Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Dugaan


__ADS_3

Sepasang mata yang mulanya terpejam rapat seketika terbuka lebar, lagi-lagi memori itu kembali muncul dalam mimpinya. Dengan susah payah dia mencoba bangkit dari tidurnya, ternyata dia ketiduran lagi diatas lantai dingin yang penuh dengan debu itu.


Perempuan paruh baya itu mengedarkan pandangannya kesekitar, tidak ada tanda-tanda akan kehadiran seseorang. Setidaknya dia berada dalam situasi aman untuk beberapa waktu kedepan. Tapi dia juga merasa kecewa, dia berharap dua perempuan muda yang tempo hari datang akan kembali kemari dan membebaskannya.


Namun harapan tinggallah harapan, kedua anak remaja itu tak kunjung kembali.


Yang bisa dia lakukan hanyalah memeluk kakinya yang hanya tinggal sebelah. Perempuan itu sebenarnya masih waras, hanya saja jiwanya agak sedikit terguncang akibat penganiayaan yang bertubi-tubi selalu dia dapatkan.


Air matanya kembali meleleh saat mengigat kejadian itu, kejadian yang menghantarkan nya kedalam lembah hitam dan suram ini.


Meskipun waktu telah lama berlalu, namun dia tak mampu membujuk takdir untuk memberinya satu lagi kesempatan agar bisa menikmati hidup dengan bebas.


Disini sekarang ia berada, dalam kegelapan, kesunyian dan kesendirian, terbelenggu oleh tali tak kasat mata. Jika boleh menawar pada takdir, dia lebih memilih mati saat kejadian itu dari pada harus menderita selama bertahun-tahun.


Di penjara, dipasung, disiksa fisiknya, ditekan batinnya, bahkan di lecehkan. Begitu dirinya melalui hari-harinya di tempat ini. Terkadang diberi makan, terkadang hanya bisa menahan lapar dan dahaga. Hanya kematian yang dia butuhkan saat ini, saat kebebasan hidup tak ada di genggamannya lagi.


Kenapa Tuhan membiarkannya tetap bertahan hidup? Kenapa Tuhan tak berbaik hati mencabut nyawanya saja? Kenapa Tuhan malah membiarkannya merasakan kesakitan selama bertahun-tahun? Apa Tuhan ingin melihatnya mati secara perlahan-lahan dengan cara seperti ini? Ini bahkan jauh lebih menyiksa daripada sakaratul maut sepertinya. Jika sakitnya sakaratul maut hanya sekali, dan setelah itu pasti dia takkan lagi merasakan sakit. Maka yang dia rasakan adalah kesakitan yang tiada habisnya. Mungkin neraka sekalipun jauh lebih baik dari pada tempat ini.


Tapi rencana Tuhan begitu membingungkan, dia masih diberi kekuatan untuk tetap membuka matanya.


Lihatlah dia sekarang, begitu menyedihkan dan menakutkan. Sekilas orang melihatnya seperti mayat hidup. Fisik yang tak terurus, baju yang lusuh, tubuh yang kurus, kulit yang kusam, rambut yang berantakkan. Badannya hanya sebatas tulang yang berbalut kulit, tak berdaging sama sekali.


Psikopat, begitu dirinya menjuluki pria yang mengurungnya di tempat ini, beberapa hari terakhir ini dia belum menampakkan diri disini, yang artinya dia belum mengisi perutnya selama itu.


Bahkan belasan tahun telah berlalu, tapi dia tak pernah tau siapa nama pria itu. Kenapa dia menjuluki pria itu psikopat? Karena psikopat itu begitu kejam menyiksa dirinya, dan yang lebih gilanya lagi, pria itu selalu menyetubuhinya setiap kali datang kemari.


Sebuah hal yang tak masuk akal, kan? Seharusnya pria itu merasa jijik terhadap dirinya, bukan? Tapi kenapa justru psikopat itu selalu melakukannya dengan sangat kasar dan penuh nafsu?


Dia ingin berlari, berlari sejauh mungkin untuk menghindar dari kenyataan pahit ini, namun dia tak mampu, dia telah kehilangan satu kakinya di masalalu.


Kini hidupnya bagaikan mimpi buruk panjangnya yang tak pernah usai. Tak ada yang bisa dia lakukan selain berpasrah dan menunggu ajal yang entah kapan akan menjemput dirinya.


***

__ADS_1


Sheerin dan Yuvi sedang rebahan dikamar kecil itu. Mereka berdua sibuk dengan ponsel masing-masing. Jika Sheerin sedang sibuk memposting-posting kerudung jualannya di akun sosmed seperti apa yang di usulkan Levin, maka Yuvi sedang bertukar pesan chat dengan Doni, wajahnya terlihat tegang sepeti sedang terjadi sebuah masalah. Entahlah.


Sheerin terlihat senyum-senyum sendiri melihat foto Revi yang dengan terpaksa mengikuti keinginannya untuk jadi model. Awalnya bos geng amburadul itu menolak mentah-mentah, tapi setelah diiming-imingi dengan uang akhirnya Revi mau juga. Di foto itu Revi nampak berbeda dari biasanya, dengan balutan gamis violet dan kerudung pashmina putih buatannya. Tentu saja gamis itu dia dapatkan dari Yuvi, meminjamnya tanpa seizin sang pemilik. Apalagi bakat fotografer yang dimiliki Levin, membuat gaya preman yang melekat pada diri Revi tidak terlihat sama sekali. Yang ada hanya seorang perempuan muslimah nan anggun.


