Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Pemakaman ayah


__ADS_3

Matahari perlahan merangkak naik meskipun wujudnya tak nampak, pagi ini terasa tak seindah pagi-pagi sebelumnya. Langit dipenuhi awan gelap, rintik hujan masih belum reda, seolah langit pun ikut bersedih akan kepergian Lukman.


Sheerin di dampingi Nindi berada di barisan paling depan dalam prosesi acara pemakaman Lukman. Sepanjang prosesi berlangsung, Sheerin tak henti-hentinya menangis, mengucapkan kata-kata maaf dan penyesalannya. Tak bisa dipungkiri, hati Nindi terasa tersayat-sayat oleh ribuan pisau tajam yang menghujam hatinya. Tanpa disadari, kini Nindi ikut menangis, kedua perempuan itu saling menumpahkan segala lara yang mereka rasa.


Sedangkan satu persatu orang yang mengantarkan Lukman menuju peristirahatan terakhirnya mulai berpamitan pulang, namun Bima masih setia memegangi payung agar istrinya tak terkena rintikan hujan yang masih turun. Tak sedikitpun dia beranjak dari tempatnya berada, yaitu dibelakang Sheerin dan Nindi.


Ini salah satu cara untuk melindungi istrinya. Meskipun Nindi tak menganggap berarti hal seremeh itu.


Sedangkan mama Anya, dia sudah terlebih dulu masuk kedalam mobil, tentu saja dia tak ingin bajunya menjadi basah karena rintik hujan. Bahkan mungkin sekarang mobilnya telah melesat pergi bersama Luis, lalu merayakan kematian dengan penuh suka cita.


"Kita harus pulang sekarang, nanti kalian bisa kembali lagi ke sini setelah situasinya sedikit tenang." Bima mulai berkoar dibelakang sana.


"Aku masih mau menemani papa." Ucap Sheerin dengan suara paraunya.


"Iya kak, beri Sheerin sedikit waktu lagi." Nindi membela Sheerin, membuat Bima merasa dirinya di nomor duakan. Sekarang, Nindi lebih menomor satukan perempuan yang mirip dengannya itu. Bukannya Bima tidak melihat situasi, hanya saja hatinya mendadak jadi egois ingin memiliki Nindi seorang diri. Kekanakan memang, bahkan Bima sendiri tak habis fikir dengan dirinya sendiri, kenapa bisa perasaan aneh ini bersarang di hatinya?


Baiklah, kini Bima tau hal apa yang bisa menggiring kedua perempuan itu untuk ikut pulang bersamanya.


"Aku mendapat pesan jika ibumu dan Yuvi sudah tiba dirumah. Jadi, apa kalian masih ingin tetap berada disini?" Tanya Bima kemudian.


"Apa? Ibu sama kak Yuvi udah ada di rumah?" Sheerin mengulangi perkataan Bima.


"Ya." Bima menjawab alakadarnya.


"Kita harus pulang sekarang Nin!" Sheerin memberi sedikit jarak antara dirinya dan Nindi.


"Tunggu dulu!" Nindi menahan tangan Sheerin agar tidak beranjak dulu.


"Kenapa?" Tanya Sheerin bingung.


"Menurut loe, apa ibu bakalan marah sama gue?" Nindi balik bertanya, raut kecemasan mulai memenuhi wajahnya.


"Gue juga nggak tau." Jawab Sheerin seolah pasrah.


"Kita jelaskan saja semuanya kepada ibumu, insyaallah ibumu mau berlapang dada untuk memaafkan kalian." Ucap Bima.


"Ya udah." Balas Nindi.


"Ayah, Sheerin pulang dulu ya. Sheerin janji akan sering mengunjungi ayah disini, ayah yang tenang ya disana. Tidur yang nyenyak." Sheerin bicara sambil mengusap papan nisan bertuliskan nama ayahnya.


Mereka bertiga pun mulai beranjak pergi meninggalkan area pemakaman. Sheerin dan Nindi berjalan bergandengan, seolah tak ingin terpisahkan, meninggalkan Bima yang berjalan seorang diri di belakang.


