
Metha mengangkat kepalanya di saat mendengar ponselnya berdering dengan nyaring. Tangan lemah itu meraih benda tersebut, ada nama Farhan di sana. Metha menatapnya lama, bingung harus mengatakan apa.
“Hallo,” ucapnya setelah memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.
“Tha, syukurlah lo angkat telepon gue. Gimana keadaan Leddy? Apa dia sudah siuman?”sepertinya pria itu sangat menunggu kabar baik tentang sepupunya.
Namun, bukan jawaban yang ia dapat, melainkan isak tangis dokter Metha yang semakin menjadi. Hal itu justru membuat dokter Farhan khawatir. “Ada apa, Tha? Apa Leddy baik-baik saja?” tanyanya cemas.
“Tidak, Han.” Metha terisak, suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Rasanya sulit untuk mengatakan kabar duka ini padanya, Metha hanya bingung, ia tak tahu harus mulai dari mana. Gadis itu memilih untuk menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“Maksudmu?”
Metha menarik nafas berat, mengumpulkan tenaga untuk bisa memberitahukan kepada Farhan. Setelah dirasa cukup, ia kembali mendekat benda pipih itu ditelinganya.
“Siapkan pemakamannya, Han!” pintanya. Metha tak ingin bicara panjang lebar, dengan mengucapkan dua kalimt tersebut, ia rasa dokter Farhan tahu artinya.
“Jangan becanda, Tha. Nggak lucu dan gue nggak suka itu.”Dokter Farhan masih tak mengerti dengan permintaan dokter Metha. Pria itu hanya menganggap Metha tengah mengerjainya.
“Buat apa gue becanda, Han? Dia sahabat gue, gue nggak mau mempermainkan nyawanya. Kenyataan seperti itu, Han. Leddy sudah tiada. Gue mau urus berkas-berkas untuk memulangkan jenazahnya, mungkin siang nanti kita tiba di Indonesia.” Dokter Metha kembali memutuskan sambungan secara sepihak. Ia kemudian bangkit dan keluar untuk menemui dokter Leonard.
***
Farhan tersenyum getir, meminta hatinya untuk bisa percaya dengan ucapan dokter Metha. Antara percaya dan tidak percaya, Farhan harus menuruti permintaan Metha tadi, karena ia bisa merasakan kesedihan gadis itu melalui suaranya yang serak.
“Han, ada apa?” dokter Farhan mengusap air matanya di saat dokter Arman muncul di hadapannya.
“Nggak apa, Man. Lo dari mana?” sudah lama ia tak melihat kemunculan dokter Arman di rumah sakit itu. Banyak yang tidak tahu kemana perginya dokter sekaligus sahabat dokter Leddy.
“Lo tahu, kan? Gue harus melakukan pekerjaan gue yang lain. Hari ini gue libur, makanya bisa datang ke sini sekalian menemui Leddy. Kangen gue,” ucapnya yang membuat Farhan menatap pria itu nanar.
“Ada apa? Gue nggak suka tatapan lo itu, seram.” Arman bergidik ngeri, ia tak tahu apa yang terjadi pada Leddy, karena mereka memang sengaja untuk tidak memberitahunya.
“Lo mau ketemu Leddy?” Arman mengangguk, “Kita ke bandara sekarang, sebentar lagi mereka tiba,” ucap dokter Farhan yang diikuti anggukan Arman.
Sebelum mereka menuju parkiran, Kaffa yang entah datang dari mana mencegatnya, Farhan pun menghentikan langkah.
“Dokter, apa kita bisa bisa bicara sebentar?”
“Nanti saja, aku ada keperluan mendadak. Kamu bisa tanya ke dokter lain,” tolaknya cepat.
__ADS_1
“Tapi ini menyangkut ayahnya Leddy.” Pandangan Kaffa tak lepas dari manik mata Farhan yang memerah, ia tahu artinya. Pasti telah terjadi sesuatu dengannya.
Farhan terdiam, menatap Kaffa lama. Sebelumnya ia tak begitu mengenal pria itu, lalu bagaimana ia tahu tentang ayah sepupunya? “Lo duluan, Man, nanti gue susul.” Dokter Arman pun meninggalkan mereka berdua.
