
Siang harinya, Sheerin kembali ke ruang rawat inapnya.
Disana, Levin terus saja memandangi Sheerin yang terlihat agak berbeda dari hari kemarin. Sesekali bibirnya tersungging ke atas menampilkan sebuah senyum melihat wajah Sheerin. Sheerin merasa jengah dengan sikap Levin yang seperti itu, bukannya bicara atau memulai obrolan, laki-laki itu hanya memandangi dirinya tanpa berkedip sambil senyum-senyum.
"Ngapain sih kamu liatin aku kayak gitu terus dari tadi?" Sheerin yang mulai kesal dengan sikap Levin itu, melayangkan telapak tangannya dan mendarat tepat di pipi kanan Levin, menamparnya dengan penuh cinta. Levin malah tertawa mendapat tamparan cinta dari Sheerin.
"Memangnya kenapa? Nggak boleh ya?" Tanya Levin sambil tertawa.
"Bukan, ya cuma kurang kerjaan aja kamu liatin aku terus." Jawab Sheerin, wajahnya sudah memerah sedari tadi karena kelakuan Levin.
"Kamu tau nggak? Aku itu lagi seneng banget sekarang." Tanya Levin yang langsung dijawab langsung oleh dirinya sendiri.
"Seneng kenapa memangnya?" Tanya Sheerin kemudian.
"Tuhan itu baik banget ya ternyata. Dia udah menganugrahkan semua yang baik-baik dihidup aku. Kamu salah satunya." Jawab Levin, senyum merekan tak pernah pudar dari bibirnya.
"Oh ya? Masa?" Tanya Sheerin lagi.
"Iya. Dengar aku ya She!" Kemudian Levin mulai meraih tangan Sheerin, menggenggamnya erat-erat.
"Aku sayang kamu, aku mau kamu selalu ada di dalam pengawasan aku, aku nggak mau kamu hilang dari pandangan aku. Untuk mewujudkan itu semua, kamu harus jadi milik aku seutuhnya She. Dan sekarang aku mau meminta itu dari kamu. Maukah kamu jadi kekasih aku?" Tanya Levin, Sheerin bisa melihat, di matanya memancarkan sebuah harapan yang teramat besar. Ketulusan dan kesungguham ada disana.
Tak ada lagi alasan untuk Sheerin menolak Levin, diapun juga mencintai Levin dan Levin sudah maafkan kesalahan fatal yang ia buat dulu. Kemudian, Sheerin menganggukkan kepalanya sebanyak dua kali, mengisyaratkan jika dia bersedia menjadi kekasih Levin.
"Apa itu artinya sekarang kita jadian?" Tanya Levin memastikan.
"Iya, sayang." Tak tau malu, Sheerin langsung menyebut Levin sayang. Astaga!
Senyuman Levin semakin merekah, tak bisa menjelaskan dengan kata-kata kebahagiaan yang sedang dia rasakan.
"Makasih ya She, aku janji, apapun yang terjadi, aku pastikan aku akan selalu ada buat kamu." Merengkuh tubuh Sheerin dan mendekapnya penuh kelembutan.
"Promise?" Sheerin menaikan jari kelingkingnya.
"Promise." Levin menyatukan jari kelingking Sheerin dan miliknya, sehingga kelingking keduanya berpautan.
Janji terindah yang pernah Sheerin dapatkan. Kini, satu hal yang sempat hilang dalam hidupnya, mulai kembali kedalam genggamannya. Semoga saja ini adalah awal yang baik untuk segalanya, dan dia harap tak ada lagi sisa penderitaan yang tertinggal di dalam hidupnya.
***
Nindi bisa bernafas lega sekarang, selain kondisi Sheerin yang mulai membaik, juga ada si tengil yang menjagnya disana. Jadi siang ini Nindi bisa pulang ke rumah kak Bima dan beristirahat dengan nyaman untuk sejenak.
Nindi sangat merindukan bantal, guling dan selimut miliknya dirumah. Rasanya, sudah lama sekali Nindi meninggalkan mereka. Badannya pun serasa remuk, karena malam-malam yang dia habiskan dirumah sakit dan hanya tidur di atas sofa berselimutkan sarung milik kak Bima. Hihi.
Dan benar saja, saat menginjakkan kaki dirumah, suasana rumah terasa sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Bukankah itu bagus? Tidak akan ada orang yang merecoki dirinya dan menyuruhnya ini itu seperti biasa.
Hah, kenapa ayah mertua baru pergi sekarang? Kenapa tak dari dulu saja dia menghilang dari sini? Mungkin kehidupan rumah tangga Nindi dan kak Bima akan menjadi sangat sempurna.
Nindi merebahkan tubuhnya di kasur ternyaman itu, bau tubuh kak Bima masih melekat dengan pada seprai yang belum sempat dia ganti. Dia menghirup aroma itu dalam-dalam, aroma yang begitu dia sukai.