Diluar nampak laki-laki itu biasa saja, namun jauh di dasar jiwanya, Bima menyimpan perasaan iri, harusnya sekarang dirinyalah yang bersanding dengan Nindi, bukan malah kembarannya itu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah almarhum Lukman, Sheerin tak pernah melepaskan diri dari dekapan Nindi, mereka duduk di bagian belakang mobil Bima, membuat Bima merasa seperti supir pribadi mereka.


Sesekali Bima melirik melalui spion di depannya, nampak Sheerin yang begitu manja kepada Nindi. Dia merasa dirinya memiliki saingan, seharusnya dirinyalah yang berada diposisi Sheerin sekarang, ber manja-manja kepada sang istri, namun, apa yang malah dia dapatkan?


Sementara itu,


Ibu dan Yuvi terlihat kebingungan saat tiba disebuah rumah yang lokasinya Nindi kirimkan melalui aplikasi WhatsApp tadi. Yuvi sempat merasa aneh, apa mungkin sekarang mereka sedang salah alamat? Pasalnya, rumah ini terlalu mewah untuk kalangan menengah kebawah seperti mereka. Dan ada urusan apa juga Nindi sampai harus jauh-jauh menyuruh mereka datang kesana.


Yuvi dan ibu terlihat berdiri memantung didepan gerbang utama rumah Lukman sambil memperhatikan keadaan disekitar. Sebuah payung berwarna hitam menjadi pelindung bagi ibu untuk berteduh dari rintik hujan


Semakin merasa bingung, beberapa rangkaian bunga ucapan bela sungkawa berjejer di sepanjang halaman rumah itu, bahkan aroma bunga masih tercium segar di indra penciuman mereka.


Sempat berpikir untuk pergi dan kembali membawa ibu pulang, namun seorang pria berseragam secutrity datang dan menegur mereka.


"Maaf, apa ibu ini ibunya Nindi dan kakaknya Nindi, Yuvi?" Begitu si satpam menegur.


Ibu dan Yuvi saling beradu pandangan, ternyata mereka tidak sedang tidak salah alamat, lantas, ada urusan apa Nindi dengan pemilik rumah besar ini?


"Ya, saya kakaknya Nindi, memangnya Nindi dimana sekarang? Dia tidak sedang membuat keributan dirumah ini, kan?" Tanya Yuvi yang mulai khawatir terhadap adiknya. Bukan tanpa sebab Yuvi berpikir seperti itu, dari pengalaman yang sudah-sudah, Nindi pasti sedang dalam masalah dan meminta bantuan untuk menyelesaikan masalahnya.


Apalagi terakhir adiknya itu berpamitan dan tak jelas akan pergi kemana. Bahkan sampai semalaman dia tak kunjung kembali, lalu pada pagi harinya dia mengirim pesan untuk segera datang ke rumah ini.


"Oh, tidak tidak." Si security menjawab sambil menggelengkan kepala cepat.


"Kalian tunggu saja didalam! Sebentar lagi non Nindi pulang kok." Ucap si security.


Tunggu-tunggu, ini Yuvi tidak sedang dijebak oleh seseorang, kan? Apa mungkin ada seseorang yang meng-atas namakan Nindi agar mereka untuk datang kemari? Tapi untuk apa?


"Ahh, nggak apa-apa pak, kita nunggu disini aja." Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Yuvi bisa bergerak cepat membawa ibu pergi, begitu Yuvi berpikir panjang.


"Ini lagi gerimis lho, nanti bisa pilek. Lagian non Sheerin juga berpesan kalau kalian sudah datang suruh tunggu didalam." Bujuk si security.


"Siapa Sheerin?" Tanya ibu kebingungan.


Tin... Tin...


Belum sempat si security menjawab, suara klakson dari sebuah mobil terdengar dibunyikan, membuat ketiga orang itu menoleh secara bersamaan.

__ADS_1


Cepat-cepat ibu dan Yuvi bergeser posisi ke tepi, sadar jika mereka sedang menghalangi jalan masuk mobil itu.


Namun, dahi keduanya mengerut saat melihat seseorang yang baru saja turun dari mobil itu dan berlari kecil menghampiri mereka.


"Ibuu!" Nindi berteriak histeris saat melihat kedua orang terdekatnya kini ada di hadapannya. Jika boleh jujur, Nindi sangat merindukan mereka.


