Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Ketahuan


__ADS_3

Sheerin memejamkan matanya rapat-rapat, berharap saat membuka mata, dirinya sudah berpindah tempat ke tempat lain. Namun harapan tinggallah harapan. Ini bukan sulap ataupun sihir. Dia tidak akan bisa keluar dari tempat itu tanpa ada seseorang yang menolongnya.


Kegiatan yang Luis lakukan terhenti sebelum puncaknya, suara getaran dari ponsel itu mengembalikan kesadaran Luis setelah dibuat melayang saat menikmati tubuh Fira.


Dugaannya tidak pernah meleset, ada seseorang yang menyelinap masuk ke tempat rahasianya ini. Meskipun sebenarnya tak ingin, Luis terpaksa menghentikan kegiatan gilanya itu. Memakai pakaiannya untuk yang kedua kali. Perasaannya sudah tak menentu, dia memakaikan Fira pakaiannya secara asal.


"Siapa?" Suara Luis menggelegar memenuhi udara. Matanya menyapu setiap sudut ruangan berdebu itu, mencari tau dimana suara ponsel tadi berasal.


Pelan langkahnya menyusuri setiap sudut ruangan itu, matanya tertuju pada satu titik, tumpukan kardus itu.


"Hahahaha." Tawanya meledak seketika, Fira menatapnya dengan heran. Mengapa pria psikopat itu malah tertawa sedangkan dirinya begitu tegang sekarang. Dia tidak gila, hanya kurang waras saja. Pikir Fira.


"Aku tau kamu berada disana, Sheerin!" Luis yang merasa terancam dan tersudut, terpaksa harus bertindak. Dia ingin sedikit bermain-manin dengan anak itu yang sudah lancang menyelinap masuk ke tempat rahasianya ini.


Tentu saja Luis tidak akan membiarkannya keluar dari sana dengan mudah. Jika ada orang yang sudah masuk ke dalam perangkapnya, Luis pastikan jika orang itu tak akan bisa keluar lagi bagaimanapun caranya. Dia tak ingin seluruh dunia tau kalau Fira masih hidup. Terutama Anya, entah apa yang akan terjadi jika seandainya Anya tau jika Luis telah membohonginya selama bertahun-tahun.


Deg!


Sheerin membeku di posisi saat namanya disebut oleh Luis. Tamat sudah riwayatnya kali ini. Jantungnya tak dapat di kendalikan lagi, Sheerin benar-benar tegang sekarang. Dadanya nampak kembang kempis, bahkan untuk sekedar bernafaspun rasanya sangat sulit. Dia hanya bisa bernafas melalui mulutnya saat ini. Tangan dak kakinya bergetar hebat saat melihat dari celah kardus Luis bicara sambil menghadap ke arahnya. Apalagi wajah Luis begitu menyeramkan jika dilihat dalam keremangan itu, Sheerin tak dapat berbuat apa-apa sekarang. Hanya tinggal menunggu waktu saja.


"Sheerin?" Fira mengulang nama yang baru saja di ucapkan oleh Luis. Nama itu sangat tak asing di telinga Fira. Bahkan nama itu yang selama ini ia selipkan di setiap do'a-do'anya. Nama yang dulu ia berikan kepada salah satu bayi kembarnya.


"Ahh iya. Kamu belum tau ya jika dia adalah Sheerin?" Luis terdengar menanggapi perkataan.


Fira terdiam, air matanya meleleh saat Luis memberikannya informasi itu. Benarkah? Anak itu adalah bayi yang dulu ia lahirkan, yang ia timang menjelang tidur, yang ia susui dengan penuh kasih sayang?


Apa sekarang dia datang untuk membebaskan dirinya? Hati Fira bergemuruh sekarang. Antara bahagia mengetahui kini putrinya telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik dan dalam keadaan sehat walafiat. Namun, kenyataan kembali menamparnya kala mengingat jika Sheerin kini berada dalam bahaya, dia berada di bawah ancaman pria psikopat itu.

__ADS_1


"Kamu bohong!" Merasa takut jika Luis hanya membohonginya saja.


"Untuk apa aku berbohong. Ayolah Sheerin! Kamu tidak perlu bersembunyi lagi. Kamu sudah ketahuan. Keluarlah! Aku akan membeberkan semua rahasia ini padamu. Sebelum ajalmu menemuimu. Hahaha." Luis nampak bahagia. Dia sudah bertekad untuk menghabisi saja nyawa Sheerin karena dia adalah ancaman terbesar baginya saat ini.


Namun sepertinya akan menarik jika dia melakoni drama-dramaan sebentar.


'Apa maksudnya? Rahasia apa?' Dalam hati Sheerin bertanya-tanya.


Plis, seseorang. Tolong!


"Kamu tau Sheerin, siapa perempuan yang kakinya tinggal sebelah ini?" Luis nampak santai berbicara, melangkahkan kakinya perlahan mendekati tumpukan kardus itu.


Sheerin menahan nafas, berusaha untuk tetap mempertahankan kesadarannya. Sedangkan Fira sudah terkulai lemas, dia tak ingin putrinya juga mengalami hal serupa dengan dirinya. Masa depan Sheerin masih panjang. Mengetahui fakta jika salah satu putrinya masih hidup saja Fira sudah mengucap beribu-ribu syukur.


