Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir
Hampir terciduk


__ADS_3

Kini, Bima, Nindi dan laki-laki asing yang diketahui namanya Edwin itu tengah duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Nindi duduk tepat di samping kak Bima, bergelayut di lengah suaminya, menatap Edwin dengan tanda tanya besar di kepalanya. Dari mana datangnya laki-laki ini? Dia hampir saja menghancurkan rumah tangga yang di binanya bersama kak Bima. Jika saja kak Bima tidak bisa berpikir dengan pikiran dingin, Nindi pastikan jika pernikahannya akan porak poranda dengan kesalah pahanan ini.


Untung saja kak Bima berpikir jernih disaat tersulut emosi sekalipun. Mereka siap mendengar penjelasan dari Edwin. Ehh, untung saja laki-laki itu tidak kabur. Jadilah mereka bisa berdiskusi untuk memecahkan kasus ini.


"Terakhir kali yang aku ingat, aku sedang perjalanan pulang menuju rumah mengendarai mobilku. Tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang hendak menyebrang, beruntung aku tidak sampai menabraknya. Saat itu aku turun untuk melihat keadaannya. Lalu aku merasa ada seseorang yang membekapku dari belakang, setelah itu aku tidak bisa mengingat apapun lagi. Sepertinya aku pingsan saat itu. Dan saat tersadar, aku sudah berada di kamarmu seperti yang kamu lihat tadi." Menjelaskan panjang lebar, Nindi tidak melihat ada kebohongan disana, Edwin bercerita dengan pembawaannya yang tenang.


"Sepertinya ada seseorang yang menjebak ku." Imbuhnya kemudian.


Bima masih berusaha untuk percaya kepada Edwin, namun belum bisa 100% yakin. Hatinya masih terasa panas saat mengingat istrinya di sentuh dan di peluk laki-laki itu.


Membayangkan hal itu, Bima merangkul pinggang Nindi, mendekapnya dengan posesif. Agar laki-laki itu tau jika Nindi hanya miliknya seorang.


"Kok kasusnya hampir sama ya sama yang aku alami sebelum aku pingsan?" Ucap Nindi kemudian.


"Apa maksudmu sayang?" Tanya Bima.


"Jadi gini kak, tadi sore aku mau pergi ke warung nasi, beli lauk buat kak makan malam kak Bima. Tapi pas sampai gerbang, ada orang yang membekap aku juga dan aku rasa aku dibius. Kepala aku pusing banget waktu itu, sampai aku nggak tau apa lagi yang terjadi setelah itu." Jawab Nindi menjelaskan.


"Kira-kira siapa yang sudah menjadikanku kambing hitam disini?" Edwin nampak berpikir keras, dia merasa jika dirinya tidak memiliki musuh yang berpotensi menjebak dirinya.


"Sepertinya orang yang membius kalian adalah orang yang sama. Tapi siapa?" Bima juga nampak berpikir, dahinya mengerut memikirkan siapa orang yang kira-kira bisa melakukan kegilaan ini.


"Apa kalian memiliki musuh? Yang menginginkan hubungan kalian menjadi retak?" Tanya Edwin.


Pikiran Nindi dan kak Bima langsung tertuju pada Luis. Sebab, terakhir kali mereka memperdebatkan tentang surat perceraian yang sama sekali tak ingin mereka tandatangani.


Saat Nindi dan Bima tenggelam dalam pikirannya masing-masing, Edwin kembali mengemukakan pendapatnya.


"Kenapa kalian tidak memeriksa CCTV dirumah ini saja? Semua pasti terekam disana. Kita bisa lihat siapa yang sudah membius istrimu disana." Ucap Edwin, dia sudah senang kesalah pahaman ini akan segera berakhir.


"Tapi dirumah ini nggak ada CCTVnya." Ucapan Nindi menghancurkan harapan Edwin, akan lama lagi urusannya jika seperti itu. Dia tidak akan bisa pulang ke rumah secepatnya dan bertemu dengan istrinya.


Sudah panas melihat Bima yang melekat pada istrinya, membuat Edwin jadi merasa rindu dan ingin memeluk istrinya juga.


"Kamu salah sayang, aku memasang CCTV tanpa sepengetahuan siapapun." Ucapan kak Bima bagaikan membuka belenggu yang menjerat Edwin. Dia terlonjak kegirangan.


