Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
35


__ADS_3

"Em" jawab Bram tentang pertanyaan Elizabeth. Abraham malah sibuk dengan Handphonenya.


Sampailah toko buku, Abraham dan Elizabeth hanya diam diam saja. Mereka sama-sama sibuk dengan handphone mereka masing-masing.


"Honey, kau tidak ikut turun?" tanya Elizabeth yang sudah keluar dari dalam mobil.


"Tidak?! Aku di sini saja" jawab Abraham yang seakan tidak peduli.


Elizabeth melirik Bram dan Bram langsung mengangkat bahunya. Bram juga tidak tahu dengan Tuan besarnya itu yang tadi baik-baik saja.


"Ya sudah, jika tak mau ikut!" Ujar Elizabeth. Bram kembali menutup pintu mobil itu.


Elizabeth melangkah pergi, masuk ke dalam gedung itu sendiri.


"Kenapa kau malah masuk, Bram?! Ikuti dia. Di sini berbahaya untuknya" ujar Abraham yang melihat Bram masuk kembali ke dalam mobil.


"Baik, tuan besar!" ucap Bram.


Abraham meletakkan kembali handphone di sofa di sampingnya. Dia menatap ke arah luar jendela, menatap gedung yang Elizabeth masuki.


"Kenapa mereka lama sekali" ujar Abraham yang masih menatap pintu gedung itu. Dengan gelisah dia terus menunggu.


"Apa terjadi sesuatu?"


Abraham hendak menelpon Elizabeth namun dia urungkan.


"Dia kan baru berangkat lima menit yang lalu" ujar Abraham melihat jam di handphone itu. "Lagipula aku hanya bosnya"


Abraham meletakkan kembali Handphonenya dengan kasar.


"Dret Dret Dret" handphone itu bergetar dengan cepat Abraham mengambil dan berharap Elizabeth lah yang menelponnya, tetapi ternyata Sekertaris Kim yang menghubungi nya.


"Katakan?!" ucap Abraham setelah mengangkat telponnya.


"..."


"Em"


"..."


"Kau atur saja"


"..."


"Em"


Abraham menutup telepon tersebut.


"Belum selesai juga?" ujar Abraham yang semakin tak tenang.


Dia melihat ke arah jalan dan melihat seseorang yang dia rasa kenal.


"Kenapa dia ada di situ?" tanya Abraham. Dia keluar dari dalam mobil. Orang yang Abraham lihat itu sudah menyeberang jalan.


"Dia mau kemana?" tanya Abraham yang mengejar, Abraham sudah tidak sabar karena lampu penyebrangan sekarang warna merah untuknya. Tapi mata Abraham masih fokus pada orang tersebut, mengikuti semua langkahnya pergi.


Saat lampu kembali hijau, saat Abraham akan melangkah.


"Honey, kau mau kemana?" tanya Elizabeth yang memanggilnya. Elizabeth sudah berdiri di samping mobilnya. Abraham melihat ke arah orang yang memanggilnya dan kembali melihat ke arah orang yang di seberang, namun orang diseberang sudah tak ada.


"Kau akan kemana, Honey?" Tanya Elizabeth yang melangkahkan ke arah Abraham dan diikuti Bram.


"Tidak?! aku hanya merasa bertemu seseorang yang aku kenal. Kamu sudah selesai?" tanya balik Abraham.


"Sudah?! Ayo pulang?!"


"Ayo?!" ucap Abraham sambil melihat kearah seberang jalan tempat orang yang dia kenal tadi. Hingga akhirnya dia mengikuti langkah Elizabeth kembali masuk ke dalam mobil.


Sampailah di rumah. Tanpa kata, Abraham langsung keluar dari mobil dan masuk ke rumah, meninggalkan Elizabeth dan Bram.

__ADS_1


"Ada apa dengan Abraham, Kak?" tanya Elizabeth. Elizabeth melirik sekilas Bram yang berdiri di sampingnya dan mereka berdua sama-sama melihat kearah Abraham yang pergi.


"Apa ada masalah tadi?" lanjut Elizabeth.


"Saya tidak tau, nyonya. Tadi tuan besar baik-baik saja"


"Apa dia ke sambet? Hahaha emang di Indonesia yang ke sambet jin hahahah" perang batin Elizabeth.


"Ah mungkin tiba-tiba ada masalah, kak" ucap Elizabeth "Aku akan menyusulnya" pamit Elizabeth.


"Selamat siang. Semoga hari anda menyenangkan" ucap Bram.


"Sama-sama, kak"


Elizabeth masuk, namun masuk dan tak melihat Abraham di sana.


"Selamat siang, nyonya" ucap para pelayan yang menyambut.


"Pak Run?!"


"Ada yang anda butuhkan, nyonya?" tanya pak Run.


"Ah. Tadi Abraham kemana ya, pak?" tanya Elizabeth.


"Tuan besar tadi melangkah ke kamar, nyonya"


"Terimakasih, pak"


"Sama-sama, nyonya. Anda membutuhkan yang lain lagi, nyonya?"


