
"Cuih!" Sheerin meludahi wajah Luis. Luis memejamkan matanya saat wajahnya kini basah karena diludahi Sheerin.
"Kurang ajar sekali kamu!" Luis membentak Sheerin dengan nada tinggi. Luis semakin menggila, dia merobek piyama yang Sheerin kenakan, hingga kini tank top Sheerin terlihat dengan jelas.
Sheerin menangis sesegukan. Sedangkan jeritan Fira semakin histeris.
"Tolooooong!" Sheerin berteriak sekuat yang ia bisa, berharap ada manusia yang mendengar jeritannya dan sudi menolong.
Dia menutupi piyamanya yang sobek dengan kedua tangannya, Luis semakin mendekat, kemudian tangannya meraih dagu Sheerin, membuat gadis itu semakin ketakutan.
"Tutup mulutmu itu. Tidak akan ada orang yang berani masuk ke tempat ini. Apalagi untuk menolong mu. Hidupmu akan berakhir di tempat ini malam ini juga. Jadi, nikmati ini untuk yang pertama dan terakhir bagimu!" Suaranya nyaring mengerikkan, Sheerin bahkan ingin muntah saat melihat wajah tuanya dalam jarak sedekat itu.
"Tolong lepaskan putriku. Dia tidak bersalah!"
Teriakan Fira sama sekali tak diindahkan Luis, jika pria gila itu menginginkan sesuatu, maka tak ada yang bisa menghalangi langkahnya.
Pelan tangan kasar itu menelusuri pipi mulus Sheerin yang sembab dari atas sampai bawah. Sheerin semakin gemetar, dia memalingkan wajahnya ke kanan lalu kekiri untuk menghindari sentuhan menjijikan itu.
BRRRRMMMM!
BRAAKKKKKK!
Ketiga manusia itu tersentak saat mendengar suara benda keras yang seperti habis di tabrak sesuatu.
Luis terpaksa harus menghentikan kegiatannya untuk memastikan ke adaan masih baik-baik saja. Sheerin bisa sedikit bernafas lega karena Luis kini menurunkan tangannya dari wajahnya. Namun tak bisa dipungkiri, ketegangan yang ia rasakan masih berlanjut, keringat dingin tak henti mengalir deras dari pelipisnya. Nafasnya tak beraturan, sesak yang ia rasakan di dalam dada.
Fira berharap akan ada seseorang yang menyelamatkan putrinya dari pria psikopat itu. Dia melihat Luis yang melewati dirinya, melangkah mendekat ke arah jendela, melihat keadaan di luar sana untuk memastikan berasal dari mana suara bising tadi.
Netranya menyipit saat sebuah cahaya menyilaukan menembus kornea matanya. Itu adalah sorot lampu motor, namun yang bisa dilihat Luis, motor itu dalam posisi terjungkal dan pagar besi rumah kosong itu sudah roboh. Seorang pemuda nampak berusaha bangkit dari jatuhnya.
Astaga!
Ada seseorang yang telah menghancurkannya. Bagaimana ini? Apa anak itu sempat meminta bantuan sebelum Luis memusnahkan ponsel miliknya tadi?
Luis nampak panik, dia berdecak, mondar mandir di dekat jendela sambil memijat pelipisnya. Berpikir. Langkah apa yang harus dia ambil saat ini? Saat dirinya merasa tersudut. Tak mungkin dirinya memindahkan Fira dan Sheerin dari rumah kosong itu bersamaan. Sedangkan di depan sana, kedatangan seseorang bagaikan ancaman besar baginya. Apa perlu Luis melenyapkan pemuda itu juga?
"Bertahanlah nak, kamu pasti selamat!" Fira berkata lirih.
"Mama." Sheerin berkata penuh haru, ingin sekali rasanya Sheerin berlari dan memeluk ibu kandungnya itu. Ini adalah moment yang tak pernah ia duga dalam hidupnya. Bertemu dengan perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini. Namun apalah daya, kaki dan tangannya kini terikat.
