Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Lampion


__ADS_3

Di bawah sinar bulan purnama, sepasang anak manusia yang tengah dilanda asmara, terasa dunia hanya milik mereka saja, menikmati suasana syahdu yang tercipta dalam keremangan.


Meskipun perlahan sinarnya mulai meredup akibat tertutup mega, justru kemesraan diantara keduanya semakin kentara terasa.


Kegelapan bukanlah menjadi sebuah ketakutan, melainkan keindahan yang tak bisa dirasakan oleh manusia normal pada umumnya. Ya, begitulah cinta, memang buta. Hitam dia sangka putih.


Asalkan bersama dengan orang yang kita cintai, bagaimanapun situasinya, di manapun tempatnya, pasti akan selalu terasa membahagiakan.


Bima dan Nindi, mereka tengah berada jauh dari hirup pikuk keramaian kota. Pantai beromak tinggi, pasir putih nan indah, berselimutkan langit dan taburan bintang.


Keduanya terduduk di atas pasir yang menghadap langsung kearah pantai, menatap batu karang yang jauh diseberang sana, begitu kokoh meskipun ombak besar terus-terusan menghantamnya.


Nindi ingin cinta antara dirinya dan kak Bima akan sekokoh dan sekuat batu karang itu. Meskipun dia tau, sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Dan suatu saat kebohongan besar yang selama ini dia sembunyikan pasti akan terbongkar, entah itu dengan cara dirinya yang akan memberitahu semua, atau justru ada kejadian di luar dugaannya yang akan membongkar identistas aslinya.


Entahlah, Nindi hanya ingin sedang menikmati kebersamaannya dengan kak Bima sekarang, tanpa adanya Luis ataupun Clarissa yang selalu mengganggu ketentraman hidup mereka.


"Apa udaranya terlalu dingin?" Tanya Bima.


"Nggak kok, gimana aku mau kedinginan coba? Dari tadi kak Bima peluk aku terus kaya ini." Jawab Nindi sambil tersenyum dalam dekapan Bima.


Ya, sejak terduduk diatas pasir itu, Bima sama sekali belum melepaskan Nindi dari pelukannya.


"Aku melakukan ini karena takut kamu kedinginan nanti. Jadi kamu jangan protes!" Bima semakin menarik Nindi lebih dalam lagi kedalam pelukannya. Nindi hanya bisa pasrah, menikmati setiap belaian dari tangan kak Bima yang selalu bisa membuatnya terbang melayang.


"Kak!" Nindi berseru.


"Ya?" Sahut Bima.


"Kalau seandainya aku membuat kesalahan yang sangat besar dan fatal, apa kakak akan memaafkan aku?" Tanya Nindi kemudian.


"Tentu saja, aku akan selalu memaafkan apapun kesalahanmu, dan aku akan berusaha untuk membimbing mu untuk tidak melakukan kesalahan lagi." Jawab Bima.


Nindi tersenyum getir, oke kak Bima bisa bicara seperti itu sekarang. Tapi apa nanti jika semua rahasianya terbongkar, apa kak Bima masih akan tetap berkata seperti itu? Nindi berharap begitu. Semoga saja.


Nindi semakin mengeratkan tangannya memeluk tubuh Bima.


"Hey Bima! Aku mencarimu dari tadi. Ternyata kamu disini!" Seseorang datang secara tiba-tiba dari arah selatan.


Bima sama sekali tidak mengendorkan pelukannya dari Nindi, dia terlihat santai dan biasa saja, sedikitpun tidak merasa malu telah dipergoki orang itu sedang berpacaran.


"Ada apa?" Dengan datarnya Bima bertanya.


Tapi Nindi disini yang merasa malu, dia mencubit perut Bima. Bima bergeming, sama sekali tidak terpengaruh mendapat teguran secara tidak langsung dari Nindi itu.


"Acara menerbangkan lampionnya akan dimulai. Ayo kita kesana sekarang! Lagi pula kamu kok senang sekali berada di tempat dingin dan gelap seperti ini." Ucap salah satu teman kak Bima itu.


"Siapa bilang disini dingin dan gelap? Disini begitu terang dan ramai karena ada dia yang memancarkan sinar kehangatan dan keindahannya." Bibir Bima mendarat dengan tepat di pucuk kepala Nindi.


Astaga!


Teman kak Bima itu terlihat memijat pelipisnya sambil memalingkan wajahnya, enggan melihat adegan yang membuat hatinya terasa panas itu. Jelas saja, jiwa jomblonya langsung meronta-ronta.


"Sudahlah, aku tau kalian ini pengantin baru. Tapi tidak usah memanasi aku seperti itu juga kali." Ucapnya kemudian.


"Baiklah, ayo kita kesana. Bukankah sedari kemarin kamu ingin sekali melihat dan menerbangkan lampion, She?" Kali ini Bima mau melepaskan Nindi juga.


