Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Jangan Gila kamu Anya


__ADS_3

"JANGAN ANYA!" Luis berusaha untuk mencegah apa yang mama Anya lakukan, dia memegangi tangan perempuan itu agar menghentikan kegilaannya. Sehingga senjata yang ada di tangan mama Anya terayun-ayun di udara.


"Lepaskan aku Luis!" Karena Luis, fokus mama Anya menjadi buyar, pistolnya mengarah ke sembarang arah. Dan akhirnya...


DOOOOOORRR!


Pelatuk pun tertarik oleh jari mama Anya, sebuah peluru melayang. Menembus dan bersarang tepat di jantung Fira.


Seketika darah segar berceceran di atas ubin berdebu itu, bau amis menyeruak menembus indra penciuman semua orang yang ada disana. Fira merasakan kesakitan yang luar biasa. Ini benar-benar akhir dari hidupnya. Siap tak siap, Fira harus siap. Ikhlas tak ikhlas, Fira harus ikhlas. Karena inilah yang telah Tuhan takdirkan di dalam hidupnya.


Bima memijat pelipisnya yang berdenyut tak habis fikir kenapa harus memakan korban? Istrinya pasti akan sangat bersedih dan takan mau memaafkan mama Anya. Apalagi ibu kandung Bima menghabisi Fira di depan mata kepala Nindi sendiri.


Sheerin dan Nindi terkesiap saat mendengar suara peluru yang dihempaskan senjata.


"Mamaaa!" Jeritan keduanya terdengar histeris saat menyadari jika kini tubuh ibu kandung yang baru saja mereka temukan sudah bersimbah darah. Spontan keduanya berlari ke arah Fira yang sedang menahan kesakitan.


"M... Maaf kan mama nak, m... mama tidak ada di saat kalian t... tumbuh. T... Tapi mama bahagia bisa melihat k... kalian di detik-detik terakhir h... Hidup mama. Mama menyayangi kalian. T... Tetap saling m... Menjaga dan berbahagia... Lah..." Dengan susah payah Fira berucap. Kedua tangannya mencengkam erat tangan Sheerin dan Nindi, berharap dengan cara itu bisa mengurangi rasa sakitnya saat melepaskan nyawa.


Nindi dan Sheerin seakan bisa merasakan kesakitan itu saat Fira menggenggam erat tangan mereka. Tangis keduanyapun pecah mengiringi kalimat yang Fira ucapkan.


"Mama pasti kuat. Kita kerumah sakit sekarang." Ucap Nindi berusaha untuk menguatkan Fira. Meskipun ia sendiri merasa panik dan bersedih.


Sedangkan kesedihan Sheerin yang paling menonjol disana. Sheerin tak mampu untuk berkata-kata, hanya air mata yang mewakili seruan hatinya. Ia yang selama ini tak pernah merasakan kasih sayang tulus dari seorang ibu begitu terpukul saat baru saja bertemu dengan ibu kandungnya, dan dalam sekejap mata harus kembali kehilangannya.


"T... Tidak, mama sudah tidak kuat nak. M... Mama lelah. M... Mama ingin beristirahat saja untuk s...Slamanya." Suara Fira semakin melemah. Baru kali ini seumur hidupnya Nindi dihadapkan dengan situasi pelik seperti ini, melihat orang yang dalam keadaan sakaratul maut. Bahkan itu adalah ibu kandungnya sendiri.


Perlahan mata Fira terpejam, seiring dengan nafasnya yang berhenti berhembus. Nindi mengguncang tubuh Fira agar ibunya itu kembali membuka mata. Namun nihil, Fira telah meregang nyawa, ia telah tiada.


"Bangun maa! Jangan kayak gini. Bangun maa!" Nindi berteriak histeris sambil terus mengguncang tubuh Fira yang sudah tak merespon.

__ADS_1


"Mama kenapa Nin? Mama baik-baik aja kan?" Sheerin nampak seperti orang linglung, sebuah penolakan untuk kenyataan. Dia tak ingin kehilangan lagi ibunya. Sheerin bahkan telah meminta pada Tuhan agar jangan renggut apapun lagk dari hidupnya. Jika Tuhan bersikeras menginginkan sesuatu darinya, maka ambil saja nyawa Sheerin, jangan orang-orang yang ia kasihi.


Namun Sheerin hanyalah manusia biasa, ia tak bisa mendahului takdir Tuhan. Kematian Fira sudah tertulis bahkan sebelum ia dilahirkan ke dunia ini.


Levin menghampiri Sheerin yang menangis sesegukan dan Nindi yang terus berusaha membuat Fira bangun. Kemudian dia memeriksa denyut nadi Fira. Dia menggeleng pelan. Ibu kandung Sheerin telah tiada.


"Kenapa Lev? Mama baik-baik aja kan?" Tanya Nindi.


"Mama kalian udah nggak ada. Ikhlasin dia ya!" Levin berkata dengan penuh penyesalan.


"Hahaha. Mati kamu Fira!" Mama Anya menyeringai, terlihat sangat bahagia, penghalang jalannya telah tiada.


Tubuh Sheerin seketika lemas saat Levin mengatakan hal itu. Hal yang sama sekali tak ingin ia dengar. Kepalanya mendadak bleng, penglihatannya mulai kabur, apalagi bau amis darah yang mengganggu indra penciumannya, membuat perutnya mual dan ingin muntah. Sheerin memegangi kepalanya yang baru saja bak dihantam martil. Pusing, pening. Sheerin tak dapat mempertahankan lagi ke sadarannya. Tubuhnya ambruk, untung saja saat itu Levin berada tepat di sampingnya sehingga Sheerin pingsan dalam pangkuan kekasihnya itu.


