
Perlahan sinar matahari mulai nampak dari ufuk timur, menelusup hingga celah dedaunan, menyapu kabut yang menyelimuti bagian bumi tertentu. Mengusir hawa dingin yang sejak semalam tercipta, dan menggantikannya dengan rasa hangat yang ia pancarkan.
Seorang perempuan berjalan dengan riangnya sambil bersenandung kecil, sebuah kunci dia putar-putar di jari telunjuknya. Sempat terjatuh, namun dengan cepat dia kembali memungutnya.
Dia adalah Tari, dia selalu menjadi orang pertama yang datang ke markas untuk persiapan bekerja. Terlihat sangat bersemangat, kemudian membuka pintu dengan kunci yang terjatuh tadi. Sejak dijadikan konveksi, Sheerin banyak merenovasi markas ini sehingga menjadi tempat yang lebih nyaman untuk mereka bekerja.
"Na nana na nanana." Tari membuka kain penutup mesin jahit, tentu saja supaya mesin itu tak dihinggapi debu. Sesekali dia menutup hidungnya agar tak termasuki debu.
Namun saat dia menyibak kain yang menutupi kerudung siap kirim, dia menemukan seonggok tubuh yang terbaring disana. Sudah panik duluan karena menganggap itu adalah mayat.
Namun, sepertinya Tari mengenali sosok itu dari perawakannya.
"Astaga!" Tari mulai mendekati perempuan itu, kemudian mengguncang tubuhnya.
"Bangun dong, loe Sheerin apa Nindi sih?" Tanya Tari dengan polosnya, namun yang di ajak bicara tetap bergeming.
Tari merasakan suhu panas pada tangan yang dia guncang.
"Astaga, loe demam. Hey, bangun dong!" Semangatnya luntur seketika, berubah menjadi sebuah kepanikan.
Sheerin membuka matanya ketika mendengar keributan. Kemudian beranjak duduk. Rasa pusing seketika menjalar di kepalanya, bahkan tubuhnya terasa sakit saat di gerakan. Namun Sheerin berusaha untuk tetap terlihat kuat.
"Syukurlah loe sadar. Loe Sheerin apa Nindi?" Tari mengulangi pertanyaan yang sama.
"Gue Sheerin Tar." Bahkan bibirnya terlihat pucat saat menjawab.
"Loe ngapain tidur disini sih? Dan badan loe juga panas banget. Loe demam ya?" Tari memberondong Sheerin dengan pertanyaannya.
Iya, Sheerin merasakan jika tubuhnya menggigil sekarang. Mungkin karena semalam dia hujan-hujanan dan tak sempat mengganti pakaian sehingga baju yang dia kenakan kering sendiri di tubuhnya.
"Nggak apa-apa, gue lagi pengen aja."
"Loe yakin? Wajah loe pucat banget She!"
"Oh ya, ini jam berapa ya?" Alih-alih menjawab, Sheerin malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Jam setengah 7." Jawab Tari.
"Astaga Tar, gue telat. Gue harus ke kampus, hari ini ada kelas pagi." Sheerin terlihat panik.
"Loe yakin mau ke kampus? Loe lagi demam lho She!" Tari memegang bahu Sheerin untuk memastikan.
"Gue nggak apa-apa kok. Loe tenang aja ya!" Sekali lagi, Sheerin menunjukkan senyum palsunya.
***
Dan setelah melepaskan kepergin Sheerin dengan penuh drama, akhirnya Tari kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Itu tadi si Sheerin ya?" Tanya Roni yang baru saja datang, dia berpapasan dengan Sheerin di depan. Tari menoleh sambil mangut-mangut.
"Heeh."
"Tumben pagi-pagi banget dia udah datang. Langsung cabut lagi. Ini bukan tanggal kita gajian kan?" Tanya Roni lagi.
"Bukanlah, baru juga minggu lalu kita gajian." Jawab Tari.
"Terus ngapain?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Gue juga nggak tau, kayaknya dia tidur disini deh semalam." Tari dengan sabarnya meladeni pertanyaan Roni.
"Siapa yang tidur disini semalam?" Revi kali ini yang datang dan langsung menimbrung.
"Itu si Sheerin, kasihan deh, kayaknya dia demam, tapi maksain buat berangkat kuliah." Revi mangut-mangut.
"Siapa yang demam?" Astaga! Satu lagi makhluk yang datang dan ikut-ikutan kepo, Nindi.
"Kembaran loe. Loe tau kenapa dia bisa tidur disini semalam?" Jawab dan tanya Tari.
"Apa? Sheerin tidur disini semalam?" Tanya Nindi tak percaya.
"Heeh." Jawab Tari.
Nindi terdiam, mencoba berpikir sejenak, bukankah semalam Sheerin berpamitan untuk menginap di rumahnya Lea? Tapi kenapa dia malah tidur di markas? Apa Sheerin berbohong? Sepertinya ada sesuatu yang sedang Sheerin coba sembunyikan dari Nindi.
