
Hari ini, Sheerin berniat untuk mengunjungi rumahnya, dengan harapan papanya akan menceritakan semua tentang masa lalu di keluarganya. Andai saja jika Nindi adalah benar-benar saudara kembarnya, betapa akan sangat bahagia hati Sheerin.
Tapi dia tidak boleh berbesar hati dulu, jika harapan tak sesuai dengan kenyataan, maka Sheerin pasti akan merasa kecewa nantinya.
Dia berjalan sendirian memasuki gerbang kompleks perumahan setelah turun dari sebuah angkot. Tak butuh waktu yang lama untuknya mencapai kediaman keluarga Lukman, namun sebelum tangannya menyentuh pagar rumah itu untuk membukanya, dia melihat pemandangan yang sangat langka terjadi di halaman rumah itu.
Sheerin mengurungkan niatnya untuk membuka pagar rumah, kemudian dia menyembunyikan tubuhnya dibalik tembok pagar itu.
"Kenapa harus ada mama sih?" Gumamnya tak habis fikir.
Dan sejak kapan mereka terlihat sangat akrab seperti itu? Seumur hidupnya, Sheerin jarang sekali menyaksikan kedekatan diantara ayah dan ibu sambungnya itu. Tapi pagi ini, mereka terlihat sedang bercengkrama, duduk di bangku taman sambil menikmati suasana cerah pagi ini.
Tidak mungkin kan Sheerin tiba-tiba muncul dihadapan mereka, oke kalau Sheerin masih berani bicara kepada Lukman, tapi berhadapan dengan mama Anya? Sungguh Sheerin tidak akan sanggup. Dan bagaimana jika mamanya itu nanti bertanya yang macam-macam? Baiklah, sepertinya Sheerin harus sedikit bersabar.
Cukup lama dia berdiam diri bersembunyi di balik pagar tembok itu, menunggu waktu yang tepat, atau setidaknya sampai mama Anya pergi dari sana sehingga Sheerin bisa dengan leluasa bicara dengan ayahnya.
Semakin lama, matahari semakin meninggi, sinar hangatnya kini berubah menjadi terik. Bahkan pelipis Sheerin kini mulai dibanjiri oleh peluh.
Sampai kapan mereka tetap berada disana? Apa mereka tidak merasa kepanasan? Sheerin mulai frustasi.
"Duh, kapan perginya sih mama?"
Terlihat mama Anya mulai beranjak dari duduknya, Sheerin semakin menajamkan penglihatannya, akhirnya penantiannya berakhir juga. Kemudian mama Anya mendorong kursi roda yang diduduki Lukman sebelum akhirnya mereka masuk melalui pintu utama rumah itu.
"Nah lho, gimana gue mau bicara sama ayah coba? Kenapa mama pake bawa ayah masuk segala, sih?" Sheerin menggerutu sendiri.
Baiklah, sekali lagi Sheerin akan menunggu, biasanya di jam-jam seperti ini mama Anya selalu pergi keluar bersama teman-tamannya. Dan saat itu terjadi, maka Sheerin akan menemui ayahnya. Ide yang bagus.
Diapun berpindah posisi mencari tempat yang teduh, untuk sekedar menghindari sengatan matahari yang kian merajai bumi.
5 menit dia menunggu, 10 menit, 15 menit, 30 menit, bahkan sampai 45 menit berlalu belum ada tanda-tanda mama Anya akan keluar.
Astaga!
Penantian yang sia-sia! Sheerin mulai putus asa.
Tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk. Diapun segera merogoh tas selempangnya dan mengambil ponsel itu, ternyata Levin yang menelfon, langsung Sheerin mengangkatnya.
"Ya, halo Lev, ada apa?" Tanya Sheerin kemudian.
"Kamu dimana sih Nin?" Tanya Levin disana.
Tidak mungkin, kan dia mengatakan pada Levin jika dirinya sedang mengintai rumah ayah nya?
"Aku lagi ada dirumah, memangnya kenapa?" Jawab dan tanya Sheerin.
"Tapi kata ibu kamu, kamu belum pulang. Aku udah nunggu dirumah kamu hampir satu jam." Jawab Levin.
"Apa? Kamu lagi dirumah aku sekarang?" Sheerin terlihat panik, dia menepuk jidatnya sendiri, kebohongannya terbongkar dengan begitu cepat.
"Iya, kamu lagi dimana? Aku jemput kesana sekarang, ya?" Ucap Levin.
__ADS_1
"Ahh, nggak usah, aku bisa pulang sendiri kok." Balas Sheerin.
"Beneran?" Levin meyakinkan.
"Iya, aku sekarang otw rumah ini." Balas Sheerin.
"Ya udah, aku tunggu disini."
Panggilan telfonpun terputus, Sheerin kembali memasukkan benda pipih itu kedalam tasnya. Sekali lagi dia menatap rumah besar yang menurutnya bagaikan neraka itu. Dia berpikir, jika ini bukanlah waktu yang tepat untuk dirinya bicara dengan sang ayah. Sheerin menghembuskan nafas berat.