Yang bisa Sheerin dan Fira lakukan hanyalah saling ber sitatap dan menguatkan melalui sorot mata keduanya. Sedangkan Luis nampak masih berpikir keras sehingga tak menyadari jika dua perempuan itu sedang melepas rindu dari jarak jauh.
***
Levin sampai dirumah kosong itu dalam waktu kurang dari 20 menit, dia dengan kecepatan maksimal melajukan motornya. Gila memang, namun dia akan jauh lebih gila jika Sheerin sampai terluka. Dia melihat gemboknya pun juga sudah berkarat, sulit untuk dibuka.
Apalagi keadaan di tempat itu sangat sepi, tidak ada satu makhluk hiduppun yang berkeliaran disana untuk di mintai tolong.
Levin harus memutar otak untuk bisa masuk ke dalam sana. Sebuah ide baru saja melintas di kepalanya. Dengan cepat dia kembali naik ke atas motornya, menyalakan mesin kemudian memundurkan motornya, mengambil ancang-ancang. Lalu...
BRRRRRMMM!
BRAAAAAKKK!
__ADS_1
Levin dengan kecepatan penuh memutar gas pada motornya. Motor itupun melayang, menghantam gerbang sampai gerbang itu hancur. Levin dan motornya terpental ke arah yang berbeda. Tubuh Levin sampai terguling-guling di tanah yang ditumbuhi rumput liar itu, setelahnya ia jatuh tersungkur, begitupun dengan motornya. Motornya kini mendarat di halaman rumah kosong itu dengan posisi terbalik. Levin berusaha untuk bangkit setelah terpental cukup jauh. Dia mengerang kesakitan, tubuhnya terasa remuk akibat menghantam tanah.
"Arrrgh!"
Levin mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan, dia harus segera membebaskan kekasihnya dari tempat ini. Ia berjalan sambil memegangi tangannya yang terasa sakit, mendekati bangunan tua itu. Keadaan di dalam sana cukup gelap. Levin tak dapat melihat dengan jelas keadaan di dalam sana.
Dia menatap pintu usang di hadapannya. Sepertinya bukan hal yang sulit untuk dapat masuk ke dalam bangunan itu, tidak seperti saat membuka gerbang tadi.
BRAAAKK!
Dalam sekali tendangan kakinya, pintu yang sebagiannya sudah habis di makan rayap itupun hancur berkeping-keping. Semudah itu.
Tanpa berpikir panjang, Levinpun masuk ke dalam. Tak lupa ia menyalakan senter di ponselnya sebagai alat penerangan.
"Sheerin?" Suaranya menggema di setiap sudut ruangan.
"Lev... Hmmmpt!" Samar-samar Levin mendengar suara yang tertahan. Itu pasti Sheerin.
"Toloong!" Kemudian suara asing terdengar. Suara siapa itu? Sepertinya suara itu berasal dari ruangan lain.
Sementara itu, Luis membelap mulut Sheerin saat ia berusaha untuk berteriak.
"Diamlah!" Mengancam dengan sorot matanya yang menakutkan.
"Tolooong!" Sial! Luis tidak dapat membungkam mulut Fira dalam waktu yang bersamaan.
"Sheerin? Kamu dimana?" Suara Levin kembali terdengar. Sheerin sudah bersorak sorai di dalam hatinya, Levin datang. Dia benar-benar datang untuk menyelamatkan dirinya dan juga ibu kandungnya. Maka, tamatlah riwayatmu tua bangka! Sheerin mengutuki Luis di dalam hatinya.
Tap... Tap... Tap...
"Emmmptt." Sheerin berusaha untuk bersuara, bahkan kini Luis telah melekatkan lakban di mulut Sheerin. Dia memggerak-gerakkan tubuhnya, berontak. Luis menuntun Sheerin untuk berdiri. Tangan kirinya mencengkam kuat-kuat tangan Sheerin yang terikat. Sedangkan tangan kanannya menaikkan senjata apinya, mengarahkannya tepat di pelipis Sheerin yang berkeringat.
