Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Sembunyi


__ADS_3

Sheerin di hadapkan oleh dua pilihan sekarang. Pergi dari tempat itu dan bersikap seolah-olah tak pernah melihat apapun atau membeberkan semua kejadian yang dia lihat pada semua orang?


Tapi, apa dirinya tetap bisa hidup dengan tenang setelah dia membongkar kebusukan Luis? Meskipun dia baru mengenal laki-laki itu, namun Sheerin tau bagaimana Luis. Dia adalah komplotan mama Anya, dia sama jahatnya dengan ibu sambungnya itu.


Sheerin tak yakin jika dirinya bisa keluar hidup-hidup dari tempat itu jika dirinya tertangkap basah oleh Luis. Mungkin saja setelah ini, giliran dirinya yang menjadi sasaran Luis. Dia hanya seorang diri disana, tak ada orang yang akan menolongnya jika seandainya dia ketahuan.


Bagaimana ini?


"Hiks... Hiks..."


Sheerin terperanjat saat mendengar suara tangisan perempuan itu. Dia benar-benar manusia kan? Iya, jika bukan Luis mana mungkin bisa menyetubuhinya. Sheerin yajin akan hal itu.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Tangisnya semakin terdengar memilukan, menyayat hati setiap orang yang mendengarnya.


Hati Sheerin terenyuh, miris dia mendengar tangisan yang tertahan itu. Dadanya terasa sesak, bibirnya bergetar, seolah dia bisa merasakan kepedihan yang dirasakan perempuan itu. Perasaan apa ini? Hatinya mulai tergerak, Kenapa Sheerin merasa dirinya harus menolong perempuan itu? Seperti ada magnet yang membuat Sheerin tertarik untuk mendekat.


Sheerin keluar dari tempat persembunyiannya, melangkah mendekat ke arah perempuan itu, menembus keremangan. Matanya hanya tertuju pada satu titik. Perempuan yang tengah menangis itu, terduduk di lantai dingin, tak beralaskan apapun.


Ada sedikit keraguan dalam langkahnya, namun dia tetap tak berhenti. Hatinya bergemuruh sekarang, seperti akan bertemu kembali dengan orang yang telah lama berpisah. Perasaan apa lagi ini? Kenapa perasaannya jadi tak menentu sekarang?


Deg! Deg! Deg!


Jantungnya berirama seiring dengan langkah kakinya. Matanya terasa perih saat melihat tubuh yang terkulai sambil meringkuk itu, air matanya pecah seketika saat sadar jika kaki yang hanya tinggal sebelah itu terpasung.


Astaga!


Benarkah ini semua? Apa Sheerin sedang bermimpi sekarang? Tega sekali Luis memperlakukan seorang perempuan lebih hina dari seekor binatang.


Sepasang mata itu menoleh saat menyadari keberadaan Sheerin. Binar penuh harapan terlihat jelas dari sorot matanya, Sheerin bisa melihat itu. Tangan perempuan itu terulur, berusaha untuk menggapai Sheerin. Namun dia tak berdaya melakukan itu, Sheerin sangat sukit untuk dia gapai.


Fira seperti pernah melihat anak itu sebelumnya. Ya, anak gadis yang waktu itu. Dia kini kembali untuk menyelamatkan Fira. Begitu Fira berharap.


Deg! Deg!


Sheerin tak berkutik. Lagi-lagi jantungnya harus bekerja lebih keras saat bola mata itu menatapnya. Langkahnya terhenti, bahkan tubuhnya kini mundur satu langkah saking kagetnya.


Kemudian, suaranya terdengar lirih menyedihkan.


"Tolong bebaskan saya." Intonasinya sangat lemah, namun Sheerin masih bisa mendengarnya dengan jelas. Sungguh, rasa iba kini menjalar memenuhi ulu hati Sheerin. Kondisi perempuan itu sangat menyedihkan.


Sheerin mendekat kearahnya setelah tak merasa mendapat ancaman dari perempuan itu.


"S siapa kamu?" Dengan bibir gemetar Sheerin bertanya. Meskipun dia merasa iba, namun tak bisa dipungkiri jika terselip rasa takut disana.


"Dia menyekapku disini. Tolong bebaskan saya!" Semakin lemah dia berkata. Sheerin berjongkok menyamai posisi perempuan itu, untuk meyakinkan diri jika perempuan itu pantas untuk mendapat pertolongan.


"Paman Luis menyekap ibu disini? Sejak kapan? Dan kenapa dia menyekap ibu disini?" Sheerin mengeluarkan semua pertanyaan yang bermunculan di kepalanya.