“Katakan, kamu siapa? Apa hubunganmu dengan paman Malik?” tanyanya mengintrogasi.
“Aku mahasiswa magang, dan soal ayah Malik, beliau ayah tiriku.” Farhan terkejut mendengar penuturan santai Kaffa. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan saudara tiri Leddy.
“Jangan becanda kamu, aku lagi tak ingin becanda.” Farhan terlihat geram.
“Sama, aku juga tak ingin becanda. Katakan dokter, apa yang terjadi pada dokter Leddy? Ayah memintaku untuk mengabarinya jika dokter Leddy sudah pulang ke Indonesia.”
Dokter Farhan kembali terdiam, satu sisi ia tak ingin kabar duka tentang Leddy menyebar begitu saja, di sisi lain ia juga merasa tak tega dengan pamannya sendiri. Bagaimana pun juga beliau ayah Leddy dan berhak tahu tentang kondisi putrinya.
“Katakan pada Paman, Leddy sudah tiada,” ucapnya dengan suara tertahan.
Kaffa terkejut, bukan berita ini yang diinginkan ayahnya. Tanpa sadar buliran bening itu meluncur begitu saja, ia bingung harus menyampaikan seperti apa nantinya.
“Kenapa? Apa ada yang salah?” dokter Farhan menangkap keraguan dari Kaffa.
“Aku bingung harus bilang ke ayah atau tidak, karena beliau punya riwayat penyakit jantung. Aku takut nanti beliau tidak kuat menerima berita ini.” Kaffa mengusap air matanya dan menatap dokter Farhan.
Dokter Farhan berlalu, sementara Kaffa bergegas menuju parkiran dan menyalakan motornya.
***
Kaffa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, pria itu tidak bisa lagi berpikir dengan jernih tentang keselamatannya. Motor Kaffa melaju seperti pembalap motor GP yang dengan lihai mengendalikan benda tersebut. Ia menerobos lampu lalu lintas tanpa memikirkan tandanya, untung saja tidak ada polisi yang berjaga di sana sehingga ia bisa selamat dari kartu tilang.
Selang beberapa menit ia tiba di rumah, memarkirkan motor asal dan bergegas masuk ke dalam.
“Kaffa, kamu sudah pulang?” sapa ibunya yang saat itu berada di ruang tamu dengan Shajea, namun sapaan itu tak diindahkannya.
“Kaffa, kamu dengar ibu atau tidak?” ulangnya lagi dan tak dihiraukannya sama sekali. Pria itu berlalu menuju kamar ayahnya tanpa mempedulikan teriakan dari sang ibu, mungkin dia masih kecewa.
“Ayah,” sapanya saat membuka pintu kamar ayahnya dengan paksa. Pria itu mendapati ayahnya tengah terbaring lemah di ranjang kamarnya.
“Ada apa, Nak? Kenapa kamu pulang awal hari ini?” tanyanya sembari berusaha bangkit dan duduk di sisi ranjang.
Kaffa menatapnya lama, pria itu masih setia berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca sembari menatap sang ayah dengan iba. Kaffa perlahan mendekat, duduk di sebelah ayahnya yang terlihat pucat.
__ADS_1
“Ayah sakit? Apa penyakit jantung ayah kumat lagi?”
Pria paruh baya itu tersenyum, menatap putra kesayangannya dengan linangan air mata. “Ayah baik-baik saja, Nak.”
“Lalu kenapa ayah menangis? Apa ibu menyakiti ayah lagi? Katakan pada Kaffa, ayah, biar Kaffa yang memarahi ibu.”
Ayahnya menggeleng cepat, “Tidak, Nak. Ini bukan salah ibumu, jangan terlalu membencinya,” ujarnya pelan, namun masih bisa didengar oleh Fina yang saat itu tepat berada di luar kamar.
“Atau ayah sudah tahu berita tentang dokter Leddy?” tanyanya penuh selidik, namun sangat berhati-hati agar tidak terjadi apa-apa pada ayah sambungnya itu.
