Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Bab 57


__ADS_3

3 hari kemudian.


Bram menjemput Elizabeth di rumah.


Elizabeth sudah waktunya libur, namun magangnya masih seminggu lagi. Bram tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa dirinya di perintahkan untuk menyemput Elizabeth dan mempersilahkan Elizabeth bersiap.


"Kita mau kemana sih?" Tanya Elizabeth pada Bram yang sedang menyetir.


Arah mobil berlawanan dengan kantor Abraham.


"Tuan besar hanya memperintahkan saya untuk menjemput anda nyonya" balas Bram.


"Tapi.. pasti ngasih tau kan jemput aku dan bawa akan kemana, kan?" Lanjut Elizabeth tidak mau kalah.


"Iya anda benar, nyonya. Tapi tuan besar juga berpesan untuk tidak memberi tahu anda" jawab Bram.


"Dih" jawaban Bram menutup mulut Elizabeth.


"Anda tenang saja, nyonya. Tuan besar tidak akan membawa anda ketempat yang berbahaya" ucap Bram.


"Aku tau!" Balas Elizabeth.


"Bram apa kita masih lama?" Tanya Elizabeth karena mobil telah berjalan 1 jam.


"Sebentar lagi, nyonya"


30 menit kemudian. Mobil terhenti di bandara.


"Bandara, Kak?" Ucap Elizabeth yang turun dari mobil.


"Iya, nyonya" jawab Bram "Anda bisa masuk, tuan besar sudah menunggu anda di dalam" lanjut Bram mempersilahkan.


Elizabeth berjalan masuk diikuti Bram dari belakang.


"Honey" panggil Elizabeth saat melihat Abraham berdiri tidak jauh darinya.


"Kau sudah sampai?!" Tanya Abraham "Lama sekali!" Ucapan ini untuk, Bram"


"Maafkan saya, tuan besar" balas Bram.


"Emang kita mau kemana ha, honey?" Tanya Elizabeth.


"Kau akan tau nanti" jawab Abraham


"Mau taunya sekarang" Elizabeth memasang wajah cemberutnya.

__ADS_1


Melihat itu Abraham tersenyum dan mencubit pipi Elizabeth gemas.


Kita akan jalan-jalan. Sejak menikah kita belum pernah jalan-jalan, kan? balas Abraham sambal mengusap lembut kepala Elizabet.


"Apa kita akan bulan madu?" tanya Elizabeth senang namun juga agak terkejut.


" Bisa di bilang begitu"


"Tapi akukan engga ada liburan, Honey?"


"Kita akan pulang minggu depan sebelum kau mulai magang, sayang " Jawab Abraham


"Hanya kita berdua, ya?"


"Hanya kita berdua"


"Kau yakin hanya kita berdua?" kali ini Elizabeth tidak percaya jika hanya mereka berdua. Abraham mengerutkan keningnya karena pertanyaan Elizabeth itu.


"Apa aku pernah berbohong padamu?"


"Ah tidak aku tidak yakin saja, jika benar-benar hanya kita berdua. Biasanaya kau akan selalu membawa Bram, Sekertaris Kim dan pengawal lainya"


"Sekertaris Kim, aku perintahkan untuk menghandel pekerjaan dikantor dan Bram aku perintahkan dia untuk membantu Sekertaris Kim"


"Oh" Jawab Elizabeth


"Ha?! "


"Mereka sudah pasti ikut, karena itu memang tugas mereka dan mereka pasti tidak akan mengganggu kita”


Elizabeth terteguh dengan ucapan Abraham.


"Dih itu namanya engga berdua, Honey" protes Elizabeth


"Kenapa? Apa kau hanya ingin berdua denganku?" tanya Abraham "Kita bisa di kamar saja, mereka pasti tidak akan masuk ke kamar dan dapat aku pastikan kita berdua saja"


"Tidak!Emang kita mau ke mana?" Elizabeth mencoba menglihkan pembicaraan


"Sepertinya sudah siap, Ayo kita akan berangkat" Abraham mengulurkan tangannya dan Elizabet mulai menggandengnya


Abraham dan Elizabeth memasuki kabin pesawat pribadi di sana penumpangnya hanya Elizabeth dan Abraham. Ya walau ada pramugarinya sih tapi penumpang hanya mereka berdua, untuk pengawal ada di pesawat lain, atau malah sudah menunggu di sana.


"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu jika pesawatnya sudah mendarat?" ucap Abraham.


"Tidak! Aku engga ngantuk kok, Honey. Aku ingin melihat. Lihatlah di luar sangat indah, Honey" Ucap Elizabeth menunjuk pada jendela.

__ADS_1


Bukannya melihat ke jendela Abraham malah fokus pada wajah Elizabeth yang tersenyum cerah.


“Kok malah ngelihatnya ke aku sih?" protes Elizabeth saat tau Abraham malah melihat padanya.


"Karena kamu lebih cantik dari pemandangan manapun" balas gombal Abraham.


Abraham memeluk Elizabeth dan mulai menciumi pipinya. Elizabeth mendorong Abraham pelan, dia malu dengan pramugari yang beridiri tidak jauh dari mereka.


"Apa kau tak melihat ada orang lain? Malu tau" ucap Elizabeth. Wajah Elizabeth sudah merah padam di buatnya.


"Jangan pedulikan dia. Dia tidak melihat kita" balas Abraham yang terus menciumi wajah Elizabeth.


"Sudah akh! Dia punya mata kali dan dia juga bukan sekertaris Kim yang akan bilang tidak melihat walau melihat " ucap Elizabeth kesal sambal mendorong Abraham menjauh.


Abraham melirik pada pramugari- pramugari itu, dan para pramugari langsung memberi hormat dan pergi dari ruangan itu keruangan sebelahan..


8 jam kemudian. Pesawatpun mendarat.


Baru turun dari pesaawat, Seseorang langsung memberikan jaket pada Elizabeth dan Abraham dan langsung memasangkannya pada bahu mereka berdua


" Wah Dimana ini?" tanya Elizabeth yang baru keluar dari pesawat, mereka berdua menghabiskan waktu di pesawat dengan tidur.


" Apa?! Sekarang beneran udah jam segini? Kita di dalam pesawat 7 jam lebih hampir 8 jaman?" ucap Elizabeth ketika melihat jam.


"Tentu! Kita di udara hampir 8 jam"


"Emang kita dimana sekarang, honey?"


"Paris"


"Paris? Kita di paris sekarang?" tanya Elizabeth yang tidak percaya.


"Iya. Kenapa? Bukankah Paris merupakan kota romantis" Abraham membacanya di google


"Ayo permaisuriku. Kita jelajahi negeri ini" ujar Abraham menggulurkan tangannya pada Elizabeth.


Elizabeth menerima uluran itu dan mereka berjalan sambal bergandengan tangan.


Elizabeth yang berada di belakang Abraham melihat punggung tinggi itu, yang tangannya menggenggam tangannya sangat erat. Seorang pria yang tidak dikenal Elizabeth, kemudian menjadi suaminya. Suami yang sangat mencintainya, yang selalu memberikan kejutan yang sangat indah.


"Tuhan aku mencintai pria ini. Semoga ini bukan sebuah mimpi dan aku tidak ingin bangun jika ini hanya sebuah mimpi"


Abraham menarik tangan Elizabeth pelan dan membuat Elizabeth merangkul tangannya. Mereka terlihat bagaikan pasangan yang serasih dan elegan sekarang.


Seseorang membukakan pintu mobil untuk Abraham dan juga Elizabeth masuk.

__ADS_1


Mobil berjalan ke buah hotel.


__ADS_2