
Motor yang dikendarai Levin baru saja keluar dari area rumah sakit, melaju dengan kecepatan sedang, kemudian setelah melaju lebih dari seratus meter, dia menambah laju kecepatannya diatas kecepatan maksimal, jalanan yang lengang serasa jadi miliknya sendiri.
Kecewa, hati Levin terasa sangat sakit ketika Sheerin mengusirnya dari sana. Dia seakan melampiaskan kekesalannya pada jalanan dengan main kebut-kebutan.
Terbayang kembali wajah Sheerin yang hampir saja menangis saat menyuruhnya pergi dari samping Sheerin, perempuan itu menolak kehadirannya. Padahal, saat Sheerin sadar adalah momen yang sangat dia tunggu-tunggu.
Dia pikir, setelah Sheerin sadar, pertemuan kembali antara mereka akan terasa sangat bahagia. Namun nyatanya, lagi-lagi Levin harus bersabar. Tuhan tak membiarkan Levin merasakan kebahagiaan dengan semudah itu.
"Pergi kamu dari sini, aku nggak mau liat kamu!" Seru Sheerin masih terngiang ditelinga Levin, bahkan matanya sudah berkaca-kaca dan memerah, tapi Levin tak sempat melihat tangis itu sampai pecah. Tangisan yang tertahan itu seolah menggambarkan jika apa yang mulutnya katakan itu tak sesuai dengan kata hatinya.
Namun dengan tidak tau malunya Levin tetap berdiri tegak dihadapan Sheerin dan menghiba agar tetap di biarkan tinggal.
"Plis She, aku mau disini temenin kamu!" Levin bahkan tetap berusaha meraih tangan Sheerin meskipun Sheerin telah menepisnya berulang-ulang.
"Nin, bawa dia pergi dari sini!" Sheerin beralih pada Nindi karena Levin sangat keras kepala tak mau mendengarkan perkataannya.
"Udahlah ngil, loe cabut dulu! Sheerin butuh waktu buat tenangin diri." Ucap Nindi.
"Aku nggak akan pergi sebelum kamu maafin aku She! Plis maafin aku!" Levin masih bersikeras.
Nindi menarik kepala Levin agar sedikit mendekat kearahnya.
"Apaan sih?" Tanya Levin, merasa risih sengan tindakan Nindi.
"Sini dulu, gue mau bisikin loe!" Jawab Nindi, kemudian setelah mendapat penjelasan, Levinpun mulai mendekatkan telinganya kearah Nindi.
"..... ..... ...... ... ...... ... ..." Nindi nampak berbisik-bisik ditelinga Levin, Sheerin tak bisa mendengar dengan jelas apa yang Nindi katakan, dia hanya menyimaknya dengan dahi yang mengerut, dengan hati yang berdebar juga.
Levin nampak mangut-mangut pertanda setuju dengan apa yang Nindi katakan.
"Oke She, aku pergi dulu sekarang, tapi besok aku pasti datang lagi kesini. Tunggu aku ya!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Levinpun berlalu dari ruang rawat inap Sheerin dengan berat hati.
***
"Astaga Nin, kepala gue sakit denger pertanyaan-pertanyaan loe itu." Pura-pura dia memegangi kepalanya untuk menghindari pertanyaan Nindi yang sedang tidak ingin dia jawab.
"Oke, loe menghindar. Loe itu selalu aja kaya gini She, selalu menutup-nutupi dan nggak pernah mau cerita yang sebenernya ke gue. Loe nganggap gue ini kakak loe bukan sih?" Nindi terlihat tidak senang karena Sheerin tak begitu terbuka kepada dirinya.
__ADS_1
"Bukannya gitu..." Ucapan Sheerin menggantung.
Krek!
"Assalamualaikum." Suara decitan pintu beriringan dengan salam dari orang yang membukanya.
"Wa'alaikumsalam." Sheerin dan Nindi menjawab bersamaan.
"Kak Bima!" Nindi beranjak dari duduknya saat sadar jika orang itu adalah pangeran dalam hidupnya. Kemudian meraih tangan kanan kak Bima dan menciumnya sekilas. Sedangkan tangan kirinya terlihat menjinjing sebuah bungkusan.
"Kamu sudah makan?" Tanya kak Bima.
"Belum, itu kakak bawa apa?" Nindi melirik paprer bag yang di bawa Bima.
"Ini untuk makan malam kita. Oh ya, bagaimana keadaan Sheerin?" Kemudian beralih melirik adik iparnya, yang ditanya langsung melempar senyum.
"Aku udah baikan kok kak." Jawab Sheerin.
"Syukurlah. Maafkan aku karena tidak memberimu izin untuk tinggal dirumahku malam itu. Jika saja aku menerimamu, mungkin kamu tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini." Ucap Bima yang membuat Nindi terperangah. Sedangkan Sheerin terlihat tak mempermasalahkan itu lagi.