__ADS_1
Ahh, Nindi jadi rindu kak Bima. Jam berapa ya dia pulang? Melirik jam weker di atas meja. Pukul 12.06. Masih sekitar 5 jaman lagi. Pasti rasanya akan seperti 5 tahun. Tanpa sadar, matanya mulai terpejam, saking lelahnya telah menunggu Sheerin dan merawatnya selama 4 hari kebelakang. Masih sambil memegangi seprai wangi tubuh kak Bima. Siapa tau saja Nindi bisa bertemu dengan suaminya itu di alam mimpi.
***
"Aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Levin memulai topik.
"Tanya apa?" Sheerin balik bertanya.
"Kamu kenapa pergi dari ruang PMI waktu itu? Sebenernya mau kemana? Kenapa kamu diem di tengah jalan? Dan kenapa kamu nggak tunggu aku?" Pertanyaannya lebih dari satu, membuat Sheerin bingung mau menjawab yang mana.
Lalu ingat kembali perkataan Clarissa jika Levin tak perduli dan meninggalkannya setelah membawanya keruang PMI. Membuat Sheerin merasa sedih.
Saat itu, pikiran Sheerin sedang kacau, ditambah lagi sakit yang bersemayam di kepala dan juga seluruh tubuhnya, membuat dia seperti sadar tak sadar berdiri di tengah jalan.
"Emangnya kamu ke mana waktu itu?" Malah balik bertanya, belum ingin menjawab pertanyaan Levin sebelum semuanya menjadi lurus.
"Aku pergi ke apotek, beli obat buat kamu. Tapi pas aku kembali, kamu udah nggak ada di sana. Dan kamu nggak akan tau gimana paniknya aku saat kamu kecelakaan." Ucap Levin.
Sheerin terperanjat, jadi, waktu itu dia sudah termakan oleh omongannya Clarissa. Levin tidak pergi meninggalkannya begitu saja. Levin bahkan sangat mencemaskan keadaannya.
Jika saja Sheerin bisa sedikit pintar, mungkin kesalah pahaman ini takan pernah terjadi. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dan kini Levin benar-benar telah dia miliki, hatinya dan juga raganya.
"Makasih ya Lev, maaf aku malah salah paham sama kamu." Ucap Sheerin menyadari kebodohannya.
"Salah paham gimana? Tunggu dulu! Kamu belum jawab pertanyaan aku yang tadi!" Kini Levin mendesak Sheerin untuk bicara.
"Yaa, Clarissa yang bawa aku pergi dari ruang PMI dan dia bilang kamu pergi gitu aja setelah bawa aku ke sana. Waktu itu aku bener-bener down banget, apalagi kamu tau kan aku lagi sakit. Di tambah sehari sebelum itu mama baru aja ngusir aku dari rumah. Aku frustasi Lev, aku bener-bener hilang arah tujuan, aku seperti nggak punya semangat lagi buat lanjutin hidup." Menjabarkan semuanya dengan jelas.
"Ya nggak lah Lev, aku masih punya iman." Jawab Sheerin.
"Tadi kamu bilang Clarissa yang bawa kamu keluar dari ruang PMI? Tapi buat apa?" Tanya Levin.
Jika mengingat itu, Sheerin selalu merasa kesal. Mantan sahabatnya itu benar-benar keterlaluan, dia selalu saja berusaha merebut apa yang Sheerin miliki. Jika dulu Sheerin bisa selalu sabar menghadapi Clarissa, maka jangan harap untuk kali ini. Sheerin bertekad untuk memperjuangkan Levin sampai titik darah penghabisan.
"Dia bilang, aku harus jauhin kamu. Aku nggak boleh ketemu sama kamu lagi. Dia kan suka sama kamu." Bicara dengan nada sebal, apalagi saat di akhir kalimat, dia menekannya kuat-kuat.
"Hah? Clarissa bilang gitu?" Levin tak menunjukkan ekspresi berlebihan. Namun saat melihat kekesalan dari nada bicara Sheerin, Levin malah ingin menggodanya.
"Iya, kamu seneng kan sekarang, disukai sama banyak perempuan?" Sinis Sheerin bertanya.
"Dengerin aku ya She! Aku nggak bangga bisa disukai banyak perempuan. Tapi aku bahagia bisa dicintai dan mencintai satu perempuan. Itu hak Clarissa mau suka sama aku atau siapa. Tapi yang terpenting, aku cintanya sama kamu. Dan nggak ada siapapun yang bisa merubah fakta itu." Ucap Levin, kemudian menarik kepala Sheerin, meletakkannya di pundaknya.
Sheerin bergeming, dia percaya. Sangat percaya. Dia bisa menangkap kesungguhan dalam setiap intonasi yang Levin lontarkan.
Tuhan memang maha baik, dia masih menyisakan setidaknya satu sumber kebahagiaan. Saat semua pergi meninggalkan Sheerin, hanya Levin yang Tuhan sisakan didalam hidupnya.
