
Tidak lama, Abraham kembali dengan Sekertaris Kim dalam keadaan lebih segar dan telah berganti pakaian.
"Bram?!" Panggil Abraham pada Bram dengan memberikan isyarat padanya
"Baik, tuan"
Bram pun pergi entah mau kemana.
"Coba kau lihat aku, Elis"
Abraham mempersiapkan 2 buah pistolnya dan dor dor. Semua tepat sasaran.
Bram kembali datang dengan 2 sangkar burung, dia melepaskannya dan burung mulai terbang diatas mereka
Dor. Satu peluru Abraham tepat di salah satu burung.
"Kau coba tembak yang satunya, Elis"
"A...apa..a...aku?!" Tanya Elizabeth tidak percaya dengan perintah Abraham. Menembak benda tak bergerak saja dia masih belum ahli apalagi yang bergerak terbang seperti itu.
"Posisikan senjata mu!" Mendengar perintah Abraham, Elizabeth langsung memposisikan senjatanya dan mencoba mengikuti pergerakan Elizabeth. 1 2 3 detik bahkan 1 2 3 menit Elizabeth masih tidak menembak.
"Kau harus fokus, Elis"
"Tapi dia terus bergerak!"
"Coba kau lepaskan tembakan mu?!"
"Baiklah?!"
Elizabeth mencoba mengarahkan dan dor. Gagal tembakkannya tidak mengenai burung itu.
"Coba lagi!"
Sudah beberapa kali Elizabeth berusaha dan tembakannya selalu meleset.
Abraham mendekat pada Elizabeth, dan dari belakang membantu mengarahkan tangan Elizabeth.
"Kau lihat pergerakannya dan kecepatan pergerakannya. Senjata seperti ini, kau arahkan kesini. Tarik pelatuknya?!"
Elizabeth mengikuti perintah dan dor. Tepat mengenai burung itu.
"Kau hebat, honey"
"Cukup latihannya. Ayo kita pulang?! Kau juga belum makan malam kan?"
"Tapi..."
"Besok juga kau harus kuliah bukan?"
"Baiklah?!" Ucap Elizabeth pasrah.
"Terimakasih, kak Kim kak Bram atas latihannya hari ini"
__ADS_1
"Sama-sama, nyonya" jawab Sekertaris Kim dan Bram.
"Kau panggil apa Kim dan Bram, Elis?!" Tanya Abraham.
Sekertaris Kim dan Bram saling pandang-pandangan, seakan saling memberi kode " Matilah kita"
"Kakak? bukankah mereka lebih tua dariku?"
"Apa mereka tidak protes?" Abraham memandang Sekertaris Kim dan Bram bersamaan
"Maafkan kami, tuan besar" jawab mereka kompak.
"Kau benar-benar hebat, Elis. Aku bahkan tidak bisa merubah mereka memanggilku tuan besar, menjadi tuan saja"
"Aku juga tidak bisa meminta mereka tidak memanggilku, nyonya" balas Elizabeth "Aku tidak tau bagaimana caramu membuat anak buah mu menjadi mempunyai wajah kaku seperti itu" ucap Elizabeth sambil menunjuk wajah Bram.
"Saya lagi yang kena, saya lagi" gerutu Bram yang di salahkan.
"Selain nyonya, kau ingin di panggil apa, Elis? tanya balik Abraham.
"Adik, dik Elis, atau Elis aja sepertimu, Sepertinya lebih akrab.
"Aku tidak setuju, jika kalian memanggilnya bukan nyonya, kalian harus memanggilku Abraham, ataupun kak"
"Itu tidak akan terjadi, Tuan besar" jawab Sekertaris Kim mantap.
"Sepertinya kau salah didikan" Sarkas Elizabeth.
"Aku tidak sedang buka sekolah yang mendidik, Elis. Aku pembisnis dan mafia"
"Apa wajahku juga kaku seperti mereka?" tanya Abraham berjalan sejajar dengan Elizabeth.
"Tapi karena mu mereka kaku"
"Aku tidak memberikan mereka obat kaku atau memaksa mereka untuk memasang wajah seperti itu"
"Sebenarnya wajah anda lebih lebih kaku dari kami, tuan besar. Apa anda tidak menyadari itu, Ini saja saat di depan, nyonya. Dan kami senang akan hal itu"
Bram dan Sekertaris Kim mengikuti Abraham dan Elizabeth dan hanya mendengarkan perdebatan mereka. Tanpa sadar sekertaris Kim mengbangkan tersenyum dan seketika senyum itu sirna.
"Maafkan saya yang egois, nyonya. Tapi anda bahagiakan di samping, tuan?"
"Tuan besar di samping nyonya tampak seperti pria normal lainnya dan sekarang saya melihat Bos juga tersenyum. Semoga semua ini akan terjadi selamanya"
"Bram?!"
"Iya, bos?"
"Anggaplah nyonya seperti temanmu sendiri, Ubah wajah kaku mu itu. Kau lah yang sering bersama nyonya. Buat nyonya nyaman disini, tapi tetap ingat batasan mu"
"Baik, bos"
Besok paginya.
__ADS_1
Elizabeth telah siap untuk berangkat kuliah.
"Kau menyuruhku libur? Tapi kau malah kuliah" ucap Abraham kesal.
"Kau sakit dan aku tidak"
"Aku akan berangkat?!" ucap Elizabeth yang akan pergi.
"Apa aku sudah mengijinkan mu?"
"Mau apa lagi?! Aku sudah terlambat, Honey"
Abraham mengambil sebuah kotak di dalam laci.
"Kamu pasti membutuhkan ini kan?" Abraham memberikan kotak itu kepada Elizabeth dan Elizabeth menerimanya.