"Iya nggak apa-apa kok kak, udah lewat ini kejadiannya." Jawab Sheerin berlapang dada.
"Tunggu dulu, apa maksudnya kakak ngelarang Sheerin tinggal dirumah malam itu? Dan loe berbohong kalau loe mau kerumah Lea biar gue nggak khawatir, gitu?" Tanya Nindi meminta klarifikasi.
"Iya sayang, maafkan aku ya!" Untuk pertama kalinya kak Bima nyengir kuda, menunjukkan deretan gigi putihnha kearah Nindi.
Astaga!
Nindi melengos sebal, jadi kak Bima masih saja cembu kepada Sheerin, begitu? Kekanak-kanakkan sekali. Kemudian geleng-geleng kepala.
"Tapi setelah kamu pulang dari rumah sakit, kamu boleh tinggal dirumahku. Selama yang kamu inginkan, anggap saja sebagai penebus dosaku." Ucap Bima kemudian.
"Makasih ya kak. Maaf aku jadi merepotkan kalian." Jawab Sheerin.
"Tapi, gimana sama ayah kak Bima? Dia aja nggak suka ada aku di rumah itu, apalagi ditambah Sheerin." Ucap Nindi sambil mengangkat kedua bahunya.
"Ayah sudah beberapa hari tidak pulang. Dan setelah aku periksa ke kamarnya, ternyata semua pakaian di lemarinya juga tidak ada. Mungkin ayah akan pergi dalam jangka waktu yang cukup lama." Jawab kak Bima.
__ADS_1
"Oh ya? Emangnya dia kemana?" Nindi merasa sangat kepo.
"Aku juga tidak tau." Jawaban yang membuat Nindi kecewa, padahal dia ingin tau lebih banyak lagi tentang ayah mertua misteriusnya itu.
"Memangnya ayah sering ya pergi-pergi lama kayak gitu?" Mulai memancing lagi, sebelum keingin tahuannya terpuaskan.
"Ya, seperti itulah, dari dulu ayah sering memang sering pergi tanpa kabar dan kembali pulang secara mendadak. Bahkan dulu ayah pernah tidak pulang sampai satu bulan lebih." Jawaban kak Bima itu malah menambah ke-kepoan di dalam hati Nindi semakin melambung tinggi.
"Memangnya ayah kerja apa sih ka?" Baru berani bertanya sekarang setelah sekian lama, takut menyingnggung sebenarnya, tapi ya sudahlah, sudah tanggung ini bertanya.
"Ayah memiliki beberapa cabang bengkel mobil di dalam dan luar kota." Jawab Kak Bima.
Nindi mangut-mangut saja setelahnya, tapi, dia kok tidak begitu yakin dengan apa yang suaminya itu katakan. Bukan menganggap kak Bima membohonginya, hanya mencurigai ayah mertuanya yang menyembunyikan pekerjaan sebenarnya kepada kak Bima.
***
Keesokan harinya, keadaan tubuh Sheerin kini mulai semakin membaik, namun tidak dengan hatinya. Perkataan Nindi kemarin terus saja menari-nari di pikirannya sepanjang malam, bahkan terbawa hingga ke alam mimpi.
Saat Clarissa dan Levin benar-benar bersatu dan bahagia bersama, sedangkan dirinya selamanya merasa tersiksa. Sheerin tidak bisa terus menerus mempertahankan sikap so jual mahalnya atau semua itu akan menjadi kenyataan.
Bahkan pagi itu Sheerin sudah membersihkan diri dibantu oleh Nindi, sengaja agar saat Levin datang nanti laki-laki itu tidak terlalu ilfeel karena Sheerin tidak mandi selama berhari-hari. Hihi.
By the way, kemarin Levin kan bilang jika besok dirinya akan kembali untuk menemui Sheerin. Iya kan? Sheerin sudah mempersiapkan diri dan menunggu kedatangan Levin. Membayangkan akan seperti apa permasalahan di antara mereka terselesaikan.
Sedangkan Nindi, dia sedang pulang ke rumah kak Bima untuk mengambil pakaian ganti. Dan kak Bima sendiri mengantar Nindi, kemudian setelahnya dia harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang karyawan di satu perusahaan.
Sheerin nampak memegangi sebuah cermin ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegangi lipstik, lalu memoles bibirnya agar tak terlalu pucat. Dia memperagakan sebuah senyuman di depan cermin itu, senyum yang nantinya akan dia gunakan untuk menyambut kedatangan Levin.
Astaga!
Sheerin benar-benar sedang labil sekarang. Kemarin saja dia mengusir-ngusir Levin dan berkata jika benci kepada laki-laki itu. Tapi sekarang? Hatinya merasa sangat rindu dan tak sabar ingin bertemu. Sangat berbanding terbalik.
Krek!
Suara pintu di buka, Sheerin terperanjat, cepat-cepat dia menyembunyikan alat riasan wajah yang berceceran di pangkuannya ke bawah bantal.
________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...