"Tidak ada, pak. Terimakasih"


"Saya akan menyiapkan makan siang anda, nyonya"


"Ah iya. Aku akan bersihkan diri dahulu"


"Mari, nyonya"


"Pak, jika lain kali, saya tidak udah di sambut seperti ini. Saya rasa tidak nyaman"


"Saya akan tanyakan pada tuan besar terlebih dahulu, nyonya"


"Terserah bapak saja" Pasrah Elizabeth dan dia melangkah pergi .


Saat Elizabeth ke atas dia berpapasan dengan Abraham yang akan ke bawah.


"Kau mau kemana, Honey?" tanya Elizabeth.


Abraham hanya diam dan terus melangkah pergi. Elizabeth mengerutkan keningnya akan perlakuan Abraham dan melangkah pergi.


Sampai malam hari, Abraham tidak kembali ke kamar.


Pagi hari Elizabeth pun tak melihat Abraham di kamarnya.


"Apa dia tidak tidur?" tanya Elizabeth melihat sebelah tempat tidurnya dan ternyata tempat itu sudah berantakan, artinya semalam Abraham tidur di sampingnya.


"Ah dia sudah bangun ternyata. Apa tidak masuk sehari membuat dia harus lembur dan bangun pagi?"


Elizabeth memilih untuk mandi dan sarapan.


"Pagi, nyonya" sapa pak Run. Pak Run menarik kursi untuk Elizabeth duduk.


"Pagi, pak" balas Elizabeth dan duduk di tempat yang di sediakan Pak Run.


"Pak?!"


"Iya, nyonya?"


"Abraham dimana, ya? Kok saya tidak melihatnya?" tanya Elizabeth pada pak Run yang masih berdiri di sampingnya

__ADS_1


"Tuan, sudah ke kantor bersama Sekertaris Kim, nyonya"


"Oh begitu, ya? Apa lukanya sudah sembuh?" tanya Elizabeth yang khawatir.


"Sudah lebih baik, nyonya"


"Oh. Baiklah"


"Nyonya?!" sapa Desi yang mendekat dan siap mengambilkan nasi untuk Elizabeth.


"Tidak perlu, Des. Aku bisa ambil sendir!" larang Elizabeth.


"Duduklah?!" perintah Elizabeth pada Desi yang akan pergi.


"Maafkan saya, nyonya" ucap Desi sambil menunjuk. Dia tidak mungkin makan semeja dengan nyonya nya itu. Bagaimana mungkin pelayan semeja dengan tuannya.


"Aku tak suka makan sendiri, Des. Ayo sarapan bersama?!"


Desi melihat ke arah pak Run. Seakan minta izin pada pak Run.


"Ayo pak Run. Kita makan bersama" Ajak Elizabeth pada pak Run yang berdiri tak jauh dari sana.


"Terima kasih, nyonya?! Selamat makan. Saya pamit ke dapur" tolak pak Run. Pak Run memberikan isyarat untuk meninggalkan Elizabeth dan Desi sendirian.


"Tir, ayo makan bersama" panggil Elizabeth pada Tiara yang juga akan pergi meninggalkan ruangan makan itu.


"Ta..tapi, nyonya...."


"Ayolah" potong Elizabeth.


Lagi-lagi Tiara melihat pak Run terlebih dahulu.


Lagi-lagi Elizabeth mencari orang yang bisa dia tarik dan dia kenal, tapi sayangnya sudah pada pergi.


Tiara dan Desi dengan pelan duduk di kursi di meja makan itu.


"Ayo jangan malu-malu. Selamat makan?!" ucap Elizabeth memasukkan nasinya ke dalam mulut.


"Mari, nyonya" ucap mereka kaku.


"Oh iya, Des Tir"


"Iya, nyonya?" jawab Desi dan Tiara kaku.


"Bisa tidak kalian tidak kaku seperti itu. Santai saja denganku"


"Tapi, nyonya..."


"Kak Kim dan Kak Bram saja sudah mulai santai"


"Huk huk huk" Desi dan Tiara kompak tersedak mendengarkan ucapan Elizabeth yang memanggil Sekertaris Kim dan Bram dengan kakak.


"Kalian kenapa? Kompak sekali tersedak nya?" ucap Elizabeth sambil memberikan segelas air ke arah Desi. Dengan sopan Desi mengambilnya dan meneguk airnya.


"Maafkan kami, nyonya"


"Ah oke. Coba kurangi panggil nyonya nya" Tiara dan Desi saling pandang-pandangan "Aku tidak menyuruh kalian ganti panggilan cukup kurangi kekakuan di wajah dan juga selalu menyebut nyonya. Misalnya maafkan kami, nyonya. Maaf saja gitu " jelas Elizabeth.


"Bolehkah saya berkata sesuatu, nyonya?" tanya Desi.


"Tentu?! Katakanlah, tak perlu minta izin seperti itu tau"


"Maaf saya, nyonya. Anda adalah nyonya kami, sepatutnya kami hormat kepada anda..."


"Tapi aku tak nyaman dengan itu" Potong Elizabeth.


"Maafkan kami, nyonya. Saya akan berusaha sebaik mungkin agar anda merasa nyaman"


Walau tampak kaku mereka tetap makan dengan mengobrol.

__ADS_1


Akhirnya sarapan selesai dan Elizabeth kembali ke kamarnya. Dia akan siap-siap ke kampus.


See you next time


__ADS_2