"Iya kak, aku udah nggak sabar. Pasti bagus banget." Dengan antusiasnya Nindi berkata.


Kemudian merekapun beranjak dari duduknya, meninggalkan pasir putih yang sedari tadi menjadi saksi indahnya berpacaran setelah pernikahan.

__ADS_1


***


Ternyata apa yang dikatakan temannya kak Bima tadi itu benar, semua orang telah berkumpul di pesisir pantai, hingar bingarpun tak bisa terelakkan.


Terlihat raut-raut kebahagiaan diwajah mereka, kebanyakan disini datang secara berpasang-pasangan. Tapi Nindi tidak melihat keberadaan temannya kak Bima yang tadi disana.


"Teman kakak yang tadi kok nggak ada ya?" Tanya Nindi.


"Dia kan tidak memiliki pasangan, jadi dia hanya jadi penonton saja disana." Bima mengedikkan bahunya jauh ke tepi pasir. Nindi mengikuti arah pandangannya, dan benar saja, temannya kak Bima yang tadi sedang berkumpul dengan beberapa laki-laki yang disinyalir jomblo juga.


"Jangan memikirkan dia, yang boleh ada dipikiran kamu itu hanya aku saja, She!" Ucap Bima.


Tunggu dulu, jadi ini ceritanya kak Bima sedang cemburu begitu? Kenapa raut wajahnya jadi lucu seperti ini? Nindi berusaha menahan tawanya agar tidak meledak, bagaimanapun juga dia harus menghargai kak Bima, kan? Dengan menunjukkan sikap begitu berarti kak Bima benar-benar mencintainya dan ingin hanya ada dirinya saja di hati dan pikiran Nindi.


Baiklah! Nindi mengerti sekarang.


"Iya kak. Oh ya, lampion kita mana?" Nindi mengalihkan pembicaraan .


Bima kemudian memberikan lampion yang sedari tadi dibawanya kepada Nindi. Nindi melihat orang-orang di sekitarnya sudah mulai menyalakan lampion masing-masing, sesuai arahan dari panitia. Tentu saja Nindi tidak ingin ketinggalan, diapun menyuruh kak Bima untuk menyalakan korek gas untuk bisa menerbangkan lampion itu.


"Buka dulu lampionnya!" Seru kak Bima.


"Gimana sih, susah juga ya!" Nindi terlihat kesulitan.


"Pelan-pelan saja She!" Bima mendekat kemudian membantunya, membukanya secara perlahan lalu memasangkan kawat pada bagian bawah lampion itu.


"Oh gitu ya, baru tau aku." Ucap Nindi.


"Kamu belum pernah menerbangkan lampion sebelumnya?" Tanya kak Bima. Nindi hanya menggeleng samar.


"Memangnya kak Bima pernah?" Nindi bslik bertanya.


"Setiap perayaan ulang taun, perusahaan pasti selalu mengadakan festival lampion seperti ini. Hanya lokasinya saja yang berbeda-beda." Jawab Bima. Nindi mengangguk pertanda dia mengerti.


"Gimana caranya?" Tanya Nindi dengan bodohnya.


"Pakai api. Kamu pegang ini, aku akan menyalakan korek gasnya!"


Dengan cepat Nindi melakukan apa yang Bima perintahkan. Dia memperhatikan dengan seksama saat Bima membakar sumbu dengan korek gas. Saat detik-detik lampion itu mengembang secara perlahan, sebelum akhirnya lampion itu terisi udara sepenuhnya. Nindi merasakan lampion itu kadi jauh lebih ringan dari sebelumnya.


Nindi begitu takjub dengan pemandanhan yang disuguhkan di depan matanya, bibir pantai seketika jadi terang benderang akibat banyaknya titik api yang berasal dari lampion-lampion.


Bima ikut memegangi lampion yang dipegang Nindi, dia juga ingin merasakan kehangatan dan keindahan lampion itu sebelum akhirnya dia harus pergi ke langit.


"Sudah siap?" Tanya Bima.


"Udah." Jawab Nindi sambil mengangguk.


Tanpa mereka lontarkan, lampion itu perlahan mulai bergerak, padahal tidak ada angin disini. Seperti sebuah sulap. Begitu dengan bodohnya Nindi berpikir.


Begitupun dengan peserta lain, mereka mulai melepaskan lampion milik masing-masing. Sebuah lagu mellowpun diputar, membuat suasana malam ini semakin syahdu dan khusyu.


Bibir Nindi ikut mengembang, baru sekali dalam seumur hidupnya merasakan sebuah kedamaian saat melepaskan sesuatu. Senyuman di setiap orang mengiringi lampion yang terbang dengan lembut menuju langit lepas.


Kini, langit di atas pantai itu penuh dengan cahaya indah, membuat malam purnama kian sempurna. Setiap mata seakan tak rela berkedip untuk menikmati keindahannya.