Merasa kesal karena perdebatan yang tak berujung, Yuvi memilih untuk mengakhiri chat itu. Dia beranjak, hendak pergi kekamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terasa terbakar. Hubungannya dan Doni semakin hari semakin banyak saja masalah.


Tapi niatnya bertunda saat melihat kaki Nindi yang teracung-acung keatas dengan posisi tengkurapnnya, seperti ada yang janggal di kakinya itu.


"Sejak kapan kamu memakai gelang kaki itu? Katanya suka gatal kalau pakai itu?" Tanya Yuvi kemudian.


Sheerin menghentikan aktifitasnya saat mendengar penuturan Yuvi, kemudian beranjak dari posisi tengkurapnya dan ikut duduk menyamai posisi Yuvi.


Bukannya menjawab pertanyaan Yuvi, Sheerin malah mengerutkan dahinya.


Astaga!


Soal gelang kaki ini, kenapa bisa Sheerin sampai melupakannya? Padahal ini begitu penting baginya.


"Ahh, nggak apa-apa kok." Ucap Sheerin kemudian.


"Ya udah, kalau gatal jangan ngeluh dan minta di garukin ya!" Balas Yuvi sebelum akhirnya dia benar-benar beranjak dari kasur.


"Iya kak."


Cepat-cepat dia kembali menyambar ponselnya untuk menghubungi Nindi. Dia akan meminta penjelasan sejelas-jelasnya dari perempuan yang mirip dengannya itu.


"Ayo dong angkat!" Sheerin jadi gelisah saat Nindi tak kunjung menerima panggilan darinya.


Panggilanpun terputus begitu saja, namun Sheerin tak menyerah, dia mencoba kembali menelfon Nindi. Dan saat deringan kedua, panggilanpun berhasil tersambung, wajah Sheerin berubah jadi berbinar-binar.


"Halo Nin, kenapa lama banget angkat telfonnya?" Sheerin bicara sambil bisik-bisik, takut ibu atau kak Yuvi mendengarnya.


"Iya sory, gue kan harus menjauh dulu dari kak Bima, nanti dia curiga lagi." Jawab Nindi di sebrang sana.

__ADS_1


"Oke, alasan diterima."


"Itu bukan alasan, itu kenyataannya tau." Nindi tak mau kalah.


"Oke oke, kita nggak usah bahas masalah nggak penting seperti ini. Karena ada hal yang jauh lebih penting yang harus gue tanya sama loe." Ucap Sheerin berubah jadi serius.


"Oke, soal apa?" Tanya Nindi kemudian.


"Sejak kapan loe punya gelang kaki yang ada inisial S nya? Nama loe kan Anindira?" Sheerin mulai bicara ke inti permasalahan.


"Oh, gelang kaki itu. Gue juga nggak tau pasti sejak kapan sih, tapi kalau loe suka pake aja." Balas Nindi dengan entengnya, padahal Sheerin mengganggap kalau ini masalah serius. Dan untuk apa juga gelang kaki milik Nindi, Sheerin pun memiliki gelang kaki yang sama.


"Gue serius Nin, loe jawab dulu pertanyaan gue, dari mana loe dapat gelang kaki ini?" Tanya Sheerin.


"Ya itu dari ibu, katanya sih pemberian dari kakek buyut, gue juga nggak tau pasti sih, tapi yang jelas ibu nyuruh gue jaga baik-baik itu gelang kaki. Pas gue berinisiatif mau jual itu gelang kaki buat biaya pengobatan ibu, ehh ibu malah marah sama gue." Penjelasan Nindi panjang lebar.


"Terus kenapa loe nggak pake? Kenapa cuma loe jadiin penghuni laci?" Tanya Sheerin.


"Ya karena gue alergi, kulit gue suka gatel kalau pakai yang kaya begituan." Jawab Nindi.


Disebrang sana Sheerin terdiam, apa mungkin dugannya itu benar? Jika Nindi adalah saudari kembarnya sendiri? Tapi gelang kaki ini tidak menjadikan dugaannya menjadi kuat, dia tidak bisa melihat dari satu sudut pandang saja. Jadi, apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa Sheerin harus menyelidiki semuanya? Tentang Nindi, tentang dirinya sendiri, bahkan Sheerin tidak tau tentang jati dirinya sendiri. Terlalu banyak hal yang mama Anya dan ayahnya rahasiakan darinya, bahkan sampai usianya hampir menginjak umur 20 tahun, dia tidak pernah tau rupa wanita yang telah melahirkannya, meski sekedar dari potretnya saja.


Ahh, iya, ayah. Ayahnya pasti mau memberi penjelasan jika Sheerin memaksanya untuk bicara, toh sekarang dirinya mulai beranjak dewasa, dia berhak tau tentang seluk beluk kehidupan tentang keluarganya.


"Memangnya ada apa sih She?" Tanya Nindi kemudian.


"Ahh, nggak apa-apa kok, cuma lucu aja gitu gue liatnya." Jawab Sheerin sedikit tertawa, meskipun tawa yang dipaksakan.


Entahlah, Sheerin takkan gegabah, dia tidak akan mengatakan pada Nindi kalau mereka memiliki gelang kaki yang sama, sebelum dia menemukan bukti lain yang semakin menguatkan dugaannya itu.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...

__ADS_1


__ADS_2