"Lamaa sekali." Ucapnya penuh kepasrahan.


"Maksudnya apa?" Tanya Sheerin yang merasa bingung.

__ADS_1


Tap... Tap... Tap...


Deg!


Langkah kaki terdengar menggema di tengah kesunyian. Sheerin dan Fira terperanjat kaget, saling berpandangan. Mereka pikir jika Luis sudah pergi dari tempat itu. Fira meraih tangan Sheerin, Sheerin merasakan suatu kehangatan saat tangannya di genggam perempuan itu. Tatapan matanya juga mampu membuat Sheerin terhipnotis dan tak ingin berpaling saat menatapnya. Ada ketenangan tersendiri yang bisa Sheerin rasakan. Dan kenapa Sheerin merasa tidak asing dengan sosok yang baru di jumpainya itu? Mereka seperti pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana? Sheerin tidak ingat.


Semakin diingat-ingat, semakin Sheerin tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya.


"Cepat pergi dari sini. Dia kembali." Tatapan Fira nampak khawatir, dia mengguncang tubuh Sheerin yang terpaku agar segera pergi, atau Luis juga akan menyekapnya disini sama seperti Fira.


"Tapi..." Sheerin kebingungan, lewat mana dia harus pergi? Bahkan suara langkah kaki itu terdengar dari arah pintu masuk menuju ruangan ini.


"Ayo cepat, atau hidupmu akan sama sepertiku, berakhir di tempat ini." Fira mendesak Sheerin, sedangkan Sheerin masih memikirkan cara untuk dirinya bisa keluar dari sana.


***


Luis terpaksa harus mengakhiri kegiatan wajibnya jika mengunjungi Fira saat medapat panggilan telpon dari mama Anya. Dengan tergesa-gesa dia kembali memakai baju dan celananya. Tak lupa ia juga memakaikan Fira kembali pakaiannya. Dia tak ingin aset berharga miliknya merasa kedinginan.


Setelahnya dia pergi. Tak mungkin dia mengangkat telfon dari mama Anya saat berada di hadapan Fira. Bagaimana jika Fira bicara yang tidak-tidak dan mengundang kecurigaan mama Anya.


Luis berjalan cepat keluar dari rumah kosong itu sebelum panggilan kedua dari mama Anya kembali berakhir.


"Ya Anya?" Luis berkata sesaat setelah panggilannya tersambung.


"Kamu dimana Luis?" Mama Anya bertanya di sebrang sana. Luis nampak grogi untuk menjawab pertanyaan mama Anya.


"Aku sedang di rumah Anya, ada beberapa pakaian yang harus aku ambil." Menjawab juga akhirnya meskipun kikuk.


"Tidak bisa Anya, pakaiannya harus aku pakai besok pagi. Jadi aku harus mengambilnya sekarang."


"Ya sudah. Apa kamu akan menginap disana?" Bertanya lagi.


"Tidak Anya, aku akan kembali secepatnya. Aku merindukanmu. Tunggu aku disana ya!"


"Ya sudah. Aku tunggu kamu pulang. Jangan terlalu lama. Aku juga merindukanmu."


Sambungan telfonpun terputus. Luis membuang nafas beratnya, dia bisa mengelak dari pertanyaan Anya dan membuatnya tak merasa curiga sama sekali.


Kemudian Luispun kembali memasuki rumah itu untuk berpamitan pada bidadari penghuni rumah kosong itu.


Sementara di kediamannya, mama Anya nampak gelisah. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Luis di sampingnya, dan sekarang saat Luis tak ada, seperti ada yang hilang dari dalam dirinya.


Mama Anya berusaha untuk memejamkan matanya, kembali merajut mimpi yang tertunda. Berguling ke kanan, lalu ke kiri, mencari posisi yang nyaman. Sudah tengkurap, kemudian berbalik terlentang, namun posisi yang nyaman itu tak kunjung ia dapatkan. Pikirannya sedang berlarian di luar sana.


Tiba-tiba saja dia teringat akan Bima, saty-satunya bayi mungil yang pernah lahir dari rahimnya kini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah perkasa.


Di buangnya nafas dengan berat, kemudian terduduk di atas kasur. Mengusap wajahnya kasar. Dia tidak berhasil membuang semua pikirannya, semakin dia mencoba untuk melupakan tentang putranya, semakin bayangan Bima muncul saat matanya terpejam.


Dia melirik kalender duduk yang ada di atas nakas. Kemudian tangannya terulur meraih benda kecil itu. Di tatapnya baik-baik, kemudian ingat akan sesuatu.


