Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Kritis


__ADS_3

"Keluarga pasien Sheerin?" Seorang dokter dan beberapa perawat nampak menghampiri mereka. Sontak itu membuat perdebatan mereka teralihkan. Kini, sang dokter yang menjadi pusat perhatian mereka.


"Iya dokter, bagaimana keadaan Sheerin sekarang? Dia baik-baik saja kan?" Levin yang langsung menjawab pertanyaan dokter dan membalasnya dengan pertanyaan.


"Saya kembarannya dok, gimana keadaan Sheerin?" Nindi ikut-ikutan bertanya, dia menggeser tubuh Levin sehingga dirinya yang kini berada di posisi paling depan.


"Apaan sih loe!" Levin menggerutu melihat kelakuan Nindi.


"Sudahlah, kita dengarkan dulu perkataan dokter!" Bima melerai. Sedangkan Clarissa mengerlingkan mata melihat Nindi dan Levin yang nampak akrab meskipun tidak begitu akur. Rasa panas mulai menyelimuti hatinya.


"Pasien kritis, kondisinya sangat mengkhawatirkan, terjadi kebocoran di bagian kepalanya akibat benturan keras, dia kehilangan banyak darah, sedangkan kami tidak memiliki stok untuk golongan darah AB- ini." Jelas dokter, singkat padat jelas dan mudah dipahami.


Kabar duka ini begitu membahagiakan bagi Clarissa, dia berharap semoga saja Sheerin cepat mati, agar tak ada lagi penghalang antara dirinya dengan Levin.


"Ambil darah saya sebanyak-banyaknya dok, asalkan Sheerin bisa selamat." Levin menyodorkan dirinya kepada dokter, siap untuk diambil darahnya.


Senyuman sinis di bibir Clarissa memudar seiring dengan kalimat yang Levin ucapkan. Sedang sekarat saja perempuan itu masih menjadi ancaman bagi Clarissa.


"Tapi kami tidak sembarangan mengambil darah seseorang." Ucap sang dokter. Levin tertunduk lesu, benar apa kata dokter, golongan darah yang dia miliki adalah O. Mulai Frustasi, bagaimana dia bisa meringankan rasa sakit yang di rasakan Sheerin?


"Dokter, saya kembarannya, pasti golongan darah kita sama." Ujar Nindi seperti menyibak tirai hitam di depan mata Levin. Levin bisa sedikit bernafas lega, setidaknya masih ada harapan untuk Sheerin kembali sembuh.


"Baiklah kalau begitu, kita lakukan prosedur pengambilan darah sekarang juga. Silahkan ikut dengan perawat kami!" Titah sang dokter.


Nindi mengangguk samar, namun saat kakinya baru saja melangkah, sebuah tangan menahannya.


"Sayang!" Bima berseru, raut kecemasan mulai menghiasi wajah datar itu.


"Nggak apa-apa kak, aku pasti bisa kok." Ucap Nindi, seulas senyum dua tampilkan agar suaminya itu tak terlalu cemas.


"Kamu yakin?" Tanya Bima kemudian.


"Iya kak, kakak tenang aja."


Setelah melalui drama singkat, akhirnya Bima melepaskan Nindi dengan berat hati. Pasalnya, Bima tak tega jika harus melihat istrinya itu kesakitan. Namun ini adalah pilihannya, sedikit banyak Bima harus menghargainya, bukan. Apalagi ini menyangkut nyawa seseorang.

__ADS_1


Kini, hati kedua laki-laki yang terpaut usia 6 tahunan itu tengah dilanda kecemasan, sama-sama mengkhawatirkan keadaan perempuan yang mereka kasihi.


***


"Sedang apa kamu Anya?" Suara itu menyadarkan mama Anya dari lamunan panjangnya.


"Luis!" Mama Anya terperangah, cukup kaget juga karena Luis tiba-tiba muncul di hadapannya.


Kemudian Luis duduk di samping mama Anya.


"Apa lagi yang kamu pikirkan? Bukankah semua telah ada di genggaman tanganmu?" Tanya Luis kemudian.


Suasana kembali hening, sehening sebelum Luis datang.


Mama Anya menjatuhkan kepalanya tepat di pundak Luis, bahu ternyaman untuk dijadikan sandaran baginyq.


