Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
38


__ADS_3

Sampailah di restoran, Sebelum rapat, Sekertaris Kim mempersiapkan meja untuk Abraham terlebih dahulu. Setelah merasa Abraham nyaman, Sekertaris Kim pamit rapat.


Sedangkan Doris memesan makanan untuk dibawa kembali ke kantor untuk menyelesaikan tugasnya. Walau Abraham sudah menyuruhnya makan bersamanya, Doris menolak, karena.


"Makan berdua dengan bos besar? sama saja mati, iya setidaknya kalau ada sekertaris Kim, aku masih berani sedikit untuk berbicara selain masalah kantor. Kalau masalah pekerjaan juga mending sekalian aku mengerjakannya saja di kantor. Apalagi suasana hati tuan sedang kacau. Matilah aku"


Abraham di ruangan VVIP dan memakan makanannya.


"Sepertinya kurang sesuatu" Gumam Abraham mengomentari makanannya itu. "Seminggu ini aku rasa makanannya semakin berubah tidak sedap, karena harus makan tanpa Elis berhari-hari" Abraham meletakkan kembali sendok dan garfunya dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Menengadahkan kepalanya, melihat langit-langit restoran itu yang berwana putih.


"Kim, benar. Tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang. Aku harus memastikan Elizabeth mampu menanggungnya bersama ku"


Karena tak nyaman, Abraham mengeluarkan Rokoknya dan membakarnya. Menghisap rokok itu, membuat Abraham merasa tenang. Abraham jarang merokok, namun jika hatinya sedang kacau dia akan merokok setengah bagian saja. Kalau dia benar-benar tidak tenang dia akan minum alkohol sampai mabuk, walau sekarang kadar alkohol untuk membuatnya mabuk harus memiliki kadar yang sangat kuat dan banyak.


Saat ini dia tidak bisa memesan alkohol, karena dia harus segera menyelesaikan tugas kantornya itu.


Abraham memilih memejamkan matanya, menarik nafasnya kasar, mencari oksigen yang mulai berkurang.


Disisi lain.


Sekertaris Kim sedang menemui client nya.


Setelah selesai dia langsung melangkah kembali ruangan Abraham.


"Kau sudah selesai, Kim?" tanya Abraham "Ayo Kita kembali ke kantor!" lanjut Abraham tanpa menunggu jawaban dari Sekertaris Kim.


"Baik, tuan besar" jawab Sekertaris Kim. Abraham dan Sekretaris Kim keluar dari restoran itu.


"Sekertaris Kim? Abraham?!" panggil seseorang pada Sekertaris Kim dan juga Abraham. Seorang ibu anak satu yang mengandeng anaknya berjalan ke arah Sekertaris Kim dan Abraham.


"Nona, anda di sini?" tanya Sekertaris Kim melihat orang yang memanggilnya itu. Anak laki-laki yang di gandeng sangat gembul dan sibuk dengan es krim yang dia bawa.


" Apa kabar kalian? Sudah lama ya tidak bertemu? Kalian kemana aja?" tanyanya ramah.


"Kami baik, nona. Hanya saja pekerjaan sedang menumpuk" Jawab sekertaris Kim cukup menjawab semua pertanyaan wanita itu.


"Kau sendiri bagaimana?" Kini Abraham yang bertanya pada wanita itu


"Alhamdulillah baik"


"Hai sayang. Kau tambah tampan saja, ya" Abraham membungkuk dan mencolek pipi tembam anak laki-laki itu yang masih sibuk dengan es krimnya.

__ADS_1


"Ancel ancel. El Kim" ujar anak kecil itu menunjukkan es krim yang dia pegang nya itu pada Abraham.


"Dia menawarkan mu eskrim nya, Ham" ujar wanita itu menterjemahkan maksud sang anak.


"Ancel tak suka eskrim, sayang. Untuk kau saja, ya" Abraham mengulurkan tangannya akan mengendong anak laki-laki itu. Seakan mengerti sang ibu pun melepaskan tangan yang memegang anaknya.


Abraham mengangkat tubuh kecilnya itu dalam ngendongan nya.


"Kau tambah berat saja, ya!" ujar Abraham pada anak kecil yang gembul itu. Wajahnya pun sudah belepotan dengan es krim. Mendengar pernyataan Abraham, sang anak mengembangkan kedua pipinya, membuat dirinya lebih Cabi"


"Uwil Engga elat, Ancel" protes anak kecil itu. Dia tidak terima di katakan berat oleh Abraham.


