
Setelah mencari tau orang yang dekat dengan Elizabeth (Tiara, Desi, Emi, dan Gladis) waktu itu, Reno memerintahkan anak buahnya untuk terus mengawasi mereka berempat.
Beberapa hari kemudian. Sudah banyak bukti-bukti, namun semuanya mencurigakan.
Sore hari.
Reno keluar dan langsung ke dapur.
"Ada yang anda butuhkan, tuan Reno?" Tanya pak Run pada Reno.
"Aku bisa sendiri, pak Run" jawab Reno. Dia mengambil gula dan kopi.
"Biarkan saya saja, tuan Reno" ucap pak Run yang akan mengambil alih yang Reno lakukan.
"Cek cek" Reno berdecak dan terus melakukan kegiatannya membuat kopi.
"Ais. Sudahlah. Anda kembali mengawas saja pak Run. Jangan sampai ada tikus yang bisa bersembunyi" ucap Reno dengan maksud tersembunyi. Pak Run pun pamit pergi.
"Kau dan kau" Reno menunjukkan pada Tiara dan Desi yang masih memotong sayuran.
"Tolong buatkan Roti panggang dan telur dadar"
"Baik, tuan Reno"
Reno membawa kopinya dan berjalan pergi meninggalkan dapur.
Dia melihat pak Run sedang berbicara dengan seseorang lainya.
"Ada apa, pak?!" Tanya Reno pada pak Run.
"Tuan Reno? Maafkan saja, tuan. Maafkan saya" ucap seorang pelayan wanita memohon.
"Kau sangat ceroboh?!" Bentak Reno mengerti apa kesalahan sang pelayan itu.
Tanya Reno melihat bunga tak jauh dari mereka ada rantingnya yang patah.
"Maafkan saya, tuan. Saya.. saya terjatuh. Dahanya patah. Saya salah, tuan. Saya salah. Maafkan saya" ucapnya sambil memohon.
Pelayan itu adalah Gladis.
"Kau terjatuh? Kenapa bisa?" tanya Reno menyidik
"Itu... Itu... Itu.. Saya ceroboh tuan. Maafkan saja. Maafkan saja"
Reno melihat pak Run dan menaikkan bahunya.
Gladis melirik sekilas Reno dan kembali menatap ke bawah.
"Saya salah tuan. Maafkan saja. Maafkan saja"
"Sudahlah. Rapihkan saja dahannya"
Reno menepuk pundak pak Run dan pergi.
"Maafkan saja, pak Run. Saya bersalah, pak"
"Rapihkan dan bentuk kembali bunganya" ucap pak Run yang juga pergi.
"Terimakasih, terimakasih"
Gladis memotong itu dan membentuknya kembali, tak lepas dari pandangan Reno yang memang tak jauh dari Gladis. Reno memperhatikan dari bawah sampai atas. Bahkan memar di kaki Gladis, Reno melihatnya.
Tiara dan Desi meletakkan pesanan Reno.
__ADS_1
"Hem Hem" Reno berdehem karena tidak sadar ada Tiara dan Desi sedangkan dia masih fokus memperhatikan Gladis.
"Ada apa dengan tanganmu?" Tanya Reno pada Desi dimana tangannya ada luka, tidak! cuma bekas luka yang cukup dalam.
"Tuan, ini luka saya saat kecil. Saya terjatuh dari sepeda dan terkena pecahan kaca"
"Kau sangat ceroboh?!"
"Itu sudah sangat lama, tuan"
"Tetap saja!" ucap Reno tak mau kalah.
Tiara dan Desi pamit pergi.
Malam hari setelah makan malam dengan Elizabeth.
Reno ke depan dan bertemu dengan Bram.
"Ada apa, tuan Reno?"
"Mereka ber4 semua mencurigakan. Apa aku tangkap semua saja, ya?"
"Apa maksud anda tuan?" Tanya Bram. " Apa mereka berempat yang berkhianat?"
"Mungkin 3 atau bahkan semuanya"
"Jika anda sudah yakin. Maka tangkap saja tuan"
"Kau kira dalam 2 hari aku bisa dengan mudah mendapatkan penghianat? Bagaimana dengan Nick apa sudah di tangkap?"
"Belum. Ada yang ingin tuan besar pastikan terlebih dahulu"
"Apalagi? Dia sudah pasti berhianat, kita sudah mendapatkan buktinya"
"Aku juga ingin mencabut nyawanya. Apa kurangnya tuan besar padanya, sampai-sampai dia mau berhianat?"
Bram melihat kearahnya Reno.
"Tumben anda mengeluarkan kata-kata yang sedikit keren, tuan?"
