Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Episode 21 Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Sudah hampir enam bulan sejak Leddy dirawat di rumah sakit belum memberikan reaksi apa-apa. Hal itu justru membuat Metha semakin sedih, ia tak menyangka Leddy akan koma selama itu. Padahal dokter selalu mengatakan bahwa kondisinya stabil, tapi kenapa ia belum membuka matanya sampai saat ini?


Metha terus saja mondar mandir di depan ranjang Leddy, gadis itu sesekali menatap sahabatnya yang tak kunjung membuka mata. Seandainya Metha bisa tahu apa alasan Leddy enggan untuk membuka mata, mungkin ia bisa sedikit membantu.


“Come on, Led, buka matamu itu! Beri aku tanda agar bisa paham dengan situasimu sekarang, jangan diam seperti ini terus.” Metha berusaha  untuk membuat Leddy siuman, meski ia tahu itu berat, namun setidaknya Metha memiliki alasan untuk melakukan hal itu.


Leddy sudah seperti saudaranya sendiri, apa yang dirasakan sahabatnya itu tentu bisa dirasakan oleh Metha. Kini, Metha berada dalam situasi yang sulit, kondisi Leddy semakin membaik dari hari ke hari. Tidak ada yang salah dengan kesehatannya saat ini, tapi mengapa ia tak kunjung membuka matanya?


“Dokter Metha, bisa kita bicara sebentar?” Metha menoleh saat dokter Leonard membuka pintu ruangan itu.


“Baik, dok.” Gadis itu meninggalkan Leddy sendiri, kemudian ia mengikuti Dokter Leonard hingga tiba di ruangan kerjanya.


Sepeninggal dokter Metha, diam-diam Mahe masuk ruang perawatan Leddy. Ini kesempatan baginya untuk bisa melihat kondisi mantan kekasih. Selama lebih kurang enam bulan sejak ia di rawat, Mahe sekali pun belum pernah diizinkan untuk menemuinya. Pria itu masih setia berada di Singapura untuk mengetahui kondisi Leddy secara langsung.


Mahe terdiam di ambang pintu, pria itu menatap sedih pada gadis yang masih lemah di ranjang rumah sakit. Dengan langkah gontai, Mahe mendekatinya. Kepala yang masih dibalut perban, selang oksigen masih setia dihidungnya, jarum infus juga masih menancap di tangan gadis itu, serta alat pendeteksi jantung pun masih menampilkan garis zig zag.


“Maafkan aku, Leddy. Aku nggak pernah berpikir akan jadi seperti ini. Karena ego ku yang terlalu tinggi membuatmu hancur. Seharusnya aku tak meninggalkanmu, membiarkan Viona menghancurkan hubungan kita adalah kesalahanku. Bangun Leddy, beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku selama ini. aku janji, nggak akan pernah menyia-nyiakan dirimu lagi.” Mahe meraih tangan Leddy yang terpasang infus. Pria itu menggenggam dengan erat, lalu  mencium tangan Leddy lama.


Setelah sekian lama, baru kali ini Mahe sadar akan cintanya pada gadis itu. Selama ini ia bahkan tak pernah peduli dengan kehadirannya. Mengapa penyesalan itu selalu datang terakhir? Mahe mengusap lembut pipi Leddy, bersamaan dengan itu Metha masuk dan terkejut dengan kehadiran pria itu di sana.


“Ngapain lo?” tanyanya geram. Metha mendekat, berusaha untuk mengontrol diri.


“Gue cuma ingin bertemu dengan Leddy, Tha,” ujarnya yang tak berani menatap wajah Metha sama sekali.


Metha tersenyum kecut, nyali pria ini begitu membuatnya muak. “Buat apa?” tanyanya dingin.


“Gue tahu, kesalahan gue nggak bisa dimaafkan begitu saja. Apa yang telah terjadi pada Leddy murni karena sikap gue yang dingin dan cuek padanya. Tapi, Tha, semua orang bisa berubah, setiap orang punya hak untuk memiliki kesempatan kedua. Gue ingin Leddy sehat dan meminta maaf padanya.” Mahe berujar sembari menatap dalam manik mata milik Metha.