"Nindi!" Ibu dan Yuvi memekik bersamaan. Dengan senang hati mereka menyambut pelukan Nindi.


Namun Yuvi merasa ada yang janggal, Nindi memeluk mereka dengan posesif seolah telah lama tidak berjumpa. Bukankah mereka baru semalam berpisah? Waktu selama itu terlalu singkat untuk mengatakan rindu pada seseorang.


"Nindi kangen banget." Ucap Nindi dengan nadanya yang dibuat manja.


Yuvi melepaskan diri dari kungkungan Nindi, lalu menatapnya penuh selidik.


"Apa semalaman kamu berada disini? Dan apa yang lagi kamu lakuin di rumah besar ini?" Tanya Yuvi kemudian.


"Kamu tidak sedang dalam masalah kan, nak?" Ibu mengelus rambut Nindi, sentuhan hangat yang selalu Nindi rindukan dari seorang ibu.


Nindi terdiam, dia juga bingung sendiri harus memulai pengakuannya dari mana.


"Ibu, kak Yuvi!" Satu lagi makhluk keluar dari dalam mobil, siapa lagi kalau bukan Sheerin, sedangkan Bima sedang menunggu waktu yang tepat untuk memperkenalkan diri sebagai suaminya Nindi. Tentu saja menjadi suami Nindi adalah gelar terhebat yang pernah di sandangnya.


Sontak ibu dan Yuvi menoleh kearah Sheerin, bahkan saat mendengar suaranya saja, mereka sudah merasa ada yang aneh, pasalnya si pemilik suara sedang tidak membuka mulut. Mereka fikir itu adalah suara Nindi.


Deg!


Seketika payung yang berada di genggaman tangan ibu terlepas begitu saja. Saat pandangan mata mereka bertemu, seolah bumi sedang tidak berputar pada porosnya. Atau bahkan mungkin saat ini pasokan oksigen yang ada diruangan terbuka itu hilang secara tiba-tiba. Ibu dan Yuvi merasakan kebingungan yang sama.


"Nindi!" Yuvi menatap bergantian Nindi yang tepat berada di hadapannya dan Sheerin yang jaraknya kurang dari lima meter itu. Tentu saja dengan alis yang mengerut. Berpikir jika ini hanyalah halusinasi akibat semalaman dia tidak bisa tidur karena terlalu banyak memikirkan adiknya yang baru saja mengetahui rahasia besar dalam hidupnya.


Ahh, ya! Yuvi pasti hanya sedang berhalusinasi, mana mungkin Nindi bisa berpecah jadi dua seperti ini.


"Vi, Nindi kok ada dua?" Ibu tak kalah kaget dari Yuvi, dia merangkul lengan Yuvi, karena kalau tidak, ibu sendiri yakin jika dirinya akan jatuh tersungkur.


"Aku juga nggak tau bu." Yuvi menjawab dengan linglung.


"Jadi, diantara kalian, mana yang Nindi?" Setelah merasa dirinya sedang di permainkan, Ibu kemudian bertanya.


"Kita bicarakan masalah ini di dalam saja." Satu suara lagi ikut bergabung dalam situasi yang membingungkan ini. Suara kak Bima yang baru saja turun dari kereta kencananya.


***


"Jadi, diantara kalian, mana yang Nindi." Yuvi yang sudah gatal langsung melontarkan pertanyaan saat baru saja bokongnya mendarat di kursi.


"Wajah kalian begitu mirip. Apa ini semua ada hubungannya dengan pembicaraan kita semalam?" Tanya Yuvi lagi.


"Baiklah kak, bu. Disini aku mau mengakui satu kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan." Sheerin bicara dengan serius. Sedangkan semua orang yang ada disana bersiap untuk menyimak.


"Sebelumnya aku mau minta maaf karena selama ini aku udah berbohong sama ibu dan kak Yuvi. Tapi percayalah bu, aku sama sekali nggak ada niatan jahat ke kalian. Aku cuma mau lari dari perjodohan paksa yang di rencanakan oleh mama tiri aku." Sheerin menarik nafas sejenak.


