
Krek!
Suara pintu di buka, Sheerin terperanjat, cepat-cepat dia menyembunyikan alat riasan wajah yang berceceran di pangkuannya ke bawah bantal.
"Nindi!" Seru Sheerin saat melihat wajah yang mirip dengan dirinya muncul dari balik pintu.
Nindi nampak mengatur nafasnya yang tersengal, seperti habis lari maraton saja.
"Kenapa loe masih disini? Bukannya tadi loe bilang mau balik dulu ke rumah kak Bima?" Tanya Sheerin yang merasa bingung dengan kembalinya Nindi.
"Gawat She, gawat!" Dipaksakan bicara meskipun nafasnya masih belum teratur. Jadilah Nindi tidak bisa bicara dengan jelas.
"Gawat apanya sih Nin?" Tanya Sheerin dengan dahi mengerut.
"Levin, Levin!" Bicaranya sambil menunjuk-nunjuk ke sembarang arah, membuat Sheerin semakin kebingungan.
"Levin kenapa? Loe kalau ngomong itu yang jelas dong Nin!" Sheerin bicara dengan geram.
"Oke, bentar." Nindi kembali mencoba mengatur nafasnya. Setelah dirasa bisa menguasai diri, dia mulai bicara. Sheerin sangat menantikan penjelasan dari saudara kembarnya itu.
"Oke, gimana?" Tanya Sheerin.
"Tapi, loe jangan kaget ya!" Jawab Nindi.
"Kenapa gue harus kaget? Sebenernya ada apa sih? Jangan muter-muter gitu ngomongnya!" Merasa dipermainkan, Sheerin pura-pura merajuk.
"Levin, dia kecelakaan di depan rumah sakit tadi pas jalan kesini."
Duarrr!
Bagaikan disambar petir disiang hari Sheerin mendengar kalimat itu.
Pranggg!!
Cermin yang sedari tadi dia pegang, seketika terlepas dari genggaman tangannya. Pecahan kaca pun langsung berceceran di atas lantai.
Sedari tadi Sheerin sedang menunggu kedatangan Levin, namun nyatanya, malah kabar buruk yang tiba disana. Sheerin terdiam, dadanya bergemuruh tak ingin percaya dengan apa yang Nindi sampaikan.
Lututnya melemas, matanya terasa panas dan berkaca-kaca. Hatinya terasa nyeri dan perih. Menyesal? Ya, mungkin benar apa yang Nindi katakan kemarin, jika Sheerin akan menyesal telah bersikap acuh kepada Levin. Dan selalu saja penyesalan itu datangnya terlambat.
"Dimana dia sekarang Nin?" Tanya Sheerin dengan suaranya yang bahkan terdengar lemah.
"Dia ada di ruang IGD, keadaannya sangat menghawatirkan." Ucap Nindi dibuat se-dramatis mungkin.
Kemudian Sheerin menarik-narik tangan Nindi.
"Ayo Nin, anterin gue kesana sekarang!" Seru Sheerin tak sabaran.
"Tapi loe kan belum sembuh bener She!" Jawab Nindi.
"Pokoknya anterin gue sekarang Nin, gue mau liat keadaan dia. Ayo! Ayo cepet!" Memaksa sambil menarik Nindi semakin kencang, agar di kabulkan permintaannya.
"Loe yakin mau liat dia She?" Tanya Nindi.
"Iya, ayo cepetan Nin!" Air matanya pecah juga, Nindi sebenarnya tidak tega melihat Sheerin bersedih seperti ini, tapi... Apa boleh buat?
__ADS_1
"Oke kalau gitu, gue cari kursi roda dulu ya!" Sheerin mengangguk cepat, agar cepat pula dia bertemu dengan Levin.
***
Sheerin tak bisa duduk dengan tenang diatas kursi roda, hatinya begitu gelisah membayangkan keadaan Levin saat ini. Jangan sampai Levin kenapa-napa, kalau itu sampai terjadi, Sheerin pasti tidak akan kembali menjadi orang waras.
Dia begitu menyesal telah membentak dan mengusir Levin kemarin, bahkan dia belum sempat meminta maaf atas perbuatannya itu.