"Kalau begitu, cepat kita lihat rekamannya!" Tak sabar, Edwin berseru dengan menggebu.


***


Berdua, hanya berdua. Mama Anya dan Luis. Tidak ada sesuatu halpun yang mampu mengusik kedamaian yang dengan susah payah mama Anya perjuangkan selama ini.


Kini, mereka dapat menghabiskan malam-malam panjang yang tersisa dalam hidup mereka hanya berdua. Bukankah ini yang mama Anya inginkan selama ini? Hidup bahagia bersama dengan suami sesungguhnya dan putra yang sangat dia rindukan.


Tinggal selangkah lagi, maka Bima akan kembali ke pangkuannya.


Mereka terlihat bergelung dibawah satu selimut yang sama, menutupi tubuh polos mereka setelah melakukan ritual wajib jika mereka sedang berdua. Mama Anya menaruh kepalanya di atas dada Luis, memainkan bulu yang terdapat di dada bidang itu.


"Aku yakin, anak sialan itu sekarang sudah di depak keluar dari rumah oleh Bima. Haha." Luis menyeringai, membayangkan betapa serunya drama pengusiran Nindi dari rumah. Namun sayang, dia tidak bisa menyaksikannya secara langsung.


"Perkerjaan mu selalu tidak pernah mengecewakan Luis." Memuji yang sepatutnya tidak dapat pujian.


"Setelah mereka berpisah, ajaklah Bima tinggal bersama kita disini. Jual saja rumahmu yang disana." Berkata dengan enteng, dia berpikir Bima akan sudi tinggal dirumah megah yang didapatkan dengan cara licik? Kekayaan yang tidak seharusnya menjadi milik mereka. Menghancurkan sebuah keluarga, bersenang-senang diatas penderitaan yang mereka rasakan.


Luis terdiam, jika dia sampai harus menjual rumah itu, berarti tidak ada alasan untuk dia kembali ke rumah itu. Lalu bagaimana dengan Fira? Hatinya terenyuh saat memikirkan Fira. Sudah beberapa hari ini dia tidak mengunjungi Fira. Untung terakhir kali dia menaruh stok makanan yang melimpah untuk dikonsumsi Fira. Jadi Luis tidak begitu mencemaskan tentang perutnya. Bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia masih bisa bertahan? Luis harus menemuinya secepatnya. Bagaimanapun caranya dia harus bisa mengelabui mama Anya.


"Luis, kenapa kamu diam saja?" Bertanya saat Luis tidak merespon perkataannya. Kemudian beralih memainkan bulu ketiak Luis.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan Anya, semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kamu inginkan." Luis marik kepala mama Anya, kemudian mendekapnya semakin dalam, mengusap punggung polos di balik selimut itu.


"Kamu mau lagi, Anya?" Bertanya dengan nada aneh.


Mama Anya mengangguk dalam dekapan hangat Luis.


***


Bima membuka laptopnya, kumudian jarinya dengan lihat menari diatas keyboard itu. Mencari-cari data yang terhubung dengan CCTV rahasia yang dia pasang tanpa sepengetahuan siapapun. Untuk membuktikan apa dugaannya itu benar, jika ayahnya lah dalang dibalik semua drama menyesakkan dada ini.


Nindi melihat dengan dada yang berdebar, menunggu file yang akan diputar kak Bima. Sebentar lagi rasa penasarannya akan segera terobati. Apa benar jika ayah mertuanya yang telah menjebaknya?


Edwin juga ikut menyaksikan, dia berdiri di belakang sofa yang Bima dan Nindi duduki, menanti dengan cemas, kira-kira orang jahat mana yang sudah menjadikan dirinya kambing hitam disini.


Suara jarum jam seirama dengan detak jantung ketiga orang itu saat file sedang dimuat.


Detik demi detikpun berlalu, sebuah tayangan kemudian muncul di layar laptop kak Bima, menampilkan kejadian sore itu, disana terlihat Nindi sedang melangkah menuju gerbang utama, sempat mengedarkan pandangannya ke kanan lalu kekiri, namun dia kembali melanjutkan langkahnya.


Sampai akhirnya sesosok pria berpakaian serba hitam membekap Nindi dari belakang. Bima tidak bisa dengan jelas mengenali siapa orang itu, karena dia menggunakan masker wajah. Topi hitam juga menutupi sebagian wajah pria itu.