Diapun memutuskan untuk pulang saja kerumah Nindi, kasihan juga Levin yang sudah menunggunya sedari tadi. Dia bisa merasakan jika menunggu itu tidaklah enak.
Dengan berat hati Sheerin berjalan menjauhi rumah yang di tinggalinya selama 19 tahun itu dengan perasaan kecewa yang ikut terbawa pergi.
***
Sheerin turun dari sebuah angkot, setelah membayar ongkos pada si abang supir, diapun berjalan memasuki gang menuju rumah Nindi dengan langkahnya yang tidak bersemangat. Rasanya begitu lesu saat usaha kita sama sekali tak membuhkan hasil.
Tapi apa hendak dikata, diapun tidak ingin pembicaraan serius antara dirinya dengan sang ayah diketahui oleh ibu tirinya yang jahat itu.
"Nin!" Terdengar seruan yang memanggil namanya, salah, nama Nindi. Sheerin menoleh, ternyata dirinya sudah sampai didepan rumah Nindi. Kenapa Sheerin tidak menyadarinya.
Jelas saja, sedari tadi pikirannya sedang berkelana kesana kemari.
"Kamu dari mana? Kamu nggak kenapa-napa, kan?"
***
Setelah sambungan telfon terputus, Levin bisa sedikit merasa lega, ternyata Nindi dalam keadaan baik-baik saja sehingga masih bisa mengangkat telfon darinya. Diapun duduk di kursi kayu yang ada di teras sempit rumah itu. Ibu berulang kali menghampirinya yang terlihat begitu gelisah menunggu kepulangan Nindi.
"Tidak usah bu, saya cuma mau nunggu Nindi pulang aja." Jawab Levin membalas senyuman wanita paruh baya itu.
"Ya sudah, ibu tinggal dulu. Kalau perlu apa-apa panggil aja ibu ya dibelakang!" Kemudian ibupun kembali masuk kedalam rumah. Anggukan kepala Levin mengiringi langkah ibu.
Levin terlihat tak sabar menunggu kedatangan Nindi, berita yang dia bawa kali ini pasti akan membuat Nindi merasa senang.
Entah kenapa Levin sangat bersemangat sekali membantu Nindi palsu mempromosikan kerudung buatannya. Mungkin dengan cara ini bisa membuat perekonomian keluarga Nindi menjadi jauh lebih baik lagi.
Levin berharap, jika nantinya Nindi tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, setidaknya dia memiliki masa depan dengan memulai usaha kecil-kecilan seperti ini.
Cukup lama Levin menunggu, namun berapa lamapun lagi dia harus menunggu, Levin akan senantiasa selalu bersabar. Hatinya terlanjur terpaut oleh sosok perempuan sederhana nan mandiri itu. Ahh, entah sejak kapan Levin memiliki sudut pandang seperti itu kepada Nindi. Padahal dulu yang bisa dia lihat dari diri Nindi adalah sosok urakan dan pemalas.
Levin beranjak dari kursi yang dia duduki saat melihat sosok Nindi yang baru saja muncul dari balik gang. Namun apa yang dia dapatkan? Kepala perempuan itu terlihat ditekuk, dia menunduk dalam sambil berjalan kearahnya. Tidak ada binar semangat dalam langkahnya, wajahnya begitu murung, apa yang sebenarnya terjadi kepada perempuan itu.
"Nin." Dia berseru saat Nindi berada tepat di hadapannya.
Perempuan itu terlihat seperti orang linglung ketika Levin menegurnya.
"Ehh, iya Lev?" Ucap Sheerin spontan.
"Kamu dari mana aja? Kamu nggak kenapa-napa, kan?" Dari nada bicaranya Levin terdengar khawatir, dia menatap lekat-lekat manik mata milik Nindi palsu, ada guratan kekecewaan disana.
__ADS_1
Kenapa? Kenapa semakin hari Nindi semakin menunjukkan sisi lain dari dirinya, yaitu sisi kelemahannya. Membuat jiwa Levin meronta untuk selalu menjaga dan melindunginya. Padahal dulu dia tak selemah ini, membuat Levin malah kadang merasa ngeri terhadap perempuan itu. Namun dengan adanya perubahan dalam diri Nindi, membuat Levin merasa dirinya memiliki setidaknya sedikit arti di hidup Nindi dengan menjaganya. Levin menyukai Nindi yang seperti ini saja.
"Aku nggak apa-apa kok. Oh ya, ada apa? Kok mau datang nggak ngabarin dulu?" Tanya Sheerin mengalihkan pembicaraan agar Levin tak membahas tentang kemana dirinya menghilang tadi.
"Ah, iya. Jadi gini Nin, ada beberapa orderan yang masuk tadi malam. Satu diantaranya orang Batam, dia udah transfer uang dan kita harus kirim barangnya hari ini juga." Ucap Levin menjelaskan alasannya datang kemari.
"Oh ya? Cepet banget dapet orderannya?" Ucap Sheerin diiringi tawa kecilnya karena merasa tak menyangka.
