Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Flash back


__ADS_3

Kota Tasik Malaya, 27 Januari 2002.


Kala itu, langit malam tengah menangis hebat, hujan turun dengan lebatnya, sambaran kilat saling bersahutan memekakkan telinga setiap orang yang mendengarnya.


Suasana diluar sana sangat mencengkam, hembusan angin yang bertiup kencang bahkan mampu menerbangkan benda-benda yang berserakkan dijalanan. Tak ada seorangpun yang berani keluar dari dalam rumah, bahkan aliran listrik sengaja diputus demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Semua gelap gulita, bahkan sang bulan yang biasanya menyinari, kini tertutup awan hitam yang begitu pekat.


Hati setiap manusia terasa gundah dan risau berada didalam situasi seperti ini. Hanya bisa berdo'a dalam hati agar keadaan ini cepat berlalu. Dengan keyakinan, habis gelap terbitlah terang, setelah hujan badai malam ini, pasti akan ada cahaya matahari yang menyapa esok hari. Hanya saja, waktu terasa berjalan dengan lambat.


Di sebuah rumah dinas, seorang ibu muda nampak sedang berusaha menyusui bayinya yang sedang rewel, seperti bayi itu tengah merasakan bahwa keadaan diluar sana sedang tidak aman.


"Cup, cup nak, jangan menangis lagi!" Fira, begitu perempuan itu sering dipanggil. Dengan sabar dirinya menggendong sambil tak hentinya menyodorkan asi meskipun bayi itu terus menolak.


Beberapa saat dirinya mencoba untuk menenangkan sang bayi, akhirnya si bayi mulai tenang dan mau menerima asinya.


Diapun duduk di tepi ranjang guna mencari posisi yang nyaman untuk menyusui.


Sedangkan diluar sana sambaran petir masih terus terdengar, serasa menyambar kedalam hati Fira.


"Mbak, mbak." Seorang perempuan yang jauh lebih muda darinya terlihat muncul dari balik pintu kamar dengan tergesa-gesa.


Fira mendongak.


"Kenapa dek?" Tanya Fira cemas, feelingnya berubah semakin tidak enak saat melihat raut wajah babby sister kudua bayinya itu.


"Shireen mbak, Shireen kejang-kejang!" Ucapnya dengan nafas yang tersendat karena habis berlari menuju kemari.


"Apa? Kenapa bisa? Bukankah tadi sore demamnya sudah mulai turun?" Tanya Fira kemudian.


"Aku juga tidak tau mbak, tapi suhu tubuhnya mencapai 42° celcius sekarang." Laporan sang babby sister.


Tubuh Fira melemas saat mendengar informasi tersebut, kenapa hal serupa bisa sampai terjadi lagi pada putri keduanya? Dia tak ingin terlambat dan kembali menyesal setelah dia kehilangan putri pertamanya.


Dia beranjak dan menyerahkan putrinya yang mulai terlelap dalam pangkuannya kepada sang babby sister.


"Tolong jaga Sheerin, aku akan membawa Shireen ke rumah sakit." Ucap Fira.


"Sekarang mbak?" Tanya babby sister itu tak yakin.


"Iya, sekarang. Aku tidak ingin terlambat, Anya." Ucapnya kemudian.


"Kita tunggu pak Lukman pulang saja mbak, sekalian menunggu hujan badainya berhenti." Cegah babby sister yang Fira panggil Anya itu, yang kita ketahui sekarang sebagai ibu sambungnya Sheerin, mama Anya.


"Ayahnya anak-anak tidak akan pulang dalam waktu yang cepat, sedangkan Shireen butuh pertolongan sesegara mungkin. Kamu mengerti tidak sih Anya?" Saking paniknya Fira sampai membentak Anya.


Hampir saja dirinya menangis karena merasa khawatir terhadap putrinya. Anya terdiam setelah mendapat bentakan dari Fira.


