Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Part 10 : Kesedihan Erina


__ADS_3

"Bagimana keadaanya dok?." Tanya Yudha yang melihat Dokter telah selesai memeriksa Erin yang tengah terbaring itu.


"Dia hanya kelelahan saja jadi fisiknya lemah itu saja..kalau soal pingsan tadi itu akibat benturan yang keras sehingga membuatnya kehilangan kesadaran."Jelas Riyan.


Shiren yang duduk di samping Erin mengusap lembut pucuk kepala Erin.


Erin tersenyum hangat melihat orang orang yang mereka sayang ada di sini termasuk Revan.


Revan memperhatikkan Erin yang tengah berbaring langsung menghampirinya dan berjongkok di samping ranjang


"Gimana ke adaan lo burung beo?." Tanya Revan di serangi senyuman manis


"Gue baik baik aja kok..lo tenang aja!." Lirih Erin sambil membalas senyuman di bibirnya


"Gimana mau tenang gue ngeliat Miss Cerewet burung beo gue tuh pingsan." Celetuk Revan membuat jantung Erin berdetak kencang dengan kata kata seperti ini Erin udah bahagia apa lagi di tembakk udah lah matii.


'Van gue ingin deh sakit terus..ngeliat lo kaya gini gue ga minta apa apa cuman minta lo ada di samping gue dengan sikap sehangat ini' Batin Erin


"Lebay!." Pekik Erin


"lo harus sehat biar bisa bantuin gue jadian sama kiran!." bisik Revan tepat di telinga Erin


'Baru aja gue bahagia van kini harus menerima kenyataan kalau lo ingin gue sembuh agar bisa jadian sama Kiran bagimana bisa van lo bersikap seperti ini ke gue..gue suka sama lo van gue sayang sama lo tapii rasanya hanya mimpi jika lo juga ngerasain hal yang sama.'Erin menangis dalam batinnya.


Seketika rasa bahagia rasa senang kini berubah menjadi rasa sedih dan sakit.Erin hanya tersenyum kecut menutupi semua kesedihannya.


"Heheh gue bercanda kok...Ya udah gue pamit yahh cepet sembuhh..dan kembali ke sekolah!." pamit Revan membuat senyum Erin memudar


"Om..Tante.. kak..Kiran dan Erin aku pulang dulu yah Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab mereka serentak


Yudha yang melihat Erin mengerti perasaan Erin sekarang bagaimana kemudian dia naik ke atas ranjang dan duduk di sebelah Erin perlahan Erin berusaha duduk di bantu oleh Shiren dan Yudha lalu ia tersenyum bahagia melihat perhatian dari orang orang yang dia sayang namun di balik kebahagiaan itu tersembunyi kesedihan dan kesakitan yang terdalam.


"Bagimana perasaan mu sekarang nak?." Tanya Yudha membelai pipi hangat Erin.


"Erin baik baik aja kok pah cuman pusing sedikit."Jelas Erin sambil memaksakan tersenyum.


"Tuan Yudha saya permisi dulu dan ini obat yang harus Erin minum setiap hari...cepat sembuh yahh Erin!." Pamit Dokter.


"iya dok terimakasih banyak yah."Sahut shiren lembut


"Kalau gitu saya permisi Assalamualaikum."


"waalaikumsalamm."


Erin yang melihat Kiran hanya berdiri tersenyum hangat ke arahnya "Kiran sini lah duduk ngapain di situ."Ujar Erin sambil menunjuk kursi di dekat ranjang nya.


"Iya Erin makasihhh semoga kamu cepat sembuh."Kiran duduk sambil tersenyum hangat.


"Aamin makasih."


"Kak makasih yahh Udah membantu Erin!."ucap Erin yang melihat Ervan duduk di tepi ranjang.


"iya sama sama."jawabnya singkat.


"kalau gitu Ervan ke kamar yah mah..pah..dan cepat sembuh adik kecil kaka yang cerewet!." celetuk Ervan.


"ihhh apaan sih."ucap Erin


Ervan kembali ke kamar yang ada di sebelah Erin.


drttt drtttt

__ADS_1


ponsel Kiran berdering nampak panggilan dari seseorang yang ia rindukan selama ini.


"Owh iya om...tante Kiran jawab telepon dari Abi dulu yah." Pamit Kiran.


"iya nak silahkan!." Ucap Shiren lembut.


kiran pergi ke luar kamar dan tinggal lah Yudha dan Shiren yang menemani Erin.


"Sayang kamu makan ya." Sahut Shiren lagi lagi Erin menggeleng pelan nafsu makannya hilang..ia terus teringat dengan Revan yang selalu meminta bantuan untuk dekat dengan Kiran.


