Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
42. Flashback


__ADS_3

Setelah Doris memberikan tugas pada Nick.


"Tuan besar, kenapa anda memberikan tugas itu pada Nick, tuan besar sedangkan kita sudah tau Nick yang berkhianat. Nick yang melakukannya dan kita sudah mendapatkan bukti kejahatannya" tanya Sekertaris Kim pada Abraham.


"Pertanyaan mu sama seperti Dorris, saat aku menyuruhnya tadi" ujar Abraham "Tapi bukankah kita sudah lama dengan Nick, Kim"


"Tapi tuan besar, butuh seumur hidup untuk memahami seseorang. Bahkan kadang kita sendiri tidak memahami hati kita"


"Oleh sebab itu, aku melakukan semua ini, Kim. Siapa yang memberikan kabar Elizabeth dan Bram di serang waktu itu, Kim?"


"Nick"


"Tepat sekali?!"


"Tapi tuan itu terjadi karena Bram memberikan kode pada markas"


"Itu yang di katakan Nick bukan? Tapi sebenarnya. Kita percaya saja, karena hanya Nick yang ada di markas saat itu. Namun saat


di periksa kode Bram di markas jam 20.15, butuh 5 menit untuk tersebar pada kita, sedangkan berita itu sudah tersebar di jam 19.50, bukan?"


Sekertaris Kim terdiam.


"Tadi pagi data perusahaan di retas sekitar jam 07.25, tepat di jam 07.00 ada yang memberikan ini padaku, sehingga kita bisa meminimalisir kerugian" Abraham menunjukkan sebuah kertas yang di berikan anak kecil padanya saat turun dari mobil. Sekertaris Kim mengambil kertas itu dan melihat isinya "Akan ada peretasan"


"Tuan besar?!"


"Di kertas itu ada DNA Nick, gadis kecil itu, aku dan sekarang ada kau juga pastinya. Kau tau artinya kan?"


"Iya, tuan besar"


"Sekarang tugas kita mencari tau, kenapa dia melakukan semua ini"


"Baik tuan besar"


Kembali ke rumah.


Reno bangun lebih pagi.


"Malam ini, ya?"


Rambut sebahu?


Reno membaca hasil penelitiannya.


Desi.


Desi Retno Diana.


Ibu sakit cancer stadium 2.


Tidak punya ayah.


Anak satu-satunya..


Tempat tinggal di K


Reno ingat dengan luka ditangan Desi yang katanya goresan saat kecil, namun Reno yakin itu luka baru ya kira-kita 6-1 tahun yang lalu. Bermain dengan luka, membuatnya tau mana luka lama dan luka baru, bahkan berapa lama luka itu.


Pertanyaan Desi semalam juga aneh bertanya "Apakah dia akan lama di sini?"


Tiara Danu Cahyono.


Kedua orang tua sudah meninggal.


Adik masih sekolah di SMA.


Tempat tinggal di M


Kehidupannya baik-baik saja.


Reno ingat Tiara pernah telat menyambut Elizabeth dan dia sering mendekat pada Elizabeth.

__ADS_1


Emi Siswanti.


Ayah meninggalkan mereka saat Emi masih kecil.


Ibu telah meninggal


Adik tiri sekolah SD dan juga SMP.


Tempat tinggal di K.


Ayah penjudi banyak hutang dengan rentenir.


Sering tidak kerja, namun bisa dekat dengan Elizabeth.


Gladis Ratmawati.


Ayah ibu lengkap.


Adik SMP


Kakak sudah menikah


Kakaknya ada yang sudah meninggal.


Gadis ceroboh.


"Kenapa? Kenapa orang mau berhianat? Kecuali karena serakah juga bisa karena memang masuk ke sini untuk balas dendam?"


Reno menelpon seseorang dan memintanya mencari tahu penyebab kematian dari orang tua tersangka.


Sampai sore hari, data di dapatkan, namun belum lengkap.


Disisi lain pergerakan sudah dimulai, beberapa orang akan masuk ke gerbang rumah.


Setelah mendapatkan semuanya dan Reno langsung jalan dengan cepat.


"Brug" Reno membuka paksa pintu kamar. Sang punya kamarpun langsung terkejut.


"Ada apa, tuan Reno?" Tanya sopan.


"Aku tak punya ayah, tuan dan ibuku sedang sakit cancer" ucap Desi menahan takutnya.


"Aku tau! Kau butuh untuk biaya kemoterapi ibumu kan? Itu bukan biaya yang sangat kecil kan?"


Desi mencoba mendahan tangisnya


"Aku tau resiko bekerja di sini, tuan dan aku menyanggupi, semua itu untuk biayai kehidupan ibuku. Lalu jika aku mati, siapa yang akan menyambung hidup ibuku?" jawab Desi.


"Katakan dengan jelas?! Kenapa kau mengatakan semua itu?"


"Aku tidak pernah berhianat, tuan. Apapun yang kulihat dan kudengar di rumah ini, tidak pernah aku ceritakan pada siapapun. Lagipula untuk apa? Aku tau, hal kecil saja yang ku katakan diluar akan sangat berbahaya? Untukku dan juga untuk tuan besar dan nyonya. Tuan besar dan nyonya orang-orang baik tuan. Ibuku selalu berkata, mereka orang-orang baik, jangan buat masalah, lindungi nyonya dan tuan mu, Desi"


"Apa kau fikir aku akan percaya?"


"Desi Retno Diana.


Tempat tinggal di K.


Anak satu-satunya..


Ibu sedang sakit cancer stadium 2.