"Kamu tidak memiliki anak, kamu tidak akan mengerti bagaimana rasanya kehilang seorang anak. Sudah cukup aku ditinggalkam Sandrina, jangan sampai Shireen juga meninggalkanku. Tanpa mereka, maka tidak ada gelaran ibu bagiku." Setelah mengucapkan kalimat itu, Fira pergi menuju kamar lain, dimana Shireen berada. Meninggalkan Anya bersama bayinya di kamar itu.


Sengaja kedua bayi kembar itu dipisahkan karena sang kakak tengah demam sebelumnya.


Didalam kamar yang hanya mengandalkan pencahayaan lilin itu, seorang bayi kecil nan mungil tengah berjuang melawan sakitnya. Dengan cepat Fira merengkuh dan menggendong Shireen sambil bercucuran air mata.


Teringat saat anak pertamanya, Sandrina meregang nyawa didalam pangkuannya sendiri akibat penyakit DBD yang membuatnya kejang-kejang. Tak jauh berbeda dengan keadaan Shireen saat ini.


Kali ini dia tak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, dengan berbekal tekad dan keyakinan dia akan pergi membawa Shireen ke rumah sakit.


"Pak, pak!" Fira berteriak memanggil supir keluarga mereka.


"Iya mbak." Seorang pria paruh baya datang sambil terpogoh-pogoh.


"Kita kerumah sakit sekarang!" Tegas Fira.


"Tapi diluar sedang hujan badai mbak." Sang supir kembali mengingatkan.

__ADS_1


"Kamu tidak melihat? Anak saya sedang kesakitan, kamu masih memperdulikan hujan badai? Ayo cepat kita pergi sekarang!" Perintah Fira tak terbantahkan.


"Baik mbak."


Akhirnya, malam itu Fira pergi menuju rumah sakit menerjang hujan dan badai yang tak kunjung berhenti.


Sementara itu, Anya menyibak tirai jendela kamar saat mendengar suara mesin yang dinyalakan, kemudian dia melihat mobil milik keluarga Lukman perlahan bergerak maju menerobos derasnya rinai hujan.


Dia mengetikkan sebuah pesan pada seseorang melalui ponselnya.


Seringai jahat kemudian muncul disudut bibirnya saat menerima pesan balasan dari orang itu.


***


"Lebih cepat lagi pak!" Dengan tidak sabaran Fira berkata dari kursi belakang.


"Ini sudah maksimal mbak, saya tidak bisa menambah lagi kecepatan mobil ini. Selain jalanan yang licin, berbelok-belok dan menurun, jarak pandangnya juga begitu pendek, mbak." Ujar sang supir.


Fira semakin gelisah mendengar penuturan sang sopir.


Sementara putrinya telah berhenti kejang dan sekarang malah tak sadarkan diri dalam pangkuannya.


Dia mendekap sang putri semakin erat, bahkan air matanya kini sudah membanjiri pipi mungil milik buah hatinya bersama dengan Lukman itu.


"Bertahanlah nak. Kamu pasti sembuh. Sebentar lagi kita sampai dirumah sakit." Fira berkata dengan lelehan air mata yang tak berhenti keluar. Dia seolah tegar, namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia merasa takut. Takut kehilangan.


Dia tidak ingin kembali gagal dalam merawat anaknya, lalu untuk apa dia hidup jika anak-anaknya pergi meninggalkannya.


"Kamu pasti kuat sayang." Fira mengelus pipi sang putri.


Ciiit...


Tiba-tiba mobil yang ditumpangi mereka berhenti, membuat Fira terkejut.


"Di depan ada pohon tumbang mbak, kita tidak bisa lewat." Ucap si supir.


Astaga! Apa lagi ini?


Wajah Fira sekarang sudah banjir dengan air mata, kenapa banyak sekali halangannya, bagaimana dengan nasib bayinya sekarang? Fira benar-benar kesal sekaligus sedih.


"Lalu bagaimana ini pak? Shireen harus segera di beri penanganan." Ucap Fira histeris.