"Bagaimana mau sembuh kalau putri papa ngga ingin makan?."Yudha berusaha membujuk Erin


"Sayang apa yang terjadi??Kenapa anak mama jadi cengeng seperti ini??."Shiren membelai kepala Erin yang tertutup oleh hijabnya hingga butiran bening lolos membasahi pipi mulusnya.


Yudha dan Shiren dengan senang hati memeluk putri kesayanganya itu mereka memang terlihat dingin di luar namun hangat dan penuh kelembutan jika bersama keluarganya.


"keluarkan semunya sayang!."Ucap Yudha sambil memeluk Erin..


Erin menumpahkan semuanya unek unek, kesedihan dan rasa sakit yang ia pendam selama ini kepada dua orang yang malaikat nya..sakit ketika harus mencintai seorang diri,sedih ketika tau dia menyukai sahabat sendiri sakit melihat mereka berdekatan ... selama 4 tahun cinta nya tak terbalaskan betapa sakit harus mencintai dalam diam memendam semua seorang diri.


"Pahh...mahh kenapa cinta itu sesakit ini hikss."tangisnya pecah begitu saja Yudha merengangkan pelukkannya dan meraih dagu Erin


"sayang...kalau kamu jatuh cinta harus juga menerima patah hati,sakit hati karena cinta ngga seindah apa yang kita bayangin."jelas Yudha sambil mengusap air mata Erin


"Tapi pah..kenapa cinta mama sama papa bisa seindah ini hikss."Lirih Erin yang masih terisak


Shiren menarik kembali putri nya kedalam pelukannya itu "Karena mama sama papa saling mencintai nak..cinta akan indah jika kita saling mencintai dan sebaliknya cinta akan rumit dan sakit jika kita mencintai hanya bertepuk sebelah tangan."jelas shiren lagi lagi membuat tangis Erin pecah


"Dengar sayang Cinta itu tak bisa di paksakan...cinta akan tumbuh dengan seiringnya waktu..cinta akan hadir dengan kebersamaan maka dari itu semangat!!jangan karena cinta kamu terpuruk seperti ini..jadi lah orang yang bijak nak!!berpikir dewasa kamu tau kan jodoh ga akan kemana."jelas Yudha


Erin sedikit tenang ia tersenyum karena dengan Yudha dan Shiren lah ia merasa tenang ia sangat beruntung memiliki orang tua seperti mereka yang penyayang..


"Yah sudahh sekarang kamu tidur istirahat..papa dan mama ke luar dulu yah."Pamit Yudha melihat Erin yang merasa lebih baikkan


"Iya udah selamat malam sayang"Yudha dan Shiren bergantian mencium kening sang Putri


"malam pah mah!." ucap Erin


Setelah Yudha dan Shiren keluar Erin kembali menatap langit langit kamarnya 'Empat tahun Revan...Empat tahun gue udah suka sama lo,tapi lo??lo malah suka sama Kiran,,yahh gue sadar kok gue sadar diri...Kiran jauh lebih baik dari gue..gue harus sadar cinta lo itu buat dia bukan buat gue!! Yah,,,Gue harus mundur iya kan??mundur dong hahah.' lirih gadis mungil itu


Di balik itu seorang gadis mendegar ucapan Erin tadi meski pun suara Erin kecil namun masih terdengar bila satu ruangan denganya


"Erinnn!."Lirih Kiran menghampiri Erin


Erin tertegun kaget ia kembali duduk dan menatap kiran yang masih mengenakan baju seragamnya


"Kiran..Sudah menelepon abinya?."tanya Erin


"udah kok...gimana keadaan kamu?."Tanya balik Kiran


"Alhamdulillah aku baikan kok."Ucap Erin sambil tersenyum..


"Alhamdulillah kalau gitu gue ganti baju dulu yah!."Kiran beranjak menuju walk in closet kamar Erin.


"Iya sana bau tau!." Canda Erin.


"Enak aja!!." Cibir Kiran.


Kiran masuk ke dalam toilet dan bersender di balik pintu kamar mandi "Rinn kok lo tega sama diri lo sendiri...kenapa lo harus mengorbankan diri lo demi kebahagiaan orang lain..kenapa selama ini lo deketin gue sama Revan jika lo juga suka sama Revan kenapa rinn kenapa??" Lirih Kiran yang mulai air matanya turun.


Kiran menangis melihat sahabtnya harus berkorban sebesar ini..ia juga menyesak karena tidak mengetahui isi hati Erin sebenarnya.kemudian ia menghapus air matanya dan bergegas bersiap menemui Erin yang pasti tengah menunggunya.