"Iy, tah? Tapi ancel rasa beratmu semakin bertambah banyak" anak itu meneruskan memakan es krim tanpa peduli dengan ocehan Abraham.


"Apakah es krimnya enak?" tanya Abraham yang melihat betapa enaknya anak itu memakan es krimnya.


"Enak lah" jawabnya semangat.


"Aku tidak melihat tuan Dion, Nona?" tanya Sekertaris Kim pada wanita itu. Ya kalian benar? wanita itu adalah Anggraini dan Syaquille ( Baca Di CT Vs CT, ya?)


"Dia ada jadwal bertemu dosennya, Kim" jawab Anggra. "Aku dengar saat ulang tahun Syaquille dulu, Terjadi masalah, apa sudah terselesaikan, Kim?"


"Sudah, nona. Semua sudah terselesaikan dengan baik"


Mendengar pertanyaan itu, Abraham dan Sekertaris Kim cukup terkejut, mereka saling pandang sejenak, Pasalnya luka itu hanya Anggota Darkness saja yang tau, dan itu hanya sebagian juga tidak semua anggota.


"Hanya luka kecil, Rin. Bukan masalah yang besar" jawab Abraham.


"Em. Baguslah"


"Ancel ancel, kapan main cama Syaquille agi?"


"Ancel masih banyak kerjaan, sayang. Jika sudah selesai, ancel akan ajak Syaquille bermain ke taman hiburan. Seperti waktu itu" ujar Abraham semangat.


"Ye.. Ita Ayen uter-uter, ya?"


Abraham melirik Anggra, dia tidak mengerti maksud Syaquille. Abraham mengerti sedikit tentang bahasa Syaquille yang belepotan itu, jika dia tidak mengerti, dia akan bertanya pada Anggra atau Dion.


"Dia mengajakmu main puter-puter, Seperti waktu itu, Ham" jelas Anggra.


"Oh. Baiklah. Kita main putar-putaran" jawab Abraham tentang pertanyaan Syaquille. Syaquille langsung bersorak gembira.

__ADS_1


"Kapan kau akan bawa istrimu itu, Ham? Aku sudah penasaran dengan wajahnya. Kau sampai seperti itu, saat dia pergi"


"Anda tau, tuan sudah menemukan istrinya, nona?" tanya Sekertaris Kim.


"Kapan-kapan, ya. Dia pasti sangat senang jika aku kenalkan dengan mu dan juga Syaquille" jawab Abraham yang hampir bersamaan dengan pertanyaan Sekertaris Kim tadi.


"Bagaimana aku tidak tau Kim. Sang pengusaha sukses yang sedang naik daun menikah. Pasti banyak yang akan membicarakannya, walau tidak kalian sebarkan di berita" jawab Anggra.


"Bawa dia saat kau sudah tidak sibuk dan saat kau akan mengajak Syaquille bermain" Ujar Elizabeth untuk Abraham.


"Tentu?!" Jawab Abraham.


"Aku dan Syaquille kesini mau makan. Apa kalian kesini juga mau makan, Kim Ham?"


"Ah tidak, nona kami sudah makan, dan kami akan kembali ke kantor" Jawab Sekertaris Kim


"Ah sayang sekali" ujar Anggra yang kecewa.


"Kembalilah ke ibumu, anak baik" ujar Abraham mengembalikan Syaquille ke gendongan Anggra.


Anggra mengambil anaknya.


"Cepat lah menyusul, Ham. Syaquille pasti senang punya teman"


"Em. Doakan saja?!"


"Ayo, sayang. Dadah pada uncel Ham dan uncel Kimnya"


"Adah" ucap Syaquille melambaikan tangannya.


"Berhati-hatilah" Ujar Abraham pada Anggra yang akan pergi.


"Aku tunggu kabar dari kalian" balas Anggra yang melangkah masuk ke restoran.


"Baik, nona"


Abraham masih menatap kepergian Anggra dan juga Syaquille, sampai tubuh itu tidak terlihat lagi.


"Tuan, saya rasa..."


"Kau benar, Kim. Kau cari tau saja. Tapi jangan sampai menyakiti mereka" ujar Abraham.

__ADS_1


"Baik, Tuan Besar"


__ADS_2