"Ini untukku?" ucap Elizabeth melihat dari kotaknya saja Elizabeth sudah tau bahwa itu Hp pengeluaran terbaru dan yang pasti sangat mahal.
"Iya, kemarin kau pasti sangat kesal kan? Karena sudah ke kampus ternyata dosennya tidak ada"
"Iya, aku sangat kesal kemarin" jawab Elizabeth " Tapi apakah tidak apa-apa? Ini pasti sangat malah. Hpku juga tidak apa-apa kok , masih bisa di gunakan"
"Ambillah, itu bukan apa-apa untukku. Hpmu sudah terlalu jadul, aku sudah memasukkan kartunya ke sana"
"Tapi kau sendiri saja pakai yang seperti itu" ucap Elizabeth menunjuk hp Abraham.
Abraham punya 2 hp, Hp kantor dan Hp pribadi untuk menghubungi orang-orang kepercayaannya. Hp pribadi Abraham malah Hp yang bisa di bilang cukup jadul dan cukup usang. Sedangkan Hp kantornya jarang Abraham gunakan, jika sudah di rumah Abraham lebih suka menghabiskan waktu dengan Elizabeth dan mengurusi urusan lewat orang kepercayaan (Hp pribadi), sedangkan Hp kantor dia tinggalkan dalam lemari.
Sekesal apapun Abraham dia tidak akan melempar dan menghancurkan hp itu, walau sebenarnya hp itu sudah berumur 5 tahunan dan minta di ganti, karena Hp itu Abraham beli dengan uang yang ada di dalam kantong ayahnya yang sudah lama meninggal.
Flashback onn
Ayah dan ibu Abraham telah meninggal sekitar 20 tahun lalu, saat Abraham masih berusia 8 tahun. Abraham tidak pernah membuka barang peninggal sang ayah ibu, paman dan bibi ( kedua orang tuan Reno), barang itu tersusun dengan rapi di tempatnya. Tepat 5 tahun yang lalu, Abraham memeriksa semuanya, karena dia merasa, ini saatnya untuk membalas kematian kedua orang tuannya dan kedua orang tuanya Reno.
Abraham melihat semua yang ada disana dan mencari bukti di peninggalan itu, sakit dan luka sudah membekas selama orang tuannya pergi, dendam selalu membara di tubuhnya, tujuan hidupnya hanya 2 membalas kematian orang tuannya dan membalas jasa gadis kecil yang menyelamatkannya.
Abraham memeriksa satu persatu dan di jas itu terdapat amplop uang dan tertulis untuk beli Hp Anak kesayanganku. Abraham tidak menangis dia hanya menapakkan wajah sedihnya, saat dia ingat betapa bahagianya dia akan pergi bermain dan kata ayahnya mereka juga ingin membeli hp baru untuknya.
Tapi mereka tak pernah pergi bermain seperti yang mereka harapkan. Permainan yang dimainkan sangat menyeramkan bahkan mengambil nyawa kedua orang tuannya, serta bibi dan pamannya. Untung Reno saat itu tidak ikut, karena tertidur di hotel dan di rawat dengan baby sister nya, atau mungkin dia juga akan kehilangan Reno.
Anak umur 8 tahun itu, harus mengunakan keahliannya menembak, untuk melindungi dirinya sendiri dan menyelamatkan dirinya sendiri. Apa daya anak itu, dia tidak bisa menyelamatkan ayah, ibu, bibi, dan pamannya.
Jika tak dengan cara licik, mereka bahkan mungkin tak bisa menyentuhnya, karena ayah dan pamannya adalah orang yang sangat kuat. Bahkan ayah pamannya saat itu tak bisa melawan mereka, tapi mereka masih berusaha melindungi Abraham sampai mereka mengorbankan nyawa mereka.
Selain kedua keluarga itu, ada satu orang lagi yang ikut mereka, dia adalah ayah sekertaris Kim, tangan kanan Ayah Abraham. Saat itu ayah Sekertaris Kim sama mengemasnya dengan ayah, ibu, bibi, dan pamannya Abraham. Dia yang menarik Abraham untuk pergi dari sana atas perintah ayahnya dan orang tuanya menghadang, dan pertengahan jalan ayah sekertaris Kim pun tumbang. Mungkin takdir yang baik padanya dia diselamatkan, namun tubuhnya tetap cacat sampai sekarang.
Anak umur 8 tahun itu, Akhirnya berhasil pergi dan harus terus bersembunyi. Luka sudah banyak di tubuh Abraham saat itu, namun dia tidak merasakannya. Dia terus berlari dan akhirnya dia juga jatuh. Sama seperti halnya Ayah Sekertaris Kim, Abraham juga diselamatkan oleh seorang gadis kecil yang menjaga semalam dirinya dan memastikan tubuhnya hangat sampai pagi. Jika tidak mungkin saat orang-orang Drakness sampai, usaha larinya itu akan sia-sia, karena dia juga ikut mati. Hanya satu yang dia tau dari gadis kecil penyelamatnya, namanya Elizabeth Liman dan kalung di leher Elizabeth, kalung kristal hati yang selalu ada di leher Elizabeth sampai saat ini.
Abraham membeli Hp apapun yang cukup dengan uang itu, dan menjadikan hp itu sebagai pengingat bahwa ada yang harus dia selesaikan, sebelum dia mati.
flashback off
"Apa kau tidak butuh? Jika tak butuh, kembalikan. Untukku saja!" ancam Abraham.
__ADS_1
"Tidak?! Tidak?! Aku sangat butuh"
"Cup" Elizabeth mengecup pipi Abraham dan lari pergi, karena takut Hpnya diambil kembali dengan Abraham.