Drrrttt drttr

__ADS_1


Ponsel Erin berdering nampak panggilan video dari Gina,Lisa dan Nisa.Erin dengan senang hati menjawab


"Assalamualaikumm Erinnn...gimana ke adaan lo?."


"sehat kan."


"atau masih sakit."


"gue khawatir banget."


"iya nihh gimana masih nafas?."


Beribu pertanyaan Mereka keluarkan Erin hanya tersenyum melihat wajah mereka dari handphonenya.


"Waalaikumsalam gue baik baik aja kok kalian tenang aja dan ga usah banyak tanya oke." jawab Erin.


"Hahaha iya iya" Tawa mereka.


"Ehhh itu ada Kiran!!" Seru Erin


"Assalamuakaikum Kirannn!!."


"Waalaikumsalam hayyy para ukhti." jawab Kiran yang baru duduk di samping Erin.


"Ehhh rin gue mau nanya dong." Ucap Lisa.


"Apaaan??." Jawab Erin nampak yang lain terdiam dan memperhatikkan keduanya.


"Yang tadi si balok es si pemarah itu kaka lo?." Tanya Lisa


"Iya dia kaka gue namanya Kak Ervan." jawab Erin


"Emangnya kenapa lo??kok bisa bilang gitu ke dia?." Tanya Nisa


"Itu gue waktu di kampus nganterin buku buku sepupu gue kak Reno yang ketinggalan tiba tiba seseorang nabrak gue sampai buku yang gue bawa semuanya jatoh dan itu kaka lo...dan lo tau Erin??kaka lo itu cuman ngeliatin gue bukan malah bantuin kek apa kek simapati kek ini mah bilang 'maaf' doang dan pergi gitu aja..ya allah muka datar bet kek aspal.."Cerita Lisa panjang membuat semua orang berfikir dan...


"hahahahah." Tawa mereka pecah begitu aja.


"ihhh kalian mah kok ketawa ga suka ahh gue lagi kesel nihh!!." Dengus Lisa.


"Awas ah kesel kesel benci benci ehhh jadi cinta." Celetuk Gina.


" Tumben lo bener gin!." Sahut Nisa.


mereka mengobrol cukup lama lalu Erin mematikan hanphone nya..dan menatap bingung Kiran yang sedari tadi hanya diam tidak seperti biasanya.


"Lo kenapa Ran?." Tanya Erin sambil menarik selimutnya.


"Rin gue mau minta maaf...karena gue lo harus berkorban...lo harus ngerasain sakit... memendam semuanya sendirian maafin gue yang tega menyakiti sahabatnya sendiri." Lirih Kiran sambil menoleh ke arah Erin yang berbarin di sampingnya


Perlahan Erin bangun dan menarik kedua tangan Kiran lalu menatap Kiran hangat.


"Lo ga salah Ran lo ga salah...yang salah gue hadir di antara cinta kalian..gue sadar kok Revan suka sama lo dan dia sayang sama gue sebagai sahabat..lo ga harus minta maaf..kalau lo bahagia insyaallah gue juga bahagia..gue akan berusaha move on buat okeyy..dan lo juga harus sadar kalau Revan tuh suka sama lo jadi tolongg buka hati lo sedikit buat dia." Jelas Erin yang berhasil membuat Kiran meneteskan air matanya


Erin masih senantiasa Tersenyum "Udah jangan nangis..cengeng benget sih!! Mending tidur dah malem oke." Ucap Erin namun tiba tiba Kiran memeluk Erat tubuh Erin.


"Erinn Hikss...Gue minta maaf gue bersyukur punya sahabat kaya lo rin." Tangis Kiran.


"Emmm iya sama sama yah udah ayo tidur besok kamu sekolah kan."Ajak Erin yang di angguki oleh Kiran.


Mereka merebahkan tubuhnya lagi ke atas ranjang...lama kelamaan Kiran mulai terlelap namun tidak dengan Erin dia masih memikirkan bagaimana dia bisa melepaskan orang yang dia cintai selama empat tahun itu sulit rasanya mananam rasa sayang,cinta dan suka selama itu tanpa ada balasan.


'Van gue cinta sama lo gue juga suka sama lo dan gue sangat sangat sayang sama lo .. jika lo pilih Karin gue ikhlas karena ini yang terbaik! Gue harap kalian bisa bahagia biar gue yang naruh semua ini sendirian asal kamu dan dia bahagia.' Batin Erin yang masih menangis di dalam selimut lama Erin menangis membuat nya terlelap tidur.

__ADS_1


__ADS_2