"...dia Nindi yang asli, tapi selama kurang lebih dua bulan terakhir, aku meminjam posisi dia. Nindi begitu baik hati mau membantu aku yang sedang dalam kesusahan. Tapi..." Sheerin melirik kearah Nindi, memberi kode supaya Nindi yang melanjutkan ceritanya.


Nindi paham, karena selama perjalanan menuju rumah ini, mereka sudah menyusun kata-kata untuk meminta maaf kepada ibu dan kak Yuvi.


"Tapi, aku malah jatuh cinta sama laki-laki yang akan di jodohkan sama Sheerin. Dan sekarang aku udah menikahi dia bu." Pengakuan Nindi.


"Kamu bercanda nak?" Ibu bertanya dengan tak percaya.


"Aku mohon kalian jangan membenci aku, meskipun aku tau perbuatan aku ini nggak mudah untuk di maafkan."


"Jadi, yang semalam tak sengaja mendengarkan pembicaraan kita itu berarti bukan Nindi?" Tanya Yuvi masih


"Pembicaraan apa?" Tanya Nindi yang memang tak tau apa-apa.


"Pembicaraan kalau loe itu bukan anak kandung ibu." Sheerin yang menjawab.


Nindi terkesiap, lagi-lagi Sheerin membahas soal itu. Nindi benar-benar tersinggung di buatnya.


"Apa itu bener, bu?" Tanya Nindi, berharap ibunya itu menjawab tidak.


"Maaf kan ibu nak, kamu memang tidak lahir dari rahim ibu. Tapi percayalah, ibu menyayangimu sama seperti ibu menyayangi Yuvi." Ibu berkata sambil menunduk dalam. Meskipun masih bingung mana Nindi yang asli.


"Apa? Kenapa bisa bu? Ibu lagi becanda, kan?" Nindi bertanya sambil menyeringai tak percaya.


"Ibu tidak berbohong nak. Baiklah ibu akan ceritakan semuanya dari awal."


Ibupun memulai kisahnya dimasa lalu. Menceritakan kembali kepada Nindi apa yang telah diceritakannya kepada Sheerin semalam.


***


Langit pagi ini tak secerah biasanya, suasana dingin begitu terasa menusuk lalu menembus kedalam kulit.

__ADS_1


Levin baru saja tiba di parkiran, setelah memarkirkan motor kesayangannya dengan benar, Levin bergegas masuk ke area kampus. Di tengah cuaca dingin seperti ini, minum kopi panas mungkin adalah pilihan yang paling tepat, Levin sendiri sudah membayangkan bagaimana nikmatnya kopi itu saat mengalir di tenggorokannya.


Lagipula, ini masih terlalu pagi, belum banyak mahasiswa yang berkeliaran di sekitar kampus. Tentunya masih ada waktu untuk Levin sejenak menenangkan fikirannya.


Meskipun di bawah matanya terdapat dua buah kantung, namun Levin dapat dengan mudah menyembunyikannya dibalik kaca mata hitam yang ia kenakan.


Jangan bertanya bagaimana Levin bisa mendapatkan kantung mata itu, semalaman suntuk setelah pulang dari rumah duka dan menemukan fakta yang mencengangkan, Levin sama sekali tidak dapat terlelap dalam tidurnya.


Bayangan saat Nindi mengakui telah menipu dirinya terus saja terngiang di kepalanya. Kecewa, begitu yang Levin rasakan sekarang. Bagaimana bisa dia sebodoh itu tidak bisa membedakan jika yang selama ini menjalin hubungan tanpa status bersamanya bukanlah Nindi asli.


Dia kesal, bukan marah kepada siapapun, melainkan terhadap dirinya sendiri. Meninggalkan Nindi palsu semalam menyisakan sebuah penyesalan di hatinya. Bagaimanapun juga, tak bisa dipungkiri jika dirinya sudah terlanjur nyaman berada disisi Nindi palsu itu. Sikapnya yang lembut dan sentuhan tangannya yang halus, jauh berbanding terbalik dengan Nindi yang kasar dan urakan.


Hah, Levin sendiri masih tak habis fikir, bagaimana bisa dulu dia menyukai perempuan itu.