Tuhan tidak bersabda jika hidup itu mudah, namun Tuhan mejanjikan jika di setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan. Dan Sheerin kini percaya akan hal itu.
Kebahagiaan tak selamanya menyertai kita di dalam hidup, pasti ada kesedihan dan air mata yang menjadi bumbu penyedap di dalam satu perjalanan hidup. Sheerin telah melewati manis getirnya kehidupan, namun begitu, semua pasti akan datang dan pergi silih berganti. Kebahagiaan, kesedihan, itu akan terus terjadi didalam hidup kita. Hanya saja bagaimana kita bisa menyikapi dan melihatnya dari sudut pandang yang positif, dan selalu berfikir positif.
***
__ADS_1
Sekitar pukul empat sore, Nindi terbangun dari tidurnya. Tidurnya terasa begitu nyenyak hingga dia kebamblasan hingga sore seperti ini. Itu artinya, kak Bima akan pulang dalam waktu kurang dari dua jam.
Cepat-cepat Nindi beranjak dari tidurnya, mandi sejenak, sehabis itu dia berencana untuk membeli lauk dqi warung nasi yang baru buka di depan kompleks sana untuk menyambut kepulangan kak Bima nanti.
Setelah siap dan mengambil uang secukupnya, Nindi keluar dari rumah, berjalan menyusuri halaman seorang diri.
Namun, dia merasa ada yang aneh, seperti ada orang yang sedang memperhatikannya dari jarak jauh. Namun saat dia mengedarkan pandangannya kesetiap arah, dia tak menemukan siapapun ada disana.
"Aneh!" Gumamnya pelan, dia mengangkat bahunya, merasa tak harus perduli, Nindi tak menghiraukan perasaan anehnya. Di terus melangkah menuju gerang utama.
Namun saat tangannya hampir saja menyentuh gerbang, seseorang berpakaian serba hitam membekamnya dari belakang menggunakan sapu tangan. Nindi merasakan tangan besar seseorang menyumpal mulutnya menggunakan kain, hingga Nindi kesulitan untuk bernafas, dia berontak, memukul-mukul tangan orang itu, agar dia terlepas dan bisa kembali menghirup oksigen dengan bebas.
Namun sayang, tenaga Nindi mendadak hilang seiring dengan bau menyengat yang masuk ke rongga hidungnya. Semua menjadi gelap. Nindi tak sadarkan diri karena obat bius yang di berikan pada sapu tangan itu.
***
Menjelang petang, Bima tiba dirumah sakit. Sengaja dia langsung pergi kesana untuk menemui istrinya, sepanjang hari dia bekerja, hatinya merasa tak begitu tenang. Selalu saja Nindi yang menjadi pemeran utama di dalam pikirannya.
"Syukurlah jika kalian sudah berbaikan, aku selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian." Ucap Bima saat mendapati Sheerin dan Levin kini terlihat bahagia.
"Iya, kak terimakasih." Ucap Sheerin malu-malu.
"Oh ya, dimana Nindi?" Tanya Bima kemudian.
"Tadi siang kan dia pulang ke rumah kak Bima. Sampai sekarang belum balik lagi kesini." Jawab Sheerin.
"Seperti itu ya? Kenapa dia tidak menghubungiku? Bahkan saat aku menelpon, dia tidak mengangkatnya." Bima terlihat kecewa.
"Coba aja anda langsung cek ke rumah. Mungkin dia lagi nunggu anda disana. Kayaknya dia nggak akan balik kesini deh." Gaya bahasa Levin yang aneh.
"Ya sudah, aku titip adik iparku ini. Jaga dia baik-baik ya!" Bima menepuk pundak Levin pelan.
"Pasti!" Levin mengacungkan jempolnya kearah Bima.
***
Bima memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah, pintu gerbang bahkan masih terkunci tadi, terpaksa Bima harus turun terlebih dulu dan membukanya sendiri.
Apa iya istrinya itu ada di rumah? Tapi kenapa suasana rumah terasa sepi seperti ini? Biasanya istrinya itu akan menyambut kepulangannya dengan senyum yang merekah.
Bima berjalan melewati teras, lalu membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Kenapa Nindi bisa seceroboh ini tidak mengunci pintu saat dirinya tidak ada dirumah?
"Assalamualaikum, sayang?" Bima mulai memasuki rumah, melalui ruang tengah dan mencari keberadaan istrinya itu di dapur.
Namun Nindi tak ada di setiap penjuru ruangan. Bima menghembuskan nafas berat. Mungkin dikamar. Kemudian dia mulai menaiki satu persatu anak tangga, menuju lantai dua. Suara sepatu yang dia kenakan menimbulkan suara nyaring ditengah keheningan.
Krek!
Bima membuka pintu kamarnya yang ternyata juga tak di kunci. Matanya memicing saat melihat pemandangan yang menyesakkan dada itu terjadi di depan matanya sendiri.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...