Astaga!
Jika pelatuknya benar-benar di tarik oleh Luis, maka habislah nyawa Sheerin saat itu juga.
"Diam, atau ku tembak kamu!" Begitulah ancaman Luis. Karena ketakutan, Sheerinpun terdiam dan tak berani untuk bergerak.
"Sheerin!" Mata Levin membulat sempurna saat ia melihat Sheerin berada di ruangan itu. Yang membuatnya terkejut adalah, Sheerin sedang berada dalam bahaya. Sebuah senjata api menyentuh pelipisnya, sedangkan di sampingnya berdiri laki-laki yang sepertinya Levin pernah liat tapi ia lupa dimana mereka pernah bertemu.
"Tolong lepaskan putriku." Seru Fira di posisinya. Matanya sudah berbinar, akhirnya ada seseorang yang akan menyelamatkan mereka dari tempat terkutuk itu.
Luis tidak sempat menyumpal mulut Fira menggunakan lakban juga karena waktunya yang begitu mepet. Levin menoleh ke arah Fira. Dia bilang apa? Putriku? Apa maksud Sheerin perempuan yang di sekap pria itu adalah ibu kandungnya?
"Diam kamu!" Bentakan Luis menyadarkan kembali Levin akan tujuannya datang ke tempat itu.
"Hmmmpt."
"Tolong lepaskan dia!" Ucap Levin pada Luis.
"Haha. Jangan harap!" Balas Luis.
Levin berusaha untuk mendekati Luis dan Sheerin. Langkahnya terhenti saat Luis membentaknya.
__ADS_1
"Berhenti disana! Atau aku tembak dia?" Luis mundur beberapa langkah, Sheerin ikut terseret. Dia berusaha menggoyang-goyangkan tali yang mengikat tangannya di belakang tubuhnya perlahan, siapa tau dengan cara itu ikatannya bisa sedikit longgar dan terlepas. Sheerin setenang mungkin melakukannya, meskipun tubuhnya gemetar hebat sekarang.
Levin tak kehabisan akal, untung saja dia dikaruniai otak yang cerdas. Dia mengarahkan senter di ponselnya tepat di wajah Luis. Membuat pria itu memejamkan matanya karena kesilauan. Sheerin juga merasakan dampaknya, matanya ikut terpejam.
Disaat itulah Levin bergerak maju, dia menendang tangan Luis, sehingga senjata api yang ada di genggaman tangannya terlepar ke sembarang arah.
Sheerin dan Luis kembali membuka mata, Sheerin bisa bernafas lega karena pistol itu kini sudah menjauh darinya. Setidaknya posisinya dia tidak terlalu terancam. Sedangkan Luis nampak marah besar, wajahnya sudah merah menyala saat. Dia menyerang Levin karena telah berani melawan dirinya.
"Hiaaaaa!" Luis melayangkan kepalan tangannya ke arah Levin. Levin dengan sigap menghindar. Diapun sudah sangat naik pitam karena laki-laki itu sudah berani menyakiti Sheerin. Perkelahianpun tak terelakkan lagi. Levin tak segan melawan, dia meladeni Luis dengan kemampuan yang ia miliki.
Levin terus saja menghindari pukulan Luis. Dan Luis tak henti-hentinya menyerang Levin.
Sheerin masih terdiam di posisinya menyaksikan perkelahian itu, dia masih tak bisa berbuat apa-apa, tangan dan kakinya masih terikat.
"Ayaaah!" Bima berteriak sesaat setelah dirinya memasuki salah satu ruangan di dalam rumah kosong itu.
Namun Luis tak menghiraukan seruan Bima, yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana cara menghabisi pemuda yang telah menggagalkan rencananya itu.
Nindi tertegun saat melihat hantu yang waktu itu ia temui disana saat datang bersama Clarissa. Bulu kuduknya langsung saja berdiri semua. Kedua pasang mata itu di pertemukan, Fira yang menyadari jika wajah anak itu mirip dengan Sheerin semakin yakin kalau dia juga adalah putrinya.