"Nin, Levin bakalan sembuh kan?" Tanyanya dengan bibir gemetar menahan ketakutan. Dia menyentuh tangan Nindi yang sedang mendorong kursi rodanya.
"Gue juga nggak tau She!" Jawab Nindi.
Nindi berhenti mendorong kursi roda tepat didepan ruangan instalasi gawat darurat. Sheerin menoleh kearah pintu IGD yang sedikit terbuka itu sambil menahan gejolak yang timbul d hatinya. Apa Levin didalam sana sedang menahan kesakitan? Jika iya, kurangi sedikit rasa sakit yang di deritanya, Tuhan!
"Nin, kok pintunya kebuka sih?" Tanya Sheerin.
"Nggak tau, mungkin dokter udah selesai meriksa dia." Jawab Nindi.
"...tapi loe jangan kaget ya She, terakhir kali gue liat dia keadaannya kritis banget." Imbuhnya.
"Loe kok ngomongnga gitu sih Nin?"
"Ya, gue cuma bica fakta She!"
Nindi kemudian membuka pintu ruang IGD lebar-lebar, mendorong Sheerin masuk kedalamnya.
Suasana didalam sana terasa sangat mencengkam, bau obat-obatan langsung tercium hidung Sheerin dan Nindi. Tidak ada dokter disana, mungkin benar apa kata Nindi, jika dokter telah selesai memeriksa Levin. Tapi, dimana Levin?
Nindi terus mendorong kursi roda yang di duduki Sheerin semakin jauh menyusuri ruangan itu, hingga sebuah pemandangan janggal bisa Sheerin lihat.
Sekujur tubuh kaku tertutupi selembar kain putih sedang terbaring diatas brangkar. Benarkah itu Levin? Sheerin harap bukan.
Astaga!
Apa benar-benar tidak ada kesempatan lagi untuk Sheerin memperbaiki semuanya? Untuk mereka bersama? Kenapa Tuhan memanggilnya secepat ini?
Adilkah ini semua untuk Sheerin? Kenapa semua kisahnya bersama Levin harus berakhir bahkan sebelum semuanya dimulai?
"Leviiiin! Huhu :(" Tubuh Sheerin reflek beranjak, lalu berhambur memeluk tubuh kaku itu, tak perduli dengan jarum infus yang tertarik dan melukai tangannya.
Di bukanya sehelai kain yang menutupi wajah itu. Benar saja, dia adalah Levin. Wajahnya nampak pucat seperti sudah tak ada lagi aliran darah didalam tubuhnya.
Tangisan Sheerin semakin histeris, dia memeluk tubuh itu dan mengguncangnya. Memohon-mohon agar Levin kembali.
"Bangun Lev, aku mohon bangun. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu Lev. Aku mohon banguuun! Huhuhu." Berteriak seperti orang kesetanan, bahkan air matanya bercucuran bak air terjun dan membasahi kain putih itu.
"Kamu nggak bisa tinggalin aku kayak gini Lev, kamu udah ingkari janji kamu buat datang dan temuin aku lagi. Huhu :("
"Aku mohon kamu bangun Lev, aku janji aku nggak akan usir kamu lagi. Aku nggak akan sakiti kamu lagi. Aku akan kasih apa aja yang kamu mau asalkan kamu bangun Lev!"
"LEVIIIIIN, BANGUUUUN!" Tangisan nya semakin memilukan, dia mencengkam erat-erat kain putih yang menutupi tubuh Levin. Berharap jika semua yang terjadi di depan matanya ini hanyalah sebuah mimpi. Namun, sekeras apapun Sheerin berusaha untuk terbangun, tetap saja dia tak mampu. Sebab ini bukanlah mimpi, ini adalah kenyataan pahit yang harus dia hadapi. Kembali kehilangan orang yang dia kasihi di dalam hidupnya.
Levin benar-benar telah tiada.
Sheerin terus saja mengucapkan kalimat penyesalannya, meratapi keadaan Levin yang sudah tak bernyawa lagi.