"Mbak tunggu sebentar, pohon itu tidak terlalu besar, mungkin saya bisa menyingkirkannya terlebih dulu." Ucap si supir, kemudian dia memakai jas hujan yang memang selalu ada di mobil itu untuk melindungi diri dari air hujan, meskipun dia sendiri tidak yakin akan berhasil 100%, setidaknya dia telah berusaha, bukan?


Menerobos derasnya hujan yang bercampur angin, pantas saja pohon ini sampai tumbang. Sedikit beruntung karena sambaran petir sudah tak semengerikkan sebelumnya. Dia rela melakukan apapun sebagai bentuk pengabdiannya kepada sang majikan.


Fira menunggu didalam mobil dengan tak karuan. Semoga saja supirnya itu berhasil dan mereka akan segera tiba dirumah sakit.


Jika tau kejadiannya akan seperti ini, dia tidak akan ikut suaminya untuk meninjau langsung proyek pembangunan untuk salah satu anak cabang perusahaannya.


Sudah hampir dua pekan keluar mereka berada di kota ini, rencananya pekan depan mereka akan kembali ke ibu kota. Awalnya semua berjalan dengan mulus dan sangat baik, bahkan mereka sempat mengunjungi beberapa destinasi wisata terkenal disana saat Lukman memiliki waktu luang. Mereka sangat menikmati kebersamaan yang ada, melupakan sejenak kesedihan yang melanda setelah kematian putri pertama mereka.


Semua berubah menjadi suram saat Shireen terkena demam sampai kejang-kejang. Sungguh, Fira tak tau bagaimana reaksi suaminya jika tau putri kedua mereka dalam keadaan tidak baik-baik saja bahkan sampai tak sadarkan diri.


Ya, Fira harus memberitahu suaminya itu apapun yang terjadi, bahkan hal pahit sekalipun, itu komitmen mereka bahkan jauh sebelum ijab qobul terucap dari mulut Lukman.


Kemudian Fira mencoba menelfon nomor ayah si kembar. Namun tidak ada jaringan saat itu. Firapun memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja. Memberitahukan jika Shireen kejang-kejang dan dia sedang di perjalanan menuju rumah sakit. Tak lupa dia menyuruh Lukman untuk menyusul saat setelah selesai dengan urusan pekerjaannya.


Tanpa dia ketahui apa yang terjadi diluar sana.


Meskipun banyak halang rintang akibat hujan yang deras dan pohon yang berat, sang supir berhasil menyingkirkan pohon yang memalang hingga ke tengah jalan itu, dia menarik pohon itu dengan susah payah hingga ke tepian jalan.


BUKK!!

__ADS_1


Sesaat setelah selesai menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba saja rasa sakit yang teramat dia rasakan setelah sebuah balok kayu menghantam kepalanya dengan sangat keras. Dia masih bisa mengingat sesuatu, kemudian menoleh kebelakang meskipun dengan pandangan yang mulai kabur, sama-samar dia melihat seorang pria yang siap kembali menghantamnya dengan balok kayu yang sama.


"Arrrgh!" Erangan kembali terdengar setelah pukulan kedua dilayangkan.


Tanpa ampun, seseorang itu kembali menghantamkan balok kayu kepada kepala dan bagian tubuh lain si supir, tak cukup tiga kali bahkan empat kali, dia terus memberikan pukulan bertubi-tubi sampai akhirnya si supir tak sadarkan diri.


Seketika cairan merah yang berasal dari tubuh si supir menyatu dengan air hujan dan mengalir begitu saja mengikuti arus yang ada.


Pria itu menyeringai setelah melihat korbannya tak berdaya, kemudian dia mulai melucuti jas hujan yang di pakai supir itu.


***


"Kok lama sekali sih, pak? Ayo jalan, kita harus cepat tiba dirumah sakit!" Fira mengoceh tak karuan.


Tanpa menjawab, pria yang dianggap Fira sebagai supirnya itu menekan pedal gas dengan kecepatan tinggi sekaligus.


"Astaga pak, jangan ngebut-ngebut, bahaya, jalanannya licin dan menurun." Fira tak bisa diam barang sedetik saja, jika tega dia ingin sekali memarahi supirnya itu. Tapi ini bukan waktu yang tepat, anaknya sedang berada antara hidup dan mati.