Diam, tidak ada jawaban. Lima menit berikutnya Malik kembali meneteskan air mata sembari memegang dadanya erat. “Putriku yang malang, maafin ayah, Nak,” ujarnya terisak.
“Ayah tahu dari mana berita tentang dokter Leddy?”
Malik menatap Kaffa lagi, menyentuh pipi putranya dengan penuh kasih, kemudian pandangannya kosong menatap ambang pintu.
“Semalam ayah bermimpi bertemu ibunya Leddy. Di dalam mimpi itu dia tersenyum, menatap ayah sangat lama. Setelah itu Leddy muncul, memegang erat tangan ibunya dan melambaikan tangan pada ayah. Ayah tahu mereka kecewa pada ayah, hingga pada saat mereka pergi ayah terus mengejarnya. Namun, mereka seolah tak ingin ayah
ikut bersama mereka. Hari ini ayah memutuskan untuk menghubungi Farhan, menanyakan kabar Leddy. Tapi, apa yang ayah terima, Farhan menyampaikan berita yang tak ingin ayah dengar.”
Kaffa spontan memeluk ayahnya erat, pria paruh baya itu sangat terpukul atas kepergian putrinya. Mereka larut dalam duka, menangis satu sama lain di dalam pelukan. Fina juga ikut terpukul mendengar berita ini, wanita berstatus sebagai ibu tiri Leddy merasa bersalah pada gadis malang itu.
“Ayah istirahat saja di rumah, biar Kaffa yang ikut pemakaman dokter Leddy!” perintahnya, namun secepat kilat ayahnya menggeleng.
“Tidak, Nak. Ayah harus ikut, untuk terakhir kalinya ayah bertemu dengan Leddy. Ayah nggak mau menyesal lagi nantinya, sebab dari kecil dia hidup tanpa didampingi seorang ayah. Anakku begitu malang nasibnya.” Malik kembali menangis, membuat Kaffa bingung harus bagaimana.
“Tapi, ayah. Ayah lagi sakit, Kaffa nggak mau terjadi sesuatu sama ayah.”
“Ayah baik-baik saja, izinkan ayah untuk ikut ke pemakaman!” pintanya melemah.
“Biarkan ayahmu pergi, Kaffa.” Suara berat Fina terdengar dari arah pintu, membuat Malik dan Kaffa melihat wanita itu dengan kening mengkerut.
“Semua ini salah ibu. Ibu tega memisahkan suami dari istrinya dan tega merampas kebahagian seorang anak dari ayahnya. Selama ibu menikah dengan ayahmu, tak pernah sekali pun ibu membiarkannya untuk bertemu dengan Leddy. Maafin ibu, Kaffa, ibu telah gagal dalam berperan. Karena sifat egois lah yang membuat ibu tak pernah merasakan kebahagiaan. Maafin ibu, Nak,” ujarnya dengan kedua tangan terkatup, air mata terus saja membasahi wajah yang mengkerut itu.
Kaffa menatap ibunya lama, ada rasa tersendiri yang dirasakannya saat ini. satu sisi ia sangat bersyukur sang ibu telah berubah, namun disisi lain keadaan sudah berbanding terbalik. Takdir lebih dulu memutuskan garis kehidupan dokter Leddy,
gadis itu selalu menderita hingga akhir hayatnya.
“Ibu,” panggilnya lirih di saat Fina hendak berbalik. “Maafin Kaffa juga, Kaffa sudah jadi anak durhaka pada ibu. Kaffa hanya kecewa, Bu,” ucapnya menunduk.
__ADS_1
Fina perlahan mendekat, menjajarkan posisinya dengan Kaffa. “Kamu nggak salah, Nak. Terkadang orang tua lah yang membuat anaknya bertindak seperti itu. Ibu bangga sama kamu yang tak terpengaruh sama sekali oleh sifat ibu. Jangan menangis sayang, sekarang kita siap-siap ke rumah dokter Leddy.” Fina mengusap pipi putranya seraya melirik sang suami yang tersenyum ke arahnya.