__ADS_1
Nindi tak bisa lagi menahan diri saat melihat bibir Levin yang bergerak-gerak menahan tawa, kemudian tawa Nindi meledak seketika. Sudah, sudah hentikan semua drama ini.
"Bhahaha." Tawa Nindi dan Levin seketika meledak memenuhi seisi ruangan itu, membuat Sheerin yang sedang menenggelamkan wajahnya di atas tubuh Levin itu mendongak karena ada sebuah gerakan dari tubuh itu yang mengganggu aktifitas menangis nya.
Dan, suara itu, suara yang sangat Sheerin hafal.
"Astaga, gue bener-bener nggak kuat Nin!" Levin terlihat memegangi perutnya sambil haha hihi ketawa ketiwi. Kemudian beranjak untuk duduk.
Sheerin masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dia menatap Levin yang tiba-tiba saja terbangun dengan wajah panik bercampur bingungnya.
Harusnya Sheerin merasa senang, bukan? Setelah do'a nya agar Levin bangun dikabulkan Tuhan dalam hitungan detik? Tapi kenapa dia malah merasa kesal setelah sadar jika dirinya sedang dikerjai oleh mereka?
"Iya, astaga! Ini bener-bener kocak!" Nindi masih belum bisa meredam tawanya, bahkan kini perutnya terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.
Astaga!
Kenapa Sheerin bisa sebodoh ini? Dimana dia harus menyembunyikan wajahnya sekarang? Cepat-cepat dia menyusut pipinya yang sembab, masih menahan getaran didalam hatinya.
"Kalian sekongkol ngerjain aku ya?" Wajah Sheerin kini sudah merah menyala menahan kesal dan juga malu.
"Maafin aku ya, ini semua idenya si urakan tu!" Levin menunjuk Nindi dengan gerakan bibirnya.
"Enak aja, siapa suruh juga loe ngikutin ide gue." Nindi tak ingin disalahkan sendiri disana.
"Kalian itu bener-bener ngeselin ya!" Ucap Sheerin.
"Tapi ya nggak apa-apa, dengan begini, kamu udah ngaku kan kalau kamu sayang sama aku, kan." Ucap Levin dengan kepercayaan diri penuh.
Sheerin membulatkan matanya, itu kan kata-kata yang keluar dari mulutnya tanpa dia sadari. Mungkin itu adalah kata-kata dari lubuk hatinya yang terdalam. Jika dia sangat mencintai Levin.
Menyadari jika dirinya sedang di sudutkan, Sheerin mencubit perut Levin dengan kencang. Membuat pemilik perut itu meringis kesakitan.
"Aww, sakit tau She!" Ucap Levin sambil memegangi perutnya yang habis di cubit Sheerin.
"...tadi aja nyuruh aku cepet-cepet bangun. Guliran udah bangun malah dicubit." Protes ya kemudian.
"Biarin, biar kamu kapok nggak ngerjain aku lagi!" Ucap Sheerin sambil memajukan bibirnya dengan kesal.
"Ya udah deh, aku mati beneran nih!" Levin bersiap untuk kembali berbaring, namun dengan cepat Sheerin menahannya.
"Jangaaan!" Sheerin menarik tangan Levin untuk kembali ke posisinya semula.
Sheerin langsung memeluk tubuh Levin dan mendekapnya erat-erat. Dengan senang hati Levin menyambut pelukan Sheerin dan membalasnya tak kalah hangat.
Nindi tertawa sendiri sambil geleng-geleng kepala melihat dua bocah yang sedang kasmaran itu, semoga saja setelah ini tidak ada lagi kesalah pahaman di antara mereka.
Timbul ide jahil di pikirannya untuk menggoda Sheerin.
"Cieee Sheerin, akhirnya baikan juga. Kayaknya sebentar lagi bakalan ada yang naik pelaminan nih, witwiw." Menggoda sambil menaik turunkan alisnya.
Sheerin semakin menenggelamkan wajahnya didada Levin saat mendengar ledekan dari Nindi, tak bisa dipungkiri senyumnya merekah disana.
"Kuliah dulu kali, emangnya loe ngebet banget pengen nikah?" Ucap Levin.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...