Kepanikan satu belum berakhir, kini kepanikan yang lain muncul. Levin menepuk-nepuk pipi Sheerin pelan.


"She, bangun She!" Seru Levin.


Sedangkan Luis nampak termangu sesaat setelah peluru itu menembus organ tubuh Fira. Dia nampak syok dengan apa yang baru saja terjadi. Wanita peliharaannya kini sudah tak bernyawa lagi. Kenapa? Kenapa hidupnya harus berakhir seperti ini? Bahkan tak pernah terbesit di pikirannya untuk menghabisi Fira dengan cara seperti ini.


Menyesal karena ia tak dapat menahan mama Anya untuk tidak menembak Fira. Luis benar-benar telah gila sekarang. Keadaan jadi berbanding terbalik, hati mama Anya melunak saat Fira telah berhasil ia lenyapkan.


"Sekarang, tidak ada lagi penghalang bagi aku, kamu Luis dan anak kita Bima untuk bersama. Hahaha." Tawa mama Anya terdengar bagaikan tawa setan terkutuk yang mengerikkan.


Bima tak habis pikir, terbuat dari apa hati ibunya itu? Setelah melenyapkan nyawa seseorang, ia masih bisa tertawa seperti itu. Dia pikir apa hidupnya akan bahagia seperti yang ia katakan? Bukan gelar ibu yang sepatutnya ia dapatkan, melainkan PEMBUNUH!


Sedangkan kini, Luis yang nampak murka. Dia marah terhadap mama Anya. Berani-beraninya dia menyentuh FIRAKU! Fira begitu sangat berarti baginya. Disaat dirinya merasa kesepian dan butuh kehangatan, Firalah yang selalu ada untuknya. Kapanpun yang Luis inginkan.


Tanpa ia sadari, ia menjatuhkan air mata. Merasa terpukul dengan kepergian Fira. Karena bagaimanapun juga Fira tang telah menemaninya selama ini saat mama Anya tak ada. Waktu yang telah menumbuhkan perasaan aneh itu di dalam hati Luis.

__ADS_1


"KENAPA KAMU MENGHABISINYA ANYA? AKU KAN SUDAH BILANG, JANGAN HABISI DIA JANGAN HABISI DIA! KENAPA KAMU TETAP MELAKUKANNYA?" Luis membentak tepat di depan wajah mama Anya. Membuat mama Anya terkejut di buatnya.


Untuk pertama kalinya seumur hidup, Luis menaikkan intonasi saat bicara dengannya. Mama Anya tak percaya yang berada di hadapannya kini dan membentaknya adalah Luis, laki-laki yang ia perjuangkan habis-habisan selama bertahun-tahun. Hatinya benar-benar terluka, pengorbananmya selama ini terasa sia-sia.


Kalian takan pernah tau seberapa besar rasa sakitnya hati mama Anya sekarang. Cintanya telah terhianati, dan kini Luis memperlakukannya dengan kasar. Tak terima, mama Anya balik menatapnya dengan penuh kemarahan.


"Berani kamu menaikkan nada bicaramu padaku Luis?" Tanya mama Anya yang sudah sakit hati juga marah. Luis menatap mama Anya tajam, terlihat menantang.


"Harusnya aku tidak hanya menghabisi dia, tapi juga melenyapkanmu Luis. Dasar PENGHIANAT!" Air mata kini sudah bercucuran di wajah mama Anya. Ia kembali mengacungkan senjata api yang ia gunakan untuk menembak Fira tadi ke arah Luis, mengambil ancang-ancang untuk menggertak Luis. Ya, hanya sebuah gertakan, ia tidak akan melakukannya sungguhan. Luis adalah cintanya, mana mungkin ia bisa hidup tanpa Luis. Sekalipun laki-laki itu telah menghianati kepercayaannya. Sebesar itu cinta yang mama Anya miliki terhadap Luis. Namun dengan teganya Luis malah menghianatinya dan membuat hatinya hancur, sehancur-hancurnya.


"Jangan bercanda kamu Anya!" Luis nampak gelagapan saat mama Anya mengacungkan senjata api itu ke arahnya.


"Kamu telah menghianatiku, dan sekarang kamu malah membentakku Luis. Hanya karena perempuan itu?" Kini suara mama Anya berubah menjadi sendu, menggambarkan suasana hatinya saat ini.


Luis perlahan mendekati Anya, untuk membujuknya agar mama Anya mau menurunkan postol itu. Mama Anya perempuan yang nekat, ia mampu menarik pelatuk dan membuat Fira tiada. Bukan tidak mungkin ia juga akan menghabisi Luis dengan senjata terkutuk itu.


"Maaf Anya, maafkan aku. Aku tidak bermaksud." Luis ketakutan, berusaha menjinakkan mama Anya.


Berhasil! Luis berhasil menjangkau tangan mama Anya dan Luis berusaha untuk melepaskan pistol itu dari tangan mama Anya. Namun mama Anya bersikeras dan mempertahankan agar pistol itu tidak di rebut Luis.


"Lepaskan aku Luis!" Aksi saling tarik menarik senjatapun tak terelakkan.


"Jangan gila kamu Anya. Buang senjata ini!" Takut jika mama Anya benar-benar akan menghabisinya. Ia masih ingin berumur panjang.


"Tidak, aku tidak akan melepaskannya."


Sampai akhirnya, Luis tak sengaja menarik pelatuk itu sehingga kembali terdengar suara tembakan.


DOOOOOOR!!!

__ADS_1


____________


Siapa lagi ini yang ketembak? tetap tinggalkan jejak setelah membaca... maaf ceritanya terlalu bertele-tele... author sudah memperingatkan kalau akan ada 3 orang yang meninggal di akhir cerita...


__ADS_2