Ayah meninggal karena tertabrak truk PT. D'company. Bukankah sungguh kuat alasanmu menghancurkan kami?"


"Data anda benar, tuan. Ayahku memang mati oleh truk PT. D' Company dan aku sangat marah, bahkan tak lama dari itu, aku mendapat kabar ibuku terkena kanker. Tapi ibu bilang Itu kecelakaan tuan. Dan PT. D'company sudah meminta maaf dan ganti rugi. Ibu selalu bilang "Dendam tidak akan membawa ayahku kembali dan semua sudah di takdirkan tuan. Dan aku tidak bisa menyalakan D'company. Kehidupanku dan ibu semua tergantung pada kalian semua"


"Cih. Kau mencoba membual pada siapa? Tanganmu itu bukan bekas jatuh dari sepeda saat kecil, kan?"


Desi melihat luka ditangannya.


"Iya. Ini bekas aku latihan pedang. Apakah tidak boleh aku berlatih pedang? Aku tidak mengatakannya, karena..."

__ADS_1


"Karena apa?!"


"Karena aku merasa itu bukanlah hal yang harus bisa aku banggakan"


"Cih. Tadi sore kau bertanya aku akan lama tinggal di sini? Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau ingin menunggu aku cepat keluar dari sini?"


"Tidak tuan. Tidak. Aku ingin anda lebih lama di sini"


"Kenapa?!"


"Karena aku rasa ada penghianat disini. Anda ingat kejadian nyonya yang diserang waktu itu. Aku rasa ada seseorang yang mengatakan jadwal nyonya pada orang luar...." Desi terhenti sejenak "Aku rasa anda harus berhati-hati dengan pelayan dari taman belakang, tuan. Aku melihat dia sering mengendap-endap dan ketakutan"


"Siapa?!"


"Aku kurang jelas, tuan"


"Coba kau lihat di foto ini. Ini adalah foto pelayan tanaman belakang"


"Ini tuan. Yang ini?!"


"Gladis?!"


"Ikutlah mereka dan ingat jangan pikir kau bisa kabur?! Jika sampai kau berbohong. Nyawamu taruhannya"


Keluar dari kamar Desi, Reno keluar dan berjalan. Reno sudah memperketat penjagaan untuk Elizabeth, tanpa Elizabeth sadari. Reno berpura-pura bahwa itu hanya teman-temannya, tapi ternyata itu adalah anak buah kepercayaan, karena itu Elizabeth malas keluar kamar. Dan Reno juga buat aturan, karena teman-temannya datang semua pelayan wajib diam di kamar masing-masing.


"Tuan Tuan Reno" panggil seseorang yang tergesa-gesa lari ke Reno. Reno mengangkat tangannya memberikan isyarat agar anak buahnya tidak bergerak.


"Bukankah aku sudah mengatakan semuanya harus tetap di kamarnya?


"Tidak ada waktu, tidak ada waktu! Tuan aku tau siapa pelayan itu. Dia dia" ucap Gladis yang engos-engosan.


"Katakan dengan jelas?!"


"Dia dia adalah pelayan yang sering bersama nyonya. Siapa ya? Itu itu? Yang tinggi nya segini?..."


"Ais. Lihat saja sendiri tuan. Mereka sudah masuk lewat jalan sempit? Ayo ikut aku tuan!" ujar Gladis pergi, Reno dan beberapa anak buahnya mengikuti Gladis.


Gladis bersembunyi.


"Anda lihat disana, tuan?!"


"Cih benar Emi. Aku tidak menyadarinya, dari dataku dialah yang tidak terlalu mencurigakan"


"Kita akan lihat siapa yang hebat?!" Reno memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk mengikutinya. "Kau kembalilah ke kamar mu!"


"Tuan?!". Panggil Gladis. "Tolong berhati-hatilah" Gladispun berlari pergi.


Reno bersembunyi dan dor dor tiga orang tumbang. Dan terjadilah baku tembak disana.


Tempat itu jauh dari rumah utama dan juga rumah pelayan jadi mungkin orang akan mengira petasan atau yang lainya. Apapun yang terjadi juga para pelayan tidak akan keluar kamar, dan Elizabeth masih mengunakan handset di kepalanya, mendengarkan rekaman materi dari sang dosen.


Tinggal 2 orang lagi ya itu Emi dan seorang laki-laki. Dan yang laki-laki sudah terkena tembak di bahu dan kakinya, dan mereka berdua sudah berlutut.


"Ternyata bayi tikus saja, tapi sudah berani masuk ke sini"


"Jangan senang dahulu?! Anda fikir kami tidak menyiapkan rencana B. Anda salah besar. Kami harus berhasil dalam rencana kami. Dan kau sudah terperangkap, tuan?! Hahahahaha setidaknya kematianku tak akan sia-sia.. hahahaha"


Reno menyadari bahwa bagaimana dia bisa sangat ceroboh. Gladis? Gadis pelayan itu, bagaimana bisa dia berada di sini, sedangkan dia menyuruhnya untuk tetap tinggal di kamar. Ah aku terkecoh.


Reno berlari ke rumah utama.


Terlihat anak buahnya yang tertinggal sudah menangkap seorang pelayan.


"Ada apa ini?!"


"Tuan Reno. Dia membawa makanan beracun ke kamar nyonya"


"Kau?!" Reno terkejut melihat pelayan tersebut "Kenapa bisa?!"


"Kenapa? Apa tidak boleh? Kalian mengambil nyawa kedua orang tuaku saja boleh. Harusnya kalian semua yang mati"

__ADS_1


See you next time


maaf author ada masalah pribadi dan baru selesai sekarang....maafkan author 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2