"Bu, gooday cappucinonya satu!" Levin berteriak pada si ibu kantin sesaat setelah duduk di salah satu kursi yang ada.


"Siap bos!" Begitu si ibu menyahut.


Levin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, tak berselang lama, si ibupun datang sambil membawa pesanan.


"Makasih bu." Si ibu hanya mengangguk kemudian berlalu pergi, membiarkan pelanggannya menikmati secangkir kopi itu.


Levin kembali meletakkan cangkir kopi setelah dua kali menyeruputnya perlahan.


Fikirannya masih belum lepas dari Nindi palsu. Tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Sheerin, Levin begitu saja pergi meninggalkannya, menaruh sejuta kekecewaan di benaknya.


Apa tindakan Levin ini terlalu jahat? Apa lagi dengan begitu teganya semalam dia meninggalkan Sheerin yang menghiba dan berderai air mata sambil memohon-mohon kepadanya.


Tapi, apa perduli perempuan itu? Pastilah selama ini perempuan itu tak pernah memiliki perasaan apapun terhadap dirinya. Namun dengan segenap hati, Levin malah menyerahkan seluruh cintanya kepada Nindi palsu itu.


Ahh, entahlah, kepala Levin semakin pening ketika memikirkan semua tentang perempuan itu. Baiknya dia segera menghabiskan kopi atau tidak kopi itu akan berubah menjadi dingin.


Diapun kembali menyeruput kopi yang tinggal sisa setengahnya.


Biasanya, Levin selalu mengabari Nindi palsu dalam situasi apapun, namun sekarang, dia terlalu malu untuk melaporkan kegiatannya kepada Sheerin. Pasti sekarang dia sudah tak ingin tau lagi segala tentang Levin.


Sedih memang mengingat jika Sheerin hanya mempermainkan cintanya saja selama ini, ahh, Levin mulai paham sekarang, kenapa perempuan itu tak kunjung mau menerimanya sebagai kekasih, ternyata ini alasannya. Sheerin tak pernah mencintai dirinya.


Hiks, Levin menangis dalam diam.


Dia tak ingin terlalu lama berlarut dalam kesedihannya, diapun memutuskan untuk menemui teman-teman batunya dan mulai berbaur. Levin segera beranjak dan hendak membayar tagihan kopinya.


"Berapa bu?" Tanya Levin.


"Goceng aja, biasa" Jawab si ibu.


"Oke." Levin merogoh saku belakang jeas yang dia kenakan, mencari-cari keberadaan dompetnya.


Namun, dia tak menemukan apapun disana.


'Oh, mungkin didalam tas.'


Levinpun mulai mencarinya didalam tas, namun dompet otu tak kunjung ada.


Astaga!


Apa Levin lupa membawa dompet tadi? Bisa sangat fatal urusannya.


"Aduh bu, dompet saya ketinggalan deh kayanya." Ucap Levin.


Raut wajah si ibu yang tadinya ramah seketika berubah menjadi masam.


"Alah, paling alesannya kamu aja. Saya udah tau model mahasiswa kaya kamu ini, tampilannya aja keren, padahal sebenernya bokek." Balas si ibu dengan bibir yang berkerut, tentu saja, dia tak ingin menambah list mahasiswa yang sering berhutang di kantinnya.


Levin hanya melongo mendengar ucapan si ibu.


"Ini biar saya yang bayar." Seorang perempuan datang dan menyodorkan uang kepada si ibu penjaga kantin.


"Ehh." Levin terkesiap saat melihat perempuan itu, perempuan yang sama dengan yang tempo hari dia temui.


"Clarissa, lupa lagi, ya?" Tanya perempuan itu saat melihat Levin yang tengah terkaget-kaget.


"Ahh, ya! Clarissa!"


Levin cengar cengir tak jelas, ingin sekali rasanya dia menenggelamkan wajahnya pada kerak bumi yang terdalam. Kini rasa malunya bertambah berkali-kali lipat, dimana hargadirinya sebagai seorang laki-laki?


Apalagi si ibu kanti menatapnya dengan tidak suka, seperti mengatakan, 'cowok kere, maunya di teraktir sama cewe.'


Bukankah itu suatu tamparan keras untuknya??


______________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca,,


__ADS_2