengar seruan Vena karena Vena dan Tari sedang mempacking kerudung kedalam polybag didekat pintu masuk. Diapun segera menghampiri Vena .


"Kemana aja loe baru nongol sekarang? Loe udah bikin galau anak orang tau." Vena berkata dengan sinis, tidak suka jika Levin menyakiti hati sahabatnya.


"Gue kan udah mulai kuliah, jadi gue sibuk." Jawab Levin apa adanya.


"Alah, so sibuk loe." Vena mencela.


"Ya udah, gue mau samperin dia dulu." Ucap Levin, diapun beranjak dan mulai melangkah untuk menghampiri Nindi palsu.


Sheerin benar-benar tidak menyadari kehadiran seseorang didekatnya karena terlalu berlarut dalam lamunannya. Sampai sebuah tepukan di pundaknya membuat buyar seluruh lamunannya itu.


"Aww." Reflek Sheerin memekik saat jarum yang sedang dia pegang malah menusuk jari telunjuk sebelah kanannya. Belum sempat dia melihat siapa orang telah mengagetkannya, dia mendapati setitik darah segar yang keluar di bagian jarinya yang tertusuk jarum. Sheerin menekannya kuat-kuat agar daranya bisa keluar dengan mudah.


"Astaga! Kamu berdarah!"


Deg!

__ADS_1


Suara itu, Sheerin sangat hafal dengan suara itu, suara yang selalu dia rindukan, suara merdu yang selalu menyanyikan lagu indah menjelang dia tertidur dimalam hari.


Dengan gerakan kilat, Levin meraih jari telunjuk Sheerin, lalu menghisapnya kuat-kuat sampai Sheerin merasakan perasaan yang aneh di jarinya itu yang mulai merambat kebagian tubuhnya yang lain.


Sheerin terlihat kaget saat menyadari Levin sekarang berada tepat di hadapannya. Ternyata khayalannya telah menjadi kenyataan, Tuhan mengabulkan do'anya dalam waktu yang singkat untuk menghadirkan Levin di sampingnya.


Tanpa sadar mata Sheerin mulai berkaca-kaca, pandangannya memudar seiring dengan kabut yang muncul secara tiba-tiba di kornea matanya.


Levin menatap Nindi dengan dahi yang mengerut, sedangkan bibirnya masih tak berhenti menghisap jari tekunjuk Sheerin. Seperti mengatakan 'ada apa? Kenapa menatap aku seperti itu?'


"Levin!" Sheerin berseru dengan suara lirih, dia menarik paksa tangannya yang sedang di pegang Levin. Dengan reflek dia memeluk tubuh Levin dengan erat, dia begitu terharu, dia begitu rindu. Jadi biarkan dia menumpahkan seluruh hasratnya sekarang.


"Hey, kamu kenapa?" Tanya Levin, dengan cepat dia balik membalas pelukan Nindi.


"Kamu mau kesini kenapa nggak kasih kabar dulu?" Tanya Sheerin yang diiringi dengan sesegukan, sepertinya perempuan itu sedang menangis sekarang di dalam pelukan Levin. Dugaannya itu semakin kuat saat Levin merasakan kemejanya yang mulai basah akibat air mata.


"Maaf, aku cuma mau kasih kejutan buat kamu." Jawab Levin. Sheerin terdiam, hanya terdengar isakan kecil dari mulut Sheerin. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menumpahkan tangisannya, namun nyatanya dia tidak bisa melakukannya, cinta benar-benar melemahkan hatinya.


"Kenapa kamu nangis? Kangen?" Tanya Levin, tadinya dia hanya ingin menggoda, tapi Sheerin menganggapnya serius. Levin bisa merasakan jika Nindi sedang mengangguk dalam pelukannya.


Rasanya Levin ingin terbang sekarang, perempuan itu terlalu jujur dan polos.


"Ya udah, jangan nangis lagi. Kan aku udah ada disini sekarang." Ucap Levin membujuk.


"...aku punya sesuatu buat kamu." Imbuhnya kemudian.


"Apa?" Tanya Sheerin.


Levin memberikan coklat Diary Milk berukuran besar yang sempat di belinya tadi.


"Ini coklat kesukaan aku." Ucap Sheerin.


"Iya, aku tau. Makan sekarang ya! Kata orang makan coklat bisa membuat perasaan kamu jadi senang." Balas Levin.


"Itu mitos, karena yang membuat perasaan aku jadi bahagia itu cuma kamu." Ucap Sheerin malu-malu.


"Astaga! Kamu udah pinter gombal ya sekarang. Siapa yang ngajarin?" Ucap Levin sambil mencolek hidung Sheerin. Sheerin tak menjawab tapi malahmengerucutkan bibirnya dengan manja.


"Jangan nangis lagi ya." Levin menyusut sisa air mata yang tertinggal dipipi Sheerin dengan jemarinya.


"Tapi kamu janji harus selalu temui aku, jangan menghilang lagi." Ucap Sheerin.


"Iya, aku janji."


Akhirnya Levin pun ikut memakan coklat yang tadi dia bawa karena Sheerin terus memaksanya untuk mencicipi. Mengabaikan Revi yang sedang belajar menjahit berteriak-teriak menyinyir mereka yang sedang berpacaran.


"Woi, kalau mau pacaran cari tempat lain gih! Bikin gerah aja tau!"


"Alah, kamu sirik saja Rev, makanya cari pacar juga dong!" si mbak tukang jahit menyahuti dengan nada mencibir.


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...

__ADS_1


__ADS_2