Hari ini, tepat 26 tahun yang lalu dirinya melahirkan Bima. Ya, hari ini adalah ulang tahun Bima yang ke 26. Seulas senyum merekah di bibirnya, kemudian setetes air jatuh dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Dia tak menyangka jika usia Bima bisa menginnak di angka ini. Padahal dulu dia hampir saja kehilangan putranya itu saat dia menderita gizi buruk.


Mama Anya menyaksikan sendiri dengan diam-diam bagaimana dia tumbuh dan berkembang di bawah pengawasan Luis meskipun dirinya tak pernah terang-terangan menunjukkan diri di hadapan Bima.


Jika diberi kesempatan, bolehkah dia sekali saja memeluk putranya itu? Untuk melepas semua kerinduan yang sudah menggunung di dalam hatinya.


Bolehkah mama Anya menemuinya diam-diam malam ini? Menatap wajahnya dari jarak dekat di hari istimewanya ini?


***


"Bicara dengan siapa kamu?" Luis bertanya sambil membentak Fira.


Fira terperanjat kaget saat tiba-tiba saja Luis muncul dari balik pintu dan mengintimidasi. Jangan sampai anak itu ketahuan. Do'anya.


"T tidak ada." Gemetar-gemetar Fira menjawab.


"BOHONG! Aku mendengar kamu bicara sambil berbisik-bisik tadi." Luis nampak murka. Sebelum masuk ke ruangan itu, dia mendengar suara berisik, tentu saja, suara itu terdengar nyaring di tengah keheningan yang ada.


Dia takut jika ada seseorang yang menyelinap masuk ke tempat ini dan menemukan Fira. Bisa-bisa semua rahasianya terbongkar. Habislah dirinya jika semua itu sampai terjadi.


Luis tak ingin sampai itu terjadi. Yang bisa melepaskan Fira dari genggaman tangannya hanyalah Maut. Fira hanya boleh terbebas dari belenggunya jika dia mati saja, tidak bisa karena alasan lain.


Dirinya begitu egois, dia ingin tetap memiliki Fira meskipun kini mama Anya telah kembali kedalam pelukannya, seutuhnya. Dia tak bisa memilih salah satu dari mereka, keduanya sama-sama berarti bagi Luis.


***


Sheerin terjebak disini sekarang, diantara tumpukan kardus. Tidak ada jalan keluar untuk saat ini, dia hampir saja ketahuan. Ternyata Luis menaruh curiga jika ada orang yang menyelinap masuk ke tempat rahasianya ini.


Sebisa mungkin Sheerin mengurangi pergerakannya agar kecurigaan Luis tak semakin membesar. Bahkan untuk sekedar bernafaspun Sheerin merasa takut, takut jika desah nafasnya terdengar sampai ke telinga Luis.


Astaga!


Apa yang harus Sheerin lakukan sekarang? Luis terdengar sangat murka. Dia pasti tidak akan bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan baik-baik saja jika Luis sampai menemukannya.


Ponsel!


Untung saja tadi Sheerin sempat mengcharger nya, dia berusaha untuk menghidupkan ponselnya. Butuh waktu beberapa menit untuk ponsel itu bisa menyala. Penantiannya terasa begitu lama, dua menit bagaikan 2 hari lamanya.


Dan, berhasil! Ponselpun menyala, namun baterainya hanya terisi 10% saja. Lumayan untuk dirinya mengirimi Nindi pesan untuk meminta bantuan.


Dengan tangan gemetar dia mengetikkan pesan chat kepada saudara kembarnya itu. Berharap Nindi terbangun saat pesan itu terkirim.


'Nin, tolong gue. Gue lagi ada di rumah kosong samping rumah. Tolong selamatin gue dari ayah mertua loe ini. Gue takut Nin!' Bahkan hanya untuk mengetik beberapa kata seperti itu saja menjadi perjuangan yang sangat berarti bagi Sheerin yang tengah di timpa ketakutan saat ini.


Sheerin harus kembali menanti, sedangkah disana Luis terus saja membentak-bentak perempuan itu dan memaksanya untuk buka mulut. Sheerin sudah panik setengah mati saat tanda centang pada pesannya belum berubah warna menjadi biru. Nindi belum membaca pesan darinya. Dia pasti sedang berkelana di alam mimpinya.


Bagaimana ini? Kira-kira siapa lagi yang bisa Sheerin mintai tolong di pagi buta seperti ini?


Levin? Ya, Levin. Kekasih hatinya. Meskipun dia sendiri tak begitu yakin jika Levin masih terjaga. Setidaknya dia harus mencoba dan berusaha.


___________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2