Baiklah, Nindi akan mengintrogasinya nanti saat mereka bertemu.
***
Entah kenapa rasanya pusing sekali, seperti ada burung-burung yang berputar mengelilingi kepala Sheerin. Namun Sheerin berusaha untuk tetap mempertahankan kesadarannya.
Sepanjang kelas berlangsung, Sheerin sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Hingga akhirnya bel tanda kelas berakhir terdengar juga.
Sepertinya Sheerin harus mencari makan terlebih dahulu, dia baru ingat jika sejak kemarin sore dia belum mengisi perutnya. Mungkin itu yang menyebabkan otak dan tubuh Sheerin tidak berfungsi dengan baik. Untung saja dia masih memiliki sejumlah uang dalam rekeningnya. Dan biaya kuliah telah di lunasi ayahnya hingga dia wisuda nanti.
Semakin lama Sheerin berjalan, dia merasakan jika kakinya tidak sedang berpijak pada lantai. Raganya seolah tengah melayang-layang, dia memegangi kepalanya yang semakin berat, rasa dingin terus menerus menikam sekujur tubuhnya. Bahkan jaket tebal sekalipun tak mampu menepis rasa dingin itu.
Penglihatannya kini mulai ngeblur, seperti ada kabut tebal menghalangi pandangannya. Sheerin mengaku kalah, dia benar-benar tak kuat lagi sekarang. Akhirnya, tubuh kurus kecil itupun tumbang, tergeletak begitu saja diatas ubin dingin.
Mahasiswa-mahasiswi yang menyaksikan itu bukannya menolong, mereka malah asyik menggunjing dan berbisik-bisik tentang keburukan Sheerin. Bahkan ada yang berpikir jika Sheerin sedang terkena azab sekarang.
***
Levin baru saja keluar dari kantin sambil membawa satu minuman kaleng ditangannya, dan saat itu, pemandangan sangat mencolok perhatiannya yang langsung di suguhkan di hadapan matanya.
"Sheerin!" Kaleng minuman dingin itu langsung terlepas dari genggaman tangannya. Secepat kilat dia berlari ke arah tubuh tak berdaya itu.
Di rengkuhnya kepala itu, kemudian mengguncangnya kuat-kuat.
"Sheerin, bangun. Kamu kenapa?" Levin menepuk-nepuk pipi Sheerin, hawa panas yang langsung Levin rasakan, padahal sejak tadi, Sheerin merasakan tubuhnya menggigil. Wajah pucat itu mengingatkan Levin akan kata 'PENYESALAN' yang pernah kak Bima katakan waktu itu. Tidak, semoga Levin belum terlambat.
Hatinya mulai gelisah, sepertinya Levin pernah merasakan perasaan cemas seperti ini. Waktu di puncak, ya! Saat perempuan itu tenggelam Levinpun merasakan perasaan yang sama. Perasaan takut dan panik yang luar biasa.
"Udah lah, nggak usah di tolongin, buang-buang waktu aja. Orang kayak dia nggak pantes di tolongin."
"Iya, udah biarin aja dia. Paling nanti juga bangun sendiri."
"Kalian itu keterlaluan ya, ada orang pingsan kalian malah biarin gitu aja. Gimana kalau seandainya kalian yang ada di posisi dia sekarang? Hah?" Levin tak sadar membentak mahasiswa yang mencibir Sheerin. Murka, mungkin Levin murka melihat Sheerin diperlakukan seperti ini. Tak sadar diri jika dirinyalah yang lebih banyak menyakiti Sheerin disini.
Tak lagi memperdulikan ocehan orang-orang yang masih kontra dengan apa yang Levin lakukan, Levin mengangkat tubuh Sheerin, kemudian membawanya ke ruangan PMI.
Dari arah yang berlawanan, Clarissa baru saja tiba di lokasi kejadian dan melihat Levin yang seperti orang kebakaran jenggot membopong mantan sahabat yang sangat di bencinya.
"Lho, Lev, ngapain lo...?" Ucapan Clarissa menggantung karena Levin mengabaikannya, bahkan tak sedikitpun Levin menoleh ke arahnya.
Sial!
__ADS_1
Kesal, itu yang Clarissa rasakan sekarang. Seperti ada kobaran api yang membakar habis hatinya. Kenapa Sheerin selalu saja mendapatkan perhatian dari laki-laki yang sedang diincar olehnya?
Ini tak bisa dibiarkan!
Cepat-cepat Clarissa mengikuti Levin yang punggungnya hampir hilang ditelan koridor.
***
"Gimana keadaannya kak? Baik-baik aja kan?" Levin langsung menodong seniornya dengan pertanyaan.