__ADS_1


Ada segurat penyesalan yang terpancar di sana, ia tahu betul semua ini sudah terlambat. Gadis yang dicintainya sudah terlanjur menderita, karena itu Mahe bertekad untuk merubah segalanya. Hidup dengan kekasih tercinta menjadi impiannya saat ini, namun itu tidak mudah, Metha tentu tak akan mengizinkan sahabatnya kembali terluka.


“Berhenti lah, Mahe.” Metha bersuara setelah terjadi keheningan beberap saat diantara mereka. “Aku mohon, jangan ganggu Leddy lagi. Biarkan dia hidup bahagia dengan orang yang mencintainya. Aku nggak mau melihat sahabatku menangis, itu sangat menyakitkan bagiku. Kamu nggak pernah tahu seberapa pentingnya Leddy untukku, dia lebih dari seorang teman. Kami sudah seperti saudara, dia terluka aku pun merasakannya. Jadi aku mohon padamu, tinggalkan Leddy dan jauhi dia.” Metha merapatkan kedua tangannya, air mata mengalir ke pipi indahnya.


Mahe terdiam, permintaan Metha sangat sulit untuk ia kabulkan. Pria itu berat untuk meninggalkan Leddy, ia merasa tak sanggup harus menjauh dari wanita yang dicintainya.


“Tha, gue_” belum sempat Mahe melanjutkan kalimatnya, mereka dikejutkan dengan alat pendeteksi jantung yang sudah menampilkan garis lurus.


Metha terkejut, begitupun dengan Mahe. Keduanya menghampiri Leddy yang tak lagi bernafas. “Led, bangun.” Teriak Metha sembari menggoyang tubuh Leddy.


“Panggil dokter sekarang!” perintah Metha, Mahe pun segera keluar untuk memanggil dokter.


“Led, aku mohon jangan tinggalkan aku. Masih banyak impian kita yang belum terwujud, kamu nggak akan tega meninggalkan aku sendiri, kan? Kamu harus bangun.” Metha menangis, bahkan air matanya membasahi pipi Leddy.


Nyatanya Leddy masih diam, tak merespon perkataan Metha sedikit pun. Gadis itu kembali  tersedu melihat tubuh lemah sahabatnya yang kini terbaring kaku. Metha menoleh saat dokter Leonard dan beberapa perawat masuk dengan tergesa kemudian menghampiri Leddy.


Hancur sudah dunianya, cita-cita dan impian yang belum sempat terwujud bersama sang sahabat harus sirna. Metha harus siap menerima kenyataan saat ini, bahwa tak ada yang kekal di dunia, setiap manusia pasti akan menemui ajalnya masing-masing.


“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, sepertinya dokter Leddy menyerah, dia berhenti berjuang dan mungkin sudah menemukan kebahagiaan di alam lain,” ujar dokter Leonard penuh sesal. Dokter itu menunduk, memberikan sedikit ruang untuk Metha memeluk sahabatnya.


Metha menggeleng lemah. “Tidakkkkk...” teriaknya histeris. Gadis itu memeluk erat tubuh sahabatnya. “Led, aku mohon  bangun. Jangan tinggalkan aku sendiri, aku nggak bisa berjuang tanpamu, Led. Ayo bangun, aku mohon!” pintanya sekali lagi, tubuh Metha seakan bergetar dan tidak siap untuk tinggalkan sahabatnya.


Para perawat beserta dokter Leonard pun ikut sedih, mereka seakan terpukul dengan kepergian salah satu dokter terbaik itu. Mahe mendekat, wajahnya gusar. Air mata tak dapat ditahan lagi, saat sampai di samping brakar gadis yang dicintainya, tubuh Mahe meluruh, pandangannya kosong tidak ada cahaya kehidupan lagi di sana.


