
"Jangan gila kamu Anya. Buang senjata ini!" Takut jika mama Anya benar-benar akan menghabisinya. Ia masih ingin berumur panjang.
"Tidak, aku tidak akan melepaskannya."
Sampai akhirnya, Luis tak sengaja menarik pelatuk itu sehingga kembali terdengar suara tembakan.
DOOOOOOR!!!
Tangan Luis gemetar, sehingga membuat senjata yang mereka perebutkan tadi jatuh menyentuh lantai.
Mama Anya tertegun saat merasakan benda asing menancap di perutnya. Rasa sakit seketika menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Dia menatap Luis dengan tak percaya, tangannya kini memegangi bagian perutnya yang terasa perih dan basah.
Astaga!
Tangannya berlumuran darah sekarang, bahkan darah segar itu mulai menetes mengenai lantai. Tubuhnya limbung, mulai kehilangan keseimbangan. Untuk sekedar bernafas saja rasanya sangat sulit.
"T... Tega sekali kamu Luis!" Matanya mendadak buram, ia tak bisa melihat penyesalan yang teramat dalam di mata Luis.
"K... Kamu tidak mau menghabisinya, tapi kamu malah menyakitiku!" Ucap mama Anya sembari menahan rasa yang teramat sakit itu. Ia berusaha untuk menggapai tembok untuk dijadikan sandaran.
"T... Tidak Anya, aku tidak bermaksud menyakitimu. Maafkan Aku, maafkan aku!" Luis berusaha untuk menggapai tangan mama Anya. Namun dengan segera mama Anya menepisnya.
Mama Anya masih berusaha meredam rasa sakit yang semakin lama semakin menjalar hingga ke ubun-ubun. Ia sudah kehabisan banyak darah. Sedangkan Luis terus berusaha untuk mendapatkan kata maaf dari mama Anya. Dia sangat menyesal, sama sekali tak bermaksud untuk menembak mama Anya dan ingin membalas perbuatannya karena telah menghabisi Fira.
Luis terus saja mengutuki kesalahan fatal yang baru saja ia lakukan. Anya tidak akan mati kan? Luis berharap seperti itu. Jika itu sampai terjadi, lalu bagaimana dengan dirinya? Bahkan Fira pun kini telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Sampai akhirnya...
BUKKK!
__ADS_1
Tubuh mama Anya tumbang, terbujur kaku di atas lantai berdebu. Tak sanggup lagi menahan sakit yang menerpa tubuhnya. Matanya perlahan terpejam, seiring dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Dia pergi dengan sejuta kesakitan yang Luis torehkan di hatinya juga tubuhnya.
Ternyata, cinta sejati itu tidak ada. Begitulah di akhir hayatnya mama Anya membuat kesimpulan. Pengorbanan dan penghianatan akan senantiasa selalu berjalan berdampingan.
Jangan pernah mencintai orang lain, cintailah diri sendiri saja. Jangan berkorban demi orang lain, karena orang lain belum tentu sudi berkorban untuk kita.
Meskipun terdengar egois, namun setidaknya itu akan menjadi tameng untuk hati kita agar tak merapuh ketika kenyataan tak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Mama Anya telah tiada, kekecewaan yang teramat besar terhadap Luis akan ikut terkubur bersama jasadnya.
Luis bersimpuh di depan jasad Anya, menangis untuk perempuan yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi dirinya. Namun dengan teganya Luis malah menghabisinya nyawa perempuan itu meskipun tanpa di sengaja.
Luis meraih kepala mama Anya, kemudian meletakkannya di atas pangkuannya.
"Anyaaaaa!" Jeritan Luis terdengar menyayat hati. Hari ini, akibat perbuatannya, dirinya harus kehilangan dua perempuan yang begitu berarti di dalam hidupnya. Luis membenturkan kepalanya pada kepala mama Anya. Meskipun tak ada gunanya, Luis tetap ingin menangis. Bibir pucat pasi mama Anya menyadarkan Luis jika perempuan itu takan pernah kembali lagi ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku Anya, maafkan Aku!" Dalam tangisnya Luis memohon ampunan. Penyesalan yang teramat besar telah menggerogoti hatinya.
Meskipun mama Anya tidak termasuk orang yang baik, namun dia tetaplah ibu kandungnya. Surganya berada di bawah telapak kaki mama Anya. Bima tidak bisa menutup mata untuk kenyataan itu. Sedikit banyak hatinya ikut terluka saat melihat ibu kandungnya itu meregang nyawa tepat di hadapan matanya. Namun sayangnya, air matanya tak kunjung mau keluar.