"Shireen." Ucapnya lirih. Perasaanya sudah campur aduk sekarang. Tegang, haru, bahagia, sedih. Tak lupa, setetes air mata juga mewarnai pertemuannya kembali dengan putri-putrinya setelah sekian lama mereka berpisah.
"Emmmmpt." Sheerin memberi kode kepada Nindi. Nindi sadar akan hal itu, diapun berjalan mendekat ke arah Sheerin.
"Loe nggak kenapa-napa She?" Tanya Nindi, diapun segera melepaskan tali yang mengikat tangan Sheerin kemudian beralih pada kakinya.
Sedangkan kak Bima masih berusaha untuk mengakhiri perkelahian antara Levin dan juga ayahnya.
"Kenapa loe bisa ada disini sih She?" Tanya Nindi terdengar khawatir.
"Ceritanya panjang Nin, kita lepasin mama dulu!" Ucap Sheerin.
"Mama?" Tanya Nindi bingung.
"Iya. Dia ibu kandung kita Nin. Paman Luis menyekapnya disini selama bertahun-tahun. Gue juga baru tau setelah paman Luis mengakui semuanya tadi." Jawab Sheerin.
Apa? Jadi hantu itu adalah perempuan yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini? Masuk akalkah ini semua? Nindi masih belum bisa mencerna apa yang telah terjadi.
"Ayo!" Sheerin menarik Nindi untuk mendekat kearah Fira.
"Putri-putriku." Dada Fira sudah berdebar tak karuan saat melihat kedua putrinya bersanding di hadapannya. Sheerin dan Nindi berjongkok di hadapan Fira.
Nindi masih bingung sendiri, ini semua terlalu mendadak. Sedangkan Sheerin yang selama ini sudah sangat merindukan sosok ibu, memeluk Fira sambil menangis sesegukkan.
"Mama merindukan kalian." Ucap Fira lirih. Tangannya yang dipasangi rantai mulai bergerak, menyentuh pipi Nindi. Dia tak menyangka, benar-benar tak menyangka. Ia pikir, takan pernah ada kesempatan untuk dirinya bisa merasakan pelukan hangat dari kedua putrinya. Berpikir jika dirinya akan menghabiskan sisa hidupnya hanya bertemankan duka, air mata dan kesendirian. Bahkan dia sudah membayangkan jika dirinya nanti mati, mayatnya pasti akan membusuk dengan sendirinya di tempat ini dan tak ada satu orangpun yang akan peduli.
Deg!
Benarkah ini semua? Nindi tidak sedang bermimpi kan? Terakhir kali dia sedang tertidur di kamarnya saat tiba-tiba kak Bima datang dan membangunkannya. Lalu dia tak melihat keberadaan Sheerin di kamarnya. Dia melihat ponsel dan mendapat rentetan pesan dari Sheerin. Setelahnya Nindi dan Bima pergi menuju rumah kosong ini melewati jalan rahasia yang ternyata sudah terbuka itu.
Iya, ini semua nyata, dia bukanlah hantu, melainkan perempuan yang telah melahirkannya dan juga Sheerin. Malang sekali nasib ibunya itu, bagaimana dia bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun di tempat ini? Sedangkan tak pernah sedikitpun terbesit di benak Nindi akan sosok perempuan itu. Terlalu banyak kejutan yang dia dapatkan setelah bertukar peran dengan Sheerin. Tentang siapa dirinya sebenarnya, dan dari mana ia berasal. Kadang takdir begitu aneh, mempertemukan kita dengan orang-orang yang tak pernah kita sangka sebelumnya.
Nindi ikut memeluk Fira. Tangis haru kemudian terdengar di antara ketiganya.
__ADS_1
_________________
Ketegangan belum berakhir ya guys, suasana akan semakin tegang saat mama Anya nanti datang... tunggu kelanjutannya, jangan lupa corat-coretnya dikolom komentar...