Rupanya si pria itu ingin bermain-main dengan Fira, dengan sengaja dia membelok belokkan mobil ke kiri lalu kekanan, begitu hingga beberapa kali.


"Ahh, pak! Kamu mau kita celaka apa?" Jantung Fira rasanya hampir saja meloncat akibat gerakan mobil yang tidak menentu.


Merasa si supir tidak menggubris perkataannya, Fira kembali berceloteh karena merasa ketakutan dan kesal.


"Apa mobil ini yang rusak? Atau kamu yang tidak bisa menyetir sih?" Fira dengan geramnya berkata.


Pria yang duduk di bangku kemudi memutar kepalanya 100°, menoleh kearah Fira dengan seringai aneh yang terukir di bibirnya.


Fira terlonjak kaget, pasalnya pria itu bukanlah supir yang bersama dengannya tadi. Pantas saja setelah kembali dari menyingkirkan pohon supirnya itu hanya tutup mulut ketika Fira bicara.


"S... Siapa kamu? Dimana pak Rudi?" Tanya Fira dengan tergugup-gugup karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang asing di hadapannya.


"Aku adalah malaikat, malaikat pencabut nyawamu dan putrimu Fira! Haha." Seketika suara tawa pria itu memenuhi seluruh isi mobil.


"M... Maksud kamu apa? Jangan macam-macam!" Fira semakin ketakutan, kakinya sudah gemetar menahan seluruh perasaan yang bergemuruh hatinya.


Merasa jika dirinya dan sang bayi sedang dalam bahaya, ahh, tapi bukankah sebelum ini mereka memang sedang dalam situasi yang tidak aman? Lalu apa yang harus ibu muda itu lakukan?


"Sayang sekali, kamu harus menjadi korban atas kesalahan yang suamimu lakukan, Fira. Dia harus menanggung akibatnya dengan kehilangan semua anggota keluarganya. Haha." Pria itu semakin melebarkan tawanya, kemenangan telah berada di depan matanya.


Sedangka Fira berusaha menahan guncangan pada mobil yang bergerak tan beraturan.


"Mau kamu apa? Cepat berhenti disini." Ucap Fira.


"Kenapa? Bukankah kamu harus pergi ke rumah sakit? Ahh, tidak tidak. Aku tidak akan mengantarmu ke sana, aku akan sekalian mengirimmu dan putrimu itu ke kuburan. Haha." Pria itu bicara dengan mengerikkan.


Bahkan Fira sampai kesulitan bernafas menghadapi keadaan seperti ini, dia semakin mengeratkan pelukkannya terhadap sang bayi, berharap ada seseorang yang datang menolongnya dan secepatnya dia bisa terlepas dari situasi berbahaya ini.


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Fira!" Perkataan terakhir pria itu sebelum dia membanting setir ke arah kanan, jalanan yang licin dan menurun semakin mempermudah pekerjaannya.


Pria itu membuka pintu mobil dan meloncat keluar sebelum akhirnya mobil yang mereka tumpangi memasuki jurang yang terjal. Masih sempat dia mendengar jerit tangisan histeris Fira.


"Toloooooong! Toloooooong!"


Pria itu jatuh terguling-guling diatas aspal, lumayan sakit memang, tapi dia begitu puas dengan hasil kerja kerasnya. Dia bangkit dari terjatuhnya, dengan susah payah dia berjalan menuju tebing.


"Hahaha." Dia tertawa puas saat melihat kobaran di tengah pekatnya malam itu. Pastilah kedua ibu dan anak itu tidak akan selamat. Hujan perlahan mulai reda, tak mampu memadamkan api yang semakin menyebar dan melahap mobil itu.


Tak berselang lama terdengar sebuah ledakkan yang sangat keras di bawah jurang sana. Dan kali ini pekerjaan pria itu telah usai dengan hasil yang memuaskan.


___________


...Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.......

__ADS_1


__ADS_2