"Kau memuji atau menghinaku, Bram?"
"Dua duanya"
"Sudahlah. Bicara denganmu membuatku emosi. Aku butuh pelukan lembut"
Reno meninggalkan Bram dan masuk ke dalam.
"Ada yang sedang mengobrol?" Ucap Reno dalam hati sambil mencari kearah sumber suara.
"Desi?!"
"Baiklah?! Aku akan lakukan yang terbaik, tenang saja!" ucap Desi sebelum menutup telponnya.
"Tu...tuan" ucap Desi terkejut melihat Reno yang sudah berdiri di belakangnya.
"Dengan siapa kau berbicara?" Tanya Reno.
"Dengan ibuku, tuan"
Reno memberikan isyarat pada Desi untuk memberikan handphonenya pada Reno.
Reno melihat dan benar kontak dengan nama ibu yang terakhir berhubungan dengan nomor Desi. Bukan Reno yang langsung percaya, Reno langsung menghubungi nomor tersebut.
__ADS_1
"Ada apa lagi, nak?" Tanya seorang wanita disana.
"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya lagi karena dirinya tidak mendapatkan jawaban. Reno memberikan pada Desi dengan menlockspiker terlebih dahulu.
"Kau baik-baik saja, kan? Jangan buat masalah. Halo" dengan hati-hati Desi menjawab
"Ah ibu, tadi aku hanya belum bertanya, apa ibu selalu rutin meminum obat, ibu?" Tanya Desi mencoba tenang agar ibunya tidak curiga.
"Kau tidak usah khawatir, ibu selalu minum obat ibu. Jika tidak ada pekerjaan pulanglah!"
"I..iya Bu"
"Ingat! Jangan buat masalah dan lindungi...."
"Iya Bu iya Bu. Aku tutup dulu, ya. Aku sudah mengantuk"
Desi langsung menutup panggilannya.
"Sudah malam. Istirahatlah" ucap Reno dan langsung berbalik.
"Tu..tuan" panggil Desi. Reno hanya berbalik dan melihat Desi.
"Apa tuan Reno akan lama di sini?"
"Kenapa?!" Tanya Reno tidak suka.
#####
Di kamar. Reno memantau semua pelayan di rumah itu, terutama 4 gadis yang mencurigakan.
Reno ingat Gladis yang terjatuh di bunga itu. Dia mengingat posisi bunga, yang artinya Gladis sedang terburu-buru, sampai-sampai tidak melihat bunga itu. Artinya Gladis sedang lari dari sesuatu.
Dia menyuruh pak Mun memanggil Gladis ke ruangan belakang.
Reno menonton tv dengan tenang. Gladis membawakan Reno cemilan dan kopi.
"Tu..tuan" ucap gladis sambil meletakkan pesanan Reno kata pak Mun sih.
"Letakkan saja!" Reno memperhatikan Gladis khususnya di bagian kaki.
"Selamat menikmati, tuan" ucap Gladis undur diri.
"Kenapa dengan kakimu?" Tanya Reno.
Gladis terkejut dan merapatkan kakinya.
"Oh ini. Ini aku terjatuh dan...." Gladis langsung berlutut "Maafkan saya tuan. Jangan bunuh saya, tuan" mohon Gladis.
Reno tersenyum, akhirnya dia mendapatkan orangnya.
"Aku melihat seseorang laki-laki yang bukan pelayanan kita dan dia berbicara dengan pelayanan wanita lainnya. Dia dia bilang akan membunuh nyonya, besok malam dan bahkan bila harus nyawa mereka taruhannya. Tapi sebelum saya melihat pelayan itu, orang itu menyadari kehadiran saya" ucap Gladis.
"Apa?! Kau ingat wajah lelaki itu?"
"Iya tuan. Walau tidak begitu jelas, Dia tinggi, kulitnya sawo matang..." Gladis memberikan penjelasan tentang ciri-ciri pria tersebut.
"Apa kau pernah melihatnya di sini?"
"Saya tidak pernah melihatnya, tuan"
"Baiklah! Kembali ke kamarmu. Tapi ingat! Tak ada satupun yang tau apa yang terjadi di sini!"
"Saya mengerti, tuan?!" Jawab Gladis. "Pelayan itu berambut sebahu tuan" ucap Gladis sebelum pergi.
__ADS_1
Pelayan rambut sebahu? Banyak. Termasuk Desi, Tiara, dan Emi. Emi? Hari ini aku tidak melihatnya. Kemana dia?
Renopun mencari keberadaan Emi. Ternyata hari ini dia cuti dikarenakan sakit.