Nindi dan Levin melihat kejadian itu tanpa merasakan sesuatu yang bergejolak di hatinya, tidak ikut merasakan kesedihan. Bukan tidak manusiawi, namun hati Nindi terlanjur sakit atas perbuatan mama Anya yang telah menghabisi ibu kandungnya. Bahkan Nindi berpikir jika mama Anya telah mendapatkan karmanya sekarang. Semua impas bukan? Mama Anya akan di sidang di alam kuburnya, bukan oleh hakim, melainkan oleh malaikat Munkar Nakir. Dan dia akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang ia lakukan semasa hidupnya.
Nindi tidak yakin mama Anya bisa masuk surga setelah sederet kejahatannya yang telah banyak menyakiti hati semua anggota keluarganya.
Luis bangkit dari duduknya, sedikit oleng bahkan sempat terjatuh, namun Luis kembali berusaha untuk berdiri lagi. Menyusut air mata menggunakan punggung tangannya. Segukan kecil terdengar dari mulutnya.
Kedua perempuan yang senantiasa mengisi hari-harinya kini telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya, di hari yang sama. Lantas, apa yang bisa ia pertahankan lagi di dalam hidupnya. Semua kemewahan, kenikmatan, harta, tahta, tidak ada artinya tanpa kehadiran mereka. Dia sendiri tak yakin bisa melanjutkan hidupnya dengan bayang-bayang penyesalan karena telah menghianati dan menghabisi Anya. Perasaan bersalah pasti akan selalu menghantuinya di setiap langkah.
Luis menatap jasad mama Anya dan Fira bergantian dengan tatapan kosong. Baiklah, jika mereka pergi, maka Luis akan ikut menyusul mereka, mereka pasti akan di pertemukan kembali di dunia yang berbeda, dengan situasi yang berbeda pula. Semoga dengan ini, semua penyesalan dan rasa bersalahnya akan ikut mati.
__ADS_1
Dengan tangan gemetarnya Luis memungut senjata api yang telah merenggut nyawa Fira dan Anya, senjata itu pula lah yang akan menghabisi nyawanya. Luis mengarahkan senjata itu tepat di pelipis kanannya. Bima yang menyadari akan gelagat aneh ayahnya itu berseru dan mencegah.
"Ayaaah!"
DOOOOOR!!
Terlambat, satu peluru lagi berhasil keluar dari tempat persembunyiannya, berpindah tempat dalam sekejap mata pada kepala Luis.
BUKKK!!
Tubuh Luis ambruk, seiring dengan darah segar yang berceceran menyembur pada dinding. Otak Luis hancur, ia meregang nyawa saat itu juga.
"Ayaaaah!" Bima berlari menghampiri tubuh Luis yang kini tak bernyawa lagi. Barulah kesedihan yang sesungguhnya bisa Bima rasakan.
Sejak kecil, ayahnya lah satu-satunya manusia yang menjadi tempatnya bernaung. Meskipun ia kerap kali memperlakukan Bima dengan kasar, namun Bima tetap menyayanginya. Saat Bima kehilangan arah dan tujuan saat di tinggal ibunya pergi, hanya ayahnya lah satu-satunya sosok yang Bima andalkan. Ia kerap kali menangis saat Luis pergi meninggalkannya.
Ia berusaha untuk menjadi anak yang baik agar ayahnya itu menyayangi dirinya dan tak lagi marah-marah kepada dirinya.
Berharap suatu saat hati ayahnya itu akan melunak dengan sikap penurut yang Bima tunjukkan. Namun seiring berjalannya waktu, dan Bima mulai beranjak dewasa, kasih sayang yang selalu ia dambakan tak pernah kunjung ia dapatkan.
Bima menyayangi Luis, sangat menyayanginya, meskipun ia sering kali mendapat tendangan dari kaki ayahnya itu. Ia tumbuh dan berkembang bersama dengan ayahnya, ia bisa paham jika di balik keras hidup yang dijalani Luis, ada goresan luka yang teramat besar yang ia rasakan. Hanya saja Luis berusaha untuk menyembunyikannya dengan selalu bersikap tegas dan keras.
Nindi dan Levin sama-sama tercengang saat melihat Luis mengakhiri hidupnya sendiri. Ada perasaan ngeri sekaligus kaget. Bulu kuduk keduanya mendadak berdiri saat menyadari darah segar kini berceceran dimana-mana. Hari ini telah terjadi pertumpahan darah akibat dari sebuah penghianatan.
Maka, janganlah sesekali kamu menghianati kepercayaan yang di berikan seseorang. Bisa jadi itu yang akan mengantarkanmu ke dalam lubang kehancuran. Kepercayaan itu ibaratkan selembar kertas yang jika di remas, maka selamanya akan meninggalkan bekas.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca... lanjut gk nih?
__ADS_1
Kalo yg komen banyak, aku tamatin nanti malam...