"Dia adalah Fira, ibu kandungmu Sheerin. Hahaha. Namun sayang, kamu harus mengetahui fakta ini saat sudah berada di ujung usiamu. Haha." Luis membeberkan semuanya, bagaikan memproklamasikan kemerdekaan.


Jleb!


Sosok yang selama ini Sheerin anggap telah tiada justru terpenjara di tempat ini. Adilkah ini semua?


Ingin rasanya Sheerin berteriak dan minta penjelasan atas semua perkataan Luis. Namun Sheerin terlalu takut untuk menunjukkan wajahnya di hadapan Luis. Dia bagaikan seekor tikus yang bisanya hanya bersembunyi saat sedang di buru.


Luis dan mama Anya telah membuat keluarga Sheerin hancur lebur. Sheerin yakin mereka pasti sekongkol, memisahkan dirinya dan Nindi, menyekap ibunya, membuat dirinya menderita, membunuh ayahnya, merebut seluruh hartanya. Semua skenario seperti sudah di tulis dengan rapi oleh mereka.


Ya, Sheerin baru menyadari semua itu setelah semuanya terlambat. Bahkan dia tak pernah menyangka jika ibu kandungnya saat ini masih hidup dan berada dekat dengan dirinya.


"Jadi Sheerin, cepat ucapkan selamat tinggal pada ibumu untuk yang terakhir kalinya. Kamu tau Sheerin, jika Fira ini begitu merindukanmu selama ini." Perkataannya dibuat sedramatis mungkin, seolah dia sedang bermain drama sungguhan.

__ADS_1


"Tidak, aku mohon jangan lukai putriku. Habisi saja aku. Biarkan dia pergi dari tempat ini." Fira berusaha untuk memdekat ke arah Luis. Namun dia gagal melakukannya karena jarak Luis terlalu jauh dari jangkauannya.


"Kenapa kamu baru mengakuinya sekarang Fira? Sedari tadi kamu hanya membuatku membuang energi, mendesakmu agar bicara kalau anak itu ada disini?" Luis nampak puas saat mendengar perkataan Fira. Dia sudah terpancing dengan drama yang dia buat. Akhirnya Fira mau mengakui sendiri jika Sheerin memang benar sedang ada di sana sekarang.


Fira kehabisan kata-kata untuk menghiba, dia begitu bodoh bisa sampai terpancing oleh perkataan Luis. Namun tanpa dirinya mengakui secara tidak langsung, Fira tau kalau Luis tau Sheerin sedang bersembunyi. Psikopat itu hanya sedang ingin bermain-main.


***


Mama Anya menyetir mobilnya sendiri di tengah dinginnya malam itu. Tekadnya sudah bulat untuk menemui Bima secara diam-diam malam ini juga, untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun dan menatap wajahnya dari jarak dekat. Konyol memang, namun hanya sebatas itu yang bisa dia lakukan untuk mengobati rasa rindunya pada sang putra.


Dia tak bisa menunggu sampai besok pagi karena besok pasti Bima sudah terbangun, tak mungkin dia tiba-tiba saja muncul di hadapannya dan mengaku sebagai ibu kandungnya. Meskipun itu memanglah kenyataannya, namun rasanya pasti sangat aneh. Bima pasti akan merasa canggung, atau bahkan akan menolak dirinya.


Sementara itu, Levin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan di tengah sunyinya malam. Untung saja jalanan sangat lengang sehingga dia bisa leluasa melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Dia ingin segera tiba di rumah Bima.


Kemarin setelah dirinya berpamitan pada Sheerin untuk pulang, sebenarnya Levin tak benar-benar pulang ke rumahnya. Dia malah pergi ke kost-an Sandi, menghabiskan malam minggu yang tersisa untuk bertanding PS. Dengan senang hati si Sandi menyambut ke datangan Levin, merekapun bermain PS hingga lupa segalanya.


Untunglah jarak antara kost-an Sandi dengan rumah Bima tak sejauh dari rumahnya. Levin kembali menambah laju motornya, tangannya bahkan kini sudah kesemutan akibat di terpa angin malam.


***


BRAKKK!!


Luis menendang tumpukan kardus di hadapannya setelah jemu dengan drama yang dia buat sendiri. Sehingga tumpukan kardus itu hancur lebur menjadi berkeping-keping. Fira menutup matanya, tak sanggup jika harus melihat Sheerin di lukai oleh pria psikopat itu.


"Aaaaa." Sheerin menjerit histeris saat tempat persembunyiannya kini telah tak berbentuk lagi. Bahkan ponsel yang sedari tadi ada di genggamannya kini terlempar entah kemana. Sheerin tak lagi memikirkan tentang ponselnya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana dia bisa selamat. Dirinya benar-benar sudah ketahuan sekarang.


Sheerin memejamkan matanya, menutup telinganya saat Luis mendekat ke arahnya. Sedangkan Fira tak hentinya memohon agar Luis tidak menyakiti Sheerin.

__ADS_1


_______________


Minta Votenya dikit dong, biar othornya semangat buat ngetik... Hihi, maafkan othor yang ngelunjak ini 😁


__ADS_2