Sungguh moment yang berkesan bagi Nindi. Bolehkah sekarang dia meminta satu harapan kepada Tuhan? Kemudian dia mulai memejamkan mata, bahkan saat matanya terpejampun cahaya dari lampion itu masih bisa dia lihat dengan jelas.


'Tuhan, tolong jangan renggut kembali kebahagiaan ini dari hidupku.' Ya, hanya sesederhana itu.

__ADS_1


Bima tersenyum saat melihat kedua kelopak mata Sheerin tertutup. Lalu apa lagi yang dia inginkan dalam hidup ini? Dia telah memiliki segalanya, bukankah hidupnya telah sempurna?


'Buatlah hatinya selalu bahagia saat bersamaku, sehingga dia tidak pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku. Tak bisa kupungkiri, kehilangannya menjadi hal termenakutkan dalam hidupku.'


Bima membatin, sama sekali tak memalingkan pandangannya dari wajah Nindi. Sampai akhirnya sepasang mata itu kembali terbuka.


"Apa kamu baru saja make a wish?" Tanya Bima.


"Heem." Jawab Nindi dengan mantap.


"Kamu meminta apa?" Tanya Bima lagi.


"Ada deh. Rahasia." Jawab Nindi sok imut.


"Biar aku tebak, pasti kamu baru saja meminta agar mendapatkan anak yang banyak dari aku. Iya, kan?" Sengaja Bima mendekatkan bibirnya kearah telinga Nindi di akhir kalimatnya.


"Apa? Nggak-nggak, aku nggak minta itu kok." Wajah Nindi seketika bersemu merah, dia benar-benar malu. Bagaimana bisa kak Bima yang kaku bisa berpikir sampai ke arah sana?


Bima terkekeh kecil saat melihat reaksi di wajah Sheerin, tampak sekali jika dia keberatan dengan perkataan Bima tadi.


"Ya sudah, ayo!" Bima mengapit lengan Nindi.


"Kita mau kemana lagi?" Tanya Nindi.


"Kita akan membuat anak yang banyak!" Jawab Bima.


"Hah?" Mata Nindi membulat dengan sempurna. Dia sama sekali belum mempersiapkan diri untuk hal yang satu itu. Lalu bagaimana dia bisa mengelak dan menghindar dari kak Bima sekarang?


***


Malam semakin larut, tapi Sheerin masih sibuk membalas chattingan dari Levin. Laki-laki itu benar-benar tidak ada puasnya, setelah melakukan panggilan video call selama lebih dari dua jam, masih saja sekarang mengiriminya pesan chat.


Brak!


Tiba-tiba saja pintu rumahnya di buka dengan kasar oleh seseorang. Sheerin yang sedang duduk santai diruang tengah spontan terlonjak kaget, hampir saja ponsel yang ada digenggamannya terjatuh.


Ternyata si pembuat onar adalah kak Yuvi yang baru saja pulang shift siang.


"Kak Yuvi, ada apa sih?" Sheerin menegur Yuvi yang kini sedang sibuk mengunci pintu dengan gerakkan cepat.


Bukannya menjawab, Yuvi malah mengabaikan Sheerin dan berjalan menuju kamar mereka. Pandangan Sheerin terus mengikuti pergerakan langkah Yuvi sampai perempuan itu berhenti tepat di depan kamar, seperti ada yang aneh, wajah kakaknya Nindi itu terlihat sembab seperti habis menangis.


Saat itu pula tiba-tiba pintu di ketuk secara kasar dan tidak sabaran oleh seseorang diluar sana. Pandangan Sheerin beralih ke arah pintu.


"Jangan dibuka, biarin aja dia." Yuvi berseru dengan suara paraunya. Sheerin menoleh kearah Yuvi, kemudian Yuvi langsung nyelonong masuk kedalam kamar. Dahi Sheerin mengerut. 'Ada apa sih ini sebenarnya?'


"Vi, tolong buka pintunya Vi! Kita harus bicara serius! Vi!" Terdengar teriakan yang diiringi dengan ketukan kasar di pintu.


Sheerin seperti mengenali suara itu. Cepat-cepat dia beranjak dan mulai mengintip dari balik tirai.


"Nindi, tolong buka pintunya!" Saat menyadari kehadiran Nindi, seseorang itu beralih menggedor-gedor kaca jendela.


"Astaga! Bang Doni? Ngapain disana?" Tanya Sheerin.


"Buka dulu pintunya, nanti aku jelaskan." Balas seseorang itu yang ternyata adalah Doni, kekasih abadi Yuvi.


"Tapi kak Yuvi tadi bilang jangan di buka."


"Abang mohon Nin, abang harus selesaikan masalahnya malam ini juga." Terlihat wajah putus asa yang di tampilkan di hadapan Sheerin. Membuat Sheerin jadi kebingungan, dia menggigit bibir bawahnya. Jadi sekarang dia harus mendengarkan perkataan siapa? Jangan membuka pintu atau membukakannya untuk Doni?

__ADS_1


______________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....


__ADS_2