Hingga kejadian tak terduga itu terjadi, Nindi nampak berontak disana. Membuat topi yang dikenakan pria itu terlepas. Bima meng-zoom saat di bagian itu. Bima merasa tidak asing dengan postur tubuh dan guratan dahi itu. Kemudian, dia melanjutkan memutar file. Pria itu nampak kewalahan memegangi Nindi yang tak sadarkan diri, belum lagi dia harus memungut kembali topi yang dijatuhkan Nindi.


Tanpa diduga, masker wajah yang dia gunakan terlepas saat memungut topi, sehingga sekarang, nampaklah dengan jelas wajah pria itu. Bima kembali meng-zoom bagian wajah pria itu.


Fix, itu adalah ayahnya. Bima menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi, memijat pelipisnya, tak habis fikir.


Nindi yang melihat keputus asaan diwajah suaminya itu, nampak khawatir. Dia meraih lengan kak Bima.


"Kakak yang sabar ya!" Ucap Nindi merasa prihatin. Jauh dilubuk hatinya, dia juga merasa sangat kesal. Ayah mertuanya itu benar-benar keterlaluan, kira-kita balasan apa yang pantas Luis dapatkan? Nindi berpikir untuk berbalas dendam.


"Siapa orang itu? Apa kalian mengenalinya?" Edwin yang tak tau apa-apa merasa perlu bertanya. Karena bagaimanapun juga dia perlu tau bukan? Dia susah menjadi korban disini.


"Apa?" Edwin menganga saat dirinya diusir secara tidak hormat seperti itu. Tanpa di berikan penjelasan sedikitpun. Namun, dia sadar diri, dia bukanlah siapa-siapa disana.


"Baiklah kalau begitu. Aku anggap masalah ini sudah selesai. Semoga tidak ada lagi kesalah pahaman diantara kalian." Berpikir bijak, Edwin kemudian bersiap untuk pergi.


"Maaf ya, kamu jadi harus terkena masalah." Ucal Nindi dengan bijak.


"Tidak masalah. Kalau begitu aku pergi. Assalamualaikum." Meskipun hatinya masih menyimpan rasa penasaran, Edwin melangkah pergi keluar dari rumah itu. Dia merasa tidak perlu tau lagi tentang kehidupan macam apa yang Nindi dan Bima jalani. Dia cukup tau saja jika ada orang yang sedang berusaha memisahkan mereka. Semua masalah yang menyangkut dirinya telah terselesaikan, namanya sudah kembali bersih, itu cukup baginya.


Selepas kepergian Edwin.


"Aku tidak menyangka ayah akan melakukan hal serendah ini." Ucap Bima masih tak habis fikir.


"Ya udahlah kak, semua usah terjadi. Yang terpenting sekarang, apapun yang terjadi, kak Bima harus percaya ya sama aku. Aku nggak akan pernah menghianati kakak." Ucap Nindi.


Bima tersenyum mendengar penuturan istrinya itu.


"Terimakasih ya, kamu mau bertahan sampai sejauh ini bersamaku." Bima kemudian membawa Nindi kedalam pelukannya, kini kepercayaannya kepada istrinya itu semakin menguat dengan adanya ujian ini.


Nindi mengangguk dalam pelukan Bima. Dia bersyukur karena masalah ini bisa terselesaikan di malam yang sama. Nindi tidak tau bagaimana jadinya jika kak Bima tidak memasang CCTV rahasia di rumah itu.


***


Haripun mulai berganti, semua masih berjalan dengan semestinya, matahari terbit dari timur, angin berhembus memberi oksigen untuk penduduk bumi, air mengalir dari hulu ke hilir memberi sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Bunga-bunga bermekaran dengan indah, membiarkan sarinya dihisap sang kumbang.


Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh Sheerin. Ya, hari ini ia sudah diizinkan pulang oleh dokter yang merawatnya selama ini.

__ADS_1


Levin nampak membantu Sheerin memasukkan semua barang-barang ke dalam tas. Lebih tepatnya Levin sendiri yang mengerjakan semuanya, karena dia tak mengizinkan Sheerin menyentuh pekerjaan apapun.


"Lev, Nindi kok belum datang ya?" Tanya Sheerin.


"Sebentar lagi kali, tadi katanya udah mau nyampe kok." Jawab Levin yang masih sibuk berkutat nemasukkan pakaian kedalam tas.