"Iya, dan ada juga tiga orang yang minta COD, kita bisa antar ke rumah mereka langsung, alamatnya masih daerah sini kok. Mereka ada yang order 3 pcs dan 2 pcs." Dengan semangat Levin menjelaskan.
"Sebenarnya aku juga dapat orderan yang minta COD sih, cuma agak jauh. Aku nggak ada kendaraan buat nganternya." Ucap Sheerin.
"Kan ada motor itu, kita bisa anterin kesana sekalian." Levin menunjuk motornya yang terparkir didepan teras rumah itu.
Perempuan itu nampak terdiam, entah kenapa wajah antusiasnya berubah menjadi sendu. Levin yang menyadari perubahan itu jadi bingung sendiri. Apa yang sedang perempuan itu pikirkan?
"Hei, kamu kenapa lagi? Jangan ditekuk gitu dong wajahnya!" Levin memegang bahu Sheerin mencoba mengorek informasi.
Nindi palsu kemudian tersenyum, terlihat jelas sekali jika itu adalah senyum yang di paksakan.
"Aku cuma bingung aja, kenapa kamu baik sekali sih sama aku? Padahal kan dulu hubungan kita itu nggak seperti ini? Dan kenapa juga kamu semangat banget mendukung aku buat menjalani usaha ini? Padahal kamu nggak perlu repot-repot kerja sama sama aku, toh kamu juga udah kaya kan?" Tanya Sheerin kemudian.
"Karena aku peduli sama kamu Nin, aku mau kita berjuang sama-sama dari bawah, Kekayaan itu bukan milik aku, tapi milik orang tua aku. Dan aku yakin kita pasti bisa sukses menjalani usaha ini, kamu punya potensi ini Nin." Jawab Levin dengan serius.
Sheerin kembali terdiam, perkataan Levin terdengan begitu tulus. Tapi bagaimana jika nanti dia tau kalau dirinya telah membohongi Levin habis-habisan. Apa sikapnya akan tetap sama? Apa setelah itu semua terjadi Sheerin akan sanggup menjalani hari-harinya tanpa Levin jika seandainya dia berubah? Sheerin menatap Levin begitu dalam dengan tatapannya yang sulit diartikan.
"Kamu kenapa sih?" Terdengar kekehan dari mulut Levin saat sadar Nindi memperhatikannya dengan berlebihan.
"Nggak kenapa-napa." Tanpa merasa berdosa Sheerin menjawab.
"Apa kamu mau jawab pertanyaan aku yang waktu dipuncak itu sekarang?" Tanya Levin kemudian, lebih kearah menggoda sebenarnya.
"Emm, gimana kalau kita mulai packing barangnya sekarang, habis itu kita antar ke jasa pengiriman barang. Takut keburu tutup nanti kalau kelamaan." Sheerin nampak menghindari pertanyaan Levin, dia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk memulai suatu hubungan yang lebih serius. Banyak faktor yang membuat Sheerin berpikir seperti itu.
"Ya udah, ayo!"
***
Hari-haripun berlalu dengan begitu cepat, tak terasa Sheerin sudah menggeluti pekerjaan itu hampir satu bulan, yang artinya dia harus kembali memutar otak untuk bisa mempertahankan posisinya sebagai Nindi.
Belakangan ini usahanya berkembang cukup pesat, apalagi semenjak Levin mendaftarkannya di beberapa aplikasi belanja online terkenal, setiap harinya pasti akan ada banyak orderan yang masuk. Bahkan sekarang rumah kecil Nindi sudah tak mampu lagi menampung kain untuk stok membuat kerudung dan satu tambahan mesin jahit.
Vena menyarankan agar markas geng amburadul dijadikan sebagain rumah produksi kerudung, Revi setuju, asalkan dengan syarat Nindi palsu itu harus mempekerjakan mereka supaya tidak menjadi pengangguran yang kerjaannya hanya nongkrong saja diperempatan.
Sheerin sampai harus mempekerjakan satu orang untuk tugas menjahit, karena Revi, Vena dan Tari sama sekali tidak memiliki bakat dalam bidang jahit menjahit.
Vena bertugas mempacking barang ketika ada orderan yang masuk, Revi memotong kain sesuai ukuran yang dibutuhkan, Tari dan Roni sebagai kurir saat ada permintaan COD atau mengantar paketan ke tempat jasa pengiriman barang.
Namun dibalik kesuksesannya yang masih belum seberapa itu, seperti ada yang kurang dalam diri Sheerin. Levin, ya, Levin. Akhir-akhir ini dia sudah jarang sekali menemui Sheerin secara langsung. Kendati demikian, laki-laki itu selalu rajin melakukan panggilan video call sehari tiga kali. Seperti minum obat memang, tapi itu kenyataannya. itu semua terjadi karena Levin sudah mulai masuk ke perguruan tinggi.
Kegalauan dan kesibukannya mengalihkan perhatiannya dari gelang kaki dan harus menunggu waktu yang tepat untuk mencari tau tentang fakta yang sesungguhnya.
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...