"Ya, kamu benar Luis, aku sudah mendapatkan semua milik Lukman, aku tak menyangka untuk mendapatkan ini semua butuh waktu hingga belasan tahun lamanya. Tapi kini semuanya telah terbayar, keadaannya sudah berbalik, kita yang berbahagia dan mereka yang menderita." Sunggingan sinis diujung bibir mama Anya.


"Selamat atas keberhasilan mu itu Anya, kamu pantas mendapatkan ini semua setelah pengorbanan dan kerja keras yang kamu lakukan selama ini." Luis merengkuh bahu mama Anya dan mengusapnya. Belaian dari tangan itu yang senantiasa selalu mama Anya rindukan.


Luis nampak gelagapan, jika dirinya tinggal dirumah ini bersama Anya, lantas bagaimana dengan sandraannya?


"Itu bisa di atur Anya." Elaknya.


"Ada satu kabar yang pasti akan membuat kebahagiaanmu semakin sempurna." Imbuh Luis, membuat alis mama Anya terangkat.


"Apa itu?" Bertanya dengan serius.


"Sheerin baru saja mengalami kecelakaan." Jawab Luis.


"Apa? Hahaha. Biarkan saja, akan lebih bagus jika dia segera menyusul ibu dan ayahnya ke neraka." Tertawa puas, merasa kebahagiaan dunia berada di genggaman tangannya.


Luis menatap mama Anya yang terlihat sangat gembira itu. Lantas, apa kebahagiaan itu akan tetap bisa mama Anya rasakan setelah dia tau jika sebenarnya ibu kandung si kembar masih hidup dan menjadi sandraan Luis selama ini?


Luis tak bisa membayangkan bagaimana kemarahan mama Anya saat dia mengetahui rahasia besar yang selama ini dia simpan dengan sangat rapat?

__ADS_1


Entah seberapa besar cinta yang mama Anya miliki untuk Luis, sehingga dia rela berkorban selama belasan tahun hanya untuk membalaskan sakit hati yang Luis rasakan di masalalu. Kebersamaanya dengan Lukman tak bisa membuat mama Anya berpaling dan melupakan Luis dengan mudah. Selalu saja Luis menjadi rumah tempatnya pulang seberapa jauhpun dia berkelana.


"Namun ada juga kabar buruknya." Ucap Luis membuat tawa mama Anya terhenti.


"Apa?" Mama Anya mengangkat kepalanya setelah sekian lama bersandar, menatap Luis dengan serius.


"Bima menolak bercerai dengan anak itu." Jawab Luis.


Mama Anya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, menghela nafas berat. Pikirannya tertuju pada satu nama sekarang, Bima. Putra yang pernah dia lahirkan dulu, yang ia timang semasih bayi, yang dia araji berjalan diatas kakinya sendiri, tangan mungil yang jika berjalan selalu mengenggam tangannya.


Akankah waktu mau berbesar hati menghapus rasa sakit yang pernah dirasakan putranya selama ini? Masa kecilnya yang tercampakkan, pasti anak itu melalui hari-harinya dengan menyedihkan setelah kepergian mama Anya. Namun, Luis selalu meyakinkan jika Bima adalah seorang anak laki-laki, yang harus tumbuh kuat seperti karang di lautan, tahan bantingan ombak dan terjangan sang badai.


Dan terbukti, kini Bima tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tangguh dan mandiri, dia benar-benar bisa berjalan di atas kakinya sendiri, seperti apa yang dikatakan Luis.


"Kenapa dia menolak?" Tanya mama Anya kemudian.


"Bima mencintainya, kita salah telah menikahkan mereka." Jawab Luis.


"Baiklah, kita harus pakai cara lain, jika sekarang Bima bersikeras tidak ingin menceraikan anak itu, maka aku pastikan jika nanti Bima sendirilah yang akan menendang anak itu dari hidupnya. Hah!" Terbesit suatu rencana di kepalanya.


"Bagaimana caranya?" Tanya Luis penasaran.


"Langkah pertama adalah, matikan semua cctv yang ada di rumahmu!" Seru mama Anya.


"Kamu tidak perlu cemas Anya, di rumah itu tidak di awasi dengan cctv." Jawab Luis cepat.


"Kenapa?"


Karena jika di pasangi cctv, mungkin rahasia Luis sudah terbongkar sejak dulu.


"Tidak apa-apa." Gelagapan menjawab, mama Anya menganggap gelagat Luis adalah satu hal yang wajar.


"Lalu, langkah berikutnya?"


____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....


__ADS_2