"Dia demam, tubuhnya menggigil. Dan tensinya juga rendah, dia kekurangan darah. Itu yang menyebabkan dia pingsan tadi. Tapi nggak usah terlalu khawatir, selebihnya baik kok." Senior perempuan itu menjelaskan dengan ramah.
"Syukurlah!" Levin mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
"Jagain ya pacarnya, jangan sampai pingsan lagi. Kasian dia." Si senior menepuk pundak Levin.
"Dia bukan pacarnya, loe tau sendiri kan si Sheerin itu udah nikah?" Clarissa yang menjawab. Levin menoleh, baru sadar jika Clarissa juga ada disana.
"Oh ya? Sorry, gue kurang minat ngikutin gosip di kampus ini. Jadi gue nggak tau."
"...dan ini, loe tebus dulu gih obatnya di apotek, nanti kalau udah sadar langsung suruh dia minum!" Senior memberikan resep pada Levin.
Levin menerimanya dengan ragu, dia tak ingin pergi, dia ingin menunggu perempuan itu sadar. Dia harus menjadi orang pertama yang Sheerin lihat ketika dia membuka mata nanti. Levin bersumpah, dia akan bertekuk lutut dan memohon ampunan dari perempuan itu. Dia tak ingin apa yang dikatakan kak Bima menjadi kenyataan, sebelum terlambat, Levin harus membuang jauh-jauh egonya, demi bisa bersana dengan perempuan itu, ya! Levin akan memperjuangkannya mulai detik ini.
Bahkan setelah melewati banyak shalat malam, hanya wajah Sheerin yang muncul di mimpinya. Membuat Levin semakin yakin akan perasaan aneh yang selalu dia rasakan saat bersanding dengan perempuan itu.
Dengan berat berat hati, Levin pergi ke apotek terdekat untuk menebus obat Sheerin.
Clarissa merasakan ada sesuatu yang aneh dengan sikap Levin terhadap Sheerin. Bukan tidak mungkin jika Levin memiliki perasaan kepada mantan sahabatnya itu, meskipun Clarissa tau Sheerin kini sudah bersuami.
Dia harus menyingkirkan Sheerin, atau Levin selamanya takan pernah bisa dia miliki. Sudah cukup Alvin dan kak Bima, jangan sampai Levin sekarang ikut-ikut terjerat oleh perempuan laknat itu.
Krek!
Clarissa membuka pintu ruang PMI dengan kasar, kemudian berjalan menghampiri Sheerin yang masih belum sadarkan diri.
"Heh! Bangun loe, dasar perempuan gatel!" Clarissa mengguncang tubuh Sheerin sekuat tenaga yang dia miliki, namun nyatanya caranya itu tak cukup ampuh.
Kemudian di raihnya gelas berisikan air putih, tanpa memikirkan apapun lagi, dia menyiramkan air itu tepat pada wajah Sheerin. Wajah yang jika Clarissa memandangnya, sudah di pastikan dia akan merasa muak.
"Aaaakhpp." Sheerin gelagapan terjaga dari pingsannya, sumpah demi apapun, Sheerin merasa banjir bandang tengah menerjang saat air itu mendarat di wajahnya.
Seketika selimut, seprai, dan kasur tak lagi kering karena ikut tersiram air, termasuk pakaian yang Sheerin kenakan. Sheerin mengusap wajahnya yang basah, nafasnya tersengal, seperti habis lari maraton, berusaha untuk mengembalikan kesadarannya, butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya Sheerin melihat Clarissa ada di hadapannya sedang menatapnya dengan tatapan mematikan.
"Ris, loe kenapa siram gue?" Tanya Sheerin masih dengan intonasi halusnya.
"Loe memang pantas mendapatkan itu setelah apa yang udah loe lakukan ke gue selama ini!"
"Gue udah bener-bener muak sama loe. Pertama Alvin, kedua kak Bima, dan sekarang loe juga mau rebut Levin dari gue? Iya? Hah?"
"Loe itu bener-bener nggak tau diri ya? Setelah loe di usir sama kak Bima terus sekarang loe mau coba buat deketin Levin? Hahaha, menyedihkan banget sih hidup loe itu!" Melipat kedua tangan didada dengan angkuh.
"Dengerin aku baik-baik ya Ris, aku nggak pernah nikah sama kak Bima, yang nikah sama kak Bima itu Nindi, kembaran aku." Sheerin berusaha sepelan mungkin menjelaskan pada Clarissa, dengan harapan Clarissa mau mengerti.
________________
***Hayooo, gimana nih kelanjutannya???
__ADS_1
Kita kasih si Sheerin menderita sekali lagi ya, biar si Levin ini menyesal seumur hidup, author nggak mau si Levin bisa bahagia dengan mudah setelah banyak menyakiti Sheerin...
tetap tinggalkan jejak setelah membaca***...