"Aku kok ngerasa nggak enak ya harus tinggal dirumah kak Bima." Ucap Sheerin, wajahnya dia tekuk, merasa sedang tidak enak hati.


Levin menghentikan aktivitasnya, melirik kearah Sheerin. Kekasihnya itu kembali bersedih. Kemudian dia menghampiri Sheerin, duduk tepat di sampingnya.


"Kamu yang sabar dulu ya sekarang. Nanti kalau kita udah nikah, aku pasti akan bawa kamu pindah dari sana." Ucap Levin dengan senyum cerah yang merekah. Sheerin mendongak, menatap Levin dengan seribu pertanyaan.


"Hah, kamu bercanda Lev. Jaman mana kita akan nikah?" Tanya Sheerin dengan tawa garingnya.


"Nggak She, aku serius. Aku udah bicarain ini sama orang tua aku. Aku mau menikahi kamu secepatnya. Dan mereka setuju, dengan syarat asal aku harus tetap kuliah sampai wisuda dan melanjutkan memimpin perusahaan papa aku." Ucap Levin, terlihat sangat seeius sekaki, membuat Sheerin menghentikan tawanya.


"Kamu ngaco ya Lev! Kita masih terlalu muda. Aku aja kabur dari perjodohan aku sama kak Bima waktu itu." Jawab Sheerin.


"Jadi kamu nggak mau nikah sama aku?" Tanya Levin kecewa dengan jawaban Sheerin.


"Yaa, bukan gitu. Tapi kita harus nunggu waktu yang tepat dan mempersiapkan semuanya." Elak Sheerin.


"Emangnya kamu nggak pengen apa kaya si urakan sama kak Bima? Tidur ada yang nemenin." Levin menaik turunkan alisnya menggoda Sheerin.


Sheerin mengerutkan dahi, menarik ujung bibirnya. Konyol sekali pemikiran kekasihnya itu.


"Ngaco kamu Lev!" Sheerin menampar pipi Levin pelan, kemudian membuang muka untuk menyembunyikan wajah merahnya.


"Sini deh, itu ada apa?" Levin menyentuh wajah Sheerin, membuatnya kembali menatap kearah Levin.


"Apa?" Saat bibir Sheerin terbuka saat mengucapkan kata itu, saat itu pula Levin melahap bibir Sheerin. Sheerin tertegun dengan gerakan reflek dari Levin itu. Mau tak mau dia harus merelakan bibirnya dijamahi oleh bibir Levin.


Tak bisa dipungkiri, dadanya berdebar indah, sentuhan bibir Levin terasa sangat lembut di bibirnya. Mata Sheerin terpejam, merasai dan meresapi setiap desah nafas Levin yang menampar wajahnya.


Sheerin terhanyut lalu tenggelam dalam indahnya buaian dan ciuman yang Levin berikan. Tak ada rasa seindah sentuhan bibir itu. Tanpa sadar, Sheerin membalas ciuman Levin, membuat ciuman hangat itu berubah memanas.


Krek!


Astaga!


Secepat kilat mereka melepaskan pautan bibir mereka saat mendengar suara pintu di buka. Sheerin dan Levin sama-sama salah tingkah.


"Assalamualaikum."


Kemudian, munculah pasutri dari balik pintu itu. Nindi dan kak Bima. Levin menatap mereka dengan tatapan tidak suka. Kenapa mereka datang di waktu yang tidak tepat? Belum puas Levin membantai bibir lembut milik Sheerin, mereka sangat merusak momen indahnya bersama Sheerin.


"Waalaikumsalam." Sheerin nampak gelagapan menjawab, namun sebisa mungkin dia bersikap biasa agar ke gugupannya itu tak terlalu mencolok.


Sepertinya Nindi dan kak Bima tidaj sempat melihat adegan ciuman antara Sheerin dan Levin, karena sikap keduanya masih terbilang normal-normal aaja.


"Bagaimana, apa semuanya sudah selesai?" Tanya Bima.


"Udah kak, Levin udah mengemas semuanya kedalam tas." Jawab Sheerin.


_______________


***Pengennya sih ngebut up biar cepet tamat, tapi apalah dayaku ini 😔

__ADS_1


tetap tinggalkan jejak setelah membaca***...


__ADS_2