“Leddy, bangun. Kenapa kamu tega ninggalin aku sendiri, apa aku punya salah? Katakan apa salahku, Led? Aku bisa memperbaiki semuanya asal kamu kembali padaku.” Metha masih terisak, antara dia dan Mahe, mungkin Metha lah yang paling terpukul. Kehilangan sahabat yang begitu ia sayangi melebihi seorang saudara.


Kemudian gadis itu menatap tajam ke arah Mahe, dendamnya begitu kuat. “Pria  itu?” tunjuknya pada Mahe yang masih berdiri lemah, “Dia yang udah nyakitin kamu, Led. Ayo bangun, balaskan semua sakit hatimu padanya, bukan kepadaku. Aku tau kamu kuat, aku mohon sadarlah,” ulangnya lagi, Metha mengguncang tubuh gadis itu.

__ADS_1


Penampakan seorang gadis cantik kini terbaring dengan wajah pucat. Alat pernapasan dan alat lainnya tidak lagi terpasang. Matanya tertutup damai, kedua tangannya diletakkan di atas perut rata yang tidak lagi bergerak. Dokter dan suster itu memilih meninggalkan ruangan dokter Leddy dan menunggu kesiapan dari dokter Metha untuk memulangkan jenazah dokter Leddy ke Indonesia.


Tangis tak bisa dielakkan. Metha berlutut di samping Leddy. Di seberangnya ada Mahe yang lemas tanpa tahu harus melakukan apa. Lisannya beku, tak dapat mengucap apa pun. Otaknya berhenti bekerja, tak ingin memproses apa pun.


“Leddy,” panggil Metha sekali lagi, suaranya serak akibat menangis hebat.


Di saat seperti ini, Metha butuh seseorang untuk merangkulnya. Menguatkan wanita itu agar bisa menerima kenyataan seperti yang dilakukan Leddy dulu. Kini, ia hanya sendiri di Singapura, tanpa ada satu pun yang menemani karena sibuk dengan kegiatan masing-masing.


“Ini semua gara-gara lo!” amuk Metha kepada Mahe. Gadis itu mendekatinya dan mencengkram kerah baju lelaki itu. “Kembalikan Leddy padaku, kembalikan!!!” teriaknya lantang.


Tubuh Mahe ikut berguncang, tak bisa melakukan perlawanan. Cengkraman Metha tak mempengaruhinya sama sekali, saat ini pikirannya sedang kacau. Harapan untuk memulai hubungan kembali harus ia kubur dalam-dalam.


“Kalau saja Leddy tidak mencintai lo! Kalau saja Leddy tak bertemu dengan lo, mungkin dia masih ada di sini sekarang, dia tidak akan seperti ini. Dia tidak akan pernah menderita, kembalikan Leddy. Lo dengar itu, *******.” Dengan kasar Metha melepaskan cengkramannya dan kembali mendekati sahabatnya.


Gadis itu terduduk lemah di lantai rumah sakit yang dingin, menyandarkan tubuhnya pada lemari makanan yang ada di sana. Metha menenggelamkan wajahnya di balik kedua lutut yang ia rangkul, membiarkan dingin menusuk hingga ke tulang. Gadis itu terisak di sana, jika saja ia tidak mengingat ini rumah sakit, mungkin sudah sejak tadi Metha berteriak untuk menumpahkan kesedihannya.


Sedangkan Mahe masih terdiam, pria itu menatap wajah mantan kekasih yang saat ini tersenyum padanya. Mungkin sekarang Leddy bahagia, bisa bertemu dengan ibunya dan tidak merasakan sakit lagi. Mungkin juga selama koma ia menanti kedatangan Mahe agar bisa pergi dengan tenang. Untuk kesekian kali Mahe menumpahkan air mata, pria itu terlihat rapuh. Sesekali ia mengusap buliran bening tersebut agar tak terlihat lemah.


 


 


 


 


 

__ADS_1


ada yang kangen dokter Leddy? jangan lupa mampir yah


__ADS_2